Menjadi Sederhana

Minggu, 03 Juli 2011
Hari Minggu Biasa XIV

MENJADI SEDERHANA

"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan, langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil." (Mat 11:25)

Saudara-saudari seperjalanan iman,

Hari Jumat yang lalu, kita merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Hati-Nya adalah hati yang solider. Hati yang ”mau turun”, rendah hati penuh komitmen, dan pengorbanan. Hari Minggu Biasa XIV ini merenungkan Injil Matius 11:25-30. Tuhan Yesus menunjukkan siapa Diri-Nya di hadapan Allah dan bagi orang yang menerima Dia. Banyak orang ingin mengetahui siapakah Diri-Nya. Dibalik keinginan ingin tau, ada ”harapan” .

”Untuk mengenal orang lain, kita harus terlebih dahulu mengenal diri sendiri”. Setiap manusia diciptakan menjadi pribadi yang ”unik”, memiliki karakter. Langkah awal untuk mengenal Tuhan Allah dan sesama adalah mengenal keunikan, karakter, kemampuan, dan kelemahan diri pribadi. Pengenalan diri yang holistik akan menempatkan posisi yang benar dan bijak di hadapan Allah dan sesama. Sebaliknya, proses pengenalan diri yang belum sepenuhnya akan menjadi ”penghalang” untuk menempatkan diri pada posisi yang benar dan bijak. Pengenalan diri yang belum ”penuh” akan membatasi ”gerak” kehadiran Allah dan sesama dalam hidup kita.

”Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”
(ayat 26-27). Otensitas kehadiran Tuhan Yesus ditentukan oleh relasi-Nya yang sangat mendalam dengan Bapa-Nya. Kehadiran Tuhan Yesus menghadirkan Bapa-Nya, bukan Dirinya sendiri. Kehadiran Tuhan Yesus adalah demi Dia yang mengutus-Nya. Dalam situasi inilah arti sederhana mendapatkan makna yang penuh. ”Kesederhanaan” adalah membukakan diri sepenuhnya akan kehendak Allah,
membiarkan” Allah menguasai diri kita. Kesederhanaan adalah komitmen yang kuat untuk menghadirkan cinta kasih Allah. Kesederhanaan adalah ”keberanian” untuk meninggalkan diri sendiri.

Terlalu sibuk dengan diri sendiri membawa kita ”jatuh” dalam keterbatasan manusiawi. Menyadari ”keterbatasan” manusiawi, marilah kita datang kepada Tuhan Yesus, ”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (ayat 28). Tuhan Yesus menjanjikan kesegaran hidup dan mengundang kita untuk masuk dalam ”sekolah kebijaksanaan”.

”It’s so easy to give up on life when we are weighed down with so many pressures. Take time to really rest in the Lord today”



Salam dan berkat,

Pastor L. Setyo Antoro, SCJ