| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 28 Juni 2015 Hari Minggu Biasa XIII

Minggu, 28 Juni 2015
Hari Minggu Biasa XIII

"Engkau tidak dapat berdoa di rumah seperti di dalam gereja, di mana sejumlah besar orang hadir dan di mana orang berseru kepada Allah seperti dari satu hati" ---- St Yohanes Krisostomus


Antifon Pembuka (Mzm 47:2)

Segala bangsa, bertepuk-tanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai.

All peoples, clap you hands. Cry to God with shouts of joy!

Omnes gentes plaudite manibus: iubilate Deo in voce exsultationis.
Mzm. Quoniam Dominus excelsus, terribilis: Rex magnus super omnem terram.

Doa Pagi


Ya Allah, Engkau telah mengutus Putra-Mu untuk memberi hidup baru bagi kami. Kami mohon, bangkitkanlah iman kami agar memiliki keberanian untuk berbagi hidup dan talenta kami kepada sanak saudara kami yang berkekurangan. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan (1:13-15; 2:23-24)
  
 
"Karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia."
   
Allah tidak menciptakan maut, dan Ia pun tak bergembira kalau makhluk yang hidup musnah binasa. Sebaliknya Ia menciptakan segala sesuatu supaya ada; dan supaya makhluk-makhluk jagat menemukan keselamatan. Racun yang membinasakan tidak ditemukan di antara mereka, dan dunia orang mati tidak merajai bumi. Maka kesucian mesti baka. Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan menjadikannya gambar hakikat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 838
Ref. Tuhan telah membebaskan dan menyelamatkan daku.
Ayat. (Mzm 30:2+4.5-6.11-12a+13b; Ul: 2a)
1. Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak membarkan musuh-musuhku, bersukacita atas diriku. Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan daku, di antara mereka yang turun ke liang kubur.
2. Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi oleh-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab hanya sesaat Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.
3. Dengarlah, Tuhan, dan kasihanilah aku, Tuhan, jadilah penolongku! Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (8:7.9.13-15)
  
"Hendaklah kelebihanmu mencukupkan kekurangan saudara-saudara yang lain."
   
Saudara-saudara, hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih, sebagaimana kamu kaya dalam segala sesuatu; dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, yakni: Sekalipun kaya, Ia telah menjadi miskin karena kamu, supaya karena kemiskinan-Nya, kamu menjadi kaya. Sebab kamu dibebani bukan supaya orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihanmu mencukupkan kekurangan orang-orang kudus, agar kelebihan mereka kelak mencukupkan kekuranganmu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut, dan menerangi hidup dengan Injil.
 
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (5:21-43)
  
"Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!"
  
Sekali peristiwa, setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau. Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kaki-Nya. Dengan sangat ia memohon kepada-Nya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya, dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sampai habislah semua yang ada padanya; namun sama sekali tidak ada faedahnya, malah sebaliknya: keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus. Maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya, “Asalkan kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Sungguh, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa badannya sudah sembuh dari penyakit itu. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya. Maka Ia berpaling di tengah orang banyak itu dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat sendiri bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu! Bagaimana mungkin Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Yesus memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Maka perempuan tadi menjadi takut dan gemetar sejak ia mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya. Maka ia tampil dan tersungkur di depan Yesus. Dengan tulus ia memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus. Maka kata Yesus kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus, dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. Lalu Yesus memegang tangan anak itu, seraya berkata, “Talita kum,” yang berarti: “Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Yesus berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


ALLAH MENGHENDAKI KITA HIDUP

“Upah dosa adalah maut,” kata Rasul Paulus, “tetapi, karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom 6:23). Apa yang disampaikan Rasul Paulus ini mengajarkan sebuah pemahaman iman. Ia mengajak kita untuk semakin meyakini apa yang dikehendaki oleh Kristus, Sang Sumber Kehidupan. Ia ingin supaya kita yang percaya kepada-Nya memiliki hidup dari Dia, dan bukan mati.

Dalam bacaan I, Kitab Kebijaksanaan berbicara tentang hidup. Kita mendengar bahwa maut tidak dibuat oleh Allah, dan Ia pun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Pertanyaannya, mengapa tidak sedikit dari kita bukannya memilih bahagia dalam keterikatan kasih dengan Allah. Sebaliknya, justru kita telah memilih perbuatan dosa yang jelas akan berakibat pada kematian kekal. Apakah perbuatan yang kita pilih dan hasilkan itu karena kelemahan kita, ataukah adanya godaan kuat dari roh jahat untuk menghancurkan kita, manusia yang dikasihi-Nya?

Bila kita memeriksa diri, tentu kita masing-masing akan menemukan apa saja yang menjadi kelemahan, di samping beberapa kekuatan. Kelemahan itu misalnya rasa malas, mudah iri hati, suka berbohong, atau kebiasaan-kebiasaan buruk, atau dapat juga berupa suatu sakit penyakit.

Dalam Injil, Yesus tampil sebagai pribadi pencinta dan pembawa kehidupan. Anak Yairus yang telah mati dibangkitkan dan perempuan yang sakit pendarahan sudah dua belas tahun itu pun disembuhkan. Peristiwa ini semakin meneguhkan kita bahwa Allah kita, Allah orang hidup dan bukan Allah orang mati. Sebagai seorang beriman, seharusnya kita semakin berani melawan segala kelemahan dan dosa yang diakibatkannya. Juga, kita seharusnya berani melawan segala godaan si jahat yang akan menjerumuskan kita kepada maut.

Sebuah keluarga akan mengalami damai sejahtera, terlebih karena iman mereka akan Kristus dinyatakan dalam dinamika kehidupannya. Memang, kebutuhan ekonomi kerap menjadi pusat perhatian, dan hal ini dapat berakibat munculnya berbagai tindakan yang mengarah kepada dosa. Pernah saya mendengar, seorang bapak akhirnya melarikan uang kas paroki, uang koperasi dan berbagai perbuatan tidak jujur lainnya demi ekonomi keluarganya. Sungguh sangat disayangkan. Sebab bapak ini seorang aktivis Gereja, bahkan ada yang asisten imam. Ini sungguh memalukan dan membuat luka seluruh Gereja.

Namun demikian Allah tetap menghendaki kita hidup dan bukan mati. Maka baiklah kita melakukan pertobatan dan perbaikan diri. Langkah yang perlu kita mulai adalah memperkuat iman kita. [Kristianto/RUAH]

Antifon Komuni (Mzm 103:1)

Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai seluruh diriku!

Bless the Lord, O my soul, and all within me, his holy name.

Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya.

Sabtu, 27 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

Kej. 18:1-15; Mzm. MT Luk. 1:46-47,48-49,50,53; Mat. 8:5-17.

"Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya."
  
Injil hari ini menampilkan beberapa kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Namun, saya sangat tertarik dengan kisah penyembuhan yang pertama, yakni penyembuhan hamba dari serorang perwira. Pertama, saya tertarik karena penyembuhan yang terjadi tanpa didahului dengan permohonan agar Yesus berkenan menyembuhkan. Si perwira, ketika datang kepada Yesus hanya mengatakan bahwa hambanya sakit dan sangat menderita. Begitu mendengar itu, Yesus langsung mengatakan ingin datang dan menyembuhkannya. Hal ini semakin meneguhkan iman kita bahwa Tuhan tahu semua apa yang kita butuhkan dan pada saat Ia berkenan, Ia akan memberikan kepada kita, meski kita tidak memintanya (bdk. Renungan hari Kamis, 18 Juni 2015). Yang kedua, Yesus berkenan untuk datang ke rumah si perwira kendati tidak jadi karena si perwira itu merasa tidak pantas menerima-Nya. Namun, meskipun ia tidak datang ke rumah-Nya, rahmat dan kuasa penyembuhan-Nya tetap terjadi dan dirasakan oleh hambanya yang sakit. Ia sembuh pada saat itu juga. Secara konkret, kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita, sebelum komuni kita mengucapkan kata-kata ini: "Ya Tuhan, saya tidak pantas, Engkau datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh". Nah, kalau kita memang sungguh merasa tidak pantas, misalnya karena berada dalam dosa berat dan belum menerima saktamen pengampunan dosa, ya tidak usah menerima komuni. Kitab Hukum Kanonik jelas menegaskan, "Yang sadar berdosa berat, tanpa terlebih dahulu menerima sakramen pengakuan, jangan merayakan Misa atau menerima Tubuh Tuhan, kecuali ada alasan berat serta tiada kesempatan mengaku; dalam hal demikian hendaknya ia ingat bahwa ia wajib membuat tobat sempurna, yang mengandung niat untuk mengaku sesegera mungkin" (Kan 916). Meskipun tidak menerima komuni, kita tetap menerima rahmat Tuhan. Demikian pula, orang-orang yang dilarang menerima komuni, misalnya karena telah bercerai kemudian menikah lagi, saat mengikuti misa, tidak usah menerima komuni. Rahmat Tuhan tetap dianugerahkan dan berkarya.

Doa: Tuhan, berilah kami kerendahan hati untuk menyadari ketidakpantasan kami setiap kali kami menyambut-Mu sehingga kami semakin sering menerima sakramen pengampunan dosa. Amin. -agawpr-

Sabtu, 27 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XII

Sabtu, 27 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

“Gereja disebut katolik atau universal, karena ia tersebar di seluruh dunia dan dari ujung yang satu ke ujung yang lain” (St. Sirilus dari Alexandria)

Antifon Pembuka (Luk 1:46)

Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.

Doa Pagi


Allah Bapa Mahakuasa, tiada sesuatu yang mustahil bagi-Mu: Di mana ada tempat gersang, Engkau memberikan hidup; di mana orang hampir kehilangan hidup, Engkau memberikan harapan. Semoga kami Kaubangkitkan serta Kaujadikan orang yang riang gembira, karena selalu Kaulindungi dan Kaujaga. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
 

Dalam situasi yang sangat istimewa, ketika bagi manusia Sara tidak mungkin lagi memiliki anak secara biasa, Allah mau menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu itu bukan hanya soal terlaksananya janji, tetapi juga karya yang mengatasi batasan-batasan manusia.
  
 
Bacaan dari Kitab Kejadian (18:1-15)
    
"Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Aku akan kembali kepadamu, dan Sara akan mempunyai anak laki-laki."
  
Sekali peristiwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre. Waktu itu Abraham sedang duduk di pintu kemahnya di kala hari panas terik. Ketika ia mengangkat mata, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Melihat mereka, ia bergegas dari pintu kemahnya menyongsong mereka. Ia bersujud dan berkata, “Tuanku, jika aku mendapat kasih Tuan, singgahlah di kemah hambamu ini. Biarlah diambil sedikit air, basuhlah kaki Tuan, dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah hamba mengambil sepotong roti, agar Tuan-Tuan segar kembali. Kemudian bolehlah Tuan-Tuan melanjutkan perjalanan. Sebab Tuan-Tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka, “Buatlah seperti yang engkau katakan.” Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata, “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!” Lalu Abraham berlari ke lembu sapinya, mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya, dan memberikan kepada seorang bujangnya yang segera mengolahnya. Kemudian Abraham mengambil dadih, susu dan anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya kepada mereka. Abraham sendiri berdiri dekat mereka di bawah pohon itu sementara mereka makan. Sesudah makan, bertanyalah mereka kepada Abraham, “Di manakah Sara, isterimu?” Jawab Abraham, “Di sana, di dalam kemah.” Maka berkatalah Ia, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau. Pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Saat itu Sara mendengarkan pada pintu kemah di belakangnya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid. Maka tertawalah Sara dalam hati, katanya, “Akan berahikah aku, setelah aku menjadi layu, sedangkan tuanku pun sudah tua?” Lalu bersabdalah Tuhan kepada Abraham, “Mengapakah Sara tertawa dan berkata, ‘Sungguhkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua?’ Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan dikau. Pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” Tetapi Sara menyangkal, katanya, “Aku tidak tertawa”. Sebab ia takut. Tetapi Tuhan bersabda, “Tidak! Memang engkau tertawa!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan ingat akan kasih sayang-Nya
Ayat. (Mzm 1:46-47.48-49.50.53.54-55)
1. Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku.
2. Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini. Mulai sekarang aku disebut Yang Bahagia oleh sekalian bangsa. Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa; kuduslah nama-Nya.
3. Kasih sayang-Nya turun-temurun kepada orang yang takwa. Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan; orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong.
4. Menurut janji-Nya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hamba-Nya. Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 8:17)
Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Latar belakang kekuasaan militer yang dimilikinya, membuat sang perwira punya pandangan tersendiri tentang Yesus. Pandangan itu justru menjadi landasan kuat bagi kepercayaannya kepada Yesus. Pada akhirnya, kepercayaan itu menggerakkan Yesus untuk menurunkan berkat kesembuhan seturut kata-kata iman sang perwira.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:5-17)
 
"Banyak orang akan datang dari timur dan barat, dan duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub."
 
Pada suatu hari Yesus masuk ke Kota Kapernaum. Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan mohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi perwira itu berkata kepada-Nya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, ‘Pergi!’ maka ia pergi; dan kepada seorang lagi, ‘Datang!’, maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu, Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu sendiri akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan wanita itu, lalu lenyaplah demamnya. Wanita itu lalu bangun dan melayani Yesus. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan, dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu, dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah sabda yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Yesus telah memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. Itulah iman perwira yang hambanya menderita sakit lumpuh. Dia yakin bahwa Yesus sanggup menyembuhkan hanya dengan kekuatan kata. Percayakah kita akan kekuatan sabda Yesus? Apakah kita mengalaminya setiap kali ketika kita mau menyambut Tubuh Yesus?

Antifon Komuni (Kej 18:14a)

Adakah sesuatu yang mustahil bagi Allah?

Doa Malam

Tuhan Allah yang hidup, kami bersyukur kepada-Mu atas percikan rahmat-Mu sepanjang hari ini. Sebentar lagi kami hendak beristirahat. Maka, bersihkanlah hati kami dari segala salah dan dosa serta perkenankan kami menikmati damai-Mu sepanjang malam ini. Amin.


RUAH

"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.""Aku mau, jadilah engkau tahir."

Jumat, 26 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII


Kej. 17:1,9-10,15-22; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mat. 8:1-4.

"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
"Aku mau, jadilah engkau tahir."

Permohonan orang yang sakit kusta kepada Yesus ini merupakan salah satu contoh doa permohonan ang baik. Ia memohon dengan didasari oleh iman dan kerendahan hati. Imannya itu diungkapkan dengan kata-katanya: "Tuan dapat mentahirkan aku". Artinya, ia percaya betul bahwa Tuhan pasti dapat mentahirkannya. Namun, ia juga memohon dengan penuh kerendahan hati ketika berkata: "Tuan, jika Tuan mau" (= jika Tuhan berkenan). Artinya, meskipun ia percaya bahwa Tuhan dapat mentahirkannya, ia tidak memaksa Tuhan. Iman dan kerendahan hatinya inilah yang melahirkan jawaban dari Yesus: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Maka, iapun langsung sembuh. Kita dapat membandingkan dengan permohonan yang kurang didasari oleh iman sehingga membuat Tuhan tidak berkenan, misalnya permohonan seorang bapak yang anaknya kerasukan roh jahat yang membisukan (Kisahnya dapat dibaca dalam Injil Markus 9,14-29).

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami dapat berdoa dengan penuh iman dan kerendahan hati. Amin. -agawpr-

Jumat, 26 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XII

Jumat, 26 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

Bila Ekaristi adalah pusat dan puncak hidup Gereja, maka haruslah juga menjadi pusat dan puncak dari pelayanan imamat. Dengan demikian, penuh dengan rasa syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, saya ulangi, bahwa, Ekaristi "adalah prinsip dan inti alasan pengadaan sakramen imamat, yang memang timbul pada saat pendasaran Ekaristi" [Surat Apostolik Perjamuan Tuhan (Dominicae Cenae, 24 Februari 1980), 2: AAS 72 (1980), 115] (Paus St. Yohanes Paulus II, Ensiklik Ecclesia de Eucharistia, No 31a)

Antifon Pembuka (Mzm 128:1)
  
Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang hidup menempuh jalan yang ditunjukkan-Nya.

Doa Pagi


Ya Allah, kami bersyukur karena melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau telah mengangkat martabat orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan menderita. Semoga, teladan hidup-Nya menggerakkan kami untuk melakukan hal yang sama sehingga karya penyelamatan-Mu sungguh menjadi nyata dalam diri kami. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (17:1.9-10.15-22)
 
 
"Setiap laki-laki di antaramu harus disunat sebagai tanda perjanjian. Sara akan melahirkan bagimu seorang putra."
 
Ketika Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakkan diri kepadanya dan bersabda, "Akulah Allah yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela! Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kaupegang, perjanjian antara aku dan engkau serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antaramu harus disunat." Selanjutnya Allah bersabda kepada Abraham, "Tentang isterimu Sarai, janganlah kausebut lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, sehingga ia akan menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja pelbagai bangsa akan lahir daripadanya." Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya, "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak? Dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah, "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah bersabda, "Tidak! Isterimu Saralah, yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu. Ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." Sesudah selesai bersabda kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Orang yang takwa hidupnya akan diberkati Tuhan.
Ayat. (Mzm 128:1-2.3.4-5)
1. Berbahagialah orang yang takwa pada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
2. Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejamu!
3. Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Mat 8:17)
Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:1-4)
    
"Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku."

Setelah Yesus turun dari bukit, banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah kepada-Nya seorang yang sakit kusta. Ia sujud menyembah Yesus dan berkata, "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku." Yesus lalu mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata, "Aku mau, jadilah engkau tahir!" Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya, "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Kisah penyembuhan orang kusta—orang yang paling dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat—dalam Injil hari ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, orang kusta datang kepada Yesus dengan keyakinan teguh bahwa Yesus bisa menyembuhkan penyakitnya. Kedua, dia datang dengan penuh kerendahan hati. ”Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku” (Mat. 8:2). Ketiga, orang itu datang kepada Yesus dengan penuh penghormatan. Dia bersujud di hadapan Yesus seraya memohon untuk disembuhkan. Keempat, atas dasar sikap-sikapnya itu, Yesus jatuh kasihan kepadanya. Sekalipun hukum Taurat melarang seorang rabi untuk kontak dengan seorang kusta, tetapi Yesus mengulurkan tangannya ke atas orang itu dan berkata: ”Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat. 8:3a).

Sikap doa orang kusta itu barang kali hendaknya menjadi contoh ketika kita menyampaikan permohonan kepada Tuhan. Doa kita hendaknya didasarkan pada iman yang teguh akan kebaikan Allah dan disampaikan dalam semangat kerendahan hati dan dengan sikap penuh hormat kepada Tuhan. Isi doa kita pun hendaknya tidak memaksa Allah. Seandainya Tuhan berkenan, Tuhan bisa mengabulkan keinginanku. Di dalam doa, kita boleh menyatakan keinginan kita kepada Tuhan, tetapi soal pengabulannya berada di dalam tangan Allah.

Tuhan, terima kasih atas rahmat penyembuhan yang senantiasa Engkau anugerahkan kepadaku. Amin. (Ziarah Batin 2015, Renungan dan Catatan Harian)

Antifon Komuni (Mat 8:17)

Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu"

Kamis, 25 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

   


Kej. 16:1-12,15-16; Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5; Mat. 7:21-29.

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu"

Kita semua tahu bahwa rumah yang dibangun di atas batu, pasti lebih kuat dibanding dengan rumah yang dibangun di atas pasir. Oleh karena itu, kalau membangun rumah, kita membuat pondasi dari batu. Memang menggunakan pasir juga, tetapi bukan pasir yang masih butiran begitu saja melainkan pasir yang sudah dicampur dan diaduk dengan semen dan gamping sehingga dapat menjadi keras dan menyatu dengan batu. Demikian pula, iman kita akan kuat, tidak mudah goyah dan roboh kalau dibangun di atas dasar yang kuat, yakni sabda Tuhan. Namun, Sabda Tuhan itu akan sungguh-sungguh menjadi pondasi yang kuat bagi iman kita, kalau tidak hanya kita dengarkan, baca dan renungkan, tetapu juga kita laksanan atau kita wujudkan dalam perbuatan nyata. Bagi kita yang ingin menjadi bijaksana, kiranya tidak perlu mencari sumber kebijaksanaan di tempat lain. Sabda Tuhan dalam Kitab Suci sudah lebih dari cukup.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menjadi pendengar dan pelaksana sabda-Mu yang baik. Amin. -agawpr-

Kamis, 25 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XII

Kamis, 25 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

“Allah itu kehidupan, maka manusia yang tidak melihat Dia, tidak melihat kehidupan” (St. Gregorius dari Nissa)
 

Antifon Pembuka (Mzm 106:1-2.3-4a.4b-5)

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik. Kekal abadi kasih setia-Nya.

Doa Pagi


Ya Allah sumber kekuatan iman kami, barangsiapa percaya kepada-Mu akan mendirikan bangunan rumah rohaninya di atas padas yang kokoh kuat. Kami mohon, semoga Sabda-Mu menjadi dasar iman kami sehingga kami tetap teguh ketika harus menghadapi aneka macam tantangan hidup. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Engkau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Ketidaksabaran menantikan perwujudan janji-janji Tuhan telah memunculkan masalah baru dalam keluarga Abram. Sara mempunyai pertimbangan dan mengambil keputusan sendiri. Akibatnya, masalah muncul dan dia kembali mengeluhkan akibat dari keputusannya.
 

Bacaan dari Kitab Kejadian (16:1-12.15-16)
      
 
"Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamainya Ismael."

Sarai, isteri Abram, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram, “Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu hampirilah hambaku itu; mungkin dari dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Ketika itu Abram telah sepuluh tahun tinggal di Kanaan. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya. Maka berkatalah Sarai kepada Abram, “Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggungjawabmu. Akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu; tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah aku; Tuhan kiranya menjadi hakim antara aku dan engkau.” Kata Abram kepada Sarai, “Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya sesuka hatimu.” Lalu Sarai isteri Abram menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. Lalu Malaikat Tuhan menjumpai Hagar di dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Kata malaikat itu, “Hagar, hamba Sarai, engkau datang dari mana dan mau pergi kemana?” Jawab Hagar, “Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku.” Maka Malaikat Tuhan itu berkata kepadanya, “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah dirimu ditindas di bawah kekuasaannya.” Lagi kata Malaikat Tuhan itu, “Aku akan menjadikan keturunanmu sangat banyak, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.” Kemudian Malaikat Tuhan itu berkata lagi, “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamainya Ismael, sebab Tuhan telah mendengar penindasan yang kaualami. Anakmu itu akan menjadi seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar. Ia akan melawan tiap-tiap orang, dan tiap-tiap orang akan melawan dia; Di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.” Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram, dan Abram menamainya Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 106:1-2.3-4a.4b-5)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan Tuhan, dan memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?
2. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di setiap saat! Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat.
3. Perhatikanlah aku, demi keselamatan yang datang dari pada-Mu, supaya aku melihat kebahagiaan orang-orang pilihan-Mu, supaya aku bersukacita dalam sukacita umat-Mu, dan supaya aku bermegah bersama milik pusaka-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 14:23)
Barangsiapa mengasihi Aku, akan menaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Kunci keselamatan yang diwartakan Yesus adalah mendengarkan sabda dan melaksanakannya. Walaupun banyak orang merasa sudah melaksanakan, namun belum tentu motivasi pelaksanaannya benar-benar didasarkan pada kepentingan Allah. Bisa jadi, masih berpusat pada kepentingan diri sendiri.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:21-29)  
   
"Rumah yang didirikan di atas wadas dan rumah yang didirikan di atas pasir."

Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?’ Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata, ‘Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah dari pada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!’” Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh, sebab didirikan di atas wadas. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga robohlah rumah itu, dan hebatlah kerusakannya.” Setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus

Renungan

Untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga tidak cukup hanya berseru-seru. Orang harus berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak Bapa. Inilah tanda pengenalnya. Mari kita membangun diri kita sesuai dengan kehendak Allah, seperti orang bijak yang membangun rumah di atas dasar yang kokoh, sehingga angin ribut dan gelombang zaman tidak akan menghancurkannya.

Antifon Komuni (Mat 7:29)

Ia mengajar sebagai orang yang berwibawa, bukan seperti ahli-ahli Taurat.

Doa Malam

Tuhan Yesus, puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat-Mu atas karunia hari yang telah berlalu, ampunilah kami yang mendengar sabda-Mu tetapi tetap melakukan kehendak kami sendiri. Ajarlah kami meneladan Bnda Maria yang mendengar, menyimpan dan melaksanakan sabda-Mu sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami. Amin.


RUAH

Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Rabu, 24 Juni 2015
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis

 
Yes. 49:1-6; Mzm. 139:1-3,13-14ab,14c-15;  Kis. 13:22-26; Luk. 1:57-66,80.

Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga, apalagi kalau keluarga itu sudah lama menantikan anak, tentu merupakan sukacita yang besar. Demikian pula kelahiran Yohanes bagi keluarga Zakaria dan Elizabet, yang keduanya sudah lanjut usia. Rupanya, mereka sudah pasrah dan tidak berharap lagi akan dianugerahi anak. Hal ini tampak dari keditakpercayaan Zakaria ketika meneriwa warta di malaikat bahwa istrinya yang mandul akan mengandung dan melahirkan anak. Namun, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sepasang suami-istri yang sudah lanjut usia pun akhirnya dianugerahi anak. Maka, harus diberi nama Yohanes, yang artinya "Tuhan merahimi". Artinya bukan sekedar Tuhan mengisi rahim Elisabet yang mandul dan sudah uzur, tetapi Tuhan memberikan kerahiman-Nya kepada bangsa manusia. Sebab, kelak melalui Yohaneslah diwartakan seruan pertobatan yang merupakan awal dari keterbukaan hati untuk menerima Sang Juru Selamat. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita bersukacita merayakan kelahirannya, sebagaimana Zakaria, Elisabet, Maria dan Yesus dalam rahimnya, serta para tetangga mereka bersukacita. Namun, sukacita itu akan menjadi semakin lengkap kalau kita juga terus-menerus mendengarkan dan melaksanakan misi yang diembannya, yakni bertobat (lih. Mat 3,2) dan mengikuti Kristus dengan setia (lih. Yoh 1,29.36).

Doa: Tuhan, anugerahilah kami sukacita yang sejati untuk terus-menerus bertobat dan semakin setiap mengikuti Kristus sebagaimana diwartakan St. Yohanes Pembaptis. Amin. -agawpr-

Rabu, 24 Juni 2015 Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis

Rabu, 24 Juni 2015
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis
 

Dalam diri Yohanes Pembaptis, Roh Kudus memulai dan mempratandai karya yang akan Ia selesaikan bersama dan dalam Kristus yakni pemulihan sifat "serupa dengan Allah" dalam diri manusia. Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan untuk pertobatan; Pembaptisan dalam air dan dalam Roh Kudus akan menghasilkan satu kelahiran baru Bdk. Yoh 3:5.. (Katekismus Gereja Katolik, 720)

Antifon Pembuka (Yoh 1:6-7; Luk 1:17)

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang untuk bersaksi tentang terang, dan menyiapkan suatu umat yang layak bagi Tuhan.

De ventre matris meæ vocavit me Dominus nomine meo: et posuit os meum ut gladium acutum: sub tegumento manus suæ protexit me, posuit me quasi sagitam electam.

A man was sent from God, whose name was John. He came to testify to the light, to prepare a people fit for the Lord.
  
  
Pada Misa Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis ada Madah Kemuliaan (Gloria) dan Syahadat (Credo)

Doa Pagi

Ya Allah, Engkau mengenal kami sedalam-dalamnya. Engkau telah membentuk dan memanggil kami sejak sebelum kami lahir. Semoga kami mengabdi kepada-Mu dengan rendah hati, serta mempersiapkan jalan untuk kedatangan Putra-Mu, Yesus Kristus. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Bacaan dari Kitab Yesaya (49:1-6)
 
"Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa."
 
Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak aku ada di perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku, “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia. Namun, hakku terjamin pada Tuhan, dan upahku pada Allahku.” Tuhan telah membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan upaya Israel dikumpulkan kepada-Nya. Maka aku dipermuliakan di mata Tuhan, dan Allah yang menjadi kekuatanku sekarang berfirman, “Terlalu sedikit bagimu kalau hanya menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Maka Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; Ul: 13b)
1. Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui apakah aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumiliki.
2. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku, ajaiblah apa yang Kauperbuat.
3. Jiwaku benar-benar menyadarinya, tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (13:22-26)
 
"Kedatangan Yesus disiapkan oleh Yohanes."
  
Pada suatu hari Sabat, di rumah ibadat di Antiokhia Paulus berkata, “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi umat-Nya. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan Yesus itu, Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. Dan ketika hampir selesai menunaikan tugasnya, Yohanes berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka; tetapi Dia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Hai saudara-saudara, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 952
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 1:76)
Engkau, hai anak-Ku, akan disebut nabi Allah yang Mahatinggi karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan bagi-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:57-66.80)
  
"Namanya adalah Yohanes."

Pada waktu itu, genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu, dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya. Tetapi Elisabet, ibunya, berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia untuk bertanya nama apa yang hendak ia berikan kepada anaknya itu. Zakharia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia, dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Semua yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia kemudian tinggal di padang gurun sampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Kutipan Injil hari ini dibuka dengan menceritakan kelahiran Yohanes Pembaptis dan ditutup dengan kalimat: Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia kemudian tinggal di padang gurun sampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel. Bagaimana ia bertambah besar dan makin kuat rohnya?

Mengapa Yesus memilih untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, bukan oleh pembaptis yang lain? Ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, pewartaan tobat Yohanes ditujukan kepada semua orang, tidak hanya kepada orang-orang yang menurut paham zaman itu disebut berdosa. Kepada orang Farisi dan orang Saduki yang datang untuk dibaptis, Yohanes mengatakan, “Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? ... jangan mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” (Mat 3:7-9).

Kedua, Yohanes Pembaptis tidak hanya memberikan baptis ritual, melainkan menuntut konsekuensi moral dari pembaptisan. Ini tampak dalam kisah pewartaan Yohanes menurut Injil Lukas. Orang banyak yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes dan bertanya kepadanya, “.... apa yang harus kami perbuat?” Jawabnya, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” Demikian juga ketika para pemungut cukai mengajukan pertanyaan yang sama, Yohanes menjawab, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.” Ketika prajurit-prajurit bertanya hal yang sama, Yohanes menjawab, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”

Dengan kata lain, Yesus memilih untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis karena ia mempunyai pandangan yang universal (semua orang harus bertobat dan dibaptis) dan menuntut pembaharuan hidup yang nyata sebagai konsekuensi moral dari pembaptisan sebagai ungkapan pertobatan.

Bagaimana Yohanes sampai pada keyakinan itu? Salah satu jawabannya adalah dari tinggalnya Yohanes di padang gurun. Padang gurun kita pahami sebagai tempat yang kering kerontang, sepi. Dalam Kitab Suci, padang gurun adalah tempat pemurnian: Musa memimpin umat Allah selama empat puluh tahun menyeberang padang gurun. Di padang gurun itulah iman umat dimurnikan dan akhirnya boleh masuk ke tanah terjanji. Demikian juga Yesus sebelum tampil di depan umum berada di padang gurun selama empat puluh hari untuk memantapkan langkah. Dengan pengalaman itu, Yesus tidak bisa dibelokkan lagi langkah-Nya. Ia akan terus mengarahkan pandangan-Nya menuju Yerusalem. Kiranya yang serupa itulah yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis ketika ia tinggal di padang gurun. (IS/Inspirasi Batin)

Antifon Persiapan Persembahan (Mzm 92:13)

Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.

The righteous man shall flourish like the palm tree; he shall grow up like a cedar of Lebanon.

atau

Iustus ut palma florebit: sicut cedrus, quæ in Libano est, multiplicabitur.

Antifon Komuni (Bdk. Luk 1:78)

Oleh rahmat dan belas kasih dari Allah kita, laksana Fajar Timur Ia mengunjungi kita dari tempat tinggi.

Through the tender mercy of our God, the Dawn from on high will visit us.

atau (Luk 1:76)

Tu puer propheta Altissimi vocaberis: præibis ante Dominum parare vias eius.

(Engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya.)

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."

Selasa, 23 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII


Kej. 13:2,5-18; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mat. 7:6,12-14.

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."

Kemarin, kita mendengarkan dan merenungkan hukum kesalingan yang diungkapkan secara negatif, yakni dalam bentuk larangan: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi." Hari ini, kita menerima hukum kesalingan dalam rumusan yang positif: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka". Inilah hukum emas. Setiap orang, paling tidak kita, pasti menginginkan diperlakukan dengan baik: dikasihi, dihargai, didengarkan, diampuni/dimaafkan, didoakan, didukung, dibantu, dll. Demikian pula, orang lain juga menginginkan hal yang sama dengan yang kita inginkan ini. Nah, ketika semua orang mengingkan hal yang sama, kita cenderung berebut khan? Namun, yang namanya rebutan itu pasti akan ada yang menang dan yang kalah. Dengan demikian, dapat dipastikan ada kurban pula. Oleh karena itu, kebiasan berebut harus diganti dengan kebiasaan saling sehingga terciptalah suasana saling mengasihi, saling menghargai, saling mendengarkan, saling mengampuni/memaafkan, saling mendoakan, saling mendukung, saling membantu.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu untuk mampu melakukan hal-hal baik terhadap orang lain, sebagaimana kami juga mengharapkan diperlakukan dengan baik oleh orang lain.

Selasa, 23 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XII

Selasa, 23 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII

“Sesuatu yang murni, bebas dari kecenderungan hawa nafsu, mengarah pada sumber kedamaian, yakni Kristus” (St. Gregorius dari Nissa)

Antifon Pembuka (Mzm 15:1a.2)

Tuhan, siapa yang boleh menumpang di kemah-Mu? Orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.

Doa Pagi


Allah Bapa Mahakuasa, andaikata Engkau tidak menunjukkan jalan, tentu kami tersesat seperti orang buta. Perkenankanlah sabda Yesus Putra-Mu selalu mengarahkan perjalanan kami, agar dapat memasuki sukacita abadi, yang Kaujanjikan kepada siapa pun yang berkehendak baik. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 
Abram memiliki kualitas pribadi yang baik. Dia tidak memaksakan kehendak dan tidak dikuasai ketamakan, sehingga dia memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih dan menentukan tempat baginya dan rombongannya. Kualitas pribadi ini menjadi landasan keterbukaan dan kesiapan menerima anugerah-anugerah Allah.
 

Bacaan dari Kitab Kejadian (13:2.15-18)   
    
"Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, sebab kita ini kerabat!"
   
Abram itu seorang yang sangat kaya. Ia memiliki banyak ternak, perak dan emas. Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu serta kemah. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. Maka berkatalah Abram kepada Lot, “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, antara para gembalaku dan gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untukmu? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku: jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” Lalu Lot melayangkan pandangannya, dan dilihatnyalah bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman Tuhan, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. Hal itu terjadi sebelum Tuhan memusnahkan Sodom dan Gomora. Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu; lalu ia berangkat ke sebelah timur, dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Setelah Lot berpisah dari Abram, bersabdalah Tuhan kepada Abram, “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan ke barat, utara dan selatan. Seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu, untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu banyak seperti debu tanah. Sebagaimana debu tanah tak dapat dihitung, demikian pun keturunanmu tak terhitung banyaknya. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.” Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan ia menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron. Lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = f, 3/4, PS 848
Ref. Tuhan siapa diam di kemah-Mu, siapa tinggal di gunung-Mu yang suci?
Ayat. (Mzm 15:2-3ab.3cd-4ab.5)
1. Yaitu orang yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya; yang tidak menyebar fitnah dengan lidahnya.
2. Yang tidak berbuat jahat terhadap teman, dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang-orang tercela tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang takwa.
3. Yang tidak meminjamkan uangdengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 8:12)
Akulah cahaya dunia; siapa yang mengikuti Aku, ia hidup dalam cahaya abadi.

Nilai-nilai tertentu yang kita anggap baik, belum tentu diterima baik juga oleh orang lain. Oleh karenanya, kita diajak untuk bersikap bijaksana dalam berbagi kebaikan dengan orang lain.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:6.12-14)
   
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka."
    
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing, dan janganlah kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injak dengan kakinya, lalu babi itu berbalik mengoyak kamu. Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sempit itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang telah masuk melalui pintu dan jalan itu. Tetapi sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikitlah orang yang menemukannya.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
 
Renungan
 
Pintu dan jalan menuju kebinasaan itu lebar dan luas. Banyak orang senang dengan pintu dan jalan ini. Pintu dan jalan menuju kehidupan itu sempit dan sesak. Sedikit sekali orang menemukannya. Di pintu dan jalan manakah Anda dan saya saat ini berada? Mari kita cari pintu dan jalan yang sempit itu meski sulit, karena akan membawa kita kepada kehidupan sejati.

Antifon Komuni (Mat 7:14)

Sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikitlah orang yang menemukannya.

Doa Malam

Tuhan Yesus, terimalah persembahan hidupku hari ini. Ampunilah dosaku karena mau menang sendiri untuk memenuhi kepentingan egoku. Mampukanlah aku senantiasa bekerja sama dengan rahmat-Mu sehingga dapat memasuki pintu yang sempit untuk menuju kehidupan abadi. Amin.


RUAH

Senin, 22 Juni 2015 Hari Biasa Pekan XII

Senin, 22 Juni 2015
Hari Biasa Pekan XII
 
Salib adalah piala kita yang diangkat demi melawan setan, pedang kita melawan dosa, dan pedang yang dipergunakan Kristus untuk menikam si ular. (St. Yohanes Krisostomus)

 
Antifon Pembuka (Mzm 33:22)

Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, sebab pada-Mulah kami berharap

Doa Pagi


Allah Bapa yang mahakuasa, kami bersyukur kepada-Mu, atas anugerah-Mu pada pagi hari ini. Syukur kepada-Mu karena Engkau telah memberikan tanda yang menguatkan kami. Mampukan kami untuk melaksanakan kehendak-Mu seperti telah diteladankan oleh Bapa Abraham. Semoga hari ini kami mampu menangkap kehendak-Mu dan melaksanakannya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (12:1-9)
 
 
"Abram berangkat sesuai dengan sabda Tuhan."
 
Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan. Lot pun ikut bersama dengan dia. Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. Abram membawa Sarai, istrinya, dan Lot, anak saudaranya, segala harta benda milik mereka dan orang-orang yang mereka peroleh di Haran. Mereka berangkat ke tanah Kanaan, dan sampai di situ, Abram berjalan melintasi negeri itu, sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu negeri tersebut didiami orang Kanaan. Maka Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan bersabda, “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.” Maka Abram mendirikan di situ sebuah mezbah bagi Tuhan, yang telah menampakkan diri kepadanya. Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Di sana ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat, dan Ai di sebelah timur. Lalu ia mendirikan sebuah mezbah di situ bagi Tuhan, dan memanggil nama-Nya. Sesudah itu Abram berangkat lagi, dan makin jauh ia berjalan ke tanah Negep.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik pusaka-Nya.
Ayat. (Mzm 33:12-13.18-19.20.22)
1. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia;
2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (Ibr 4:12)
Firman Tuhan itu hidup dan kuat, menusuk ke dalam jiwa dan roh.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:1-5)
  
"Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri!"

Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu’, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.
 
Renungan

 
Pada umumnya, ketika orang bepergian keluar negeri, dia terlebih dahulu mencari informasi tentang negara yang akan dimasukinya. Dengan demikian, dia memperoleh sedikit pengetahuan tentang negara itu sehingga dia tidak merasa asing. Tetapi tidak demikian halnya dengan Abraham dalam bacaan pertama hari ini. Dia diperintahkan oleh Yahweh untuk pergi ke suatu tempat yang tidak diketahuinya. Perintah ini sesungguhnya sangat berat karena dia harus meninggalkan orang-orang yang dikasihinya, lingkungan, bahasa, dan kebudayaan ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Yahweh kepadanya. Akan seperti apakah tempat baru itu, dia tidak mempunyai bayangan.

Satu-satunya jaminan Abraham adalah janji Yahweh bahwa dia akan menjadi bangsa yang besar. Guna percaya pada janji seperti itu dibutuhkan iman yang mendalam. Abraham memang dikenal sebagai tokoh iman dalam Perjanjian Lama sebagaimana halnya Maria di dalam Perjanjian Baru. Beriman berarti percaya kepada Allah dan menggantungkan seluruh kehidupan kita kepada Allah sebagai Penyelenggara Ilahi. Beriman bukan cuma mengakui sejumlah kebenaran di dalam doa Aku Percaya. Tetapi beriman adalah menyerahkan hidup kita kepada Allah Penjamin kehidupan. Hanya kepada dia kita menyerahkan hidup kita. Hanya janji dan Firman-Nyalah yang menjadi tolak ukur dan jaminan keselamatan kita.

Tuhan, kuatkanlah imanku! Hanya kepada-Mu aku berlindung. Engkaulah benteng hidupku dan kubu pertahananku. Amin.
 
Ziarah Batin 2015, Renungan dan Catatan Harian

Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Minggu, 21 Juni 2015 
Hari Minggu Biasa XII
   
Ayb. 38:1.8-11; Mzm. 107:23-24,25-26,28-29,30-31; 2Kor. 5:14-17; Mrk. 4:35-40

    
Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
  
 Bahkan ketika sedang bersama Yesus pun, para murid diombang-ambingkan angin taufan yang sangat dahsyat sampai ombak masuk ke dalam perahu mereka. Hal ini menggambarkan bahwa meskipun kita senantasa dekat dengan Tuhan, tidak serta merta kita akan terbebas dari segala macam kesulitan, persoalan dan masalah. Kisah Ayub, yang sebagian kita baca dalam bacaan I, menegaskan kenyataan ini. Bahkan, terjadi juga bahwa iman dan kedekatan kita dengan Tuhan justru mendatangkan masalah dan kesulitan bagi kita, misalnya sulit membangun gereja, sulit naik jabatan atau mengembangkan karir, sulit mencari pekerjaan, bahkan ada yang sudah mati pun sulit dimakamkan. Dan, mungkin kita juga pernah mengalami, seolah-olah Tuhan tertidur sehingga tidak peduli dan membiarkan kita berjuang harus sendiri. Maka, dalam situasi demikian, tidak jarang, iman kita pun goyah, kita menjadi orang yang kurang percaya. Kita datang kepada Tuhan, "membangunkan-Nya" dan berseru minta tolong, bukan dalam suasana penuh iman atau kepercayaan kepada-Nya tetapi dalam suasana penuh ketakutan dan cenderung menyalahkan Tuhan yang kita anggap tidak peduli. Marilah kita mengubah pola hidup dan keyakinan iman kita: yang utama bukan kita terbebas dari aneka macam kesulitan, masalah, persoalan dan penderitaan, tetapi yang penting kita selalu bersama Tuhan. Meskipun bersama Tuhan tidak membebaskan kita dari kesulitan, masalah, persoalan, derita dan berbagai macam risiko kehidupan, kita tetap percaya kepada-Nya dan ingin terus bersama-Nya karena dengan demikian pada saat yang tepat Tuhan akan menunjukkan kuasa-Nya sehingga kita dimampukan untuk menghadapi dan menyelesaikan semuanya dengan baik.

Doa: Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar dalam keadaan apa pun, lebih-lebih dalam kesulitan, kami tetap percaya dan selalu bersama-Mu. Amin. -agawpr-

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy