Kobus: Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 01 Juli 2012 Hari Minggu Biasa XIII (B)

Minggu, 01 Juli 2012
Hari Minggu Biasa XIII (B)

Allah Sumber Kehidupan Kekal

"Engkau tidak dapat berdoa di rumah seperti di dalam gereja, di mana sejumlah besar orang hadir dan di mana orang berseru kepada Allah seperti dari satu hati" ---- St Yohanes Krisostomus


Antifon Pembuka (Mzm 47:2)


Segala bangsa bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.

Doa


Allah Bapa yang penuh kasih sayang, Engkau selalu menghendaki yang baik bagi manusia, bukan yang jahat. Engkau tak hendak menyerahkan kami kepada penderitaan dan maut, tetapi memperuntukkan kami bagi kebahagiaan. Kami mohon, berilah kami napas kehidupan baru, bila ditimpa oleh kesesakan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (1:13-15; 2:23-24)


"Karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia."


Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada; dan supaya makhluk-makhluk jagat menemukan keselamatan. Racun yang membinasakan tidak ditemukan di antara mereka, dan dunia orang mati tidak merajai bumi. Maka kesucian mesti baka. Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 838

Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
Ayat. (Mzm 30:2+4.5-6.11-12a+13b; Ul: 2a)

1. Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak membarkan musuh-musuhku, bersukacita atas diriku. Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan daku, di antara mereka yang turun ke liang kubur.
2. Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi oleh-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab hanya sesaat Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
3. Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (8:7.9.13-15)


"Hendaklah kelebihanmu mencukupkan kekurangan saudara-saudara yang lain."

Saudara-saudara, hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih, sebagaimana kamu kaya dalam segala sesuatu; dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, yakni: Sekalipun kaya, Ia telah menjadi miskin karena kamu, supaya karena kemiskinan-Nya, kamu menjadi kaya. Sebab kamu dibebani bukan supaya orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihanmu mencukupkan kekurangan orang-orang kudus, agar kelebihan mereka kelak mencukupkan kekuranganmu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963

Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:21-43)


"Hai anak, Aku berkata kepadamu: bangunlah."

Sekali peristiwa, setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong, lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau, Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kaki Yesus. Dengan sangat ia memohon kepada-Nya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Ketika Yesus masih berbicara, datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu, dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka, dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala ibadat, dan di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Yesus. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. Lalu Yesus memegang tangan anak itu, seraya berkata, “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu. Lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Yoh 17:20-21)

Ya Bapa, Aku berdoa bagi mereka agar mereka bersatu

Renungan


Saudara-saudara yang terkasih, pada renungan kali ini saya tertarik untuk merenungkan tema: Allah sumber kehidupan Kekal. Bicara tentang kehidupan kekal, ada beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan. Apa yang dimaksud dengan kehidupan kekal? Apakah kita sudah memiliki kehidupan kekal itu? Berkenaan pertanyaan pertama, Yesus sendiri menyampaikan dalam doa-Nya: “inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, sebagai satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. (Yoh 17:3).

Bila hidup kekal berarti mengenal Allah, maka pengenalan akan Allah mengandaikan adanya sebuah hubungan terus menerus sampai pada sebuah kualitas pengenalan yang sesungguhnya. Karena nyatanya, pengenalan bukanlah pengetahuan semata. Orang bisa tahu banyak tentang Allah, namun belum tentu mengenal Allah sebaik dan seperti pengetahuannya. Dari definisi singkat ini kiranya kita bisa menjawab pertanyaan kedua, apakah kita memiliki hidup yang kekal itu. Jawabannya kembali kepada kita masing-masing. Apakah kita sudah mengenal Allah sebagai satu satunya Allah yang benar? Apakah kita yakin bahwa Yesus sungguh diutus Bapa untuk kita? Pertanyaan ini tidak untuk dijawab seketika, tapi biarlah seluruh proses kehidupan kita yang menjawabnya.

Kembali pada tema di atas “Allah sumber kehdiupan kekal”, bacaan-bacaan Kitab Suci pada Minggu Biasa ke 13, juga berbicara tentang hidup kekal. Dalam bacaan Pertama dari Kitab Kebijaksanaan dikatakan: "memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagad menyelamatkan. (Keb. 1:13-14). Dari situ, Allah kita kenal sebagai sosok yang tidak menginginkan kebinasaan manusia. Sejak awal mula Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej 1:27). Dengan begitu Allah ingin kita menjadi ahli waris kerajaanNya. Namun, keinginan Allah yang begitu mulia itu apakah terwujud dalam kehidupan manusia? Benarkah manusia akhirnya mampu memancarkan dirinya sebagai gambar Allah? bernakah manusia lalu tidak mengalami kebinasaan, tidak mengalami maut? Bicara tentang Allah sebagai sumber kehidupan kekal, rasanya mesti bertitik tolak pada pengalaman nyata manusia, bahwa kebinasaan itu terjadi. Maut dan penderitaan sungguh tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Salahkah Allah? Tidak mampukah Allah? persoalannya bukan pada pertanyaan tersebut, melainkan pada pribadi manusia. Meksi Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya, Allah bukanlah diktator dan manusia bukanlah robot yang disetel sejak awal kehidupannya. Lalu diarahkan masa depannya nyaris “lurus tak berbelok”. Allah memberikan kebebasan pada makhluknya untuk menentukan dan membentuk dirinya. Pengalaman manusia pertama yang salah menggunakan kebebasan dan menjadikan dirinya tidak taat menyebabkan dia jatuh dalam dosa. Dosa keserakahan, dosa tidak pernah puas dengan apa yang sudah dikaruniakan Allah dan dosa ingin menjadi “tandingan” Sang Pencipta.

Pengalaman itu tentu tidak membuat Allah kehilangan akal. Allah terus mendekati manusia. Allah terus merangkul kita supaya kita kembali kepada Dia sumber kehidupan kekal dan bukan sumber kebinasaan dan kematian. Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal, supaya kita semakin dekat dan mengenal Allah. Mengenal Yesus sebagai utusan Bapa adalah bagian dari hidup kekal itu. Maka kita harusnya semakin diteguhkan mana kala menyaksikan pengalaman iman Yairus, kepala rumah ibadat yang tersungkur dihadapan Yesus dan berkata: “anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” (Mrk 5:23). Dan jawaban Yesus adalah; “jangan takut, percaya saja.” (Mrk 5:36). Yesus hadir sebagai sumber kehidupan kekal dimana ada keberanian dan kepercayaan. Berani untuk menunjukkan iman. Peristiwa Yesus mebangkitkan anak perempuan Yairus dan menyembuhkan perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan (Mrk 5:16), menjadi tanda nyata bahwa sumberk kehidupan kekal itu ada.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering sekali kita mengalami kematian-kematian yang membuat kita membutuhkan penyembuhan dan kehidupan kekal. Matilah rasa kepekaan kita mana kala sudah tidak mau peduli pada keadaan orang lain. Matilah kerendahan hati kita mana kala kesombongan menguasai dan menganggap diri yang paling hebat. Matilah kemampuan mengampuni kita manakala, manakala kita merasa yang paling benar dan tidak ada tempat dalam hati kita untuk kesalahan dan kelemahan orang lain. Namun, orang bijak mengatakan melalui pengalaman-pengalaman, entah itu yang menyenangkan atau tidak, terlebih melalui pengalaman yang sangat sulit, bahkan sesulit akal sehat menerimanyapun, kita semua sedang dibentuk. Menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk semakin hari semakin mengenal Allah. Kita diolah menjadi orang-orang memiliki kehidupan kekal.

Bila itu terjadi maka benarlah yang dikatakan oleh St. Paulus kepada jemaat di Korintus, bahwa kita kaya dalam segala sesuatu-dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam pelayanan kasih. (bdk 2 Kor 8:7). Itulah buah-buah kehidupan kekal. Maka mari kita kembali pada pertanyaan di atas: bagiku, apakah kehidupan kekal itu? apakah aku sudah memiliki kehidupan kekal? Tuhan berkati upaya kita untuk menjawabnya.

Salam dan berkat.

Pastor Antonius Purwono, SCJ

Minggu, 01 Juli 2012: Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 01 Juli 2012: Hari Minggu Biasa XIII
Keb 1:13-15; 2:23-24; 2Kor 8:7.9.13-15; Mrk 5:21-43.
Setiap orang, pada umumnya menginginkan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan. Kita rela melakukan apa saja supaya sehat, selamat, dan bertahan hidup. Inilah yang juga dicari dan diupayakan oleh kepala rumah ibadat dan perempuan yang menderita pendarahan, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan Injil tadi (Mrk 5:21-43).
Pencarian dan usaha untuk selamat ini sesuai dan nyambung dengan kehendak Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam bacaan pertama. “Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tidak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya, Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada dan supaya makhluk-makhluk jagat menemukan keselamatan” (Keb 1:13-14).
Kesehatan, keselamatan, dan kehidupan, di satu sisi merupakan anugerah Tuhan. Tuhanlah sang empunya kehidupan. Dialah pemilik hidup kita yang sesungguhnya. Kita sama sekali tidak memiliki hidup tetapi oleh Tuhan dianugerahi kesempatan untuk hidup. Tuhan pulalah sang sumber keselamatan dan sang penyelamat bagi kita. Dengan usaha kita sendiri, kita tidak mungkin selamat. Mengandalkan amal kita, tidak pernah cukup untuk menggapai keselamatan karena kita lebih banyak ngomelnya daripada ngamalnya. Kesehatan juga anugerah Tuhan.
Namun, di sisi lain, kita juga harus mengupayakan, menjaga, dan memeliharanya. Kita tidak bisa hanya pasif dan tidak berbuat sesuatu atau malah berbuat seenaknya sendiri karena semuanya sudah dijamin oleh Tuhan. Bacaan kedua mengingatkan kita akan pentingnya upaya-upaya saling menyelamatkan. “Hendaklah sekarang ini, kelebihanmu mencukupkan kekurangan orang-orang kudus” (2Kor 8:14). Kita masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kalau kelebihan dan kekurangan itu kita hayati dalam kasih, yakni dengan saling menolong, melengkapi, dan mencukupkan, keselamatan akan terjamin dan kehidupan tetap lestari.
Selain ditekankan mengenai pentingnya usaha-usaha untuk saling menyelamatkan, ada hal yang tidak kalah penting, yaitu iman dan pengharapan. Kedua hal inilah yang sungguh-sungguh dihayati oleh kepala rumah ibadat dan perempuan yang menderita pendarahan, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan Injil. Marilah kita perhatikan dengan seksama apa yang mereka lakukan.
Didasari dan didorong oleh iman dan pengharapan yang besar kepada Tuhan, kepala rumah ibadat, yang anak perempunannya sedang sakit, datang kepada Yesus dan tersungkur di depan kaki-Nya (ay.22) serta memohon dengan sangat agar Tuhan menyembuhkan anaknya (ay.33). Kepala rumah ibadat itu menghayati imannya dengan datang kepada Tuhan, tersungkur (merendahkan diri) di hadapan-Nya, dan memohon kepada Tuhan agar anaknya disembuhkan. Ketika ada orang yang mencoba melemahkan imannya, Yesus mengatakan, “Jangan takut, percaya saja”. Akhirnya, betul … iman dan pengharapan kepala rumah ibadat membuahkan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan bagi anak perempuannya. Banyak orang yang menyaksikannya menjadi takjub.
Demikian pula dengan wanita yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Didasari dan didorong oleh iman dan pengharapannya yang kuat (ay.28), ia mendekati Yesus dan menjamah jubahnya (ay.27), kemudian juga tersungkur di depan Yesus dan menceritakan dengan tulus apa yang dialami dan diimaninya (ay.34). Perempuan itu menghayati imannya dengan mendekati Yesus dan menjamah-Nya. Lagi-lagi ditegaskan bahwa iman perempuan itu telah menyelamatkannya dari penderitaan yang telah sekian lama ditanggung (ay.34). 
Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita mendapatkan teladan penghayatan iman dan pengharapan yang luar biasa. Kita juga mendapatkan jawaban atas kerinduan dan upaya kita untuk selamat dan bertahan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Tuhanlah yang menciptakan kita dan Ia menghendaki agar kita semua selamat. Maka, kita harus menggantungkan kerinduan dan usaha kita untuk selamat itu kepada Tuhan dengan beriman dan berpengharapan yang kokoh-kuat. Kita hayati iman dan pengharapan kita itu dengan cara datang dan mendekati Tuhan yang lebih dulu datang dan mendekati kita, dengan tersungkur untuk merendahkan diri di hadapan-Nya, dan dengan penuh kepercayaan memohon kepada-Nya, serta dengan takjub kepada-Nya. Ketakjuban pada Tuhan ini akan melahirkan pujian dan syukur kepada-Nya.
Selain mengandalkan Tuhan, dalam kehidupan bersama, kita juga harus saling menyelamatkan. Dengan semangat kasih, kita manfaatkan kelebihan kita untuk mencukupkan kekurangan sesama dan pada gilirannya kekurangan-kekurangan kita juga akan dicukupkan oleh orang lain. Dengan demikian, melalui semangat hidup saling menolong, melengkapi, dan mencukupkan, keselamatan kita akan terjamin dan kehidupan tetap lestari. Kalau kita semua berkekurangan, tidak usah kuatir sebab Tuhan maha kaya. “Sekalipun kaya, Ia telah menjadi miskin, supaya karena kemiskinan-Nya, kita menjadi kaya” (bdk. 2Kor 8:9).
Demikianlah, bacaan-bacaan hari ini memberi inspirasi kita mengenai pentingnya iman, pengharapan, dan kasih demi keselamatan kita. Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Rm. Ag. Agus Widodo, Pr