Selasa, 29 Oktober 2013 Hari Biasa Pekan XXX

Selasa, 29 Oktober 2013
Hari Biasa Pekan XXX
   
Biji sesawi konon yang terkecil, namun begitu tumbuh menjadi rimbun dan banyak burung-burung kecil berdatangan untuk mencari makan; demikian juga ragi dalam jumlah kecil ketika diadukkan ke dalam tepung terigu, maka rasanya jadi lain: ragi merasuki seluruh tepung terigu. Maka sabda hari ini kiranya dapat menjadi pegangan hidup kita, dimana meskipun jumlah kita kecil tetapi karena berkualitas, maka akan sangat berguna bagi kehidupan bersama. Dengan kata lain sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk lebih menekankan kualitas daripada kuantitas, mutu daripada jumlah. Tentu saja kualitas yang kami maksudkan terutama atau lebih-lebih kualitas iman, dengan kata lain marilah kita tingkatkan dan perdalam kualitas iman kita. (Rm. Ign. Sumarya, SJ - Homili 30 Oktober 2012)
  
Antifon Pembuka (Mzm 126:6)
  
Orang yang melangkah menangis sambil menaburkan benih, akan pulang dengan sorak-sorai membawa berkas-berkas panenannya.

Doa Pagi

Bapa yang Mahapengasih, penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang. Semoga pengalaman hidup berimanku hari ini menambah pengharapan dan kasihku kepada-Mu. Amin.

Dalam harapan, semua ciptaan rindu menantikan pemenuhan saat anak-anak Allah dinyatakan. Penderitaan zaman sekarang tidak bisa dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (8:18-25)
   
"Seluruh makhluk dengan rindu menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan."
  
Saudara-saudara, aku yakin penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan amat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri, melainkan oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya; tetapi penaklukan ini dalam pengharapan, sebab makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan, dan masuk ke dalam kemerdekaan mulia anak-anak Allah. Kita tahu, sampai sekarang ini seluruh makhluk mengeluh dan merasa sakit bersalin; dan bukan hanya makhluk-makhluk itu saja! Kita yang telah menerima Roh Kudus sebagai kurnia sulung dari Allah, kita pun mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan lagi pengharapan. Sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang sudah dilihatnya? Tetapi kalau kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, maka kita akan menantikannya dengan tekun.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 126:1-2ab.2cd-3.4-5.6; Ul: lh. 3)
1. Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawa-ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
2. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, "Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
3. Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
4. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi. Memang kecil, tetapi bila ditaburkan dan bertumbuh, ia akan menjadi besar dan menjadi tempat bersarang burung-burung di udara. Kerajaan Allah itu juga seumpama ragi. Memang sedikit, tetapi bila diaduk dengan tepung terigu, akan besar pengaruhnya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (13:18-21)
  
"Biji itu tumbuh dan menjadi pohon."
  
Ketika mengajar di salah satu rumah ibadat, Yesus bersabda, “Kerajaan Allah itu seumpama apa? Dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon, dan burung-burung di udara bersarang di ranting-rantingnya.” Dan Yesus berkata lagi, “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu seumpama ragi, yang diambil seorang wanita dan diaduk-aduk ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai seluruhnya beragi.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Biji sesawi itu merupakan tumbuhan yang paling kecil. Ragi juga bahan pengawet makanan yang diperlukan cukup sedikit. Namun keduanya punya daya kemampuan yang besar untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Yesus memakai dua benda itu untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Yesus ingin agar kita punya daya yang mampu mempengaruhi lingkungan sekitar. Walau kecil, kita hendaknya menjadi pribadi yang berisi dan bermutu. Kita menjadi biji sesawi yang mampu bertumbuh dan berkembang. Kita menjadi ragi yang mengawetkan dan memberi rasa enak dalam hidup bersama.
   
Segenap admin dan moderator Renungan Pagi @blogspot dan Forkat WebGaul menyampaikan turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Rm. Ignatius Sumarya, SJ. Semoga jiwa Rm. Sumarya menikmati damai abadi. Terima kasih atas pengabdian dan kebersamaan selama berkarya.
   
Doa Malam

Tuhan Yesus, Engkau bersabda, “Kerajaan Allah seumpama ragi dan biji sesawi,” tetapi pengaruhnya dahsyat untuk mengubah orang, terlebih diriku. Ampunilah aku yang sering meremehkan hal-hal kecil, dan berkenanlah memberi rahmat untuk menerima dan melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Amin.


RUAH