Pertemuan BKSN Minggu III: "Perumpamaan Tentang Lalang Di antara Gandum" (Mat 13:24-30)

Subtema ke-3 BKS 2011 (Matius 13:24-30)

Begitu banyak rupa perumpamaan yang diceritakan Yesus dan ternyata perumpamaan “Tentang Lalang dan Gandum” ini sangat menarik.

Bagaimana orang dapat mempertahankan hidup baik dan bermanfaat di tengah carut marutnya kehidupan saat ini.Banyak sekali godaan yang butuh kepekaan untuk membedakan antara yang baik dan buruk.

Lalang


Lalang dalam bahasa Ibrani ; Zunim, berasal dari bahasa Yunani ; Zizanion adalah tumbuhan yang mengandung racun.Dapat tumbuh dengan cepat di mana saja, tanpa perlu perawatan.

Pada awal pertumbuhan sangat sulit membedakan antara lalang dan gandum tapi ketika sudah mulai bertumbuh besar barulah terlihat perbedaannya tapi sudah terlambat karena akar ke dua tanaman sudah saling terkait dan terjalin sehingga sangat sulit bagi petani untuk mencabutnya tanpa merusak tanaman di sekelilingnya. Karena itulah orang Yunani dahulu menamakan lalang sebagai “gandum haram”

Lalang diibaratkan sebagai orang-orang yang hidupnya tak lebih hanya sebagai pembawa “petaka” bagi orang-orang di sekitarnya.

Gandum


Bibit gandum yang ditanam dan dipelihara dengan baik adalah orang yang selalu menerapkan dan memelihara kehidupan yang baik sehingga berdampak positif bagi orang lain.Namun tak semudah itu menjadi gandum yang bermanfaat karena benih lalang ditaburkan oleh musuh ketika penjaga tidur.

Pengaruh dari kuasa jahat senantiasa membayangi kehidupan orang baik yang hidupnya taat pada Allah.Tumbuh bersama dan saling berlomba untuk saling mempengaruhi. Siapa yang menang ?

Senantiasa waspada terhadap pengaruh negatif dengan segala tipu muslihatnya karena pengaruh negatifnya tidak serta merta terlihat seperti halnya biji gandum dan lalang pada waktu masih berupa benih.

Pengaruh buruk tidak hanya berasal langsung dari manusia lain tapi dari perkembangan zaman yang tumbuh bersama dengan kehidupan.

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yak 1.14-15)

Keinginan memenuhi gaya hidup yang tak sesuai kemampuan dan keperluan, akhirnya dapat masuk ke dalam dosa yang diam-diam menghalalkan segala cara, guna menjaga penampilan untuk selalu diakui seperti yang dikatakan Mario Teguh ;

Ribuan orang jatuh miskin setiap tahun
karena upayanya untuk menghindari kelihatan miskin.

Jangan izinkan orang lain menentukan
apa yang bisa membuat Anda merasa yakin,
selain kesungguhan untuk mencapai
titik ledak keberhasilan pribadi Anda.

Lebih baik tampil seadanya dengan ikhlas,
daripada berhutang dan berbicara tinggi
supaya tidak kelihatan kekurangan.

Bekerja dengan ikhlas
dan jujur dalam kemiskinan
adalah awal dari perjalanan sejati
menuju kekayaan hati dan raga.

Orang yang terjebak dengan perilakunya sendiri akan sama terkejutnya dengan para penggarap (hamba-hamba) ketika menemukan lalang diantara bulir-bulir gandum di ladang tempat mereka mencari nafkah.

Pertemuan BKSN Minggu II: Perumpamaan Tentang "Anak Yang Hilang" (Lukas 15:11-32)

Subtema ke 2 – BKS 2011

(Lukas 15 : 11 – 32)


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (15:11-32)

Sekali peristiwa Yesus berkata lagi: "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Kritikan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang mempermasalahkan kedekatan Yesus dengan para pendosa ditanggapi oleh Yesus dalam 3 perumpamaan-Nya, yakni : domba yang hilang , dirham yang hilang dan anak yang hilang.

Namun kisah anak yang hilang memiliki keunikan dibandingkan kedua perumpamaan lain dimana proses hilang karena jatuh dalam dosa dan kembalinya si pendosa mendapatkan penolakan.

Kenangan masa kecil yang tidak dapat saya lupakan ketika saya dan teman-teman setiap malam di musim kemarau berkumpul dan tiduran beralaskan tikar dan selimut di suatu halaman yang luas, dan dengan antusias mendengarkan cerita dari ibu-ibu yang bergiliran bercerita tentang wayang : Rama dan Sinta, Perang Baratayuda, ketoprak, dunia binatang dan masih banyak lagi.

Pada setiap akhir cerita, si pencerita selalu menekankan bahwa kejahatan pasti kalah dari kebaikan.Sayang sekali kebiasaan yang baik tersebut sudah jarang atau tidak ditemukan lagi pada zaman globalisasi sekarang ini. Para ibu sibuk bekerja membantu perekonomian keluarga atau menonton sinetron yang entah sampai episode berapa berakhirnya atau kesibukan lainnya. Sementara si anak asyik dengan dunianya sendiri ; duduk manis di depan komputer ber-facebook, chatting, mendengarkan musik?

Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang ini, Yesus hendak memperlihatkan kepada kita para murid dan sahabat-Nya tentang drama kehidupan dalam hubungan dengan sesama.

Anak bungsu :

Dunia luar ternyata sungguh sangat menarik, menawarkan banyak kemewahan dan kenikmatan yang memabukkan siapa saja. Untuk memenuhi/menanggapi tawaran tersebut si bungsu menjadi BERANI meminta “hak” yang belum menjadi haknya dan meninggalkan “rumah” yang telah memberikan kesejukan, keamanan dan kedamaian baginya.Padahal segala yang menarik itu ternyata penuh kepalsuan dan bersifat sementara. Ada uang maka ada persahabatan sebaliknya tak ada uang entah ke mana perginya persahabatan, si bungsupun ditinggal sendiri.

Dalam kesendiriannya terjadilah konflik batin yang luar biasa : marah karena menyadari kebodohannya, kecewa karena tidak mendengarkan “nasehat” sebelum ia pergi meninggalkan rumah, malu karena menyadari kegagalannya. Konflik batin sudah mencapai titik puncaknya dimana ia sendiri tak sanggup lagi menanggung, oleh karenanya ia bersikap pasrah.

Kepasrahan memaksanya untuk mengakui segala kebodohannya dan menyadarkan bahwa rumah ayahnya adalah yang terbaik untuknya .Berbekal dengan pengalaman pahit itu ia bangkit, berdiri dan berlari kembali ke “rumah”. Sekalipun ia menyadari bahwa ia sudah tidak mempunyai hak atas “rumah” itu namun ia masih berharap untuk diterima sebagai pelayan ayahnya.Tetapi apa yang dia terima ?

Sang ayah :

Sang ayah sudah banyak makan asam garam, sangat mengetahui bagaimana jahatnya dunia luar terutama bagi anaknya yang masih tergolong belia namun ia senantiasa berdoa dan menantikan si anak kembali ke pangkuannya. Maka ketika ia mendengar dan melihat si anak pulang, ia mampu melupakan segalanya , berlari menyongsong dan memeluk si anak dengan penuh kasih dan suka cita.

Menunjukkan rasa syukurnya, sang ayah mengadakan pesta dan mengajak seluruh handai taulan untuk turut bersuka cita menyambut kembalinya si bungsu.

Di sinilah puncak pesan yang ingin disampaikan Tuhan Yesus bahwa Bapa adalah Tuhan yang Maharahim berkenan mengampuni kita yang berani bertobat ; mengakui , menyadari kesalahan dan kembali ke pangkuan-Nya yang hangat dan penuh kasih serta mau berjanji untuk hidup lebih baik.

Ternyata masalah tidak selesai sampai di situ saja, harapan sang ayah akan kembalinya si bungsu tidak cukup melegakan hatinya. Apa lagi yang dihadapi sang ayah ?

Anak sulung :

Semula sikap penuh ketaatan dan pengabdian selalu tampak dalam diri anak sulung. Namun kembalinya sang adik ,menguak sisi negatif perilakunya yang rupanya selama ini tersembunyi di balik ketaatan pada ayahnya.Rasa iri hati sudah membutakan akal sehat.Ia tak lagi dapat memandang suatu keadaan / permasalahan secara objektif dan cenderung berpikir negatif – tidak senang melihat orang lain senang. Sifat yang sungguh membahayakan dirinya sendiri dan orang lain seperti halnya Kain yang tega membunuh adiknya Habel.

Penyelenggaraan sebuah pesta besar untuk menyambut sang adik , membiarkan dirinya dibebani pikiran yang melelahkan. Ia tak sudi masuk ke ruang pesta sebagai sikap penolakannya terhadap adiknya yang pendosa.

Hidup adalah pilihan dan setiap pilihan selalu ada konsekuensi nya .

Apakah kita ingin menjadi si sulung ? Jika umat menolak pendosa yang mau bertobat, mereka sama saja dengan anak sulung yang masih harus ditunggu pertobatannya

atau

ingin menjadi si bungsu yang bertobat ?

Kasih Allah adalah suatu anugerah . ketika kita sedang jauh meninggalkan-Nya, Allah tetap menunggu pertobatan kita karena Dia bukan Allah penghukum.

Hidup “benar” sambil memandang hina , dia bukanlah abdi Allah. Seluruh pengabdian tak kan pernah tercapai jika tak ada kasih terhadap pendosa.

Untuk dapat hidup benar, maka marilah kita selalu melekatkan diri kepada-Nya. Bukankah Tuhan Yesus bersabda : ” Aku adalah pokok anggur dan engkau ranting-rantingnya?”

Minggu, 18 September 2011 Hari Minggu Biasa XXV

Minggu, 18 September 2011
Hari Minggu Biasa XXV

"Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Mat 20:15)

Antifon Pembuka

Tuhan bersabda, “Akulah penyelamat umat. Aku akan mendengarkan seruannya dalam segala kesulitan. Aku akan tetap menjadi Tuhan sepanjang masa.”

Doa Renungan

Allah Bapa Maha Pengasih dan penyayang, Engkau membaharui segala perintah-Mu dalam perintah cinta kasih kepada-Mu dan kepada sesama. Perkenankanlah kami mematuhi perintah-Mu dan memperoleh kehidupan abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Yesaya (55:6-9)

"Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu."

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya. Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengasihaninya; baiklah ia kembali kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah. "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku," demikianlah firman Tuhan. "Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu dan rancangan-Ku di atas rancanganmu."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 816
Ref. Tuhan mendengarkan doa orang beriman
Ayat. (Mzm 145:2-3.8-9.17-18; Ul: lh.18a)

1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, ya Allah, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji; kebesaran-Nya tidak terselami.
2. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
3. Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (1:20c-24.27a)

"Bagiku hidup adalah Kristus."

Saudara-saudara, dengan nyata Kristus dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Tetapi, jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -ini memang jauh lebih baik; tetapi demi kamu lebih berguna aku tinggal di dunia ini. Maka hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = a, 4/4, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Kis 16:14b)
Bukalah hati kami, ya Tuhan, sehingga kami memperhatikan Sabda Putera-Mu

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (20:1-16a)


"Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?"

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, 'Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan aku akan memberimu apa yang pantas.' Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia ke luar pula, dan berbuat seperti tadi. Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, 'Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?' Jawab mereka, 'Tidak ada orang yang mengupah kami.' Kata orang itu, 'Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.' Ketika hari sudah malam, berkatalah tuan itu kepada mandornya, 'Panggillah sekalian pekerja itu dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka, mulai yang bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat lebih besar. Tetapi, mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, "Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.' Tetapi, tuan itu menjawab salah seorang dari mereka, 'Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?' Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan


Rekan-rekan di Internos,
Karena sedang dipenuhi kesibukan, pengisi rubrik ini meminta saya berbicara mengenai perumpamaan dalam Mat 20:1-16 yang dibacakan pada hari Minggu XXV tahun A ini. Ceritanya tentu sudah anda kenal. Pagi-pagi benar seorang pemilik kebun anggur menawarkan pekerjaan dengan upah sedinar sehari. Upah sedinar memang lazim bagi pekerja harian waktu itu. Tentu saja para pencari kerja menerima. Sang empunya kebun itu kemudian juga mengajak orang yang belum mendapat pekerjaan pada pukul sembilan, duabelas, tiga, dan bahkan sampai pukul lima sore - sejam sebelum usai jam kerja. Masalahnya begini. Tiap pekerja, entah yang datang satu jam sebelum tutup hari, entah yang mulai pagi-pagi mendapat upah sama: satu dinar. Maka yang datang pagi tidak puas, kok upahnya sama dengan yang bekerja satu jam saja. Pemilik kebun menegaskan, bukannya ia berlaku tak adil. Kan tadi sudah saling sepakat mengenai upah sedinar. Ia merasa merdeka memberi upah sedinar juga kepada yang datang belakangan. Jawaban ini menukas rasa iri hati orang yang melihat ia bermurah hati kepada orang lain. Sebenarnya kata-kata itu bukan hanya ditujukan kepada pekerja yang protes melainkan kepada siapa saja yang membaca dan pendengar perumpamaan.

NAFKAH HARIAN DAN KEADILAN BAGI SEMUA

Rekan-rekan, perumpamaan ini kerap menjadi sandungan bagi rasa keadilan baik pada zaman dulu maupun sekarang. Tidak perlu kita poles permasalahannya. Justru perumpamaan itu dimaksud untuk membuat kita semakin mencermati anggapan kita sendiri mengenai keadilan. Kita diajak menyadari bahwa keadilan tak bisa ditafsirkan secara sepihak tanpa merugikan pihak lain. Dan pihak lain di sini ialah orang-orang yang baru mendapat pekerjaan setelah hari hampir lewat. Para pekerja yang merasa mendapat upah terlalu sedikit sebenarnya tidak melihat sisi yang lebih dasar dari keadilan, yakni kesempatan yang sama bagi tiap orang untuk mencari nafkah. Orang yang tak puas itu sebenarnya beruntung karena langsung mendapat pekerjaan tanpa perlu menunggu. Upah yang dijanjikan juga jelas dan wajar menurut kebiasaan waktu itu. Sudah terjamin. Tetapi ada banyak orang yang tak seberuntung mereka. Ada yang masih menganggur sampai siang dan bahkan sampai sore hari karena tak ada yang memberi pekerjaan. Dari mana mereka akan mendapat nafkah bagi hari itu? Apa mereka harus melewatkan malam hari dengan perut kosong? Apa rasa keadilan yang seperti ini tidak muncul?

Sering terdengar, urusan mereka sendirilah bila tidak berhasil mendapat nafkah penyambung hidup. Tetapi hidup dalam Kerajaan Surga tidak demikian. Di situ tersedia kesempatan yang sama baiknya bagi siapa saja. Inilah yang dalam perumpamaan tadi digambarkan dengan tindakan pemilik kebun keluar menawarkan pekerjaan bagi mereka yang kedapatan masih menganggur pada jam sembilan, tengah hari, tiga sore dan bahkan sejam sebelum waktu kerja usai. Mereka yang masih menunggu rezeki tidak ditinggalkan sendirian. Inilah keadilan yang diberlakukan dalam Kerajaan Surga.

Yesus pernah mengajarkan agar kita berdoa kepada Bapa yang ada di surga, mohon diberi "rezeki pada hari ini", maksudnya, nafkah penyambung hari ke hari. Apa yang kita rasakan kita bila kita ada dalam keadaan mereka yang belum mendapatkannya? Orang-orang ini tidak bakal dilupakan.

PERIHAL KERAJAAN SURGA


Kawan-kawan ingat, perumpamaan ini diceritakan Yesus dengan maksud untuk menjelaskan perihal Kerajaan Surga. Ia sudah sering mengajarkan bagaimana kehidupan kita di bumi ini bisa menjadi ruang leluasa bagi kehadiran Yang Mahakuasa. Oleh karena itulah saya menyampaikannya kembali dengan ungkapan Kerajaan Surga. Akan lebih mudah terbayang adanya wahana, ruang batin.

Mark dan Luc lebih suka menyebutnya Kerajaan Allah. Intinya sama, tetapi kedua rekan itu lebih menggarisbawahi yang hadir di dalam ruang batin itu, yakni Allah sendiri. Saya sendiri lebih menyoroti diri kita sebagai ruang tadi. Pemikiran saya ini ada latar belakangnya. Mari kita tengok kembali kisah penciptaan, khususnya yang terjadi pada hari kedua (Kej 1:6-8). Bukankah pada hari kedua itu Allah menjadikan langit? Dan yang dinamaiNya langit itu berperan memisahkan air yang di bawah dan air yang di atas. Karena itulah mulai ada ruang bagi ciptaan-ciptaan berikutnya, yakni daratan, laut, tumbuh-tumbuhan, hewan sampai kepada manusia.

Boleh saya sebutkan, dalam bahasa Ibrani (dan Aram, dan Yunani), kata untuk langit yang kita bicarakan itu sama dengan kata bagi surga, yakni "syamaim" (Aram "syemaya", Yunani "ouranos"). Berkat "syamaim" yang diciptakan tadi, berkat surga, maka bumi beserta isinya, dan khususnya manusia, kiini terlindung. Jadi surgalah yang membendung kekuatan-kekuatan gelap serta kekacauan yang ada di seputar ciptaan yang dilambangkan dengan air-air. Jadi Pencipta menghendaki wahana kehidupan ini sejak awal dilingkupi oleh surga. Bila gagasan Kitab Kejadian di atas diikuti, maka ciptaan bersama isinya tentunya juga dimaksud agar semakin menjadi tempat kehadiran-Nya. Oleh karena itu, Kerajaan Surga boleh dibayangkan sebagai wahana yang luas tak berbatas yang semakin terisi siapa saya yang ingin masuk berlindung di dalamnya. Yang datang terlebih dahulu atau yang sudah lama menunggu dan baru masuk belakangan akan mendapatkan tempat.

Yesus datang mewartakan bahwa Kerajaan Surga benar-benar sudah ada di dekat. Ia mengajak orang banyak bertobat - ber-metanoia - yang artinya bukan semata-mata kapok dari berbuat jahat dan banting setir, melainkan berwawasan luas melampaui yang sudah-sudah, maksudnya, tidak mengurung diri dalam pandangan-pandangan sendiri, tetapi mulai berpikir jauh ke depan meluangkan diri bagi kehadiran ilahi.

PENERAPAN

Dalam masyarakat kami dulu ada gagasan bahwa semua tindakan di bumi ini cepat atau lambat akan mendapat ganjaran sepadan di sini atau di akhirat, begitu pula kejahatan akan mendapat hukuman setimpal. Semacam balasan dari atas sana dengan menggunakan cara-cara seperti yang ada di dunia. Pendapat ini katanya ada juga dalam masyarakat anda. Kata para ahli, alam pikiran seperti ini ada di mana-mana. Memang ajaran ini menjadi pengontrol perilaku individu. Tapi bila hanya itu, orang akan bertanya-tanya, bagaimana dengan orang yang tidak dapat berbuat banyak? Apa hanya sedikit ganjarannya nanti? Jadi nanti di akhirat ada tingkat-tingkat menurut ukuran yang kita kenal sekarang? Dengan perumpamaan hari ini Yesus mengajak orang menyadari bahwa Kerajaan Surga itu berkembang dengan kemurahan hati Allah dan bukanlah dengan prinsip ganjaran bagi perbuatan di bumi.

Apakah perumpamaan itu memuat sindiran bagi kita manusia yang cenderung bertabiat mau mengambil lebih? Yang mudah iri bila melihat orang lain beruntung? Ah, tak usah kita pakai Injil untuk menyindir. Dan bukan itulah maksud Injil. Yesus kiranya juga tidak bertujuan menyampaikan kritik moral sosial yang perlu kita perkhotbahkan. Tujuannya ialah mengabarkan cara hidup dalam Kerajaan Surga. Pikir punya pikir memang perlakuan istimewa bagi yang masuk kerja belakangan itu termasuk warta mengenai Kerajaan Surga. Kemurahan ilahi juga tidak dapat diukur dengan banyak sedikitnya kerja. Bila diukur dengan cara itu akan tidak klop dan Kerajaan Surga akan menjadi perkara jual beli jasa. Lha nanti akan bermunculan spekulannya, berikut calo-calonya, akan berkembang korupsi dan kolusi!

Ada catatan penting. Orang-orang yang bekerja sejam itu mendapat upah karena juga bekerja sungguh-sungguh. Sedinar itu tidak dihadiahkan begitu saja. Seandainya mereka hanya enak-enak nongkrong di kebun, apa akan mendapat upah? (Ingat orang yang diberi satu talenta tetapi malah menguburkannya! Ia akhirnya tak dapat apa-apa, malah talenta itu diambil daripadanya. Ingat Mat 25:14-30, terutama ay. 24 dst. ) Upah tetap imbalan bagi usaha dan kerja yang nyata. Dan kerja penuh, tidak separo-separo. Yang bekerja hanya sejam itu juga bekerja penuh. Kan tak bisa lebih. Satu jam kemudian sudah tutup hari. Yang datang jam enam pagi ukurannya ya sehari penuh.

Kawan-kawan, Kerajaan Surga itu ditawarkan kepada orang yang berada dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang sudah menunggu lama tapi tak kunjung mendapatkannya. Kalau dilihat dari sudut pandang ini, boleh jadi kita bisa lebih memahami kenapa pemilik kebun itu bermurah hati. Dan juga kita-kita yang boleh jadi merasa patut mendapat lebih akan merasa tidak perlu menuntut. Apakah kita tidak malah senang ada makin banyak orang yang diajak bekerja? Paling tidak pekerjaan kita bisa jadi ringan! Dan bagaimana bila yang datang terakhir itu justru kita sendiri?

Salam,
Matt

Sabtu, 17 September 2011 Hari Biasa Pekan XXIV

Sabtu, 17 September 2011
Hari Biasa Pekan XXIV

TANAH YANG BAIK

Kata Yesus : Dan sebagian benih itu jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" (Luk 8:8)


Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, tinggallah di tengah kami dan jadilah gembala kami. Dalam kesibukan sehari-hari menyambung hidup, jangan biarkan kami melupakan sesama yang menderita dan susah hidupnya. Tuntunlah agar dalam tutur kata dan perilaku, kami selalu rendah hati dan riang hati dalam memberi, membawa ketentraman dan damai. Biarkan rahmat-Mu mengasah hati kami sehingga kami semakin peka pada sesama yang rindu akan sabda penghiburan-Mu. Semoga kehadiran kami menjadi tanda belas kasih-Mu. Sebab Engkaulah yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (6:13-16)

"Taatilah perintah ini tanpa cacat sampai saat kedatangan Tuhan."

Saudara terkasih, di hadapan Allah yang menghidupkan segala sesuatu dan di hadapan Yesus Kristus yang memberi kesaksian yang benar di hadapan Ponsius Pilatus, aku memperingatkan engkau, "Taatilah perintah ini tanpa cacat dan tanpa cela hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Saat itu akan ditentukan oleh Penguasa satu-satunya yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan diatas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada kematian, dan bersemayam dalam cahaya yang tak terhampiri. Tak seorang pun pernah melihat Dia, dan tak seorang manusia pun dapat melihat Dia. Bagi Dialah hormat dan kuasa yang kekal. Amin.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Mzm 100:2.3.4.5; Ul: 3c)
1. Beribadatlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!
2. Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita; kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
3.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, masuklah ke pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya, dan pujilah nama-Nya!
4. Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:4-15)

"Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus. Maka Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, "Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat." Sesudah itu Yesus berseru, "Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah mendengar." Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu. Yesus menjawab, "Kalian diberi kurnia mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Sabda Allah. Yang jatuh di pinggir jalan ialah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah Iblis, lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ialah orang yang setelah mendengar sabda itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar. Mereka hanya percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri, ialah orang yang mendengar sabda itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Renungan

Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin.


Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus

Yesus menggambarkan sifat manusia lewat perumpamaan tentang penabur. "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Saudara-saudari terkasih,

Benih yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." Apakah hati kita termasuk jenis tanah dipinggir jalan yang hidup seenaknya sendiri? Apakah hati kita termasuk jenis tanah berbatu-batu yang mudah bertobat dan mudah juga berbuat dosa? Apakah hati kita termasuk jenis tanah dalam semak duri yang gampang dipengaruhi oleh hal-hal dunia dan hanya mengejar hal-hal yang lahiriah? Apakah hati kita termasuk jenis tanah yang baik? Tanah yang baik akan berbuah lebat dan bisa dirasakan oleh orang lain. Buah-buah itu berupa kesabaran, kejujuran, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri.

Saudara-saudari terkasih,

Setiap dari kita ingin menjadi manusia yang baik dan berguna bagi orang lain. Namun keinginan saja tidak cukup. Dibutuhkan usaha dan perjuangan terus-menerus. Usaha dan perjuangan manusia menjadi syarat mutlak untuk seseorang menjadi sukses. Ada orang yang awalnya bersemangat untuk bekerja tetapi lama-kelamaan semangatnya menjadi kendur. Ada lagi yang berusaha untuk sukses dan jadi orang baik. Tetapi saat ada tantangan dan masalah, orang itu menyerah dan putus asa. Sebagian besar manusia menempuh jalan yang singkat dan pintas. Mereka tidak sadar bahwa jalan yang singkat dan pintas justru membawa manusia kepada kesesatan dan penderitaan.manusia cenderung menghindari jalan yang terjal, berliku-liku dan sempit. Padahal justru jalan yang terjal, berliku-liku dan sempit justru membawa manusia kepada kebaikan dan keselamatan. Dan hanya sedikit orang memilih jalan tersebut. Mereka yang memilih jalan itu adalah orang-orang yang mendengar sabda Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

Saudara-saudari terkasih,

Orang yang mendengar sabda Tuhan dan melakukannya adalah orang yang hatinya baik. Hati yang baik sama dengan tanah yang baik. Hati yang baik dibentuk lewat tahap-rahap tertentu. Setiap manusia memang lahir dalam kondisi yang baik adanya. Namun pengaruh-pengaruh dosa bisa membawa manusia kepada kejahatan dan kesengsaraan. Maka sangat penting kita memelihara hati kita sejak lahir sampai kita mati. Dan ketika seseorang lahir, menjadi tugas orang tua untuk memberi makan kepada anak tersebut sekaligus membimbing dan menuntun anak tersebut kepada kebaikan. Orang tua tidak cukup memberi makan dan minum. Orang tua hendaknya mengarahkan anak yang masih kecil untuk dapat mengenal dan mencintai Tuhan. Pengenalan dan cinta akan Tuhan mampu menjauhkan manusia dari perbuatan yang jahat dan tercela. Anak perlu dilatih untuk menghormati dan mencintai Tuhan, orang tua, sesama dan diri sendiri. Jika demikian maka kita sedang menyiapkan tanah yang baik untuk anak kita.

REFLEKSI:


Apakah aku hatiku sudah menjadi tanah yang baik atau hatiku masih menjadi tanah yang tidak baik?

MARILAH KITA BERDOA:

Tuhan Yesus Kristus, setiap saat Engkau menaburkan benih sabdaMu dalam hati kami. Namun terkadang hati kami bagaikan tanah di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, atau tanah yang bersemak duri. Curahkanlah rahmat-Mu agar hati kami menjadi tanah yang baik sehingga menghasilkan buah. Doa ini kami persembahkan dalam nama Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.



LUMEN NO : 6982 --- Renungan Lumen Indonesia