Langit dan bumi dengan segala isinya akan berlalu, namun sabda Tuhan tetap abadi.

Jumat, 28 November 2014
Hari Biasa Pekan XXXIV
 
                    
Why. 20:1-4,11 - 21:2; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a; Luk. 21:29-33. 
              
 Langit dan bumi dengan segala isinya akan berlalu, namun sabda Tuhan tetap abadi. Oleh karena itu, berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya. Kadang, Sabda Tuhan memang sangat keras sehingga mereka yang tidak kuat bisa saja mengundurkan diri dan tidak mau lagi mendengarkan-Nya, seperti yang dikisahkan dalam Injil Yohanes 6:60-66. Namun, sekeras apa pun sabda Tuhan itu, bagi kita tetaplah merupakan sabda hidup yang kekal (Yoh 6:68). Untuk itu, marilah kita terus-menerus berdoa sambil berusaha agar kita mampu menjadi pendengar, pembaca, pewarta dan pelaksana sabda Tuhan yang baik.

Doa: Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami mampu menjadi pembaca, pendengar, pewarta dan pelaksana sabda-Mu yang baik. Amin. -agawpr-

Jumat, 28 November 2014 Hari Biasa Pekan XXXIV

Jumat, 28 November 2014
Hari Biasa Pekan XXXIV
  
Tuhan itu penuh kasih sayang dan belas kasih; Ia lebih menghendaki orang berdosa bertobat daripada mati. (St. Hieronimus)
  

Antifon Pembuka (Why 21:1)
 
Maka aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi.
 
Doa Pagi

   
Ya Allah, melalui Yesus Putra-Mu, Engkau mengingatkan kami para murid-Mu untuk berjaga-jaga dan selalu siap sedia menyongsong kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Kami mohon, curahkanlah Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami, semoga berkat daya surgawi kami dapat mengabdi Engkau dengan jujur dan setia sebagai pengikut Kristus. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Wahyu (20:1-4. 11-21:2)
     
"Orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka. Aku melihat Yerusalem Baru turun dari surga."
    
Aku, Yohanes, melihat seorang malaikat turun dari surga memegang anak kunci jurang maut dan sebuah rantai besar di tangannya. Ia menangkap naga, si ular tua, yaitu Iblis dan Setan. Dan ia mengikatnya seribu tahun lamanya, lalu melemparkannya ke dalam jurang maut. Pintu jurang maut itu kemudian ditutup dan dimeteraikannya, jangan sampai naga itu menyesatkan lagi bangsa-bangsa, sebelum masa seribu tahun itu berakhir. Kemudian naga itu akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya. Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya. Kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwa mereka yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena sabda Allah. Mereka itu tidak menyembah binatang dan patungnya, dan tidak menerima tanda binatang itu pada dahi dan tangan mereka. Mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama dengan Kristus untuk masa seribu tahun. Lalu aku melihat sebuah singgasana, putih dan besar, dan aku melihat Dia yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Kemudian semua kitab dibuka. Juga sebuah kitab lain dibuka, yaitu Kitab Kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya. Demikian pula maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya. Dan mereka masing-masing dihakimi menurut perbuatan mereka. Kemudian maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua, yakni lautan api. Dan barangsiapa namanya tidak ditemukan tertulis dalam Kitab Kehidupan, dilemparkan ke dalam lautan api itu. Lalu aku melihat langit dan bumi yang baru. Langit dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku, Yohanes, melihat kota kudus, yaitu Yerusalem baru, turun dari surga, dari hadapan Allah, berhias bagaikan mempelai yang berdandan untuk suaminya.
Demikianlah sabda Tuhan
U: Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan.
atau Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia.
Ayat. (Mzm 84:3.4.5-6a.8a)
1. Jiwaku merana karena merindukan pelataran rumah Tuhan; Jiwa dan ragaku bersorak sorai kepada Allah yang hidup.
2. Bahkan burung pipit mendapat tempat dan burung layang-layang mendapat sebuah sarang, tempat mereka menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku.
3. Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Berbahagialah para peziarah yang mendapat kekuatan dari pada-Mu. Langkah mereka makin lama makin tinggi.
 
Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 21:28b)
Angkatlah kepalamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (21:29-33)
    
"Jika kalian melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat."
     
Pada waktu itu Yesus mengemukakan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kalian melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kalian tahu dengan sendirinya, bahwa musim panas sudah dekat. Demikian pula jika kalian melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sungguh, angkatan ini takkan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku takkan berlalu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
 
Renungan
  
Memasuki musim dingin daun-daun pohon ara akan gugur sehingga tampak gundul, seperti orang mati, tinggal ranting-ranting. Orang tidak dapat berteduh dibawahnya dan tidak dijumpai buah. Beda bila musim panas tiba. Getah di nadi tumbuhan itu mulai cair dari kebekuan dan mengalir memunculkan kehidupan tunas-tunas baru. Pohon kembali hidup, segar. Seperti pohon apel, munculnya tunas daun selalu disertai kuncup-kuncup bunga yang segera mekar dan menghasilkan buah. Lalu buah hijau itu akan memerah hingga ungu kehitaman dan matang lezat siap dimakan.
Daun-daun ara yang lebar membuat rindang dan menjadi payung sejuk tempat bernaung. Dekat Kota Yerusalem bahkan dikenal ada Bethphage yang artinya: “rumah pohon ara”. Dan gambaran keindahan, kedamaian dan kebahagiaan hidup biasa diuangkapkan demikian: “.... tiap-tiap orang hidup dengan aman di bawah pohon anggur dan pohon ara” (1Raj 4:25; Mi 4:4).

Tentang pohon ara yang bertunas banyak dihubungkan dengan masa turunnya berkat (Yl 2:22). Kerajaan Allah sudah dekat. Bahkan sudah hadir di dunia ini karena Tuhan sendiri telah datang dan berkarya. Dengan menderita, disalibkan, wafat dan bangkit, Yesus menebus kita dari perbudakan dosa, hidup pun penuh berkat. Bacaan hari ini menjadi gema dari Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, puncak tahun liturgi sebelum mengawali masa Adven. Kerajaan Allah menghadirkan kedamaian, keadilan dan kasih.

Sebagaimana pohon ara mengenal musim, hidup iman pun mempunyai musim. Bila kemarau panjang, dingin mencekam, mengalami penderitaan atau siksaan, kita tidak boleh cemas dan kecil hati. Berita Injil memberi harapan penuh. Dalam Kerajaan Allah nan abadi nanti segenap umat Allah akan dilepas dari penderitaan dan dipenuhi sukacita. Cinta Yesus menjadi jaminan dan bukti. Sabda-Nya langgeng, tetap kokoh berlaku sama seperti sejak pertama kali difirmankan. Tuhan Yesus sekarang tidak nampak, namun Sabda-Nya hidup dan bekerja dalam diri kita yang mendamba dan percaya.

Mari kita melihat dengan mata hati, peristiwa-peristiwa alam seperti pohon ara di atas dalam ranah rohani. Di dalamnya Yesus mengajar kita rahasia keindahan dan makna, agar apa pun yang terjadi nanti, tetap ada damai di hati. (Eligius Ipong Suponodi, O.Carm).