Senin, 09 April 2012 Hari Senin dalam Oktaf Paskah

Senin, 09 April 2012
Hari Senin dalam Oktaf Paskah

Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." -- Markus 28:10


Antifon Pembuka (bdk. Kel 13:5.9)

Tuhan telah mengantar kamu masuk ke tanah yang berlimpah-limpah susu dan madu. Semoga hukum Tuhan kamu renungkan selalu. Alleluya.


Doa Pagi

Allah Bapa yang mahamulia, ampunilah segala yang jahat dalam hati kami. Lapangkanlah hati dan budi kami agar kami semakin mampu melihat rencana-Mu dalam aneka peristiwa hidup sehari-hari. Semoga sepanjang hari ini hati kami diliputi oleh sukacita Paskah. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.


Bacaan dari Kisah Para Rasul (2:14.22-32)


"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi."

Pada hari Pentakosta, bangkitlah Petrus berdiri bersama kesebelas rasul. Dengan suara nyaring ia berkata kepada orang banyak, "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mukjizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh dengan tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan-Nya dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan. Karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram. Sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburnya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi, dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu Daud telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840
Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
atau Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Ayat. (Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Ul: 5a)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku."
2. Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorai, dan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
4. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat yang abadi.

Bait Pengantar Injil, do = d, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 118:24)
Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius
(28:8-15)


"Katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan disanalah mereka akan melihat Aku."

Pada waktu itu, perempuan-perempuan pergi dari kubur, diliputi rasa takut dan sukacita yang besar. Mereka berlari cepat-cepat untuk memberitahukan kepada para murid bahwa Yesus telah bangkit. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya, memeluk kaki-Nya dan menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka, "Jangan takut! Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." Ketika mereka masih di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga makam Yesus ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan kaum tua-tua, mereka mengambil keputusan, lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata, "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenazah-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.


Renungan

Ketakutan itu membunuh kecerdasan. Para Imam dan tetua Yahudi ketakutan dengan peristiwa kebangkitan Yesus. Ketakutan itu melahirkan kebodohan, yaitu menyuap. Mereka mengira bahwa sejumlah uang bisa menutupi kebenaran. Mereka memberi sejumlah uang kepada para penjaga agar mereka menyampaikan informasi bohong tentang Yesus.

Di sisi lain Tuhan Yesus dengan tegas berkata: ”Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada sau*dara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku!” Galilea adalah tempat Yesus bertemu dan memanggil murid-murid-Nya yang sedang menjala ikan, mencari nafkah. Ini hidup mereka yang biasa. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dalam hidup yang biasa itu mereka akan ”melihat” Dia yang bangkit. Ini sebuah kenyataan yang tidak bisa diganti oleh uang suap.

Kata ”melihat sama dengan memandang”. Kata ini mempunyai makna mendalam, yaitu ”kontemplasi”. Dalam suasana tenang, tidak dikuasai oleh rasa takut, kita bisa meng-kontemplasikan, merasakan, dan menghayati kehadiran Yesus yang bangkit dalam hidup kita sehari-hari.

Doa: Tuhan, bebaskan aku dari rasa takut, cemas dan khawatir agar aku dapat merasakan kehadiran, cinta, dan penyertaan-Mu dalam hidupku setiap hari. Amin.


Doa Malam

Tuhan, jauhkanlah dari hatiku tipu-daya untuk mengelabuhi sesama demi kepentingan pribadi. Kuatkanlah aku untuk semakin berani membuka hati dan mendengarkan kebenaran nuraniku. Engkau yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Ziarah Batin 2012, Renungan dan Catatan Harian

Bacaan Harian 09 - 15 April 2012

Bacaan Harian 09 - 15 April 2012

Senin, 09 April: Hari Senin Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 2:14.22-32; Mzm 16:1-2a.5.7-11; Mat 28:8-15.
Datang dan sembahlah Dia.
Yesus bangkit! Kematian-Nya tak mampu memisahkan-Nya dari para murid. Ia adalah Immanuel, Allah beserta kita (Mat 1:23). Ia bahkan berjanji, untuk senantiasa menyertai para murid sampai akhir zaman (Mat 28:20). Ia pun telah mempersiapkan Ekaristi supaya selalu bersatu dengan para murid. Ya, Yesus selalu mau hadir dalam hidup kita! Maria Magdalena dan Maria yang lain, saat bertemu Yesus yang hadir, langsung mendekat, memeluk kaki, menyembah-Nya. Ketakutan pun lenyap dan mereka bersaksi dengan sukacita! Sebaliknya, imam-imam kepala menolak kehadiran Yesus; hidup mereka diliputi rasa kuatir dan takut, lalu menyebarkan kabar bohong. Nah, mau sukacita atau terus kuatir? Mau bercerita indah atau terus bercerita bohong?

Selasa, 10 April:Hari Selasa Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5.18-20.22; Yoh 20:11-18.
Menemukan Tuhan yang hilang.
Maria Magdalena mengalami kehilangan Tuhan. Ia pun berusaha mencari Tuhan, datang ke kubur dan menangis di situ. Tak sia-sia! Tuhan Yesus datang dan menyapa “Maria!” Segera setelah itu, ia bersaksi dengan sukacita “Aku telah melihat Tuhan!” Sesungguhnya, dalam hidup kita, kita pun mudah mengalami kehilangan Tuhan. Lalu, hidup terasa hampa, kuatir, sedih, hilang sukacita. Beranikah kita juga berusaha datang ke “kubur” Tuhan dan “menangisi” segala sesuatu yang telah membuat Tuhan “terkubur” dalam hidup kita? Kalau begitu, Tuhan Yesus pasti juga akan berdiri di hadapan kita, memanggil nama kita. Percayalah, segera setelah itu, kita pun pasti terdorong untuk bersaksi dengan sukacita: “Aku telah melihat Tuhan!”

Rabu, 11 April: Hari Rabu Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 3:1-10; Mzm 105:1-4.6-9; Luk 24:13-35.
Ekaristi yang mengubah.
Setelah kematian Yesus, dua orang murid dengan hati sedih meninggalkan Yerussalem menuju Emaus. Saat Yesus menghampiri mereka dan menjelaskan isi Kitab Suci, hati mereka berkobar-kobar; saat Yesus melakukan tindakan ekaristik, mereka pun mengenali Yesus. Perjumpaan itu mendorong mereka untuk kembali ke Yerusalem, berbagi pengalaman Yesus yang bangkit. Di dalam perayaan Ekaristi, Yesus masih setia menghampiri kita. Dengan menyampaikan isi Kitab Suci (Liturgi Sabda) dan tindakan ekaristik (Liturgi Ekatisti), Ia mau hadir dan bersatu dengan kita. Adakah Ekaristi membuat hati kita berkobar-kobar dan mata kita mampu mengenali Tuhan? Adakah Ekaristi menggerakkan kita juga untuk berbagi?

Kamis, 12 April: Hari Kamis Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 3:11-26; Mzm 8:2a.5-9; Luk 24:35-48.
Damai bagi orang yang percaya.
Betapa pentingnya DAMAI! Dalam karya dan pelayanan-Nya, Yesus membawa damai itu kepada orang-orang percaya yang datang kepada-Nya. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Ia membawa kepenuhan damai, karena Ia mendamaikan manusia dengan Allah. Yesus sungguh Raja Damai (Yes 9:6)! Maka, saat menampakkan diri kepada para murid, Ia berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Saat para murid terhalang menerima damai itu karena ragu dan menganggap Yesus hantu, Ia pun memperlihatkan luka-luka-Nya, makan di tengah mereka, dan mengingatkan isi Kitab Suci. Yesus sungguh mau damai itu menjadi milik para murid! Dan di atas semua itu, ingatlah pesan-Nya: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini!”

Jumat, 13 April: Hari Jumat Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 4:1-12; Mzm 118:1-2.4.22-27a; Yoh 21:1-14.
Melayakkan diri dan datang pada-Nya.
Saat para murid sedang kecewa dengan pekerjaan mereka, Yesus datang menemui mereka dan memberikan petunjuk. Syukurlah Petrus menyadari kehadiran Yesus itu, lalu ia mengenakan pakaian dan langsung terjun berenang untuk sampai kepada-Nya. Di tengah kesibukan pekerjaan kita yang mungkin mengecewakan, percayalah bahwa Yesus selalu hadir untuk memberi petunjuk. Yang dibutuhkan dari kita hanyalah usaha untuk “mengenakan pakaian”, yaitu melayakkan diri kita di hadapan-Nya, dan terjun “berenang” untuk berjumpa dengan-Nya. Niscaya, kita akan beroleh kepenuhan “ikan dalam perahu” dan dapat menikmatinya dalam sukacita perjamuan bersama dengan-Nya.

Sabtu, 14 April: Hari Sabtu Dalam Oktaf Paskah (P).

Kis 4:13-21; Mzm 118:1.14-21; Mrk 16:9-15.
Hidup adalah pewartaan.
Karena kasih-Nya yang tanpa batas kepada manusia, Ia mau semua orang mempunyai hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Untuk itu, Yesus selalu membutuhkan “para pewarta” untuk menyampaikan berita kasih-Nya. Tengoklah pengalaman hidup kita, pengenalan kita akan Dia tentu karena Ia telah “mengirim” orang-orang kepada kita dan bersaksi tentang kasih-Nya; dalam berbagai peristiwa dan cara! Sekarang Ia mau kita pun melakukan yang sama: menyampaikan berita kasih-Nya itu kepada orang-orang di sekitar kita melalui kata dan perbuatan. Ingatlah selalu amanat agung-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Minggu, 15 April: Hari Minggu Paskah II (P). Minggu Kerahiman Ilahi.

Kis 4:32-35; Mzm 118:2-4.16ab-18.22-24; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31.
Percaya akan Kerahiman Tuhan.
Tomas baru akan percaya kalau ia sendiri dapat membuktikan kebenarannya. Apakah kita juga menuntut tanda dan bukti nyata yang memuaskan akal budi kita untuk bisa sungguh-sungguh menyerahkan hidup kepada-Nya? Tidak cukupkah pengalaman dalam hidup keseharian kita untuk membawa kita percaya? Agaknya, inilah kenyataan: selama kita masih hidup dalam “penjara” tubuh, akal budi kita selalu memiliki keterbatasan untuk memahami misteri Allah yang Maha Rahim. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan penuh akan kerahiman-Nya, lalu kita pun akan mengalami kasih Allah yang seringkali justru melampaui daya tangkap akal budi kita. Itu adalah rahmat; semata-mata karena kerahiman-Nya!