Injil Minggu Biasa XX/C, Kamis Hari Biasa Pekan XXIX Tahun I/II (Luk 12:49-53)

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (12:49-53)

"Aku datang bukannya membawa damai, melainkan pertentangan."

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala! Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung! Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya, ibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertuanya."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Rekan-rekan yang budiman!
Diperdengarkan dalam Luk 12:49-53 serangkaian pernyatan keras dari Yesus. Heran mengapa pribadi yang biasanya tenang dan lembut itu kali ini terasa mengancam. Malah terang-terangan ia bilang, keliru kalau menyangka dirinya membawakan “damai”. Kali ini yang ia datangkan, tegasnya sendiri, ialah pertentangan. Jadi apa inikah sisi Yesus yang mengobarkan konflik antar generasi?

Dua ayat pertama dari petikan di atas (ay. 49-50) berasal dari sumber khusus yang hanya didapati dalam Injil Lukas. Tiga ayat berikutnya (ay. 51-53) diolah kembali oleh Lukas dari bahan yang juga dikenal dalam Mat 10:34-36. Bagian yang khusus Lukas tadi memuat dua ibarat yang kiranya cukup dikenal oleh para murid Yesus ketika itu, yakni “api” dan “baptisan”. Ada baiknya diketahui bahwa kumpulan perkataan Yesus yang bergema dalam ayat 49-50 itu berasal dari masa sesudah Yesus bangkit. Kehadirannya dalam ujud baru, yakni dalam Roh, bisa dialami para murid. Oleh karena itu, guna memahami perkataan Yesus dalam petikan kali ini marilah kita terlebih dahulu berusaha menyelami pengalaman para murid pertama tadi. Tidak usah kita buru-buru menerapkan kata-kata tadi bagi kehidupan masa kini dengan resiko malah meleset dan bertentangan dengan yang hendak diutarakan Injil sendiri.

APA ARTI “API” DI SINI?

Para murid generasi pertama paham bahwa kedatangan Yesus itu seperti api yang didatangkan ke muka bumi. Api memurnikan logam mulia yang tadinya campuran. Juga dikatakan, api itu dilemparkan ke bumi, seperti dalam ungkapan aslinya, didatangkan dengan cepat dan kuat. Kedatangan Yesus di bumi ini memurnikan kemanusiaan. Itulah gagasan yang mendasari ayat 49.Tetapi guna memahami lebih dalam ibarat “api” dalam ay. 49, perlu gagasan pemurnian dan kekuatan tadi dikaitkan dengan peristiwa Pentakosta (Kis 2:1-47) yang juga disampaikan oleh penulis Injil Lukas. Ketika itu para murid sedang berkumpul untuk memperingati berlalunya masa 7 minggu atau hari kelima puluh sesudah Hari Kebangkitan. Perayaan ini awal mulanya di kalangan Yahudi dijalankan sebagai hari syukuran 7 minggu setelah mulai musim menuai gandum, seperti terungkap dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Dalam perkembangan selanjutnya, hari “ke-50” itu dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu juga dirayakan untuk memperingati turunnya Turat kepada Musa. Pesta itu menjadi pesta umum di Tanah Suci dan diikuti banyak orang. Bagi para pengikut Yesus, hari itu sekaligus dirayakan sebagai peringatan genap 7 minggu setelah panenan rohani yang pertama, yakni Kebangkitan. Khusus pada hari Pentakosta ini turunlah Roh Kudus kepada para murid. Panen rohani kini juga menjadi kekuatan baru bagi mereka, seperti Taurat baru yang kini hidup dalam budi dan hati para murid. Bentuknya apa? Gambarannya ialah seperti nyala api yang mendatangi para murid dan memberi keleluasaan berbicara dan kekuatan untuk memurnikan pengalaman batin serta mengisahkannya dengan cara yang bisa dimengerti orang. Kejadian ini disampaikan dalam Kis 2:1-11. Inilah langkah pertama untuk memahami “api” yang menyala ke bumi manusia. Tapi tak perlu kita cepat-cepat mencari tafsiran peristiwa tadi bagi zaman ini. Sebaiknya diresapkan dulu apa yang sungguh dialami para murid, bukan yang langsung bisa dibayangkan atau dikhotbahkan.

KEPEDULIAN SOSIAL DI KALANGAN UMAT

Dalam Kisah Para Rasul, peristiwa turunnya Roh Kudus dalam ujud lidah api yang menyala-nyala itu bukan satu-satunya kejadian yang ditonjolkan. Pada hari itu juga ada peristiwa penting yang lain. Peristiwa itu ialah kesaksian Petrus mengenai kebangkitan Yesus serta ajakan bagi orang banyak agar bertobat dan dibaptis dalam nama Yesus demi pengampunan dosa dan datangnya karunia Roh Kudus. Selain itu disebutkan juga pembaptisan orang banyak. Hari itu juga bertambahlah jumlah umat dengan 3000 jiwa Semua ini ada dalam Kis 2: 14-41.
Kemudian dalam Kis 2:42-47, yang masih jadi bagian peristiwa Pantekosta, diungkapkanlah cara hidup komunitas pertama para pengikut Yesus. Ini kenyataan apa itu hidup dalam kekuatan Roh Kudus yang tadi turun dalam bentuk api yang menyala-nyala. Umat bertekun mendalami iman dengan bimbingan pengajaran para rasul. Maksudnya, mereka berusaha menyelami pengalaman yang diutarakan dan dibagikan oleh orang-orang yang masih mengenal Yesus dari Nazaret sendiri, yaitu para rasul sendiri. Begitulah iman mereka itu iman yang diturun-temurunkan dan diteguhkan dengan pendalaman batin. Juga bagi kita di zaman ini. Iman seperti ini bukan semata-mata penemuan pribadi dalam ujud pencerahan dari atas sana. Iman yang begini ini berpijak di bumi, bukan mengawang-awang atau membatin melulu. Kehidupan umat pertama itu juga berpusat pada ekaristi, dengan ungkapan waktu itu, dalam “pemecahan roti dan doa”. Artinya, dalam berbagi rezeki lahir batin.
Patut diketahui, sebagian besar umat pertama memang termasuk kaum berada dan kaum berpendidikan. Tapi di sekitar mereka ada orang-orang lain yang hidupnya pas-pasan atau malah serba berkekurangan. Ada pula orang yang tidak begitu terurus karena tak ada sanak saudara lagi, seperti halnya para janda atau perempuan yang tidak berkeluarga, juga para yatim piatu. Memang mereka bukan selalu bagian dari umat. Tidak semua sudah dibaptis dan masuk kelompok umat. Tetapi tanggung jawab para murid dan mereka yang merasa diri anggota umat membuat diri mereka tidak menutup mata terhadap realitas sosial yang ada. Umat ikut merasa bertanggung jawab mengusahakan agar orang-orang yang ada di sekitar mereka dapat menjadi pribadi manusia yang layak, yang tidak merasa selalu terpojok karena lahir dan besar di lapis masyarakat bawah, tak punya dan tak memiliki kesempatan maju dan tampil di masyarakat. Umat pertama yang telah ikut merasakan kekuatan dan keberanian “api” yang dialami para rasul tadi kini mengangkat orang-orang yang terpinggir, yang kurang berezeki. Inilah pemurnian yang membuat kehidupan pengikut Yesus tampak dan inilah sumber kekuatan mereka.

MENENGOK KE BELAKANG UNTUK MAJU

Dalam Luk 12:50 ada ungkapan lain yang boleh tidak langsung jelas bagi orang sekarang. Di situ disebutkan bahwa Yesus merasa dirinya perlu dibaptis dengan “suatu baptisan” dan bahwa ia gundah sebelum ini terlaksana. Di kalangan umat pertama, jelas yang dirujuk ialah peristiwa salib dan kebangkitan. Inilah “baptisan” yang dimaksud di situ. Ketika masih hidup dengan para murid pertama, Yesus selalu menghubungkan pengajaran serta penyembuhan dengan penolakan terhadap dirinya di Yerusalem oleh para pemimpin Yahudi. Penolakan itu berakhir dengan penghukuman mati baginya di salib. Tapi justru salib dan kebangkitan itu kemudian menjadi sumber kekuatan umat yang baru.
Yesus berbicara mengenai dirinya sendiri. Tidak usah ungkapan itu dipahami sebagai ajakan untuk menjadi seperti dia. Ini tidak diajarkan Injil. Yang diminta dari para murid ialah mengikuti dia, menyertainya berjalan ke salib, bukan menghendaki ikut disalib! Kemartiran bukan tujuan, melainkan konsekuensi. Bila orang menyertainya dalam perjalanan ke sana, ia akan juga ikut berbagi kebangkitan dengannya. Itulah gagasan mengalami baptisan yang disebut-sebut dalam ayat 50.

BUKAN KONFLIK GENERASI.

Perkataan Yesus dalam Luk 12:50-53 ada banyak miripnya dengan yang disampaikan dalam Mat 10:34-36. Memang sumbernya ialah kumpulan kata-kata Yesus yang waktu itu sudah beredar di kalangan umat. Tetapi Lukas mengolahnya kembali bagi komunitasnya. Sumber itu memang mencerminkan keadaan di kalangan para pengikut pertama Yesus di kalangan Yahudi. Dengan menjadi pengikut Yesus, orang memang praktis memisahkan diri dari adat dan praktek agama leluhur, dalam hal ini, adat dan keagamaan orang Yahudi.

Keadaan ini bisa dirasa sebagai konflik agama antara generasi tua dan generasi muda. Karena itulah dibicarakan adanya pertentangan ayah terhadap anaknya, ibu menghadapi anak perempuannya, ibu mertua dengan menantu perempuan. Tapi yang ditekankan Lukas bukan terutama pertikaian di bidang hidup agama melainkan konsekuensi berpegang pada tekad serta kemauan untuk memperbaiki kemanusiaan. Damai belum ada bila kemanusiaan masih butuh perbaikan. Kekuatan Roh Kudus – yang dibayangkan sebagai api dalam peristiwa Pentakosta – memang membuat orang mau mengarah ke sana. Kemantapan ini menjadi dasar berkepedulian terhadap orang-orang yang bukan dari kelompok sendiri. Keyakinan itu membuat mereka mau dan rela berbagi rezeki dengan orang-orang yang kurang mujur hidupnya.
Keagamaan di masyarakat zaman Yesus dulu memang terasa pengap karena terlalu mengurusi kebutuhan pihak sendiri dan berpusat pada upacara, dan kurang pada kehidupan. Yesus datang memurnikan keagamaan. Ia mengajarkan hidup beragama yang segar yang bisa langsung dirasakan orang banyak. Inilah yang kiranya diharapkan agar juga masih tetap dihidupi para pengikutnya, juga pada zaman ini, di masyarakat ini.

Salam hangat,
A. Gianto

Sabtu, 22 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXIX

Sabtu, 22 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXIX

"Kesatuan haruslah merupakan akibat dari pertobatan setiap orang, hasil pengampunan timbal-balik dan hubungan persaudaraan" (Beato Yohanes Paulus II)

Antifon Pembuka

Jika Kristus ada dalam dirimu maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi Roh hidup dalam kebenaran

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, dengan penuh kasih sayang Engkau memerintah segala sesuatu yang hidup dan tiada satu pun yang Kaubenci. Meski kami bukan apa-apa, namun Kaupanggil kepada-Mu. Tegakkanlah kami, bila kami bungkuk karena beban dosa, dan papahlah kami bila mau jatuh. Berilah kami kesempatan untuk memulihkan segala sesuatu yang menyebabkan orang lain rugi. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:1-11)

"Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari alam maut tinggal dalam dirimu."

Saudara-saudara, bagi mereka yang ada dalam Kristus tidak ada penghukuman. Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kalian dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat yang tidak berdaya karena daging telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa, Allah telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging agar tuntutan hukum Taurat digenapi dalam diri kita. Sebab kita tidak hidup menurut daging, melainkan menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; tetapi mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Keinginan daging ialah maut, tetapi keinginan Roh ialah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging itu bermusuhan dengan Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah. Hal ini memang tidak mungkin baginya! Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan di hati Allah. Tetapi kalian tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, kalau Roh Allah memang tinggal dalam dirimu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, maka ia bukanlah milik Kristus. Tetapi kalau Kristus ada dalam dirimu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah hidup karena kebenaran. Dan jika Roh Allah, yang membangkitkan Yesus dari alam maut, diam dalam dirimu, maka Ia yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana oleh Roh-Nya yang diam dalam dirimu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan
Ayat. (Mzm 24:1-2.3-4ab.5-6; Ul: lh.6)

1. Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
2. Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.
3. Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Tuhan telah berfirman, "Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:1-9)

"Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian."

Pada waktu itu beberapa orang datang kepada Yesus dan membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus, sehingga darah mereka tercampur dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Berkatalah Yesus kepada mereka, "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kalian tidak bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kalian tidak bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian." Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan ini, "Ada seorang mempunyai sebatang pohon ara, yang tumbuh di kebun anggurnya. Ia datang mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Maka berkatalah ia kepada pengurus kebun anggur itu, 'Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara itu namun tidak pernah menemukannya. Sebab itu tebanglah pohon ini. Untuk apa pohon itu hidup di tanah ini dengan percuma?' Pengurus kebun anggur itu menjawab, 'Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah'!"
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan



Begitu sering kita menghubungkan bencana sebagai hukuman Ilahi. Namun, penilaian dan penghakiman kita selalu menyudutkan mereka yang menjadi korban bencana. Ketika bencana tsunami menimpa Aceh, tidak sedikit dari kita yang menanggap bahwa orang Aceh jauh lebih besar dosanya daripada kita sehingga mereka pantas menerima hukuman Allah dalam tragedi bencana alam yang menimpa mereka. Peristiwa pembunuhan orang-orang Galilea oleh Pilatus di Bait Allah yang bermotifkan politik diangkat orang untuk meminta penilaian Yesus. Yesus mengingatkan mereka bahwa orang-orang Galilea itu tidak lebih besar dosanya daripada orang-orang Galilea yang lain. Yesus juga mengangkat peristiwa yang dialami oleh delapan belas orang yang tertimpa menara di Siloam.

Semua bencana hendaknya membuat kita bermenung diri dan mengambil hikmah, bukannya ajang pembenaran diri sebagai orang yang lebih baik daripada orang lain. Bukankah bencana tsunami Aceh, gempa bumi di Nias, Irian, dan di tempat lainnya merupakan momentum sejarah yang selayaknya membuat kita lebih rekat sebagai bangsa dalam sikap dan tindak solidaritas kita yang menembus dan melintas batas agama, suku, budaya, dan ras?

Allah Bapa di surga, jangan biarkan aku merasa diri lebih baik secara moral dan spiritual daripada orang lain. Berilah aku kerendahan hati untuk selalu memohon pengampunan dari-Mu. Amin.

Ziarah Batin 2011, Renungan dan Catatan Harian

Jumat, 21 Oktober 2011 Hari Biasa Pekan XXIX

Jumat, 21 Oktober 2011
Hari Biasa Pekan XXIX

“Setelah kita menerima perintah untuk mencintai Tuhan, kita juga diberi kuasa untuk mencintai” (St. Basilius Agung)


Antifon Pembuka

Aku ini kepunyaan-Mu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

Doa Pagi


Tuhan, hari baru ini menanti untuk terlewati bersama-Mu. Sering aku mengalami kejenuhan dan kebosanan, tetapi aku yakin bahwa Engkau senantiasa menyertai perjalanan hidupku karena aku tahu, Engkau telah memulai dalam hidupku dan Engkau pula yang akan menyelesaikannya. Amin.

Roh itu memang kuat tapi daging lemah. Kehendak untuk melakukan yang baik dan benar sangat kuat, tapi seringkali kelemahan daging menghambatnya. Kecenderungan untuk melakukan kejahatan lebih dominan daripada kebaikan. Semangat pertobatan akan mengubah kecenderungan ini. Kekuatan Kristus membarui segalanya. Paulus bersyukur sudah mengalaminya.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (7:18-25a)

"Siapakah yang akan melepaskan daku dari tubuh maut ini?"

Saudara-saudara, aku tahu, tiada sesuatu yang baik dalam diriku sebagai manusia. Sebab kehendak memang ada dalam diriku, tetapi berbuat baik tidak ada. Sebab bukan yang baik seperti yang kukehendaki, yang kuperbuat, melainkan yang jahat yang tidak kukehendaki. Jadi jika aku berbuat yang tidak kukehendaki, maka bukan aku lagi yang memperbuatnya, melainkan dosa yang diam dalam diriku. Jadi dalam diriku kudapati hukum berikut: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, malah yang jahatlah yang ada padaku. Sebab dalam batinku aku memang suka akan hukum Allah, tetapi dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada dalam anggota-angota tubuhku. Aku ini manusia celaka. Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Dialah Yesus Kristus, Tuhan kita!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku, ya Tuhan.

Ayat. (Mzm 119:66.68.76.77.93.94; Ul: 68b)
1. Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya pada perintah-perintah-Mu.
2. Engkau baik dan murah hati: ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
3. Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.
4. Biarlah rahmat-Mu turun kepadaku, sehingga aku hidup, sebab Taurat-Mulah kegemaranku.
5. Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.
6. Aku ini kepunyaan-Mu, selamatkanlah aku, sebab aku mencari titah-titah-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.


Hidup manusia itu harus seimbang. Pandai dan pintar saja tidak cukup, ia juga harus bijaksana. Kepandaian mudah disalahgunakan untuk memperdaya sesamanya, terlebih yang kecil dan tak berdaya. Sedangkan orang bijaksana akan mampu menghormati orang lain sebagai sesama yang kecil di hadapan Tuhan. Ia akan mampu mengampuni dan berdamai dengan sesamanya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (12:54-59)

"Kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?"

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada orang banyak, “Apabila kalian melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, ‘Akan datang hujan’. Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, ‘Hari akan panas terik’. Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Jika engkau dengan lawanmu pergi menghadap penguasa, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan. Jangan sampai ia menyeret engkau kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu, ‘Engkau takkan keluar dari sana, sebelum melunasi hutangmu’.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Manusia mengenal perubahan cuaca dari arah angin. Lewat ungkapan itu, Yesus meminta para pendengar-Nya agar juga mampu membaca tanda-tanda zaman lewat kedatangan dan kehadiran-Nya di tengah mereka. Mereka perlu menyadari bahwa mereka bagaikan orang-orang yang diseret ke pengadilan. Orang bijaksana tentu berusaha untuk menyelesaikan perkaranya dari jauh-jauh hari sebelum saat pengadilan tiba. Orang bijaksana akan bertobat dan membarui kehidupannya sebelum saat penghakiman tiba.

Doa Malam


Tuhan, terimalah syukur dan terimakasih kami, juga kegagalan dan keberhasilan kami hari ini. Ampunilah kami karena sering terlalu jauh menilai apa saja yang kami lihat dan rasakan. Ajarilah kami untuk bersikap rendah hati untuk menghadapi segala sesuatu dengan hati yang tulus. Amin.


RUAH