Selasa, 06 September 2011 Hari Biasa Pekan XXIII

Selasa, 06 September 2011
Hari Biasa Pekan XXIII

JANGAN TAKUT DIPILIH

Yesus pergi ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar daripada-Nya, dan semua orang itu disembuhkan-Nya. <---> Luk:12.19


Doa Renungan


Tuhan Yesus, untuk memilih bagi-Mu orang-orang yang bersedia mengikuti rencana-Mu, Engkau berdoa semalam-malaman. Semoga teladan-Mu ini kami hayati dalam segala perencanaan dan pekerjaan yang hendak kami mulai pagi ini. Biarlah dalam segala doa-doa dan penyerahan diri kami, Engkau sendirilah yang memimpin dan meneguhkan langkah kami. Doakanlah kami ya Tuhan yang rapuh dan lemah ini agar kami sanggup bekerja bagi-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose (2:6-15)

"Allah telah menghidupkan kamu bersama dengan Kristus, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita."

Saudara-saudara, kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 836
Ref. Segala bangsa bertepuk tanganlah berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat. (Mzm 145:1-2.8-9.10-11; Ul:1)

1. Aku hendak mengagungkan Dikau, ya Allah, ya Rajaku, aku hendak memuji nama-Mu untuk selama-lamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
2. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
3. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 961
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 10:27)
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan
Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:12-19)

"Semalam-malaman Yesus berdoa, lalu Ia memilih dua belas orang, yang disebut-Nya rasul."

Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yohanes dan Yakobus, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya, dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

Pada suatu waktu, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa. Mengapa ia senang berdoa di bukit? Karena di bukit suasananya hening. Ini membantu Yesus untuk memusatkan perhatian-Nya pada Allah yang bersemayam di dalam diri-Nya. Di bukit itu, semalam-malaman Yesus berdoa kepada Allah. Doa Yesus bukanlah doa yang penuh kata. Doa Yesus adalah hening. Ia diam. Ia menyadari pikiran-pikiran-Nya sebagai manusia yang sering lalu lalang. Ia mengajak pikiran-Nya sebagai manusia yang lalu lalang itu untuk turut diam, siaga, menanti tanda kehadiran Allah di dalam diri. Kenapa harus begitu? Karena Allah hadir secara lembut, dan sering kita kurang sadari jika kita sibuk dengan pikiran sendiri atau batin kita tidak hening, tidak siap menanti dan menyadari. Allah hadir di dalam Yesus. Yesus Pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan Yesus digerakkan oleh kuasa Allah di dalam diri-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya. Ia memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut rasul, termasuk Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Bagaimana cara Yesus memilih keduabelas orang itu? Berdasarkan kriteria apakah mereka dipilih. Yesus tidak menyebutkan-Nya secara terang-terangan. Tapi itu bukan berarti pemilihan dilakukan secara asal-asalan. Yesus mengandalkan intuisi, hati nurani, mata hati, atau kuasa Roh Kudus yang ada dalam diri-Nya. Bagaimana Yesus tahu bahwa pilihan itu adalah pilihan Allah, bukan kehendak-Nya sendiri? Karena Ia suka mengendapkan dan menjernihkan diri-Nya sendiri dulu semalam-malaman. Setelah itu, Ia turun bersama keduabelas murid-Nya ke tempat yang datar. Di sana, sudah menunggu orang banyak yang hendak minta bantuan. Mereka berusaha menjamah Yesus. Keyakinan mereka bersambut dengan kuasa Allah yang memang hadir dalam Yesus.

Saudara-saudari terkasih.

Yesus adalah Anak Manusia, sama seperti kita. Yesus punya pikiran dan perasaan sendiri, atau dorongan untuk mementingkan diri sendiri juga, sama seperti kita. Namun Yesus tidak mengikuti dorongan memenuhi kepentingan pribadi. Ia senantiasa mengendapkan pikiran, perasaan, dan kebutuhan-Nya sendiri, supaya yang tinggal hanyalah kuasa Allah yang akan menggerakkan diri-Nya, bukan kekuatannya sendiri yang menggerakkan-Nya. Seperti secangkir kopi yang sudah mengendap ampasnya di dasar cangkir, yang tinggal hanyalah sari kopinya yang jernih dan nikmat untuk diminum. Demikianlah dalam diri Yesus, pikiran, perasaan, dan kebutuhan pribadi-Nya sudah mengendap. Yang tinggal hanyalah kuasa Allah yang murni, yang menggerakkan tindakan-Nya. Berbeda dengan kita. Kita seperti secangkir kopi yang semakin diaduk semakin keruh. Karena kita sibuk mengikuti pikiran, perasaan, dan kebutuhan kita sendiri.

Saudara-saudari terkasih.

Mengapa kita cenderung mengikuti pikiran, perasaan, dan kebutuhan kita sendiri? Karena kita senang menjadi benalu. Benalu adalah tanaman yang menempel pada pohon lain, dan menghisap makanan pohon itu untuk dirinya sendiri. Atau seperti lintah, yang sering kita lakukan adalah menghisap keuntungan dari lingkungan untuk kesenangan kita. Berbeda dengan Yesus. Ia memilih untuk menjadi inang, yang bersedia untuk memberi makan bagi benalu yang membutuhkan. Untuk menjadi inang, mustahil kita mengandalkan kekuatan sendiri. Kita perlu mengandalkan kuasa Allah. Biarlah kuasa Allah bekerja melalui diri kita. Bagaimana caranya? Sama seperti Yesus, dengan hidup seutuhnya sebagai doa. Pertama, tujuan kita adalah berhubungan dengan Allah di dalam diri, bukan di luar diri. Kedua, mengosongkan diri, agar Allah dapat bersemayam di dalam diri kita. Ketiga, kesediaan untuk berhubungan dengan Allah, mengosongkan diri dan mengundang Allah untuk hadir sebagai ganti ego pribadi, kita lakukan setiap detik.

REFLEKSI:


Apakah aku sering sibuk dengan pikiran, perasaan, dan kebutuhan kita sendiri? Maukah kita bertanya setiap detik?

MARILAH KITA BERDOA:


Tuhan Yesus, terima kasih, Kau menunjukkan teladan hidup-Mu, yakni hidup seutuhnya sebagai doa. Ada kalanya Kau menyepi untuk bisa bersatu dengan Allah secara mesra. Namun sesungguhnya, dalam setiap detik hidup-Mu, Kau senantiasa mengendapkan kehendak Allah, ya Yesus...doa ini kami persmbahkan dalam nama-Mu, Tuhan dan penyelamat kami. Amin.



LUMEN NO : 6971
Renungan Lumen 2000