Hari Minggu Biasa XXIII

Minggu, 6 September 2015
Hari Minggu Biasa XXIII
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
  
Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

"Sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik." (Mrk 7, 34-35)

Pada bagian akhir dari perayaan liturgi penerimaan sakramen baptis bayi dan pada salah satu tahap dari masa katekumenat untuk baptisan dewasa, terdapat ritus "Effata" (di beberapa tempat di Indonesia, ritus ini ditiadakan dan kendati dalam buku yang diterbitkan Nusa Indah dimuat tetapi dalam buku Puji Syukur tidak ada). Pada bagian ini, imam atau diakon yang menjadi pelayan baptis menjamah mulut dan telinga bayi/anak dengan menggunakan ibu jarinya sambil berdoa "Ya Tuhan, berilah agar anak ini bertumbuh dewasa. Dan sebagaimana dengan mengucapkan "Effata", Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga anak ini agar ia dapat mendengarkan sabda-Mu dan mengakui imannya demi keselamatan manusia serta kemuliaan-Mu." Jadi, maksud dari ritus ini adalah memohon kepada Tuhan agar anak yang dibaptis itu kelak bertumbuh dewasa, baik secara fisik tidak bisu dan tidak tuli, maupun terutama secara iman mampu mendengarkan sabda Tuhan dan mengakui serta mewartakan imannya demi keselamatannya dan kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, entah dulu pada saat dibaptis, pelayan baptis kita melaksanakan ritus "effata" atau tidak (seandainya tidak, baptis kita tetap sah), marilah kita mohon agar Tuhan sendiri membuka telinga dan mulut kita: supaya dengan telinga kita semakin tertarik dan peka untuk mendengarkan sabda-Nya (mumpung sedang BKS, baca/dengarkan dan renungkan KS !!!) dan dengan mulut kita mengakui serta mewartakan iman kita (ayo sharing dan berbagi pengalaman dalam pertamuan BKS !!!). Namun, sebagaimana ditegaskan St. Yakobus, kita tidak cukup hanya mengakui dan mewartakan iman kita tetapi juga harus mengamalkannya, misalnya dengan mengasihi, menghormati, menolong dan mendengarkan sesama. Bukankah, orang yang mampu mendengarkan sabda Tuhan dengan baik juga mampu mendengarkan sesama dengan baik pula? Begitu juga sebaliknya.

Doa: Ya Tuhan, sebagaimana dengan mengucapkan "Effata", Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga kami agar kami dapat mendengarkan sabda-Mu dan mengakui, mewartakan serta memberi kesaksian iman demi kemuliaan-Mu. Amin. -agawpr-