Pojok Katekese: Yang sudah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia


KACABEDAG DAN KACABEDAGER

Tanya:

Romo Hardi Yth.,

Saya, pemuda dua puluh tujuh tahun, punya pacar sebaya. Kami berpacaran lebih dari tiga tahun dan berencana menikah. Namun, hubungan kami tidak disetujui oleh orangtua, terutama orangtua pacar saya, karena kami berbeda agama. Bagaimana kami menjelaskan hal ini kepada orangtua pacar saya yang menentang hubungan kami? Jika hubungan ini diteruskan, pacar saya tidak dianggap sebagai anak lagi oleh orangtuanya. Salahkah kami, terutama kepada orangtua pacar saya, jika tetap akan melanjutkan hubungan ini sampai ke pelaminan?  (Anton - Bogor)

Jawab:

 Anton yang terkasih, saya mengerti kesulitan yang Anda alami saat ini. Sayang sekali Anda tidak menyebutkan agama yang dianut pacar Anda: Islam, Protestan, Hindu, atau Buddha? Anda hanya mengatakan bahwa hubungan kalian tidak disetujui oleh orangtua pacar Anda karena perbedaan agama.
  
 Dalam Hukum Gereja, dibedakan dua jenis perkawinan campur. Yang pertama sering disebut dengan KACABEDAG (perkawinan campur beda agama; Katolik dengan non Kristen). Yang kedua adalah KACABEDAGER (perkawinan campur beda Gereja; Katolik dengan Kristen non Katolik).

 Untuk melaksanakan kawin campur beda agama diperlukan dispensasi dari Ordinaris Wilayah (pimpinan Gereja lokal), sedangkan yang beda Gereja hanya diperlukan izin. Dispensasi dan izin bisa diperoleh dengan mengucapkan janji akan tetap setia, dan akan membaptis serta mendidik anak-anak yang dilahirkan dalam iman Katolik. Pihak bukan Katolik tetap hidup menurut agamanya, jadi tidak harus menjadi Katolik dan mengetahui bahwa pasangannya mengucapkan janji.

 Dilihat dari segi Hukum Gereja, tidak ada masalah jika pacar Anda mau menikah secara Katolik. Namun, yang perlu Anda pertimbangkan adalah akibat-akibat yang mungkin timbul dari perkawinan campur itu sendiri. Anda memasuki perkawinan dengan membawa benih perbedaan. Perbedaan agama adalah perbedaan yang mendasar karena menyangkut keyakinan pribadi. Ini mudah menyulut ketegangan-ketegangan lain. Misalnya, mengenai pendidikan agama anak-anak Anda. Apakah secara nyata Anda bisa mendidik anak-anak dalam iman Katolik? Apakah Anda mempunyai waktu untuk itu? Jika pasangan Anda masih beragama lain, dia masih hidup menurut aturan-aturan agamanya, antara lain mengizinkan perceraian. Apakah Anda siap, seandainya dia minta cerai? Sebelum memutuskan untuk kawin campur Anda harus memikirkan semua ini.

 Tidak salah kalau Anda ingin meneruskan hubungan. Apalagi umur Anda sudah dewasa. Pada orang seusia Anda, untuk melangsungkan perkawinan izin orangtua bukanlah syarat mutlak. Memang perkawinan menjadi lebih ideal jika direstui orangtua. Tetapi, perkawinan dua orang yang sudah dewasa, tanpa restu orangtua pun bisa dilaksanakan. Asal Anda berani menghadapi resiko-resikonya. Misalnya, hubungan dengan orangtua menjadi tidak harmonis, dikucilkan atau tidak diakui sebagai anak lagi. Tetapi, kalau Anda berdua berani menanggung semua resiko dan yakin akan mampu mengatasinya, mengapa tidak jalan terus? (Sumber: buku "Ingin kawin lagi?" -. Y. Hardiwiratno, MSF)
  
"Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya." (Lukas 12:51-53)

Minggu, 16 November 2014 Hari Minggu Biasa XXXIII

Minggu, 16 November 2014
Hari Minggu Biasa XXXIII
    

Tidak ada seorangpun yang mempunyai kepastian yang sempurna bahwa dia akan termasuk dalam bilangan orang-orang yang terpilih atau bahwa dia akan bertekun terus dalam kebajikan sampai ia wafat (Konsili Trente, 6, Kan. 15,16)
   
Antifon Pembuka (Bdk. Yer 39:11.12.14)
  
Aku memikirkan rancangan damai, bukan bencana; kamu akan berseru kepada-Ku dan Aku akan mendengarkan kamu; Aku akan membawa kamu kembali dari semua tempat pembuanganmu.
  
The Lord said: I think thoughts of peace and not of affliction. You will call upon me, and I will answer you, and I will lead back your captives from every place.
   
Dicit Dominus: Ego cogito cogitationes pacis, et non afflictionis: invocabitis me, et ego exaudiam vos: et reducam captivitatem vestram de cunctis locis.
  
Tobat 3
  
Tuhan Yesus Kristus, Engkau mempercayakan bakat-bakat kepada kami untuk diperkembangkan sambil menantikan kedatangan-Mu kembali. Tuhan, kasihanilah kami
  
Engkau akan minta pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dipercayakan kepada kami. Kristus, kasihanilah kami
  
Engkau akan mengganjar yang bekerja dengan rajin dan tekun, namun menghukum yang lalai dan malas. Tuhan, kasihanilah kami.
      
Doa Pagi
    
Ya Tuhan, Allah kami, bantulah agar kami selalu bersukacita dalam mengabdi Engkau. Sebab kebahagiaan kami hanya akan sempurna dan kekal jika kami selalu mengabdi kepada-Mu, sumber segala yang baik. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
  
Bacaan dari Kitab Amsal (31:10-13.19-20.30-31)
    

"Ia senang bekerja dengan tangannya"
    
Isteri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Isteri yang cakap berbuat baik kepada suaminya, dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari jemarinya memegang alat pemintal. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. Kemolekan adalah bohong, dan kecantikan adalah sia-sia; tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
      
Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 841
Ref. Berbahagialah yang mendiami rumah Tuhan
Ayat. (Mzm 128:1-2.3.4-5; Ul: 1)
1. Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu.
2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur yang ada di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan, orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu!
      
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika (1Tes 5:1-6)
     
"Jangan sampai hari Tuhan tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri!"
    
Saudara-saudara, tentang zaman dan masa kedatangan Tuhan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam. Apabila mereka mengatakan bahwa semuanya damai dan aman, maka tiba-tiba kebinasaan menimpa mereka seperti seorang perempuan hamil ditimpa oleh sakit bersalin. Pasti mereka takkan terluput! Tetapi, Saudara-saudara, kamu tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu janganlah kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadarlah!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
     
Bait Pengantar Injil, do = es, 4/4, Kanon, PS 955
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 15:4.5b)
Tinggallah dalam Aku, maka Aku tinggal dalam kamu. Barangsiapa tinggal dalam Aku, berbuah banyak
   
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (25:14-30 [Singkat: 25:14-15.19-21])
     
"Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."
     
[Pada suatu hari Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberinya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan seorang yang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya. Lalu ia berangkat.] Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalanan uang itu dan memperoleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian, dan mendapat laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya. [Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu, lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan membawa laba lima talenta. Ia berkata, ‘Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah memperoleh laba lima talenta! Maka kata tuannya kepadanya, ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.] lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya, ‘Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah mendapat laba dua talenta!’ Maka kata tuan itu kepadanya, ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu’. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata, ‘Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!’ Maka jawab tuannya itu, ‘Hai engkau, hamba yang jahat dan malas! Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur, dan memungut di tempat aku tidak menanam. Seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, akan diberi sampai ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun yang ada padanya akan diambil. Dan buanglah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sana akan ada ratap dan kertak gigi.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.
 
Renungan
  
Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat mengeluhkan keadaan dirinya. Dia merasa dikorbankan oleh pimpinan tempat dia bekerja. Dia harus menyelesaikan sebuah persoalan yang telah diperbuat orang yang digantikannya. Selain menguras banyak pikiran dan tenaga, ia merasa sangat terbebani. Bahkan, karirnya terhambat karena menyelesaikan perosalan yang bukan persoalannya sendiri. Dalam kegalauannya dia berujar, “Orang lain yang makan mangga, saya yang kena getahnya.”

Hidup ini ibarat sebuah mesin produksi. Setiap orang adalah komponen kecil yang memberi sumbangan berarti agar mesin itu berproduksi. Kesalahan pada satu komponen di mesin produksi akan berakibat buruk pada komponen yang lain dan selanjutnya mesin tak dapat berfungsi. Produksi macet dan banyak kerugian akan dialaminya.

Hari ini kita mendengar sebuah perumpamaan tentang talenta. Kata-kata tuan yang ditujukan kepada hamba-hamba yang berhasil mengembangkan talenta yang diberikannya berbunyi, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia! Karena engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, maka aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar” (Mat 25:21).
    
Memang benar bahwa lewat perkara kecil orang dapat mengukur kemampuan dan tanggung jawabnya atas perkara besar yang mungkin akan dipercayakan orang kepadanya. Selain itu, tanpa kesetiaan pada perkara kecil orang tidak saja tak akan mampu melakukan pekerjaan yang besar namun juga ia akan menimbulkan kerugian dan bencana.

Bayangkan jika seseorang lalai dalam menjaga kebersihan; membuang sampah dan jendela mobil, atau di sungai dan sebagainya, bukankah banyak orang akan kena getahnya, misalnya mengakibatkan banjir? Bayangkan juga jika seseorang lupa mematikan air kran di kamar mandi sebuah rumah kost-kostan, bukankah orang lain juga yang dirugikan? Seandainya lebih dari seratus orang membuang sampah dan tidak mematikan air di kran kamar mandinya, apa yang akan terjadi? Bukankah hanya hal yang lebih buruk lagi yang akan terjadi?

Mari kita berusaha untuk setia dalam perkara kecil agar semakin banyak orang bahagia dan perkara besar dipercayakan kepada kita. Tuhan memberkati! (Cafe Rohani)

Tekun berdoa

Sabtu, 15 November 2014
Hari Biasa Pekan XXXII

   
3Yoh. 5-8; Mzm. 112:1-2,3-4,5-6; Luk. 18:1-8.
   
Pada waktu saya masih kecil (SD) saya pengin sekali punya sepeda seperti beberapa teman yang memilikinya. Beberapa kali, saya meminta kepada bapak dan simbok tetapi tidak pernah dikabulkan. Saya tahu karena mereka tidak punya uang. Sampai akhirnya, ketika saya SMP, saya bisa membeli sepeda bekas seharga Rp. 35.000, dari hasil tabungan saya. Ternyata tidak hanya dari situ saja saya bisa beli sepeda. Di balik diamnya bapak dan simbok, mereka selalu berdoa agar suatu saat saya bisa memiliki sepeda. Pengalaman kecil ini semakin meyakinkan saya akan ajuran, bahkan kaharusan dari Yesus ini, yakni agar kita berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kita tahu bahwa salah satu kecenderungan manusiawi kita adalah mudah merasa bosan, termasuk dalam berdoa. Untuk itu, marilah kita juga mohon agar diberi rahmat ketekunan dan kemampuan untuk mengatasi rasa bosan dan jenuh dalam berdoa. Karena Tuhan saja tidak pernah bosan kok mendengarkan doa-doa kita.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu untuk semakin tekun dan tidak pernah merasa bosan dalam berdoa. Amin. -agawpr-

Sabtu, 15 November 2014 Hari Biasa Pekan XXXII

Sabtu, 15 November 2014
Hari Biasa Pekan XXXII
  
“Hendaklah kita bertekun menjalankan kesucian agar kita akhirnya mencapai keselamatan” (Homili Pengarang gerejawi abad ke-2)

  
Antifon Pembuka (Mzm 112:5-6)

Orang baik menaruh belas kasih dan memberi pinjaman. Ia melakukan segala urusan dengan semestinya. Orang jujur tidak pernah goyah; ia akan dikenang selama-lamanya.

Tobat cara 2-2 (Lihat TPE)

Doa Pagi

Ya Allah, Engkau telah memperlengkapi kami dengan rahmat untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan baik. Semoga kami semakin tekun untuk mengembangkan rahmat-Mu itu sehingga kami dapat hidup sebagai orang-orang yang benar di hadapan-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
  
Dukungan kepada para saudara seiman, walaupun tidak dikenal, adalah sesuatu perbuatan yang patut dihargai. Perbuatan demikian mengejawantahkan kebersamaan dan keikutsertaan dalam karya Allah melalui mereka.
   
Bacaan dari Surat Ketiga Rasul Yohanes ( 5 - 8 )
      
 
"Kita wajib menerima para pelayan jemaat agar kita boleh mengambil bagian dalam karya mereka untuk kebenaran."
       
Saudaraku terkasih, engkau bertindak sebagai orang beriman, ketika engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka orang asing. Mereka telah memberi kesaksian di hadapan jemaat tentang kasihmu. Baik benar perbuatanmu, ketika menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan suatu cara yang berkenan di hati Allah. Sebab demi nama Allah, mereka telah berangkat tanpa mau menerima sesuatu pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kita wajib menerima orang-orang yang demikian supaya kita boleh mengambil bagian dalam karya mereka untuk kebenaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan.
Ayat. (Mzm 112:1-2.3-4.5-6)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati.
2. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap dikenang selama-lamanya. Bagi orang benar ia bercahaya laksana lampu di dalam gelap, ia pengasih dan penyayang serta berlaku adil.
3. Orang baik menaruh belaskasihan dan memberi pinjaman, ia melakukan segala urusan dengan semestinya. Orang jujur tidak pernah goyah; ia akan dikenang selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Allah memanggil kita agar kita memperoleh kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus.
  
Kasih Allah melebihi perhatian seorang hakim yang tidak takut akan Allah. Si hakim memperhatikan si janda karena permintaan yang terus menerus. Allah memberi karena Dia mencintai umat-Nya. Namun tetap menjadi pertanyaan, apakah masih ada yang percaya bahwa Allah itu penuh cinta?
  
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (18:1-8)
     
"Bukankah Allah akan membenarkan pada pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya?"
      
Pada suatu ketika Yesus menceritakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Ia berkata, “Di suatu kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun. Di kota itu ada pula seorang janda yang yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata, ‘Belalah hakku terhadap lawanku’. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi ia kemudian berkata dalam hatinya, ‘Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun, namun karena janda ini menyusahkan daku, baiklah aku membenarkan dia, supaya ia jangan terus menerus datang dan akhirnya menyerang aku.” Lalu Yesus berkata, “Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu! Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya, yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu, ‘Ia akan segera menolong mereka’. Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan iman di bumi ini?”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
  
Renungan
  
Doa adalah ungkapan iman. Dalam kaitan dengan doa, Tuhan hanya meminta ketekunan dari pihak kita. Untuk itu kita menyerahkan segalanya kepada-Nya. Kalau kita bertekun dalam doa, Tuhan tidak pernah mengecewakan kita. Dalam doa, bukannya kita mengubah Tuhan, tetapi sebaliknya Tuhan mengubah kita yang berdoa, untuk memiliki mata baru dalam melihat rencana-Nya yang terindah.

Doa Malam

Tuhan Yesus, segala karya dan usaha manusia tak pernah Engkau pandang rendah. Maka terimalah persembahan dan pujian kami hari ini. Lindungilah kami di waktu istirahat malam ini. Semoga besok pagi kami dapat bangun dengan gembira hati untuk memuji nama-Mu, kini dan sepanjang masa. Amin.

RUAH