Bacaan Harian 11 - 17 Juli 2011

Bacaan Harian 11 - 17 Juli 2011

Senin, 11 Juli: Peringatan Wajib St. Benediktus, Abas (P).
Kel 1:8 – 14:22; Mzm 124:1-8; Mat 10:34 – 11:1.

Kitab Mazmur menegaskan bahwa orang yang berada di dalam Tuhan pasti selamat dari jerat penangkap. Setiap saat setan selalu menunggus aat yang tepat untuk menjatuhkan kita ke dalam dosa. Kalau kita tidak waspada dan hanya menuruti hawa nafsu kita sendiri, kita akan terjebak dalam perangkap setan. Kebahagiaan dan ketenangan jiwa hanya ada di dalam Tuhan. Sadarkah kita, siapa dan apa yang kita cari selama ini?

Selasa, 12 Juli: Hari Biasa Pekan XV (H).
Kel 2:1-15a; Mzm 69:3.14.30-31.33-34; Mat 11:20-24.

Injil Matius hari ini menonjolkan bagaimana orang berkabung dan akhirnya bertobat. Tuhan memberi suatu peringatan lewat cara Tuhan sendiri agar segera bertobat. Bagaimanakah dengan kita dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita pun segera sadar lalu bertobat ataukah kita juga masih menunggu tanda-tanda dari Tuhan barulah kita bertobat?

Rabu, 13 Juli: Hari Biasa Pekan XV (H).
Kel 3:1-6.9-12; Mzm 103:1-4.6-7; Mat 11:25-27.

Kita sering menilai orang dari penampilan fisik yang tidak memungkinkan atau yang kurang meyakinkan. ita menilai diri lebih hebat dari orang lain, padahal semua orang sama di hadapan tuhan. Bahkan Tuhan menyatakan diri-Nya kepada orang kecil dan hina dina.

Kamis, 14 Juli: Hari Biasa Pekan XV (H).
Kel 3:13-20; Mzm 105:1.5.8-9.24-27; Mat 11:28-23.

Injil Matius yang kita baca hari ini mengingatkan kita untuk kembali kepada Tuhan, karena di sanalah terdapat kelegaan hidup. Hendaknya kita kembali kepada Tuhan dan selalu mencari Tuhan di dalam hidup kita.

Jumat, 15 Juli: Peringatan Wajib St. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja (P).
Kel 11:10-12.14; Mzm 116:12-13.15-16bc.17-18; Mat 12:1-8.

Yesus mengajarkan kepada kita untuk ringan hati dalam berbelas kasih, terutama kepada orang yang sangat membutuhkan bantuan sesamanya.

Sabtu, 16 Juli Hari Biasa Pekan XV (H).
Kel 12:37-42; Mzm 136:1.23-24.10-15; Mat 12:14-21.

Ketenangan jiwa hanya bisa kita temukan di dalam Tuhan. Dialah pengharapan kita yang pasti! Karena itu, datanglah kepada-Nya! Dia hanya sejauh doa. Di tengah kesibukan yang menyita waktu, dapatkah kita menyiapkan sedikit waktu untuk berdialog pribadi dengan Sang Pemilik dunia?

Minggu, 17 Juli Hari Minggu Biasa XVI (H).
Keb 12:13.16-19; Mzm 86:5-6.9-10.15-16a; Rm 8:26-27; Mat 13:24-43 (Mat 13:24-30).

Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma menegaskan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Roh justru membantu kita dengan berdoa untuk kita kepada Allah. Keterbatasan kita dengan berbagai kelemahan kita itulah yang mendorong Roh untuk membantu berdoa untuk kita. Sadarkah kita justru Rohlah yang membantu kita agar apa yang kita inginkan itu sampai kepada Allah? Berapa seringkah kita kembali kepada Allah? Marilah kta selalu kembali kepada Dia yang menunggu kita dengan setia.

Oase Rohani 2011, Renungan dan Catatan Harian

Minggu, 10 Juli 2011 Hari Minggu Biasa XV

Minggu, 10 Juli 2011
Hari Minggu Biasa XV

DIBERI KARUNIA MENGETAHUI ( Mat 13: 1 – 23)

Antifon Pembuka

Karena kejujuranku aku memandang wajah-Mu, waktu bangun aku menikmati hadirat-Mu. (Mzm 16:15)

Doa Renungan

Allah Bapa, sumber kebenaran sejati, tiada orang yang mencari yang tiada Kauberi cahaya penunjuk jalan menuju kebenaran-Mu. Semoga kami yang menyandang nama Kristus, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang bertentangan dengan nama itu serta berusaha hidup menghayati iman yang benar. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang hidup berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Yesaya (55:10-11)

"Hujan menyuburkan bumi dan menyuburkan tumbuh-tumbuhan."

Beginilah firman Tuhan, "Seperi hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku; Ia tidak akan kembal kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 846
Ref. Tuhan memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera.
Ayat. (Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13.14; Ul: lihat Luk 8:8)

1. Engkau mengindahkan tanah, lalu mengaruniainya kelimpahan; Engkau membuatnya sangat kaya. Sungai-sungai Allah penuh air; Engkau menyediakan gandum bagi mereka.
2. Ya, beginilah Engkau menyediakannya: Engkau mengaliri alur bajaknya, dan membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya; dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya, dan memberkati tumbuh-tumbuhannya.
3. Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak; tanah-tanah padang gurun mengalirkan air, bukit-bukit yang berikat-pinggangkan sorak-sorai.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (8:18-23)

"Dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan."

Saudara-saudara, aku yakin, penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan karena kehendak Dia yang telah menaklukkannya; tetapi penaklukan ini dalam pengharapan sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, dan masuk ke dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah. Kita tahu, sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin; dan bukan hanya makhluk-makhluk itu saja! Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai anugerah sulung dari Allah, kita mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil do = bes, 2/2, PS 957

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. 2/4
Benih melambangkan sabda Allah, penaburnya ialah Kristus. Semua orang yang menemukan Kristus, akan hidup selama-lamanya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (13:1-23 (13:1-9)

"Benih yang jatuh di tanah yang baik menghasilkan buah seratus ganda."

Pada suatu hari, Yesus keluar dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?" Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Dalam perumpamaan tentang penabur ini ada beberapa kata kunci yang bisa dipakai untuk menjadi salah satu pemahaman dan pendalaman makna dari perumpamaan Tuhan Yesus tentang “penabur” ini. Misalnya kata: melihat dan tidak tahu; mendengar dan tidak mengkap dan tidak mengerti. Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah dengan menggunakan perumpamaan yang sudah friendly dalam telinga dan mata mereka yang mendengarkannya; yaitu tentang benih
, tanah, tumbuhnya, buahnya yang aneka ragam jenis.

Ada yang seratus kali, enam puluh kali dan tiga
puluh kali, seturut situasi tanah dan ancaman yang menyebabkan kegagalan.

Yesus mengkaitkan perumpamaan itu dengan iman yang seharusnya berkembang dan berbuah, dengan melihat dan mendengar yang seharusnya menambah pengetahuan dan penangkapan yang mengembangkan mengertian. Tanaman biji yang ditabur secara alami seharusnya tumbuh berkembang dan berbuah banyak, tetapi secara alami ada banyak faktor atau predator yang mengancam. Jatuh di pinggir jalan dimakan burung, jatuh di
bebatuan alam yang keras membuat tidak bisa berakar dan kepanasan, maka menjadi kering dan mati. Sementara yang jatuh di semak berduri, persaingan yang tidak seimbang dengan lingkungannya membuat kerdil dan tidak menghasilkan buah. Yang jatuh di tanah yang baik pun ada yang buahnya tidak maksimal.

Demikian pula biji yang menurut Yesus disejajarkan atau dibandingkan dengan Kerajaan Allah yang di taburkan dalam diri kita juga akan mengalami banyak kendala atau hambatan yang kemungkinan menyebabkan menjadi tidak hidup, menjadi kering, menjadi kerdil dan gagal berbuah, atau jatuh di tanah yang baik yang juga bisa menghasilkan seratus kali lipat, enampuluh kali atau tigapuluh kali. Ancaman untuk biji yang ditabur tentang Kerajaan Allah itu secara konkrit bisa dari faktor alam yang oleh Yesus disebutnya: pertama adalah karena orang sudah mendengar tetapi tidak mengerti, lalu datang kekuasaan jahat yang akan merampasnya dari hati kita sehingga habis dan tidak berbekas. Atau mendengar Sabda tentang Kerajaan Allah dan menerima tetapi tidak berakar, karena hatinya yang keras dan tetap gersang, maka akibatnya Sabda itu menjadi kering dan mati juga, atau jatuh di semak berduri, orang menerima sabda tentang Kerajaan Allah, sudah bertumbuh hidup tetapi terhimpit oleh segala kekuatiran duniawi, tentang makanan, pakaian, perumahan, kendaraan, kesehatan, dan kemudian dihimpit oleh pekerjaan, tugas-tugas memenuhi keinginan dan nafsu. Akibatnya juga sama tidak berbuah. Yang jatuh di tempat tanah atau hati yang baik, maka dia akan menghasilkan buah yang banyak, bahkan mungkin seratus kali lipat sampai 30 kali lipat tergantung kondisi alam sekitarnya lagi.

Pertanyaan apakah kita menyediakan diri untuk menjadi lahan yang subur atau menjadi lahan yang penuh dengan ancaman dari dalam diri kita sendiri yang kita tidak mau mengerti atau tidak mengerti sehingga hasilnya akan selalu nihil. Atau kita mau menjaga agar kita sungguh mengetahui dan menjaganya, sehingga dapat menghasilkan seratus kali lipat. Kalau kita terus tidak mau tahu, membiarkan penjahat selalu merampok, kekerasan hati dan pendapat kita berkuasa, segala keinginan kita menghimpit sampai tidak dapat berbuah, yang jelas kita akan dibakar bersama segala rumput kering lain yang tidak berguna.

Pengertian kita akan Allah dan Yesus, menjadi kendali utama yang akan membuat kita mampu menyusun semua rencana kita untuk dapat menghasilkan buah yang berkelimpahan.


Selamat merenungkan,
Pastor
Antonius Sumardi, SCJ.
www.st-stefanus.or.id