Doa Resmi Persiapan Kongres Ekaristi Keuskupan II Keuskupan Agung Semarang

Allah Bapa yang Mahamurah,
kami bersyukur atas misteri penyertaan-Mu
melalui Kristus yang hadir dalam Ekaristi.
Syukur pula atas semangat berbagi
yang telah tumbuh dalam diri umat-Mu.

Kami mohon, curahkanlah Roh-Mu
ke dalam hati seluruh umat-Mu
agar kami semua menyongsong
Kongres Ekaristi Keuskupan Kedua
pada bulan Juni 2012 dengan sukacita
dalam semangat kasih dan kerjasama.

Buatlah Ekaristi menjadi pusat hidup seluruh umat-Mu
agar kami semua tinggal dalam Kristus dan berbuah
dalam kehidupan menggereja dan memasyarakat
secara signifikan dan relevan.

Bersama Santa Perawan Maria, Bunda Sakramen Mahakudus
serta semua orang kudus di sorga
kami sampaikan doa ini kepada-Mu
dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.



Sumber: Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang

Surat Kepada Keluarga bulan April 2012 (Rm. Alexander Erwin Santoso, MSF)

SURAT KELUARGA BULAN APRIL 2012

Kalau Semua Keluarga Menikmatinya
Kalau setiap kita mengalami nyamannya berkeluarga,
Pasti Tuhan berhamburan pujian dan syukur
Jika semua kita menikmati kehangatan di rumah
Tentu Paskah menjadi pengalaman harian semua orang

SELAMAT PASKAH UNTUK KELUARGA–KELUARGA
DI KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA

Salam sejahtera untuk seluruh keluarga di Keuskupan kita!

Semoga kata-kata di atas surat ini tidak terlalu optimis bagi kita semua. Saya berharap semua kita mengalami paskah yang membawa sukacita istimewa bagi setiap keluarga di Keuskupan kita tercinta ini. Meskipun tentu saja masih ada beberapa persoalan yang hadir di tengah-tengah kita, tetapi dengan penuh harapan kita ingin melihat segala sesuatu secara lebih positif, bahwa lebih banyak keluarga yang mengalami kebangkitan-Nya dan merasa diberkati Allah Yang Maharahim.

Saya ingin mengajak Anda semua mengalami Paskah bersama pengalaman para rasul, pengikut, dan mereka yang percaya kepada Yesus Kristus yang bangkit. Pengalaman itu diterima bersama tokoh-tokoh sederhana, para perempuan dan ibu yang membuat pengalaman itu menjadi menakjubkan, indah dan mempunyai sensasi kekeluargaan.

Para perempuan seperti Maria, Ibu Yesus, Maria Magdalena, dan Maria yang lain sangat penting. Mereka adalah tokoh tokoh yang dengan setia mengikuti perjalanan salib dan kematian Yesus. Mereka juga tokoh yang kemudian sangat berperan dalam penyebaran pertama berita kebangkitan Tuhan (Bandingkan Mat. 28.1-10).

Sebuah kisah barangkali kurang cukup mengatakan bahwa peran para perempuan dalam mewartakan Kristus besar. Dalam kisah kisah selanjutnya, rupa-rupanya, peran para perempuan, terutama Maria, sangat besar dan penting (lihatlah misalnya Luk. 24:1-12). Dikumpulkannya pengikut Kristus bagaikan anak-anaknya, dan dibiarkannya mereka semua memanggilnya “Ibu”. Kekuatan pewartaan disatukannya dengan kekuatannya sebagai Ibu yang bertekun dalam doa (Kis 1:14). Bagaimanakah sekarang peran itu diambil oleh para perempuan atau para ibu dewasa ini?

Melalui sikap dan peran keibuan, para Ibu dan perempuan telah menjadi bagian dari pewartaan Kristus yang bangkit. Merekalah yang paling mampu menampilkan ke-Ibu-an Allah yang membangkitkan Yesus. Melalui pengenalan akan wajarnya suatu perjuangan dan penderitaan di dunia ini, para perempuan telah menjadi laskar yang kompeten mewartakan iman akan salib dalam hal paling sederhana sehari-hari.

Melalui katekese harian, mengajak anak-anak berdoa setelah bangun tidur; mulai dengan membujuk anak-anak yang mengantuk; mengajarinya melipat tangan; mengajaknya berdoa dengan kata-kata biasa; bukankah Gereja sangat berterima kasih untuk semua ini? Kristus yang bangkit serasa tetap berkuasa ketika semua orang berdoa dan berterima kasih pada Allah berkat jasa kaum perempuan. Anak-anak pun makin mengenal Allah yang mempunyai perasaan, bukan hanya Allah yang tahu menghukum dan memberi berkat. Sejak kecil, kita biasa diajar bahwa Allah juga punya perasaan, bisa merasa “senang” dan bisa “marah” juga. Bahasa indah ini bisa didengar melalui bahasa Ibu atau bahasa perempuan yang mengasuh.
Keluarga-keluarga yang terkasih, marilah bersama-sama merayakan paskah bersama laskar-laskar keibuan yang telah ikut membesarkan Gereja kita. Melalui ketekunan dan kesungguhan doa para perempuan, Gereja kita menjadi sungguh Gereja Ibu, Gereja yang mengasuh, mendampingi, mendidik, dan memahami anak-anak Allah yang sedang bertumbuh dan belajar makin mencintai-Nya.

Kita pantas berterima kasih pada para orangtua, khususnya para ibu yang setiap hari setia bersama para imam merayakan Ekaristi harian. Mereka telah membuat sabda Tuhan setiap hari didengarkan dan direnungkan. Kehadiran mereka menjadi doa yang tak putus di seluruh dunia. Seakan-akan mereka mewakili semua orang yang sedang berziarah di dunia ini untuk berterima kasih dan membangun relasi yang hidup dengan Tuhannya.

Keluarga-keluarga terkasih, arti suatu kebangkitan bukanlah sekedar pengalaman Yesus yang bangkit dari mati. Kebangkitan adalah juga sebuah kesadaran bahwa kita semua dimenangkan oleh Tuhan Yesus. Kesadaran ini tidak usah diartikan terlalu tinggi. Cukup kalau, misalnya, setiap hari semua anggota keluarga kita merasa nyaman kalau sudah berdoa sebelum makan, sebelum belajar, sebelum bekerja, atau sebelum tidur.

Romo Hamma SJ dalam bukunya “Iman dan Perasaan”[1] melukiskan betapa kita tidak akan mungkin mencintai Tuhan kalau kita tidak mencintai diri sendiri. Bagaimana kita dapat mencintai diri sendiri kalau kita tidak belajar mengenal diri? Bagaimana bisa mengenal diri kalau tidak mengenal perasaan kita? Setiap anak diajar untuk mencintai dirinya sendiri dan mencintai Allah melalui pelajaran hidup dari para ibu mereka juga.

Tentu saja surat ini tidak bermaksud hanya memuji perempuan dan Ibu, para ayah yang memahami tanggung jawabnya tentu akan memberikan pendidikan yang seimbang melalui sikap kebapakan mereka. Akan tetapi, kehadiran para Ibu yang mengajarkan nilai-nilai hidup rohani memang luar biasa. Pengalaman Maria ternyata bukan satu-satunya. Pengalaman setiap kita membuktikan kehebatan hati ibu, yang tak berhenti mendekatkan kita pada Allah Bapa yang boleh juga disebut Allah Ibu yang Maharahim dalam keberadaan-Nya.

Surat ini mengumandangkan kembali jasa para ibu dan perempuan, khususnya para ibu dari keluarga-keluarga muda. Percayalah, Kristus yang bangkit dan Gereja-Nya amat berterima kasih dan bertumpu pada kehadiran Anda semua sebagai ibu yang terus menerus mengajak semua anggota keluarga untuk tetap mengimani Tuhan Yesus. Kehadiran Anda semua dan doa-doa Anda adalah kesejukan yang selalu menjadikan kita semua menikmati diri sebagai anak-anak Allah, anak-anak Bapa kita.

Sekali lagi Selamat Paskah, selamat menjalani masa kemenangan. Pilihlah kebenaran dan kembangkanlah kasih dengan semua orang yang berkehendak baik, sebab Tuhan kita yang bangkit ingin melihat lebih banyak orang lain memuliakan-Nya melalui perbuatan baik kita. Amin

Salam dalam Yesus, Maria, dan Yosef
Rm. Alexander Erwin MSF

[1] Hamma, F., SJ, Iman dan Perasaan, Penerbit Kanisius, 1987, Yogyakarta, hal 35.

Selasa, 17 April 2012 Hari Biasa Pekan II Paskah

Selasa, 17 April 2012
Hari Biasa Pekan II Paskah

Yesus berkata kepada Nikodemus: ”Sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.”. (Yoh 3:11)


Antifon Pembuka (bdk. Why 19:7.6)


Marilah kita bergembira dan memuliakan Tuhan, Raja yang Mahakuasa. Alleluya.


Doa Pagi


Alangkah bahagianya hidup bersama sebagai saudara yang rukun dan damai. Tuhan, bukalah mata hati kami untuk melihat kebutuhan sesama dan rela berbagi atas segala sesuatu yang ada pada kami, baik dalam hal-hal jasmani maupun rohani. Amin.


Persatuan cinta sehati dan sejiwa membawa sukacita. Mereka hidup bersama dengan saling mendukung, menghormati dan memberdayakan satu sama lain. Tidak ada lagi sikap curiga, iri dengki, dendam, atau ingin menjatuhkan sesamanya. Semua bersedia memberikan diri demi kebahagiaan hidup bersama. Itulah cara hidup baru yang diberkati Tuhan.


Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:32-37)


"Mereka sehati dan sejiwa."

Kumpulan orang yang telah percaya akan Yesus sehati dan sejiwa. Dan tidak seorang pun yang berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus, dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Di antara mereka tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 836

Ref. Segala bangsa bertepuk-tanganlah, berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat. (Mzm 93:1ab.1cd-2.5)

1. Tuhan adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, dan kekuatanlah ikat pinggang-Nya.
2. Sungguh, telah tegaklah dunia, tidak lagi goyah! Takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.
3. Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu berhiaskan kekudusan, ya Tuhan sepanjang masa.

Bait Pengantar Injil

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 3:14b.15)
Anak Manusia harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Yesus datang ke dunia dari Allah Bapa di surga. Kedatangan Yesus membuka cakrawala baru dalam hidup manusia. Zaman baru telah mulai dibuka lebar-lebar. Hal-hal duniawi harus segera diganti dengan hal-hal rohani. Tiap manusia diundang untuk hidup secara baru bersama Yesus. Mereka yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:7b-15)


"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia."

Dalam percakapannya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau; engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Nikodemus menjawab, katanya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui, dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan


Ular tembaga yang ditinggikan di sebuah tiang menyelamatkan banyak orang Israel dari gigitan ular berbisa. Demikian juga Yesus akan ditinggikan di kayu salib untuk menyelamatkan kita dari racun dosa. Kita diundang untuk percaya. Dengan modal iman, kita akan memiliki masa depan yang cerah, kehidupan kekal. Sanggupkah kita untuk senantiasa hidup dalam iman?


Doa Malam


Yesus, tumbuh-kembangkanlah apa yang baik dalam diriku, agar kepercayaanku pun bertumbuh subur. Terima kasih akan anugerah hidup yang kekal yang Engkau sediakan bagi mereka yang percaya pada-Mu. Amin.



RUAH