Hati dan Pikiran

Renungan

Bagi Santo Paulus, yang sungguh berharga yang harus disimpan dalam hati dan dalam pikiran adalah: hidaup dalam damai sejahtera dalam Allah. Untuk memelihara damai sejahtera itu orang harus memelihara kekayaan utama, yaitukebenaran, kemuliaan, keadilan, kesucian, kemanisan, dan segala yang sedap didengar serta kebajikan dan yang patut dipuji itulah yang layak untuk direnungkan dan dipikirkan.

Oleh Tuhan Yesus semua nilai itu disebut dengan istilah yang merangkum yaitu semangat untuk “menghasilkan buah pada waktunya”. Kerajaan Allah yaitu Sabda yang telah menjelma menjadi manusia, telah menanamkan firman Allah di dalam hati manusia yaitu Sabda Iman untuk menghasilkan buah keselamatan. Kita manusia diumpamakan penggarap yang harus menghasilkan buah pada waktunya.

Maka kita menurut Santo Paulus, untuk menghasilkan buah keselamatan atau juga disebut dengan damai sejahtera. Kita harus bekerja dengan benar dan dalam kebenaran Tuhan, yang berarti juga mengikuti peraturan dan tata-cara yang berlaku supaya menghasilkan buah. Yaitu bahwa tanaman itu harus dijaga dan dirawat, supaya semua kemungkinan untuk menghasilkan buah itu menjadi kenyataan, tidak mati kekeringan, atau dimakan binatang, atau kena penyakit yang mengakibatkan gagal panen.

Penyakit yang merasuk dalam hati dan pikiran penggarap adalah salah satunya keinginan untuk memiliki baik kebun maupun seluruh hasil, membuat pemilik kebun anggur tidak mendapatkan apa yang diharapkan yaitu hasil yang baik pada waktunya. Karena penggarapnya kena virus yang mematikan yaitu keinginan untuk membinasakan baik penggarap lain maupun ahli waris dari pemilik. Walaupun para penggarap yaituumat israel dan kita menolak ahli waris pemilik, yaitu Tuhan Yesus yang adalah batu penjuru yang dibuang tetapi oleh Allah dijadikan batu penjuru dasar keselamatan itu sendiri.

Dalam kepercayaan kepada Tuhan Yesus sebagai batu penjuru mendorong kita juga untuk secara konsekwen menjaga nilai-nilai kebenaran, keadilan, kemuliaan, kesucian dan suasana hidup yang manis, serta segala kebajikan dan semua yang sedap untuk didengar, itulah yang harus dipelihara dan dikembangkan untuk menghasilkan buah pada waktunya.Kapan waktunya, yaitu pada saat anak Bapa Tuan pemilik kebun anggur itu datang untuk mengambil hasil panenannya.

Kalau nilai-nilai itu kita jadikan rambu-rambu dalam menapaki hidup kita yang kita sadari sebagai penggarap, yang harus membagi hasilnya kepada Allah dalam kesejahteraan bagi sesama. Maka kita juga akan terjaga dari sikap angkuh, sikap arogan, sikap tinggi hati dan serakah, sehingga kita akan siap kapan saja untuk berbagi hasil dengan pemilik kebun anggur dan kepada para konsumen yang mengharapkan panenan dari pemilik kebun anggur tersebut.

Oleh karena itu kita tidak boleh terjebak oleh pikiran kita sendiri dan keinginan kita sendiri yang kemudian sembrono dalam mengelola usaha majikan dan dalam mengerjakan pekerjaan untuk menghasilkan buah keselamatan secara maksimal. Karena kalau kita tidak bertanggung jawab kita sendiripun akan kehilangan rejeki kita, karena kita tidak panen sebagaimana mestinya. Sehingga panenannya justru orang lain lagi yang akanmemetik buahnya dan menikmatinya.

Selamat merenungkan,

Pastor Antonius Sumardi, SCJ