Senin, 08 April 2013 Hari Raya Kabar Sukacita

Senin, 08 April 2013
Hari Raya Kabar Sukacita

Kitab Suci sejak semula telah meramalkan kematian Kristus dan penderitaan yang mendahuluinya ---- St. Atanasius


Antifon Pembuka
(lih. Ibr 10:5-7)

Ketika masuk ke dunia ini Kristus bersabda, "Aku datang, ya Allah, untuk melakukan kehendak-Mu.
"

Doa Pagi

Ya Allah, Engkau menghendaki agar Sabda-Mu menjelma menjadi manusia dalam rahim Perawan Maria. Semoga kami, yang dalam iman mengakui Penebus kami sebagai Allah dan manusia, layak mengambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (7:10-14; 8:10)
 
"Seorang perempuan muda akan mengandung."
 
Tuhan berfirman kepada Raja Ahas, "Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." Tetapi Ahas menjawab, "Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!" Lalu berkatalah Nabi Yesaya, "Baiklah! Dengarkanlah, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel, artinya: Allah menyertai kita."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4, PS 850
Ref. Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.
Ayat. (Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11)
1. Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut, lalu aku berkata, "Lihatlah, Tuhan, aku datang!"
2. Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: "Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku."
3. Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.
4. Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicarakan, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan, tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (10:4-10)
 
"Lihatlah Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu."
 
Saudara-saudara, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Kristus masuk ke dunia, Ia berkata, "Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki. Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau juga tidak berkenan. Maka Aku berkata: Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allahku." Jadi mula-mula Ia berkata, "Engkau tidak menghendaki kurban dan persembahan; Engkau tidak berkenan akan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. -- Dan kemudian Ia berkata, "Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Jadi yang pertama telah Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = f, 3/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 1:14ab)
Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:26-38)
 
"Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."
 
Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Maka kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Seorang imam yang baru ditahbiskan mengambil moto tahbisan, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik.” Pengalaman pribadinya mengantar pada kebahagiaan karena berjumpa dengan orang-orang yang membawa kabar sukacita baginya.

Kehadiran sahabat atau orang-orang dekat ketika kita sedang mengalami kesedihan dan penderitaan memang sungguh berarti. Bisa saja mereka hadir tanpa kata-kata penghiburan. Namun, kerelaan mereka untuk menemani kita yang sedang bersedih sungguh-sungguh meneguhkan kita.

Kehadiran Tuhan jauh melebihi semua yang kita bayangkan. Dalam ketersembunyian-Nya, Tuhan sungguh hadir secara nyata dalam hidup kita. Di sebuah rumah sakit, pada jam-jam tertentu diucapkan kepada para pasien yang sedang dirawat lewat pengeras suara umum sapaan yang berbunyi, “Tuhan ada di sini, di sisimu.” Kalimat itu diulang-ulang dan respon dari para pasien sungguh positif. Terlihat ekspresi penuh pengharapan pada wajah mereka. Kehadiran Allah bukan hanya sebuah gagasan suci melainkan sungguh-sungguh suatu kenyataan. Allah adalah Allah yang dekat, menyapa, mengampuni dan mencintai kita.

Renungkanlah sapaan malaikat kepada Maria, “Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Sapaan ini kini diulangi oleh imam setiap kali merayakan Perayaan Ekaristi, “Tuhan bersamamu”. Apakah sapaan ini sungguh menggetarkan hati kita, mengingatkan kita akan kasih setia Tuhan yang senantiasa menyertai? Bahwa Tuhan sungguh hadir bukan hanya dalam kenangan ataupun dalam perasaan namun benar-benar nyata dalam Komuni Kudus yang kita sambut? Sapaan “Tuhan bersamamu” bukanlah sekadar sapaan basa-basi pembuka namun sungguh merupakan sapaan yang menggembirakan karena Tuhan berkenan menyertai kita, umat-Nya yang berdosa ini. Tuhan menyertai kita bukan karena kita pantas, namun karena Tuhan begitu mencintai kita. Mulai saat ini, setiap mendengar imam menyapa kita dengan, “Tuhan bersamamu”, ingatlah selalu akan kasih-Nya yang abadi, yang telah dicurahkan-Nya bagi kita dari kekal hingga kekal.

Kabar gembira bukanlah milik kita sendiri. Kabar ini adalah milik semua orang. Hanya saja, tidak semua orang seberuntung kita yang dapat mendengar secara langsung kabar sukacita ini. Setelah dipenuhi oleh cinta yang berasal dari Tuhan sendiri, kini adalah tugas kita untuk menjadi perpanjangan kasih Tuhan bagi sesama yang membutuhkan. Misalnya, lewat sebuah senyuman yang tulus, seuntai doa Salam Maria, sungguh akan menolong setiap orang yang kita jumpai pada hari ini. Sekalipun sulit, namun Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita melalui rahmat pembaptisan akan memampukan kita.

Saat ini, yang Tuhan harapkan adalah keterbukaan hati kita untuk mau bekerja sama dengan rahmat-Nya, menjadi duta-duta kasih-Nya, membawa kegembiraan dan sukacita bagi sesama. Inilah panggilan Kristiani, panggilan untuk menjadi kudus dan membawa kabar sukacita bagi sesama. Sungguh indah kehadiran orang yang membaw kabar sukacita!


Untuk menghormarti misteri Inkarnasi ini, maka, pada Misa Kudus tgl 08 April 2013 ini, mari kita berlutut saat mengucapkan kata-kata Credo: "Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia"

sumber: PUMR no 137, http://www.imankatolik.or.id/kvii.php?d=PUMR&q=137


137. Syahadat dilagukan atau didaras oleh imam bersama-sama dengan umat (bdk.no.68) sambil berdiri. Pada kata-kata Ia dikandung dari Roh Kudus, menjadi manusia seluruh umat membungkuk khidmat; tetapi pada Hari Raya Kabar Sukacita dan pada Hari Raya Natal semua berlutut.

RUAH

Minggu, 07 April 2013 Hari Minggu Paskah II - Minggu Kerahiman Ilahi

Minggu, 07 April 2013
Hari Minggu Paskah II - Minggu Kerahiman Ilahi 

 Rekan-rekan yang baik,

Beberapa pokok dalam Yoh 20:19-31 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah II 7 April 2013 ini saya bicarakan dengan Oom Hans. Ia tidak berkeberatan penjelasannya diteruskan ke Internos serta para peminat. Malah ia sudah dengar tentang Paus baru dst.

Salam,

A. Gianto



=======================================



Gus yang baik!

Bagian Injil yang kautanyakan itu (Yoh 20:19-31) kumaksud sebagai penjelasan bagi murid-muridku yang kerap bertanya bagaimana dulu kami bisa mulai percaya bahwa Yesus yang baru saja dimakamkan tapi tidak ada di situ lagi itu toh tetap terasa dekat bagi kami. Agak ada kesamaannya dengan ingatan akan orang-orang dekat yang sudah tak ada lagi tapi yang tetap menjadi bagian hidup kita. Tapi juga amat berbeda. Ia tidak ada lagi di antara orang mati. Makamnya kosong. Kita merasa betul-betul gembira, bukan hanya kangen seperti bila kita teringat orang lain. Bahkan menimang-nimang ingatan akan dia tidak penting lagi. Kami lebih merasa menjadi bagian dia daripada dia menjadi bagian kita. Aku ingin agar murid-muridku memahami pengalaman kami itu.



Yesus menampakkan diri kepada kami sewaktu kami sedang mengunci diri karena takut kepada para penguasa Yahudi yang memang bersikap memusuhi para pengikut Yesus. Penampakan itu tidak dialami banyak orang lain. Murid-muridku tidak ada yang melihat penampakan Yesus. Paulus pun tidak seperti kami yang melihat tangan Yesus yang ada bekas luka paku, pinggangnya yang ada bekas tusukan tombak. Kalau mau tahu seluk beluk yang dialami Paulus, simak pengakuannya (1 Kor 15:8) atau baca cerita Lukas (Kis 9:39).

MELIHAT


Murid-muridku pengin dapat melihat Yesus yang sudah bangkit seperti kami dulu, mereka ingin ikut mengalami yang kami alami. Dan kurasa keinginan itu tak boleh dianggap remeh. Tetapi Yesus juga tidak bisa kita minta menampakkan diri, bahkan harapan semacam itu tak baik. Lama kupikirkan bagaimana menerangkan bagaimana percaya tanpa melihat.

Ingat kan, Tomas yang kurang percaya laporan kami itu akhirnya percaya juga setelah melihat sendiri. Yesus menampakkan diri kepadanya dan meminta dia meraba supaya percaya. Tomas tidak sungguh meraba bekas luka-lukanya. Sudah cukup baginya melihat, lalu percaya dan berseru, "Tuhanku dan Allahku!" Melihat Yesus itu berarti melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya Tomas menyerukan dua sebutan itu. Aku ingat, Yesus sendiri ayan dulu mengatakan siapa mengenalnya akan mengenali Bapanya pula (Yoh 8:19; 14:7.9-11). Dan Bapanya itu Allah. Camkan perkataan Yesus kepada Tomas pada akhir peristiwa itu (Yoh 20:29), "Karena engkau melihat aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya." Kata-kata itu ditujukan kepada Tomas, tapi kami semua yang di ada di situ mendengarnya. Hal ini berulang kali kuteruskan kepada murid-muridku yang percaya kepada Yesus meski tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti kami dan Tomas dulu atau seperti Maria Magdalena sebelumnya.

Aku sendiri sebetulnya mulai percaya sebelum melihat sendiri. Sudah kuceritakan, setelah mendengar berita dari Maria Magdalena, Petrus dan aku berlari ke makam. Kudapati juga kafan yang ditemukan Petrus di tanah dan penutup muka yang terlipat rapi (Yoh 20:8). Saat itulah aku percaya ia sudah bangkit meski belum melihatnya sendiri. Kemudian ketika mendengar kata-kata kepada Tomas tadi aku merasa sungguh berbahagia.

PERCAYA


Tetapi memang "melihat" itu penting. Aku mulai mengerti pentingnya hubungan antara melihat dan percaya dari pengalaman orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus (Yoh 9) dengan cara yang khas. Ketika orang-orang pada menanyainya siapa yang membuatnya melek, jawabnya (ayat 11), "Orang yang bernama Yesus itu" mengobati matanya dengan lumpur dan menyuruhnya berendam di Siloam. Beberapa waktu kemudian ketika beberapa orang Farisi ikut menanyainya, jawabnya makin tegas (ayat 18), "Ia itu nabi!" Tetapi orang-orang Farisi itu malah berusaha mengintimidasi orang tadi. Ia kemudian bertemu Yesus lagi dan Yesus bertanya apa ia percaya kepadanya (Yesus menyebut diri "anak manusia"). Dan orang itu balik bertanya, mana orangnya supaya ia bisa menyatakan diri percaya. Yesus menyahut, bukan saja engkau melihat tapi sedang berbicara dengannya. Dan saat itu orang tadi sujud dan berseru (ayat 38), "Aku percaya, Tuhan!" Jelas bagiku. Pertama-tama si buta itu mengenali Yesus sebagai orang yang menyembuhkannya, kemudian menegaskannya sebagai nabi, dan akhirnya bersujud dan percaya kepadanya. Dan proses ini berlanjut juga ketika Yesus bangkit. Maria Magdalena, para murid, dan Tomas contohnya. Melihat bisa berkembang menjadi persepsi batin dan membuat orang mengenali kebenaran yang dilihat. Tapi bila melihat tidak berkembang, bisa jadi orang malah tidak dapat mempercayai apapun. Orang Farisi dalam kisah penyembuhan orang buta itu melihat tapi tak percaya. Kenapa? Karena mereka tidak terbuka untuk mengakuinya, apalagi mempercayainya. Karena itu kita mesti berterimakasih kepada Yesus yang mengatakan berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya. Tak perlu orang menjalani langkah-langkah yang kalau keliru malah membuat orang makin jauh. Kalian itu sebetulnya lebih beruntung dari pada kebanyakan dari kami. Tak perlu dicobai dengan penglihatan. Kalian menemukan Yesus yang bangkit dengan kesadaran batin dan mengalami kehadirannya di tengah-tengah kalian.

Sore hari Paskah itu, ketika menampakkan diri, Yesus mengembuskan Roh (Yoh 20:22). Seperti dalam penciptaan manusia dulu (Kej 2:7), kami menerima nafas hidup baru. Roh Kudus datang kepada kita untuk membuat kita hidup dalam Yesus yang bangkit. Memang sebelumnya dalam perjamuan terakhir ia telah menyatakan diri mau berbagi "sangkan paran" dengan kami - itu istilahmu yang kusukai. Tidak heran bila ini semua juga bisa sungguh terjadi pada kalian. Tapi untuk itu kalian perlu belajar memakai penglihatan batin untuk melihat Tuhan dan Allah - mengenal Yesus yang mulai kalian dengar dari kami dan bila sampai ke situ, kalian akan sadar juga bahwa Allah itu boleh dipanggil Bapa, seperti diajarkan Yesus. Dulu Yesus tak jemu-jemunya mengatakan ini kepada kami. Kami kira dia melantur. Tetapi kini aku paham.

KEBANGKITAN BAGI ORANG SEKARANG?


Kau juga bertanya soal kebangkitan buat zaman sekarang. Bisa kukatakan: percaya bahwa Yesus itu bangkit dan hidup itu sama bagi kami dulu dan bagi kalian sekarang. Mengenali dia juga akhirnya sama bagiku dan bagimu. Kami dulu diutus olehnya, setelah mendapat kekuatan Rohnya, untuk mengujudkan kepercayaannya kepada Bapanya. Hal ini diungkapkan dengan bahasa yang lebih kami pahami dalam situasi kami dulu, yaitu tentang mengampuni dosa atau menyatakan dosa tetap ada (Yoh 20:23). Dosa yang dimaksud ialah penolakan terhadap dia yang hadir di tengah-tengah manusia itu. Kami dulu ditugasi untuk hidup sesuai dengan semangat kebangkitan, menegakkan nilai-nilai yang sejalan dengan kemerdekaan hidup sebagai anak-anak Allah. Kalian menerima pengutusan yang sama. Kita tak bisa diam saja bila martabat anak-anak Allah memudar. Aku dengar di negeri kalian kemelaratan dan kebodohan menjadi penyakit menahun. Ada banyak yang kurang mempunyai sarana dan bekal memadai untuk jadi manusia yang pantas. Atau kalau mau pakai bahasa Injili, belum semua mendapat kesempatan lepas dari kuasa dosa agar menjadi anak-anak Allah. Kami diutus untuk membawakan kesempatan yang sama bagi semua orang. Kalian juga.

Barusan kudengar kalian ada mempunyai Paus baru. Yesuit lagi! Cuma berita ke sini nama kepausannya ialah pendiri romo-romo Fransiskan. Dengar-dengar juga ia mewartakan Tuhan yang baik hati, yang mengajak orang hidup damai. Persis, itulah yang dapat dibawakan para pengikut Yesus yang bangkit kepada orang zaman sekarang. Dunia kalian tinggal memang baru ikut bangkit bila sungguh merasakan Tuhan yang baik hati dan dapat mengalami damai.

KEBANGKITAN ATAU HIDUP KEMBALI?


Seorang kenalan mengirim tembusan catatanmu yang menggarisbawahi beda antara kebangkitan hari Paskah dengan penghidupan kembali orang mati. Memang kebangkitan itu berbeda dengan kembali ke kehidupan seperti Lazarus dulu (Yoh 11), atau anak janda di Nain (Luk 7:11-17) dan anak perempuan Yairus (Mrk 5:35-43; Luk 8: 49-56, juga Mat 9:23-26) yang dihidupkan kembali. Kebangkitan itu berjalan memasuki hidup baru degan Yang Maha Kuasa sendiri, bukan berbalik ke dunia dan bakal meninggal lagi. Badan juga bangkit dan tidak lagi mengalami keterbatasan-keterbatasan jasad seperti orang yang lahir ke dunia. Rekan tadi juga menambahkan pendapatnya: "Jadi ini bisa menjelaskan mengapa Maria Magdalena tak mengenali Yesus yang sudah bangkit. Waktu di makam, Maria Magdalena tak mengenali-Nya. Sesudah Ia berkata-kata, barulah Maria mengatakan: Rabbuni. Begitu pun yang terjadi pada dua Rasul yang berjalan ke Emaus. Kedua murid itu tak mengetahui bahwa yang berjalan di sebelah mereka adalah Sang Guru. Mereka baru tahu ketika Ia memecahkan roti." Tanggapan itu berasal dari kawan yang tidak banyak kenal ilmu teologi dan tafisr, tapi bisa berteologi dan mampu menangkap warta Injil. Dan memang itulah penjelasannya mengapa Yesus yang bangkit itu tak segera dikenali. Kita butuh waktu dan keberanian untuk menyadari apa yang terjadi. Kongkritnya: membiarkan kisah-kisah tentang Yesus berkembang maknanya, jangan dilihat sebagai cerita melulu; beranilah mendalami gagasan tentang Kristus yang bangkit, jangan puas dengan yang lumrah dan rutin. Memang kematangan ini baru bisa mulai bila menyertakan yang diimani. Tak bisa dicapai secara sepihak, sesaleh apapun, semulia apapun. Macam-macam jalannya. Ada yang merasa disapa batinnya ketika sedang gundah seperti Maria Magdalena, ada yang diimbau agar menemukan kehadirannya dalam "pemecahan roti", seperti dua murid Emaus - ini ungkapan paling pokok dari kepercayaan para murid: berbagi kehidupan dengan dia yang sudah bangkit. Dan masih banyak cara lain yang akan kalian temukan bersama Yesus yang telah bangkit itu sendiri.



Salam

Hans

Kobus: Minggu, 07 April 2013, Hari Minggu Paskah II






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 07 April 2013 Hari Minggu Paskah II - Minggu Kerahiman Ilahi

Minggu, 07 April 2013
Hari Minggu Paskah II - Minggu Kerahiman Ilahi

Yesus Kristus tujuan perjalananmu itu jalan yang pasti benar --- St. Agustinus

Antifon Pembuka (1Ptr 2:2)

Hendaklah kamu menjadi seperti bayi baru lahir, selalu haus akan susu rohani yang murni, supaya dengan itu kamu tumbuh dan diselamatkan. Alleluya.

Doa Pagi


Allah Bapa kami yang kekal dan kuasa, semoga sabda Yesus yang telah bangkit, terdengar di tengah-tengah kami dan terlaksana mukjizat penyembuhan dan pembebasan di antara kami agar kami dapat memasuki kehidupan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (5:12-16)


"Jumlah orang yang percaya kepada Tuhan makin bertambah."

Pada waktu itu para rasul mengadakan banyak tanda dan mukjizat di antara orang banyak. Semua orang beriman selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak. Makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai serta tilam, supaya apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. Juga banyak orang dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun. Mereka membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 118:2-4.22.25-27a; Ul:1)

1. Biarlah Israel berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya" Biarlah kaum Harun berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya Biarlah orang yang takwa pada Tuhan berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!"
2. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karena-Nya!
3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan Tuhan Allah, Dia menerangi kita.

Bacaan dari Kitab Wahyu (1:9-11a.12-13.17-19)

 
"Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya."

Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, sedang berada di pulau yang bernama Patmos terdorong oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh, dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala. Kata suara itu, “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab, dan kirimkanlah kepada jemaat di Asia.” Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Ketika aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Ketika melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati. Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata, “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, Aku adalah Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya, dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, Kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 20:29)
Yesus bersabda, "Hai Tomas, karena melihat Aku, engkau percaya; berbahagialah yang tidak melihat namun percaya."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (20:19-31)

 
"Delapan hari kemudian Yesus datang."

Setelah Yesus wafat di salib, pada malam pertama sesudah hari Sabat, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus, berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!" Sesudah berkata demikian, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Dan sesudah berkata demikian, Yesus menghembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." Pada waktu Yesus datang itu Tomas, seorang dari kedua belas murid, yang juga disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka. Maka kata murid-murid yang lain kepada-Nya, "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu, dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang. Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Yesus berkata kepada Tomas, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku. Ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah!" Tomas menjawab kepada-Nya, "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

  
 Renungan
  
TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA

Kita, manusia, cenderung percaya setelah melihat bukti atau mengalami secara langsung. Kita merasa tidak cukup hanya mendengarkan suatu peristiwa untuk mempercayainya. Kita perlu melihat atau mengalami langsung. Namun, ada peristiwa dan berita yang kita langsung percayai karena orang yang membawa berita atau menyampaikan peristiwa adalah orang yang kita percayai atau yang mengalami langsung langsung peristiwa itu. Sebagai contoh, berita atau peristiwa kematian saudara kita akan kita percaya karena orang yang memberitakan adalah saudara kita sendiri.

Mendengar bahwa para murid telah melihat Yesus yang sudah bangkit, Tomas tidak percaya sebelum melihat sendiri. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya,” katanya (Yoh 20:25). Tomas baru mau percaya kalau melihat sendiri Yesus yang bangkit dan melihat langsung bekas-bekas luka-Nya. Ketidakpercayaan Tomas dijawab oleh Yesus ketika Dia menampakkan diri kembali di tengah-tengah para murid yang sedang berkumpul. Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (ayat. 27). Tomas percaya dan menjawab dengan penuh kepercayaan, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ayat. 28). Yesus kemudian memberikan suatu penegasan yang juga bisa menjadi suatu pegangan bagi kita semua, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (ayat. 29). 

Kita yang sudah tidak lagi melihat dan mengalami langsung Yesus yang bangkit percaya karena kesaksian yang diberikan oleh para murid dan telah melihat serta mengalami langsung Yesus yang sudah bangkit dan menampakkan diri sebelum kenaikan-Nya ke surga. Kita percaya bukan karena melihat langsung tetapi kesaksian para murid yang terus diwartakan. Tentu kepercayaan ini bukan karena hasil usaha kita tetapi karena anugerah Tuhan sendiri yang telah membuka mata hati dan budi. Dengan begitu, walau tidak melihat langsung kita percaya sungguh bahwa Yesus sudah bangkit. Kita patut berbahagia karena tidak melihat namun percaya. Kita telah dianugerahi iman kepercayaan bahwa Yesus sungguh sudah bangkit.

Injil hari ini juga meneguhkan iman kita bahwa Yesus sungguh bangkit dan kebangkitan-Nya membawa damai sejahtera. Kita percaya dan beriman akan Yesus yang bangkit karena kesaksian para murid tidak diragukan lagi. Iman kita peroleh bukan karena kita melihat secara langsung Yesus yang bangkit tetapi berkat kesaksian para murid yang imannya sudah diteguhkan oleh Yesus.  

Kita patut bersyukur karena kita telah mendapat warisan iman yang menyelamatkan. Rasa syukur ini mestinya juga juga mendorong kita untuk memberi kesaksian bahwa dengan wafat dan kebangkitan-Nya Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita. Damai sejahtera terus digemakan dalam hati karena Tuhan telah mendamaikan kita dan Allah Bapa di surga dan dengan sesama berkat wafat dan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah dan Pesta Kerahiman Ilahi.

RUAH

Minggu Paskah II/C


MINGGU PASKAH II/C – 7 APRIL 2013
Kis 5:12-16; Why 1:9-11a.12-13.17-19; Yoh 20:19-31

Hari Minggu Paskah II merupakan Minggu Kerahiman Ilahi. Pesta Kerahiman Ilahi ini berasal dari Permintaan Yesus kepada St. Faustina pada penampakan-Nya tanggal 22 Februari 1931 yang mengatakan, “Aku mau supaya ada Pesta Kerahiman. Aku mau gambar itu diberkati secara mulia pada hari Minggu pertama sesudah Paskah. Hari Minggu ini harus menjadi Pesta Kerahiman.” Permintaan Yesus ini baru terwujud pada tahun 2000, ketika Bapa Suci Yohanes Paulus II menetapkan Hari Minggu Paskah II sebagai Pesta Kerahiman Ilahi.

Dalam salah satu homilinya, pada tanggal 17 Agustus 2002, Beato Yohanes Paulus II menyatakan bahwa dunia saat ini sangat membutuhkan Kerahiman Ilahi. Dunia saat itu – dan ternyata masih juga pada saat sekarang – sedang menderita karena konflik berkepanjangan, kematian orang-orang yang tak bersalah, kebencian dan dendam yang merajalela, martabat manusia yang tidak dihargai, dan budaya kematian yang menggerogoti pengaruh budaya kehidupan. Semua itu berakar dari kedosaan manusia. Manakala kuasa dosa telah begitu kuat mencengkeram umat manusia maka yang terjadi hanyalah penderitaan demi penderitaan.

Dalam suasana demikian, Kerahiman Ilahi mutlak dibutuhkan untuk menolong para korban dari keganasan kuasa dosa yang merasuk di hati banyak orang. Lebih dari itu, Kerahiman Ilahi amat dibutuhkan untuk mengubah pikiran dan hati manusia agar mengarah kembali pada orientasi hidup untuk menegakkan damai dan kasih di dalam kehidupan bersama. Dengan kata lain, kerahiman Ilahi sungguh dibutuhkan untuk mengubah suasana penghancuran menjadi suasana pendamaian serta kasih, untuk mengubah budaya kematian menjadi budaya kehidupan. Kerahiman Ilahi juga mutlak dibutuhkan karena manusia sudah tidak dapat menolong dirinya sendiri untuk keluar dari kuasa dosa yang mengakibatkan penderitaan yang tanpa akhir.

Kata “kerahiman” berasal dari bahasa Ibrani “rahamin”, yang erat berkaitan dengan kata “rehem”, artinya “rahim atau kandungan”. Dengan demikian, rahamim menunjuk sifat kasih Allah yang serupa dengan sifat rahimnya seorang ibu, yakni “melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, membawa kemana-mana”. Dengan kerahiman-Nya, Allah melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat, membawa kemana-mana. Seperti janin tidak dapat hidup dan berkembang tanpa rahim ibu, demikian pula manusia tidak akan dapat hidup tanpa kerahiman dari Allah.

Dalam terang bacaan-bacaan hari ini, kerahiman Tuhan dinyatakan melalui para rasul yang menyembuhkan banyak orang yang menderita penyakit dan kerasukan setan (bacaan I). Oleh karena kerahiman Tuhan, “mereka semua disembuhkan” (Kis 5:16). Dalam diri Yesus, kerahiman Allah itu mencapai puncaknya (bacaan II). Dia telah mati namun kemudian hidup kembali untuk selama-lamanya dan menguasai baik kerajaan maut maupun kehidupan (Why 1:18). Dalam kehidupan setelah kematian-Nya itulah, Yesus membawa damai sejahtera (Injil). “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh 20:19b.21.26b).

Di tengah situasi masyarakat kita yang banyak diwarnai penderitaan ini, pesan damai sejahtera dari Tuhan hanya akan terwujud secara nyata kalau kita masing-masing mau berperan serta mewujudkan kerahiman dan belas kasih Tuhan. Untuk itu, dalam sabda damai sejahtera Injil tadi, Yesus juga menekankan pentingnya pengampunan. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. … Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh 20:22-23).

Antara kedamaian dan pengampunan mempunyai hubungan yang amat erat sebab kita tahu bahwa pengampunan merupakan prasarat mutlak bagi perdamaian. Hal ini sungguh nyata dalam hubungan dengan Tuhan. Kita semua adalah orang berdosa dan dengan dosa-dosa itu, kita meninggalkan dan melawan Allah. Namun, berkat korban dan penebusan Kristus yang megampuni dosa-dosa kita, maka kita didamaikan kembali dengan Allah.

Oleh karena itu, pesan Yesus untuk mengampuni sesama merupakan pesan yang amat relevan sepanjang zaman. Beato Yohanes Paulus II dalam pesan hari perdamaian se dunia tahun 2002-2003 berkali-kali mengatakan: “Tidak ada damai tanpa keadilan, tidak ada keadilan tanpa pengampunan.” Senada dengan hal ini, kata-kata indah dalam Prefasi Doa Syukur Agung VI, kiranya merupakan pesan damai sejahtera yang harus kita gemakan, “Berkat kuasa-Mu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam, dan saling kasih mengenyahkan perselisihan”.

Untuk menghadirkan kerahiman Allah yang berupa pengampunan, semoga kisah nyata yang pernah terjadi di Taiwan ini memberi inspirasi bagi kita:

“Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat cewek-cewek yang kenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan cewek-cewek jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini betul-betul seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan rutin layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya, A be.

Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya. Setiap kali ada teman atau kolega bisnis yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut ibunya dulu sebelum meninggal. "Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan." jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT (bad temper) dan uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Dia mengira, box itu berisi perhiasan emas, intan, dan berlian milik ibunya. Namun, setelah dibuka, ternyada dalam box itu hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu menunjukkan wajah seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan dan menutup dirinya dengan sprei kasur basah, wanita itu menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto itu dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan Koran usang tersebut, A be langsung bersujud di samping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibu pun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah, ya sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan diungkit lagi".

Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap cuek bebek.

Bahan bacaan:
·   Gagasan Homili Rm. Hari Kustono