Lupa bersyukur

Rabu, 12 November 2014
Peringatan Wajib St. Yosafat, Uskup dan Martir
  

Tit. 3:1-7; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Luk. 17:11-19
  
Ketika saya masih melayani di Paroki, setiap kali menjelang waktu ujian, selalu banyak anak-anak sekolah yang rajin ikut misa harian. Gereja hampir selalu penuh. Namun, setelah ujian selesai, apalagi kalau sudah memasuki masa liburan, tinggal sedikit mereka yang setia ke Gereja. Rupanya, sebelum ujian mereka merasa butuh ke Gereja untuk memohon kepada Tuhan agar diberi kelancaran dan kesuksesan dalam ujian. Akan tetapi, setelah ujian, banyak dari mereka yang lupa untuk bersyukur atau berterimakasih kepada-Nya. Hal ini mungkin tidak hanya berlaku bagi anak-anak sekolah, tetapi juga bagi kita. Ketika kita sedang mempunyai ujud permohonan tertentu, kita rajin bergoa dan ke gereja. Namun, kalau sudah dikabulkan, kita seringkali lupa untuk bersyukur. Kalau pun bersyukur, biasanya intensitas syukur kita lebih sedikit dibanding dengan intensitas permohonan kita. Hari ini, Yesus mengingatkan kita untuk tidak lupa bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Bersyukur dan berterimakasih adalah salah satu cara kita memuliakan Tuhan.
   
Doa: Tuhan berilah kami hari yang tahu berterimakasih dan selalu bersyukur kepada-Mu. Amin. -agawpr-

Rabu, 12 November 2014 Peringatan Wajib St. Yosafat, Uskup dan Martir

Rabu, 12 November 2014
Peringatan Wajib St. Yosafat, Uskup dan Martir

Uskup Yosafat menyerahkan hidupnya sebagai martir demi kehidupan Gereja (Paus Pius XI)


Antifon Pembuka (Luk 4:18)

Roh Tuhan menyertai aku. Aku diurapi-Nya dan diutus mewartakan kabar gembira kepada kaum fakir miskin dan menghibur orang yang remuk redam.

Doa Pagi

Allah Bapa di surga, sumber cahaya sejati, kami bersyukur karena Engkau telah mengangkat kami dan membuat kami melihat berkat Yesus Putra-Mu terkasih. Semoga seluruh dunia akhirnya mengakui apa yang dapat mendatangkan damai, ialah cinta kasih dan keadilan sosial, yang sangat didambakan setiap orang. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Titus (3:1-7)
      
"Dahulu kita sesat, tetapi berkat rahmat-Nya kita diselamatkan."
        
Saudara terkasih, ingatkanlah semua orang agar tunduk pada pemerintah dan para penguasa. Hendaklah mereka taat dan siap sedia melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah atau bertengkar. Hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Sebab dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: Tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji dan saling membenci. Tetapi ketika telah nyatalah kerahiman dan kasih Allah serta Juruselamat kita kepada manusia maka kita diselamatkan oleh-Nya. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya berkat permandian kelahiran kembali dan berkat pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita lantaran Yesus Kristus, Juruselamat kita. Dengan demikian kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima hidup yang kekal sesuai dengan pengharapan kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, do = d, 3/2, 2/4, PS. 849
Ref. Tuhanlah gembalaku, tak'kan kekurangan aku
Ayat. (Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; R:1)
1. Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: 'ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. 'Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.
2. Sekalipun aku harus berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.
3. Kausiapkan hidangan bagiku di hadapan lawanku. Kauurapi kepalaku dengan minyak dan pialaku melimpah.
4. Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu sepanjang umur hidupku. Aku akan diam di rumah Tuhan sekarang dan senantiasa.
     
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (1Tes 5:18)
Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian di dalam Kristus Yesus.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (17:11-19)
           
"Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?"
      
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perkotaan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak, "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Yesus lalu memandang mereka dan berkata, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam." Dan sementara dalam perjalanan mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa dirinya telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang tadi? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
  
Renungan
  
Pada Injil hari ini Yesus menyembuhkan kesepuluh orang sakit kusta. Ironisnya, dari kesepuluh orang kusta yang ditahirkan (disembuhkan) hanya satu orang yang kembali untuk memuliakan Allah. Kita sebagai manusia sering kali mampu mengucap syukur atas nikmat yang boleh kita terima, tetapi mampukah kita juga bersyukur disaat – saat susah, bukankah situasi susah yang boleh kita alami merupakan karunia Allah agar kita dapat ditempa menjadi pribadi yang tangguh dan setia kepada Allah? Pertanyaannya adalah, harus berapa lama kita bersyukur? Jawabannya adalah untuk selama – lamanya. Mengapa? Semua orang pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk bersyukur, tetapi mampukah kita bersyukur dan memuliakan Allah atas karya-karya-Nya yang ajaib atas diri kita untuk selama – lamanya? Kesepuluh orang kusta tersebut telah ditahirkan, namun hanya satu orang saja yang kembali memuliakan Allah. Kesembilan orang lagi pergi, menikmati rahmat kesembuhan yang diberikan Yesus, namun mereka pula yang justru “lupa daratan”, menikmati keadaan yang dirasa “cukup nyaman dan baik” bagi dirinya, hingga lupa siapa yang bekerja atas kesembuhan mereka. Uniknya, hanya satu orang yang bersyukur dan memuliakan Allah, dan orang asing! Yesus mengatakan “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”. Disini, orang asing yang bersyukur itu tentu tidak hanya mengalami kesembuhan fisik, tetapi lebih dari itu, ia disembuhkan secara rohani, imannya semakin diteguhkan, dan karena imannya itulah ia semakin mengalami kekuatan Allah untuk “berdiri dan pergi…” untuk mewartakan karya agung Allah. Bersyukur yang dihidupi dengan iman mampu menguatkan dan memberikan kesembuhan batin, tidak hanya pemuasan fisik. Semoga, rasa syukur kita tidak hanya terbatas pada sesuatu hal yang tampak di mata tetapi juga mampu dihidupi dengan iman akan Allah sehingga kita memperoleh keksembuhan sejati, yakni kesembuhan spiritual demi keselamatan jiwa kita. Amin

Antifon Komuni (Mat 10:39)     

Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya, demikianlah firman Tuhan.
 
     
Deus Providebit