Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan.

Jumat, 18 April 2014
Hari Jumat Agung
 
Yes 52:13-53:12; Mzm 31:2.6.12-13.15-17.25; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1 - 19:42
 
Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan.

Secara manusiawi, setiap orang berusaha untuk menghindari derita. Namun, ada kalanya penderitaan itu tidak dapat dihindari. Harus diterima dan ditanggung. Juga ketika penderitaan tersebut disebabkan oleh karena ulah atau kesalahan orang lain. Inilah penderitaan Yesus sepanjang jalan menuju puncak Golgota sampai akhirnya wafat di salib. Ia harus mengalami penderitaan karena ulah kita yang banyak berbuat dosa. “Penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya. ... Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita. ... Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri! Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian” (bdk. Yes 53:4-6).

Memang, untuk menyelamatkan kita, Kristus harus menderita dan mengalami kematian. Analoginya, seperti orang yang menolong dan menyelamatkan orang yang tenggelam. Kalau ada orang yang tenggelam di kolam atau terseret ombak di laut, tim SAR atau siapa pun akan menolong dan menyelamatkan orang tersebut dengan cara terjun ke kolam atau masuk ke laut di mana orang tersebut tenggelam lalu mengangkatnya. Nah, itulah yang dilakukan Allah dengan mengutus Yesus untuk menderita. Karena kita semua amat rentan terhadap penderitaan dan ujung-ujungnya adalah kematian, maka Yesus pun mengalami hal yang sama untuk membebaskan kita dari penderitaan dan kematian. Yesus harus mengalami penderitaan dan masuk ke alam kematian untuk mengangkat orang mati dan menganugerahinya hidup abadi.

Di atas salib, Yesus merentangankan kedua tangan-Nya. Hal ini merupakan ungkapan keterbukaan dan kasih sayang yang mendalam. Yesus merentangkan tangan di kayu salib, itu berarti Ia merentangkan tangan-Nya untuk menyambut kita yang mau datang kepada-Nya kemudian dengan penuh kasih sayang, Ia memeluk kita. Inilah tanda bahwa Ia tetap mengasihi kita yang berdosa ini dan mengampuninya seperti yang digambarkan dalam kisah anak yang hilang. Ketika anak itu datang kembali kepada bapanya, “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk 15:20). Maka, marilah dengan remuk-redam karena dosa, kita datang kepada-Nya.

Doa: Tuhan, berilah kami kesadaran yang mendalam akan betapa besar kasih dan pengorbanan-Mu untuk kami. Amin. -agawpr-