Kobus: 28 April 2013






silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 28 April 2013 Hari Minggu Paskah V

Minggu, 28 April 2013
Hari Minggu Paskah V

Cinta kepada Allah dan kepada sesama ini tidak saja merupakan Cinta manis yang sesederhana manisnya gula Sakarin (saccharine) dalam buah. Cinta Kasih ini ditanggung dan dimuat dari berbagai nilai yang berharga yaitu dari kesabaran, kerendahan hati, dan pertumbuhan sesuai dengan kehendak Allah kepada kita, dengan kehendak Yesus Kristus, sahabat kita. Hanya dengan cara ini, seluruh keberadaan kita mengambil sebuah kualitas kebajikan dan kebenaran, yang adalah Cinta Kasih yang sejati, hanya dengan cara demikian itu dapat dikatakan buah matang dan baik. Sebuah tuntutan dalam hati - kesetiaan kepada Kristus dan kepada Gereja-Nya - mencari pemenuhan yang selalu mencakup penderitaan. Ini adalah cara yang kegembiraan sejati dapat tumbuh. -- Homili Paus Benediktus XVI 19 Juni 2011


Antifon Pembuka (Mzm 97:1-2; Mode VI)

Cantate Domino canticum novum, quia mirabilia fecit Dominus, ante conspectum gentium revelavit iustitiam suam, alleluia, alleluia. Salvavit sibi dextera eius: et brachium sanctum eius. Gloria Patri.

Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya agung. Di hadapan para bangsa Ia menyatakan keadilannya. Alleluya.

Doa Pagi

Allah yang Mahakuasa dan kekal, Engkau berkenan memperbarui kami dengan pembaptisan kudus. Sempurnakanlah selalu sakramen Paskah ini dalam diri kami supaya berkat perlindungan-Mu kami menghasilkan banyak buah dan Engkau perkenankan mencapai sukacita hidup abadi. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (14:21b-27)
 
"Mereka menceriterakan segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka."
 
Sekali peristiwa kembalilah Paulus dan Barnabas ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman. Mereka pun mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat setempat, dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka. Paulus dan Barnabas lalu menjelajah seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia di pantai. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia. Di tempat inilah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan yang kini telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu menceritakan segala sesuatu yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka, dan bahwa Allah telah membuka pintu iman bagi bangsa-bangsa lain.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/4, PS 836
Ref. Segala bangsa bertepuk tanganlah, berpekiklah untuk Allah raja semesta.
Ayat. (Mzm 145:8-9.10-11.12.13ab)

1. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
2. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.
3. Mereka memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan memaklumkan kerajaan-Mu yang semarak mulia. Kerajaan-Mu ialah kerajaan abadi, pemerintahan-Mu lestari melalui segala keturunan.

Bacaan dari Kitab Wahyu (21:1-5a)
   
"Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
 
Aku, Yohanes, melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang dari takhta, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia, dan Ia akan tinggal bersama-sama mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya, dan Ia akan menjadi Allah mereka. Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama telah berlalu.” Ia yang duduk di atas takhta itu berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 13:34)
Perintah baru Kuberikan kepada kamu, sabda Tuhan, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sebagaimana Aku telah mengasihi kamu.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (13:31-33a.34-35)
 
"Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi."
 
Dalam perjamuan malam terakhir, sesudah Yudas meninggalkan ruang perjamuan, berkatalah Yesus kepada para murid yang lain, “Sekarang Anak Manusia dipermuliakan, dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, tinggal sesaat lagi Aku ada bersama kamu. Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
 
Renungan

“Omah gedhong magrong-magrong susun telu. Montor pitu kari milih sakkarepmu,” demikian keadaan orang kaya versi Mus Mulyadi pada tahun 70an. Orang kaya tahun 2013 macam apa? Entahlah. Yang pasti, meski berbeda keadaannya, kelimpahan harta tetap menjadi ukurannya: rumah dan tanah berceceran di mana-mana, uang disimpan di berbagai macam bank, saham di berbagai perusahaan, jabatan tinggi, dan sebagainya. Saatnya ia bersantai menikmati uang yang berdatangan. Seringkali kemuliaan macam inilah yang kita bayangkan dan kita kejar: hidup yang mapan karena tercukupinya kebutuhan hidup. Kemuliaan macam itulah yang kemudian kita kejar di dunia ini.

Dengan kata lain, kemuliaan identik dengan kekayaan. Orang lain pun juga berbuat demikian. Itulah sebabnya orang sering bekerja keras siang dan malam untuk mendapatkan kekayaan. Meski sudah kaya pun ia terus mengejarnya. Demi menambah kemuliaan kemudian ia memiliki banyak istri. Maka lengkaplah sudah unsur kemuliaan itu: harta, takhta, wanita. Lalu apakah orang tidak boleh kaya?

Tampaknya kemuliaan yang ditawarkan dan diajarkan oleh Yesus kepada kita berbeda dengan kemuliaan yang dipahami oleh banyak orang zaman ini. Kemuliaan Allah terletak pada kebaikan dan cinta-Nya. Allah mulia karena Ia menampilkan kebaikan yang penuh, kebaikan yang tiada syarat dan tak terhingga. Cinta tak terhingga itu dilakukan Yesus dengan cara menebus dosa manusia agar manusia dapat menikmati hidup bahagia bersama Allah. Karya penebusan itulah keadaan yang bagi manusia sebuah kehinaan, namun justru menampilkan kemuliaan. Di situlah kemuliaan Allah tampak sepenuh-penuhnya. Karena kebaikan itu Allah dihargai setinggi-tingginya. Itulah kemuliaan Allah.

Kemuliaan pertama tidak abadi. Kemuliaan itu hilang seiring habisnya harta kekayaan. Maka, yang tersisa tinggallah derita yang berkepanjangan. Kemuliaan pertama juga sering menimbulkan percekcokan dan perpecahan. Kemuliaan pertama juga memisahkan seseorang dari Allahnya. Sayang, banyak orang tidak (mau) menyadarinya. Seringkali kesadaran itu datang terlambat. Namun demikian, itu mungkin masih jauh lebih baik ketimbang tidak menyadarinya sama sekali.

Kemuliaan kedua menjanjikan kebahagiaan abadi. Harta kebaikan surgawi bertambah seiring semakin besar dan banyaknya cinta yang diperbuat di dunia. Itu artinya, ia memiliki kesempatan besar tinggal bersama Allah. Banyak orang telah mencapai kekayaan macam ini. Banyak orang di dunia juga mengusahakan kemuliaan demikian semasih di dunia. Caranya, mengasihi sesama manusia sehabis-habisnya. Banyak orang menggunakan harta miliknya, kekayaannya di dunia untuk mencintai sesama.

Sebagai pengikut Kristus, kita diajak mengikuti jejak-Nya. Kita memuliakan Allah dengan mencintai sesama sehabis-habisnya, tulus tanpa pamrih. Hanya cinta yang demikian akan menandakan keberadaan kita sebagai murid-murid Kristus. Sebab, banyak orang mencintai bukan karena demi kebaikan orang lain tetapi demi kebaikan diri sendiri.

RUAH