Jumat, 07 Februari 2014 Jumat Pertama --- Hari Biasa Pekan IV

Jumat, 07 Februari 2014
Jumat Pertama --- Hari Biasa Pekan IV
 
“Setiap perbuatan Kristus merupakan kebanggaan dari Gereja Katolik, tetapi kebanggaan yang paling besar adalah salib” (St. Sirilus dari Yerusalem)

 
Antifon Pembuka (Mzm 18:17.50)
 
Tuhan hidup! Terpujilah gunung batuku! Mulialah Allah Penyelamatku! Aku mau meyakinkan syukur bagi-Mu, ya Tuhan, aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.
 
Doa Pagi


Tuhan, Engkau sungguh mencintai kami. Rezeki yang cukup telah kami terima, kesehatan yang baik tetap kami rasakan. Tuhan, buatlah agar kami mampu mempertanggungjawabkan pemberian-Mu ini sehingga kemuliaan-Mu yang bekerja dalam hidup kami dapat kami pancarkan lewat pengabdian kami sehari-hari. Amin.

Tuhan Sang Pencipta menjadi asal dan tujuan akhir hidup manusia. Manusia tidak mampu hidup dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kuasa Tuhan selalu turut terlibat dalam hidup dan perjuangan manusia. Sebaliknya, manusia juga mesti terus melibatkan Tuhan dalam seluruh hidupnya. Akhirnya, ia akan selalu menikmati sukacita hidupnya dalam kuasa Tuhan.

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (47:2-11)
 
  
"Dengan segenap hati Daud memuji-muji Tuhan dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta."
   
Seperti lemak disendirikan untuk kurban penghapus dosa, demikianlah Daud dipungut dari orang-orang Israel. Singa dipermainkan olehnya seolah-olah kambing jantan saja, dan beruang seakan-akan hanyalah anak domba. Bukankah di masa mudanya ia membunuh seorang raksasa dan mengambil nista dari bangsanya dengan melemparkan batu dari pengumban dan mencampakkan kecongkakan Goliat? Karena berseru kepada Tuhan Yang Mahatinggi, yang memberikan kekuatan kepada tangan kanannya, maka Daud merebahkan orang yang gagah dalam pertempuran, sedangkan tanduk bangsanya ia tinggikan. Itulah sebabnya ia disanjung-sanjung karena “laksaan” dan dipuji-puji karena berkat-berkat dari Tuhan, ketika mahkota mulia dipersembahkan kepadanya. Sebab ia membasmi segala musuh di sekelilingnya, dan meniadakan orang-orang Filistin, lawannya, serta mematahkan tanduk mereka hingga hari ini. Dalam segala tindakannya Daud menghormati Tuhan, dan dengan kata sanjungan kepada Yang Kudus, Yang Mahatinggi. Ia bernyanyi-nyanyi dengan segenap hati, dan mengungkapkan kasihnya kepada Sang Pencipta. Di depan mezbah ditaruhnya kecapi, dengan bunyinya ia memperindah lagu dan kidung. Ia memberikan kemeriahan kepada segala perayaan, dan hari-hari raya diaturnya secara sempurna. Maka orang memuji-muji Nama Tuhan yang kudus, dan mulai pagi-pagi benar suara orang bertalu-talu di tempat kudus-Nya. Tuhan mengampuni segala dosanya serta meninggikan tanduknya untuk selama-lamanya. Tuhan menjanjikan kerajaan yang lestari, dan menganugerahkan kepadanya takhta yang mulia di Israel!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Muliakanlah Allah, penyelamatku.
Ayat. (Mzm 18:31.47.50.51)
1. Jalan Allah itu sempurna, janji Tuhan adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.
2. Tuhan itu hidup! Terpujilah Gunung Batuku dan mulialah Allah Penyelamatku! Maka aku akan menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan; aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.
3. Tuhan mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya; Ia menunjukkan kasih setia kepada orang yang diurapi-Nya, yakni Daud dan anak cucunya, untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas, dan menghasilkan buah berkat ketabahannya. Alleluya.

Orang kudus telah menikmati kebahagiaan bersama para malaikat di surga. Mereka telah menjadi saksi karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya. Mereka membela imannya dengan mengurbankan jiwa dan raganya. Yohanes Pembaptis berani menyuarakan kebenaran Allah. Ia mengingatkan orang untuk melakukan yang benar sesuai kehendak Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (6:14-29)
  
"Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, kini bangkit lagi."
    
Pada waktu itu Raja Herodes mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya memang sudah terkenal, dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati, dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mndengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan kini bangkit lagi.” Memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegur Herodes, “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena kata-kata itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci; jadi ia melindunginya. Tetapi setiap kali mendengar Yohanes, hati Herodes selalu terombang-ambing; namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes – pada hari ulang tahunnya – mengadakan perjamuan untuk para pembesar, para perwira dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu puteri Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes serta tamu-tamunya. Maka raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!” Lalu Herodes bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun itu setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawab ibunya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam!” Maka sangat sedihlah hati raja! Tetapi karena sumpahnya dan karena segan terhadap tamu-tamunya, ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu dalam sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu, dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kubur.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Dalam Injil hari ini ada dua tokoh kontras, yaitu Yohanes Pembaptis dan Raja Herodes. Yohanes setia memegang kebenaran dan tidak takut menyampaikan kebenaran walau beresiko tinggi.

Dari mana sumber kekuatan itu? Sementara Raja Herodes, pribadi yang labil, mudah ditiup angin sehingga terombang-ambing. Di satu sisi dia mengagumi Yohanes dan mengakui bahwa Yohanes benar, tetapi di lain pihak, dia ingin pujian dan tidak mau dikritik. Demi menjaga nama baiknya, dia membunuh tokoh yang dikaguminya.

Kitab Sirakh mengingatkan kita bahwa Daud menjadi luar biasa hebat karena diurapi oleh Allah. Yohanes Pembaptis menjadi teguh dan mantap hidupnya karena dia melakukan matiraga, prihatin, bertapa dan senantiasa setia pada suara hatinya. Hidup kita akan tenang, damai dan berani menghadapi aneka tantangan, masalah serta kerapuhan diri kalau sumber kekuatan itu dari Allah yang bertakhta dalam hati kita. Hanya dengan askese, disiplin dalam berdoa dan merayakan Ekaristi serta latihan rohani lainnya, kita bisa memelihara sumber kekuatan ilahi sehingga kita tetap setia kepada kebenaran dan tidak jatuh pada gengsi dan kesombongan.

Tuhan Yesus, tariklah aku ke tempat yang lebih dalam, yaitu hati-Mu sendiri sumber kekuatan sejati sehingga saya tidak terombang-ambing oleh godaan dari luar dari keinginan spontan serta haus pujian. Amin.
Ziarah Batin 2014, Renungan dan Catatan Harian

Katekese: Yang Ideal, Bukan Utopia

Beato Yohanes Paulus II menulis Amanat Apostolik Familiaris Consortio (Persekutuan Keluarga). Di dalamnya dijelaskan posisi keluarga kristiani, khususnya tentang makna-peran perkawinan dan di keluarga di dunia modern. Dokumen yang secara resmi diumumkan pada 22 November 1981 ini menegaskan kembali Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia modern (Gaudium et Spes). Singkatnya, Gereja ingin mendorong keluarga-keluarga kristiani, agar menjadi keluarga ideal pada zaman ini. Yang ideal adalah cita-cita yang hendak dicapai, bukan sekadar utopia belaka.  

    Ideal berarti: Pertama, hidup seturut jati dirinya. Jati diri keluarga ditemukan dalam rencana Allah Pencipta dan Penebus (FC, 17). Allah mencipta karena cinta. Allah menebus karena cinta. Hakikat dan peranan keluarga memiliki keunikan yang tak mungkin tergantikan oleh media secanggih apa pun, yakni cinta kasih. Keluarga lahir dari cinta kasih Allah sendiri, yang ikatannya bagaikan Roh Kudus yang mengikat cinta kasih Bapa dan Putra. Inilah perwujudan keterlibatan Allah dalam lembaga perkawinan, yakni cinta kasih. Maka, keluarga memiliki tugas perutusan untuk menjaga, mengajarkan dan menghayati cinta kasih itu. Keluarga adalah sekolah cinta kasih. Dari akar keluargalah, anak-anak belajar mencintai. Gaudium et Spes, 48 menegaskan bahwa keluarga merupakan gambaran dan partisipasi cinta kasih antara Kristus dan Gereja.  

     Kedua, berpegang teguh pada janji perkawinan. Allah sendirilah pencipta perkawinan (GS, 48). Maka, pria dan wanita, yang dalam janji perkawinan telah menjadi 'bukan lagi dua, melainkan satu daging' (Mat 19:6) hendaknya saling bekerjasama, membantu dan melayani berdasarkan ikatan mesra antar pribadi untuk saling berserah diri. Kristus sendiri menjadi Mempelai Gereja menyambut pasangan suami istri dengan berkat-Nya, tinggal dalam keluarga dan menyerahkan diri untuk keluarga (dalam keluarga kudus di Nazaret), supaya mereka diteguhkan dan dibantu dalam tugas yang luhur sebagai ayah-ibu. Pasangan suami istri hendaknya saling menguduskan, dengan meresapi serta menghayati iman, harapan dan cinta kasih. Tugas orang tua juga memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka. Anak-anak memiliki kewajiban membantu orang tua, khususnya pada saat-saat kesulitan dan kesepian usia lanjut. Akhirnya, mesti dihidupkan dan dibiasakan berbagi kekayaan rohani (sharing) dengan keluarga-keluarga lain dalam kebesaran jiwa. 

 Ketiga, memiliki hubungan yang intensif (FC, 15). Di dalam kehidupan keluarga inti, sangat penting menghidupi hubungan pribadi (personal) antar-pasangan suami istri, orang tua dan anak, saudara-saudari sekandung. Hubungan yang intensif dan personal itu tidak saja dimotivasi dan dihidupi secara manusiawi, tetapi juga secara Ilahi. Dengan demikian, keluarga diangkat dan disucikan menjadi keluarga Allah, yakni Gereja. Dokumen tersebut menegaskan bahwa keluarga merupakan Gereja Mini (Ecclesiola) atas dasar Sakramen Baptis yang membawa kelahiran kembali, berkat daya kuasa penebusan, wafat dan kebangkitan Krisuts. Dengan demikian, anak-anak yang lahir dari buah kasih pasangan suami istri juga harus dibaptis dan dididik secara Katolik, sehingga hubungan atas dasar ikatan iman tetap terjamin. 

 Keempat, menghidupi nilai-nilai luhur perkawinan (GS, 47). Kesucian martabat perkawinan disuramkan oleh poligami, perceraian, percintaan bebas (selingkuh). Selain itu, nilai-nilai luhur yang menjadikan perkawinan sungguh bermartabat masih dicemari oleh sikap egois, gila kenikmatan dengan ulah-ulah yang tak pantas dalam hubungan pasangan suami istri (intimitas). Kondisi tersebut diperparah oleh kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis rentan dalam zaman yang serba permisif ini. Keluarga bisa kehilangan suasana rukun dan damai, karena pengaruh keadaan lingkungan sosial yang kurang kondusif, atau kondisi ekonomi keluarga secara keseluruhan, atau bahkan pengaruh labilitas psikologis para anggotanya. 

 Untuk itu sangatlah penting mempertahankan kerukunan dan kegembiraan di dalam keluarga, sebab keselamatan tak dapat dilepaskan dengan upaya-upaya semacam itu.

Ditulis oleh: Adrian Pristio, O.Carm (Cafe Rohani Edisi Januari 2014)