Selasa, 17 Agustus 2010 Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

Selasa, 17 Agustus 2010
Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
St. Gregorius Thaumaturgos; St. Gregorius dr Tours



“Hormatilah semua orang, kasihanilah saudara-saudaramu, takutlah kepada Allah, hormatilah raja!” (1 Petrus 2: 17)

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa, kami berterimakasih kepada-Mu atas rahmat kemerdekaan yang telah Kauberikan kepada bangsa kami. Kami juga bersyukur atas alam yang indah dan negeri yang subur. Semoga kami dapat memanfaatkan anugerah-Mu ini dengan sebaik-baiknya. Bapa, bantulah kami agar senantiasa mensyukuri rahmat-Mu melalui karya dan usaha kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh (10:1-8)

"Para penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya."

Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya, seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 862
Ref. Kamu dipanggil untuk kemerdekaan; maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih.
Ayat. (Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; R: Gal 5:13)
1. Ya, Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum-Mu. Aku hendak hidup tanpa cela. Aku hendak hidup dengan suci dalam rumahku, hal-hal yang jahat takkan kuperhatikan.
2. Mataku tertuju kepada rakyatku yang setia, supaya mereka tinggal bersama aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan mendukung aku.
3. Orang yang melakukan tipu daya, tidak akan diam dalam rumahku. Orang yang berbicara dusta tidak bertahan di bawah pandanganku.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus (2:13-17)


"Berlakulah sebagai orang yang merdeka. "

Saudara-saudaraku yang terkasih, demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan untuk mengganjar orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetap hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956

Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 20:25)
Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (22:15-21)

"Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Sekali peristiwa orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka Ia lalu berkata, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu!" Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka, "Gambar dan tulisan kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Doa Renungan


Allah Bapa yang mahabaik, terima kasih atas kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia, bantulah kami untuk menjaga dan mengisinya, masih banyak celah dan ketidak adilan yang terasa, beban hidup semakin hari terasa semakin berat, kejujuran semakin menjauh dan menjadi langka, keberanian untuk berjuang melawan kebathilan semakin meredup, yang timbul dipermukaan hanya keberanian semu yang berakar pada kepentingan pribadi, ketulusan menjadi semu dan tersamar, atau lagi-lagi tersandung pada kepentingan pribadi dan kelompok.

Allah sumber kekuatan dan keadilan, Bantu kami untuk tegar dan senantiasa bangkit dan berjuang, Dalam mempertahankan kemerdekaan dan keadilan bagi seluruh manusia, tidak lagi terjajah oleh batasan teritori dan ras kebangsaan, tapi sungguh memperjuangkan keadilan dalam cinta kasih yang Dikau ajarkan, semoga bangsa Indonesia tetap mampu bersatu dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang berasal dari sang maha pencipta. Berkat bantuan doa Bunda Maria dan semua orang kudus, kami serahkan seluruh diri kami kepada-Mu: Peliharalah kami dalam semangat kasih dan kesatuan dan dengarkan doa permohonan kami ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Renungan

Menjawab jebakan orang-orang Farisi, Yesus langsung merujuk pada gambar yang tertera dalam mata uang tersebut. ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” Gambar tersebut menunjukkan kepemilikan dari benda tersebut. Dan selayaknya diserahkan kembali kepada pemiliknya. Logika yang sederhana, tetapi sarat dengan makna teologis. Lewat alur pikiran itu, Yesus mengajak pendengarnya menyadari bahwa mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kalau seandainya mereka diciptakan menurut gambar Allah, maka mereka harus menunjukkan dalam hidupnya bahwa mereka sungguh-sungguh adalah kepunyaan Allah dan hanya kepada Allah mereka layak membaktikan hidupnya.

Hari ini kita memperingati kemerdekaan bangsa kita. Dengan kemerdekaan ini, kita diajak untuk merenungkan dan menginsafi bahwa kita semua adalah anak-anak yang lahir dalam kebebasan dan putra-putri yang diciptakan menurut citra dan gambar Allah. Sebagai orang yang diciptakan menurut gambar Allah, kita adalah manusia-manusia yang bebas dan bermartabat. Seorang yang bermartabat adalah seorang warga negara yang baik. Semoga perayaan kemerdekaan ini menyadarkan kita akan siapa kita dan milik siapa kita agar kita menjadi orang Katolik yang sejati dan warga negara yang bermartabat.

Tuhan, aku bersyukur atas anugerah indah kebebasan yang Kauberikan kepada bangsa ini. Semoga aku semakin menyadari akan siapa diriku ini dan memberikan hidupku seluruhnya bagi kemuliaan nama-Mu dan kesejahteraan bangsaku. Amin.

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian

Mitos hidup perkawinan: saling menerima kelemahan pasangan apa adanya

Dear all,

Dalam kesempatan memberikan salah satu materi kursus persiapan perkawinan, saya mengajukan pertanyaan pertama begini, "Apakah kaliah harus menerima kelemahan pasangan apa adanya?" Dengan penuh semangat mereka menjawab, "Pasti dong Romo! Masak sudah suami isteri nggak mau meneriman kelemahan pasangan!" Lalu saya tidak mengomentari, tapi saya bertanya lagi, "Sampai kapan kalian akan saling menerima kelemahan apa adanya?" Dengan mantap tanpa ragu ragu, mereka pun menjawab, "Yah pastilah kami mau menerima kelemahan sampai maut memisahkan Romo. Masakan kita sudah janji nikah, mau diingkari!"

Saya masih juga belum berkomentar, tapi memperdalam jawaban, "Kalau begitu, "Apa jaminan kalian, kok bisa mengatakan mampu saling menerima kelemahan pasangan sampai akhir hayat? Kalau orang hutang di pegadaian, jaminannya bisa sertifikat tanah, dsb. Kalau kalian bertekad mau menerima kelemahan "apa adanya", jaminannya apa? Pasangan itu lalu bekerut dahi. Namun mereka berusah menjawab, "Romo, jaminan kami ya percaya saja pada pasangan, dan ingat janji nikah!" Saya mulai menggugat jawaban mereka, "Ah apa benar, saya kok tidak yakin!! Coba sekarang kalau kenyataannya begini. Misalnya, kalau suamimu ini sering tidak bisa bangun malam, padahal sebagai ibu, kamu sudah capek, dan tidak bisabergantian jaga untuk ganti popok anakmu, apakah sebagai ibu, kamu akan diam saja atau mau protes atau marah?"Pihak calon isteri langsung saja spontan menjawab, "Yah kalau begitu, mana bisa Romo, pasti saya juga marah!' Saya langsung tertawa, sambil menyahut, "Nah, lho...baru saja tadi kalian bilang mau menerima kelemahan apa adanya, kok sekarang berbeda jawabanmu? Coba saya tanya pada calon suami nih, "Mas, kalau isterimu judes dan galak, selalu saja komentar dengan cara berpakaianmu, caramu makan, dsb, kira kira kamu terima apa nggak diperlakukan begitu oleh isterimu nanti?" Spontan, calon suami tadi langsung menyahut, "Romo, yah harapannya tidak seperti itu, tapi kalau terjadi, mana saya bisa terima kelemahan isteri saya!"

Saya lalu menanggapi jawaban mereka berdua, "Nah ternyata apa yang tadi kalian katakan tidak konsisten kan? Setelah dihadapkan pada contoh dan kenyataan yang akan terjadi, kalian sudah mengatakan "tidak bisa menerima kelemahan pasangan!" Jadi sebenarnya, mitos itu mesti diganti dengan cara pandang baru, bagaimana MENGUBAH PARADIGMA KITA TENTANG KELEMAHAN MANUSIA, Kelemahan yang dianggap sebagai gangguan yang menggelisahkan, membosankan dan mengecewakan, dipahami sebagai "SAAT SAAT ISTIMEWA PENUH RAHMAT TUHAN untuk tumbuh dan berkembang sebagai pasangan hidup

Contohnya begini: kalau isterimu judes, galak dan cerewet, itu kesempatan bagimu sebagai suami untuk "dinilai, dikritik dan ditunjukkan kesalahanmu" Jadi nanti kalau habis bekerja, kalau ada kesalahpahaman, tanyalah pada isterimu, "apa yang salah dalam diriku menurutmu, coba kamu nilai kerjaanku apa sudah baik apa belum!" Kalau, suamimu sering bangun terlambat karena tidur larut malam, atau tidak bisa bangun malam untuk berganti jaga, tanyakan pada suamimu, "Mas, kalau kamu bangun terlambat, saya belajar untuk memahami bagaimana kamu capek seharian sudah kerja. Tapi saya juga jadi ingin tahu, apa Mas keberatan dengan tanggung jawab untuk berganti jaga malam hari mengganti popok? Kalau keberatan, katakan, ya itulah resiko yang harus aku tanggung! Namun, alangkah senangnya, kalau Mas bisa bangun pagi, atau bisa berjaga malam! Tapi itu harapanku!" Isteri belajar untuk mempelakukan suami menjadi "diri sendiri". Demikian juga suami yang mengenal isterinya judes, ia tidak mau mengubahnya, melainkan menghargai dia dengan cara memberi kesempatannya menilai.

Dari berbagai pengamatan, setelah pandangan itu diterapkan, ternyata mengurangi banyak percecokkan dalam keluarga. Mereka bisa bergembira dalam hidup perkawinan, Tidak usah pusing saling mempersatukan perbedaan, melainkan mereka bisa sersan, serius tapi santai, menghadapi kelemahan satu sama lain.

Moga moga di tahun baru 2010 ini, makin banyak hidup perkawinan menjadi tanda kehadiran cinta Allah yang membebaskan orang untuk saling mengasihi.

warm regards
bslametlasmunadipr

Lahir: Magelang 17 Desember 1968

Tahbisan Imam: Purwokerto, 18 Juli 2001

Wafat: Jumat 13 Agustus 2010, jam 21.30

Tue Jan 5, 2010 1:39 am