Selasa, 11 Agustus 2009 :: Pw. St. Klara, Perawan

Selasa, 11 Agustus 2009
Peringatan Wajib St. Klara, Perawan 

“Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang semblan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?” --- Matius 18: 12.

Doa Renungan
Allah Bapa yang mahakudus, kembali kami bersyukur atas kasih karunia dan perlindungan yang telah Kauberikan kepadaku. Hari ini Engkau berfirman agar kami bertobat dan menjadi seperti anak kecil serta mau merendahkan diri. Bantulah kami Bapa, agar kami senantiasa mencari kehendak-Mu saja dari hari ke hari. Berkatilah kami hari ini Bapa dan orang-orang yang kami cintai. Demi Kristus, Pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama

Pembacaan dari Kitab Ulangan (31:1-8)


"Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, Yosua, sebab engkau akan masuk bersama bangsa ini ke tanah perjanjian."

Musa menyampaikan pesan ini kepada seluruh bangsa Israel, "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun. Aku tidak dapat dengan giat memimpin kalian lagi. Dan Tuhan telah bersabda kepadaku, 'Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.' Tuhan, Allahmu, Dialah yang akan memimpin kalian menyeberang. Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa dari hadapanmu, sehingga kalian dapat memiliki negeri mereka. Yosua akan memimpin kalian menyeberang, sesuai dengan sabda Tuhan. Tuhan akan memperlakukan bangsa-bangsa itu, sebagaimana Ia telah memperlakukan Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya beserta negeri mereka. Tuhan akan menyerahkan bangsa-bangsa itu kepadamu, dan kalian harus memperlakukan mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kalian. Ia takkan membiarkan dikau dan takkan meninggalkan dikau." Musa lalu memanggil Yosua dan berkata kepadanya, di depan seluruh orang Israel, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka. Dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab Tuhan, Dia sendiri yang akan berjalan di depanmu, Dia sendiri yang akan menyertai engkau. Dia takkan membiarkan dikau dan takkan meninggalkan dikau. Janganlah takut dan janganlah patah hati."

Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Antar Bacaan
Ref. Bagian Tuhan ialah umat-Nya.
Ayat.
(Ul 32:3-4a.7.8.9.12)
1. Nama Tuhan akan kuserukan, berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang sempurna karya-Nya.
2. Ingatlah akan zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, ia akan mengisahkannya; tanyakanlah kepada orang tua-tua, mereka akan memberitahukannya.
3. Ketika Yang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada para bangsa, ketika Ia memisah-misahkan anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah para bangsa menurut bilangan anak-anak Israel.
4. Tetapi bagian Tuhan ialah umat-Nya, Yakublah yang ditetapkan menjadi milik bagi-Nya. Tuhan sendirilah yang menuntun dia, dan tidak ada allah lain menyertai dia.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terimalah beban-Ku dan belajarlah daripada-Ku, sebab aku lemah lembut dan rendah hati.

Bacaan Injil

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (18:1-5.10.12-14)


"Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini."


Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, "Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga." Lalu Yesus bersabda lagi, Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian pula Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Klara, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Selamat tinggal ibu tersayang”, demikian kata-kata Klara sambil meninggalkan istana yang gemerlapan di Assisi, untuk mengkuti jejak Fransiskus, yang hidup miskin dan meninggalkan kemewahan duniawi serta hanya mau mengabdi Tuhan saja. Klara, gadis yang cantik dan perawan, berkehendak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan kiranya menghayati sabda Yesus “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”. Dalam perkembangan selanjutnya Klara akhirnya mendirikan ‘Ordo’ yang kemudian dikenal dengan ‘Ordo Klaris’, para suster kontemplatif atau pertapa. Ia kiraanya juga meneladan Yesus “yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”(2Kor 8:9). Penghayatan keutamaan kemiskinan dan kerendahan hati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Orang yang menghayati keutamaan kemiskinan akan diperkaya atau menjadi kaya akan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Maka dalam rangka mengenangkan St.Klara, yang telah mempersembahkan keperawanannya, harta yang paling berharga bagi remaja putri, kami mengharapkan rekan-rekan remaja putri dengan rendah hati berani meneladan St.Klara, mininggalkan aneka kemewahan dan gemerlapan dan kemudian hidup miskin serta mengikuti Tuhan Allah saja. Dengan kata lain kami berharap semoga banyak remaja putri yang tergerak untuk hidup membiara atau menjadi suster dan kemudian mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka karya pelayanan bagi masyarakat umum, misalnya karya kesehatan atau pendidikan.

· “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”(Ul 31:6), demikian kutipan firman Tuhan kepada Musa. Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi siapapun yang telah menentukan atau memilih jalan hidup terpanggil, entah menjadi imam, biarawan, biarawati atau hidup tak menikah maupun hidup menikah atau berkelaurga. Apa yang telah dipilih atau ditentukan pada umumnya disadari dan dihayati sebagai anugerah atau panggilan Tuhan, maka hendaknya “janganlah takut dan jangan gemetar, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau”. Dengan kata lain hendaknya setia pada panggilan meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta menuntut pengorbanan dan perjuangan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan remaja putri untuk tetap setia sebagai perawan alias tidak berhungan seks sebelum hidup berkeluarga atau membiara. Maka hendaknya sering berdoa baik kepada Bunda Maria maupun dengan perantaraan St.Klara agar tetap sstia sebagai perawan. Kami juga berharap rekan-rekan remaja putri tidak menghadirkan atau menampilkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang laki-laki mata keranjang untuk berbuat amoral atau jahat.



“Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia” (Ul 32:7-8)



Jakarta, 11 Agustus 2009
Ignatius Sumarya, SJ