Minggu, 07 Juli 2013 Hari Minggu Biasa XIV

   
Damai sejahtera bagi rumah ini 

Dalam menjalankan tugas utusan Yesus, sebagai murid, mereka harus pergi berdua-dua supaya apa yang mereka sampaikan mempunyai kekuatan kesaksian. Saksi kebenaran akan menjadi lebih kuat jika didukung oleh dua orang atau lebih. Selain itu secara manusiawi, jika berdua-dua mereka bisa saling mendukung, saling membantu dan saling meringankan bahkan bisa saling mengoreksi bila terjadi kekeliruan. Kalau ada yang jatuh, ada pula yang bisa membantu menegakkan. Kalau ada yang menikmati damai adalah orang yang menikmati kebersamaan sebagai saudara. Kebersamaan sebagai sumber kekuatan.

Banyak orang yang menginginkan mendapatkan keselamatan, tetapi sedikit orang yang mewartakan dan memberikan kesaksian keselamatan yang berasaldari Allah. Pengalaman akan keselamatan yang dirasakan berasal dari Tuhan perlu disebarluaskan kepada orang lain agar mereka juga dapat menemukan dan mengalami serta menikmati keselamatan itu. Keselamatan itu ialah bahwa mereka mengenal Allah dan mengalami kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus.

Yesus sebagai Mesias sudah di tengah-tengah mereka. Bahwa Allah Bapa telah mengurapi Yesus untuk mewartakan Kerajaan Keselamatan yang dari Allah sudah hadir dengan tandanya: pengusiran setan-setan, penyembuhan orang sakit, pembebasan orang-orang yang tertindas dan tertawan.

Tuhan Yesus mengundang orang-orang untuk menjadi pekerja bersama dan di dalam Tuhan, untuk mengambil bagian dalam tugas perutusan itu dengan sikap mental yang penuh kegigihan, seperti seekor anak domba di tengah serigala. Siap untuk menanggung ancaman yang menghadang yaitu kehilangan nyawa. Mereka siap menanggung rasa lapar dengan harapan bahwa seorang pekerja patut mendapatkan upah dari pekerjaannya. Maka tidak perlu membawa jaminan ATM, Credit Card, tidak perlu membawa bekal yang justru menghambat tugas pelayanan sebagai seorang pewarta, karena terlalu kawatir untuk dirinya sendiri. Tuhan yang mengutus, Tuhan pula yang menggaransi/memberi jaminan.

Kalau Kerajaan Allah yang diwartakan, damai sejahtera yang dikedepankan, maka jalinan kasih akan menjadi jaminan keselamatan itu. Hati yang damai adalah hati yang siap untuk menerima kehadiran saudara, juga kehadiran Tuhan. Hati yang damai sejahtera adalah hati yang terbuka untuk merasakan penderitaan dan suka duka sesama. Hati yang damai sejahtera adalah hati yang rela untuk berbagi, apalagi kalau merasa mendapatkan sesuatu yang membahagiakan dirinya. Tentu dia akan mudah menerima dan membagi kesejahteraan itu dengan yang membawa dari sumbernya, yaitu Tuhan. Hati yang damai sejahtera adalah hati yang tidak suka pada kebencian, kemarahan, kesombongan, kejahatan, kebohongan, keserakahan ataupun pelit. Sebaliknya dia akan lemah lembut, sabar dan murah hati seperti Tuhan sendiri telah bermurah hati padanya.

Maka sikap tolong menolong, menghalau kejahatan, membantu yang sakit dan menderita, menjadi jiwa yang mendorong untuk hidup sebagai saudara, dalam kesatuan sebagai murid Tuhan Yesus. Tidak akan membiarkan kuasa setan bercokol dalam kehidupan bersama, tidak akan membiarkan orang sakit terkapar sendirian tanpa pertolongan, tidak akan membiarkan kuasa iblis menguasai sendi-sendi kehidupan dan mengacaukan kehidupan sehingga hidup dalam damai sejahtera menjadi cita-cita yang diperjuangkan bersama sebagai satu saudara dan satu keluarga anak-anak Allah.

Selamat merenungkan,

Pastor Antonius Sumardi, SCJ