Minggu, 26 Februari 2012 Hari Minggu Prapaskah I/B (oleh Rm Agus Widodo, Pr)

Minggu, 26 Februari 2012
Hari Minggu Prapaskah I/B

Renungan

Pada hari Rabu Abu yang lalu, kita telah bersama-sama memulai masa Prapaskah. Ketika dahi kita ditandai dengan abu, kita mendengar ajakan, “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Ajakan yang sama, hari ini disampaikan oleh Yesus kepada kita semua (Mrk 1:15). Di balik ajakan untuk bertobat ini, terkandung pesan yang sangat mendalam, yaitu mengenai kasih setia Allah yang tanpa batas dan kekal abadi. Karena Tuhan begitu mengasihi kita, Ia tidak membiarkan kita binasa karena dosa dan kejahatan kita tetapi Ia selalu memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat dan memperbaiki diri terus-menerus. Oleh karena itu, marilah kita mohon rahmat agar dapat mengalami dan merasakan kasih setia Allah itu.

Janji baru yang disampaikan Tuhan kepada Nuh,
“sejak kini segala yang hidup takkan dilenyapkan oleh air bah lagi dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi” (Kej 9:9) merupakan salah satu mata rantai dari kasih setia Allah yang tanpa batas dan kekal abadi. Ketika Adam dan Hawa, manusia pertama, jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-14), Allah menyampaikan janji keselamatan baru bahwa manusia akan terus-menerus melawan dan mengalahkan iblis (Kej 3:15). Ketika Kain, anak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kej 4:1-14), Allah memberikan lagi janji baru bahwa tak seorang pun akan membunuhnya. Tuhan tetap melindungi Kain kendati ia telah berdosa membunuh Habel, adiknya (Kej 4:15). Selanjutnya, manusia masih berulang kali jatuh lagi ke dalam dosa tetapi Allah tetap mengasihi. Ia tidak membiarkan manusia terkungkung dalam belenggu dosa yang membawa mereka pada kebinasaan. Meskipun sebagian besar manusia dibinasakan dengan air bah, Tuhan menyisakan Nuh dan keluarganya untuk diselamatkan. Meskipun demikian, manusia tidak berhenti berbuat dosa. Mereka membangun menara babel untuk menyombongkan diri sehingga Tuhan mengacaukan dan menyerakkan mereka (Kej 11:1-9). Hukuman ini pun disusul dengan janji baru berupa panggilan Abrahan untuk menjadi bapa bagi seluruh umat pilihan Allah yang diselamatkan (Kej 12:1-3). Sejak panggilan Abraham (± 2000 sM) tersebut, sampai sekarang, manusia – termasuk kita – terus-menerus berbuat dosa. Namun, kasih setia Allah itu tanpa batas.

Kasih setia Allah yang tanpa batas dan kekal abadi inilah yang kita akui dan kita syukuri dengan menyanyikan Mazmur Tanggapan,
“Tuhan adalah kasih setia, bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya” (Mzm 25:10). Sekarang, kasih setia Allah itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal. Dialah penjelmaan kasih setia Allah yang tanpa batas itu. Kendati dicobai, Ia tetap setia (Mrk 1:12-13). Bahkan, “Kristus telah mati satu kali untuk segala dosa kita. Ia yang benar telah mati untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (1Ptr 3:18).

Seraya mengakui dan mensyukuri kasih setia Allah itu, marilah kita juga meneladan, atau paling tidak mengikuti jejak Kristus yang setia. Bagaimana kita bisa berlatih terus-menerus untuk setia? Salah satu jawabannya dapat kita temukan dalam Surat Pertama Rasul Petrus, yaitu dengan terus-menerus mengasah suara hati (1Ptr 3:21). Suara hati kita selalu menyerukan kepada kita untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Supaya hati nurani kita semakin peka, menurut St. Petrus, tidak cukup dibentuk dengan usaha manusia, tetapi mesti dimohonkan rahmat Allah. Oleh karena itu, selain mohon kepada Tuhan agar kita dapat mengalami dan merasakan kasih setia Allah yang tanpa batas, marilah kita juga mohon rahmat Allah agar hati nurani kita semakin peka dalam membedakan mana yang benar – mana yang salah, mana yang baik – mana yang jahat. Dengan bimbingan hati nurani itu yang dipenuhi rahmat Allah, kita semua dimampukan untuk mengendalikan diri sehingga tidak mudah jatuh ke dalam dosa sekaligus semakin digerakkan untuk lebih banyak lagi berbuat baik.


Terpujilah nama Tuhan kita Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya.


Rm. Agus Widodo, Pr

Pertemuan III APP: Berkorban dan Melayani - Keuskupan Agung Jakarta

PERTEMUAN 3
METODE IBADAT SABDA


BERKORBAN DAN MELAYANI

INJIL MATIUS 14:13-21

Lagu Pembuka

Tanda Salib dan Salam

Pengantar

Setelah kita melihat kehadiran Yesus dan teladan-Nya dalam Minggu Prapaskah ke-1 dan ke-2, kini Yesus menantang dan mengundang kita untuk membuat langkah iman yang sulit. Kadang-kadang langkah iman yang sulit itu mengguncangkan kita karena Yesus membawa kita pada semangat yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Demikianlah Yesus mendidik kelompok dua belas, sebagaimana yang terdapat dalam Injil Matius 14:13-21 ini.

Pada pertemuan ini kita kembali diundang oleh Tuhan untuk siap berkorban dan melayani sesama. Implikasi dari pengorbanan dan pelayanan itu adalah terbangunnya semangat persaudaraan sejati. Kata-kata Yesus "...kamu harus memberi mereka makan" adalah sebuah ajakan yang mendalam bagi kita para murid Kristus untuk mampu meneladan Sang Guru yang rela memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai sumber makanan dan minuman bagi setiap orang yang lapar dan haus.

Pernyataan Tobat

P. Tuhan Yesus Kristus, Engkau menyampaikan firman yang menjadi pegangan hidup kami. Tuhan, kasihanilah kami
U. Tuhan, kasihanilah kami.
P. Tuhan Yesus Kristus, Engkau diutus Bapa supaya karena rahmat-Mu kami sanggup melaksanakan kehendaka Allah. Kristus, kasihanilah kami.
U. Kristus, kasihanilah kami.
P. Tuhan Yesus Kristus, Engkau menghendaki kami menampakkan karya keselamatan di tengah masyarakat. Tuhan, kasihanilah kami.
U. Tuhan, kasihanilah kami.
P. Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U. Amin.

Doa Pembuka

Allah Bapa yang mahamurah, Engkau mengutus Putra-Mu ke dunia untuk melayani setiap pribadi dengan memberikan kami kepuasan jasmani dan rohani. Bantulah kami untuk mencontoh teladan hidup Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus yang rela mengorbankan hidup-Nya karena peduli pada keselamatan manusia. Mampukanlah kami untuk peduli dengan melayani sesama sesuai dengan apa yang mereka butuhkan untuk berkembang di dalam iman kepada-Mu. Semoga dengan bantuan rahmat-Mu kami menjadi murid-murid yang sejati dalam kehidupan sehari-hari. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin

Lagu Pengantar Bacaan

Pembacaan Kitab Suci

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (14:13-21)

"Sambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat; dibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid. Lalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak."

Sekali peristiwa, setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Pendalaman Sabda (baca dan renungkan pribadi)

- Dalam kisah ini Yesus mengajak murid-murid-Nya tidak berhenti pada titik kegembiraan karena disukai oleh banyak orang. Mengapa demikian? Karena banyak orang mulai berbondong-bondong mengikuti-Nya. Karya Yesus dalam pengajaran, penyembuhan, dll menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Bahkan para murid pun bisa merasakan kegembiraan itu. Mungkin mereka mulai merasa bahwa mereka penting. Bukankah mereka ini adalah orang-orang pilihan pribadi yang hebat? Namun, cara Yesus mendidik kelompok dua belas ini belum selesai. Ia akan menuntut lebih bagi mereka yang akan menjadi murid-Nya yang sejati.
- Menjelang hari mulai gelap, Yesus mendapat nasehat dari pihak para murid untuk membubarkan "perkumpulan raksasa" itu, sehingga orang-orang dapat pergi mengurus penginapan dan makan malam mereka. Tetapi Yesus memberi jawaban yang komunikatif dan memberi peran besar bagi para murid yang bunyinya: ...Kamu harus memberi mereka makan (ay.16) . Dengan demikian Yesus ingin mengatakan bahwa janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat oleh kebanyakan orang yang hanya mengucapkan kata-kata belaskasihan tetapi tidak secara konkret (nyata-nyata) berusaha melayani orang-orang yang dikasihani itu. Membangun sebuah semangat pelayanan mudah dilakukan tetapi membangun semangat pelayanan yang murah hati itulah yang harus diperjuangkan. Pelayanan yang murah hati adalah sebuah pelayanan yang dilandasi dengan semangat mau rela berkorban dan berbagi kepada siapa saja dan tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri namun berani untuk "kehilangan".
- Kembali lagi ditegaskan bahwa pelayanan yang murah hati harus berani berkorban. Bukan hitungan untung-rugi. Harus mempunyai keberanian. Tidak mengikuti apa yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Tidak ikut arus, tetapi harus berani melawan arus. Misalnya, temukan dan bantu satu atau dua orang yang sungguh miskin dan tersingkir di lingkungan anda, dan bantulah semaksimal mungkin. Juga berikanlah "perhatian" dan "makanan" bagi lingkungan hidup kita yang mulai tercemar. Adanya kerusakan lingkungan. Gerakan cinta lingkungan harus juga menjadi bagian dari perjuangan kita untuk memberi "makan" kepada bumi kita yang sedang merintih dan "lapar" akan penghijauan dan kebersihan.
- Maka benarlah dikatakan bahwa kisah ini bukanlah sekedar mukjizat pergandaan makanan, tetapi juga mukjizat pembentukan dan pengembangan komunitas yang peduli, di mana orang peduli satu sala lain. Mau peduli dan berbela rasa, menjadi keutamaan yang ditemukan dalam kisah ini. Sebuah semangat pelayanan yang murah hati membutuhkan pula rasa kerelaan hati, mau peduli dan berbela rasa satu sama lain, berani berkorban, dan berbagi. Itulah semangat ekaristi yang setiap minggu kita rayakan.

Membangun Niat
1. Pada waktu yang bersamaan, beranikah kita mengorbankan kepentingan pribadi atau keluarga atau komunitas demi orang yang membutuhkan bantuan?
2. Adakah keberanian dalam diriku untuk membagikan apa yang ada pada diriku, walaupun yang aku miliki hanya sedikit bahkan harus "kehilangan"?

Doa Umat
Umat dapat menyampaikan doa-doa umat secara spontan dan ditutup dengan doa Bapa Kami.

Doa Arah Pastoral

Allah Bapa yang Mahabaik, kami mengucap syukur kepada-Mu atas kesetiaan-Mu mendampingi kami dalam gerak langkah umat-Mu di Keuskupan Agung Jakarta selama ini. Kami bersyukur pula atas Arah Dasar Pastoral KAJ yang baru, yang dapat kami jadikan tuntunan dalam perziarahan kami selanjutnya hingga tahun 2015 nanti. Bantulah kami, dalam keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah dan paroki untuk terus berusaha memahami dan mengupayakan terwujudnya Arah Dasar Pastoral ini, dalam kehidupan menggereja sehari-hari. Yesus, Tuhan dan Guru kami, bimbinglah kami untuk terus bertekun: memperdalam dan menghayati iman akan Dikau meneladan Engkau sebagai Gembala yang Baik semakin murah hati dan dengan rendah hati giat melibatkan diri dalam berbagai permasalahan sosial di sekitar kami terutama kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup dan intoleransi. Ya Roh Kudus, kobarkanlah semangat kami untuk menjadikan setiap orang dan seluruh alam ciptaan saudara kami, untuk semakin ramah, rela menyapa, memelihara, giat saling membantu dalam lingkungan dan masyarakat kami. Jadikanlah kami umat-Mu yang mau berbagi dengan tulus hati. Bersama Bunda Maria dan para kudus pelindung kami, kami persembahkan doa, cita-cita, harapan, niat dan upaya kami kepada-Mu dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan, Gembala dan Penyelamat kami. Amin.

Doa Penutup

Tuhan Yesus yang mahakasih, terima kasih atas keteladan dan pelajaran yang Kauberikan pada hidup kami. Kami kau ingatkan bahwa kami harus terbuka terhadap kebutuhan dan situasi sesama di sekitar kami. Bantulah kami untuk tidak terlena pada kesenangan dan kepentingan diri kami sendiri, tetapi justru malah semakin membuat kami berani untuk berbagi dan berkorban demi orang lain yang membutuhkan. Biarlah kami menjadi alat-alat-Mu yang selalu terus memancarkan terang kehidupan bagi banyak orang lain, bahkan kalau kami sampai harus "kehilangan". Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Berkat dan Pengutusan

P. Tuhan beserta kita
U. Sekarang dan selama-lamanya
P. Semoga kita semua dimampukan untuk berkorban dan melayani sesama dalam kehidupan sehari-hari, bersama dengan berkat Allah yang mahakuasa, Bapa, Putra dan Roh Kudus
U. Amin
P. Ibadat kita sudah selesai
U. Syukur kepada Allah


Sumber: APP 2012 KKKS - KAJ
Terima kasih untuk Gema Paroki Pejompongan yang sudah mengirimkan artikel ini