Senin, 07 September 2015 Hari Biasa Pekan XXIII

Senin, 07 September 2015
Hari Biasa Pekan XXIII
 
Bagiku, Yesus adalah harta yang melebihi segala harta (Sta. Teresia dari Avila)

Antifon Pembuka (Mzm 62:67)

Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang dan Dialah segala harapanku. Hanya Dialah pelindung dan penyelamatku. Dia pendukungku, aku takkan goyah.

Doa Pagi


Allah Bapa Mahakuasa dan kekal, berilah kami pengertian mengenai misteri-Mu dan penuhilah kami dengan Roh-Mu, agar dapat membicarakan dengan teman dan sesama belas kasih dan kasih setia-Mu, yang Kaugunakan untuk menghadapi kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Kolose (1:24-2:3)
   
  
"Aku telah menjadi pelayan jemaat, untuk menyampaikan rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad."
    
Saudara-saudara, sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita demi kalian, dan melengkapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat. Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan kepenuhan sabda Allah kepada kalian, yaitu: Rahasia yang tersembunyi berabad-abad dan turun-temurun, kini dinyatakan kepada orang-orangnya yang kudus. Allah berkenan memberi tahu mereka betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yakni: Kristus ada di antara kalian. Dialah harapan akan kemuliaan. Dialah yang kami beritakan dengan memperingatkan setiap orang dan mengajar mereka dengan segala hikmat untuk memimpin setiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kuperjuangkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya yang bekerja dengan kuat dalam diriku. Saudara-saudara, aku ingin agar kalian tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan bagi kalian, bagi mereka yang di Laodikia dan bagi semuanya yang belum mengenal aku secara pribadi. Semoga hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan pengertian yang meyakinkan dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus. Dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/4, PS 842
Ref. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.
Ayat. (Mzm 62:6-7.9)
1. Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku; hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.
2. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Bait Pengantar Injil,
Ref. Alleluya
Ayat. (Yoh 10:17)
Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (6:6-11)
  
"Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat."
    
Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang pada hari Sabat, agar mereka mendapat alasan untuk menyalahkan Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Ia berkata kepada orang yang mati tangan kanannya, “Bangunlah dan berdirilah di tengah!” Maka bangunlah orang itu dan berdiri di tengah. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Aku bertanya kepada kalian: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan orang atau membinasakannya?” Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkan tangannya dan sembuhlah ia. Maka meluaplah amarah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

"Tidak ada manusia hidup seorang diri," kata sebuah pepatah. Kalau diperdalam, bisa dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan kehadiran orang lain. Setiap orang selalu punya kebutuhan, tetapi tidak setiap orang selalu membutuhkan orang lain. Karena itu, sikap kita terhadap orang sekitar selalu dipengaruhi oleh kebutuhan. Ketika butuh, tingkat keramahan, kepedulian, dan kerendahan hati meningkat. Kalau tidak butuh, semuanya berjalan biasa-biasa saja.

Misalnya, lihatlah orang-orang yang ada di tempat umum. Apakah saling perhatian? Kalau terlalu umum, mari kita lihat kelompok kerja, belajar, kor, atau keluarga kita. Tidak jarang kalau sudah pegang gadget atau remote TV, dunia seperti milik sendiri. Kita tersinggung ketika orang melihat TV tetapi tidak sedetik pun menoleh kepada kita. Kita tersinggung ketika orang asyik tersenyum dan tertawa dengan gadgetnya tetapi tidak pernah tersenyum dengan kita yang ada di depannya. Salahkah? Tidak. Melanggar hukumkah? Tidak. Berarti, hidup bukanlah melulu perkara benar atau salah, melanggar hukum atau tidak, tetapi kita harus melihat sisi kepantasannya.

Pantaskah memperlakukan yang biasa saja, jika kita bisa berbuat lebih atau yang terbaik? Seniman Jerman J.W. von Goethe mengatakan, "Bila kita memperlakukan orang sebagaimana apa adanya, kita membuatnya lebih buruk daripada siapa dirinya; bila kita memperlakukannya seolah ia sudah mencapai potensinya, kita membuatnya menjadi siapa ia seharusnya." Perlakuan yang pantas dan lebih terhadap seseorang akan membuat ia menjadi dirinya yang seharusnya dan ia pantas untuk itu.

Yesus memperlakukan kita bukan sebagai pendosa atau orang lemah, meskipun kita pendosa dan lemah. Yesus tidak memperlakukan kita sesuai aturan hukum meskipun kita pantas dihukum, tetapi Ia memperlakukan kita sebagai orang yang pantas ditolong, diselamatkan dan mendapatkan perlakuan yang pantas. Inilah bukti cinta-Nya, jaminan bagi orang beriman dan pengharapan bagi semua orang beriman.

Di mata Tuhan, kita adalah segalanya. Benda dan aturan hanyalah sarana. Semoga Tuhan juga adalah segalanya bagi kita. (Kartolo/Cafe Rohani)

Antifon Komuni (Kol 1:25)

Dalam diriku aku melengkapi yang masih kurang dalam penderitaan Kristus untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja.

Hari Minggu Biasa XXIII

Minggu, 6 September 2015
Hari Minggu Biasa XXIII
Hari Minggu Kitab Suci Nasional
  
Yes. 35:4-7a; Mzm. 146:7,8-9a,9bc-10; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

"Sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik." (Mrk 7, 34-35)

Pada bagian akhir dari perayaan liturgi penerimaan sakramen baptis bayi dan pada salah satu tahap dari masa katekumenat untuk baptisan dewasa, terdapat ritus "Effata" (di beberapa tempat di Indonesia, ritus ini ditiadakan dan kendati dalam buku yang diterbitkan Nusa Indah dimuat tetapi dalam buku Puji Syukur tidak ada). Pada bagian ini, imam atau diakon yang menjadi pelayan baptis menjamah mulut dan telinga bayi/anak dengan menggunakan ibu jarinya sambil berdoa "Ya Tuhan, berilah agar anak ini bertumbuh dewasa. Dan sebagaimana dengan mengucapkan "Effata", Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga anak ini agar ia dapat mendengarkan sabda-Mu dan mengakui imannya demi keselamatan manusia serta kemuliaan-Mu." Jadi, maksud dari ritus ini adalah memohon kepada Tuhan agar anak yang dibaptis itu kelak bertumbuh dewasa, baik secara fisik tidak bisu dan tidak tuli, maupun terutama secara iman mampu mendengarkan sabda Tuhan dan mengakui serta mewartakan imannya demi keselamatannya dan kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, entah dulu pada saat dibaptis, pelayan baptis kita melaksanakan ritus "effata" atau tidak (seandainya tidak, baptis kita tetap sah), marilah kita mohon agar Tuhan sendiri membuka telinga dan mulut kita: supaya dengan telinga kita semakin tertarik dan peka untuk mendengarkan sabda-Nya (mumpung sedang BKS, baca/dengarkan dan renungkan KS !!!) dan dengan mulut kita mengakui serta mewartakan iman kita (ayo sharing dan berbagi pengalaman dalam pertamuan BKS !!!). Namun, sebagaimana ditegaskan St. Yakobus, kita tidak cukup hanya mengakui dan mewartakan iman kita tetapi juga harus mengamalkannya, misalnya dengan mengasihi, menghormati, menolong dan mendengarkan sesama. Bukankah, orang yang mampu mendengarkan sabda Tuhan dengan baik juga mampu mendengarkan sesama dengan baik pula? Begitu juga sebaliknya.

Doa: Ya Tuhan, sebagaimana dengan mengucapkan "Effata", Engkau telah membuka mulut dan telinga orang-orang bisu-tuli, maka sudilah membuka mulut dan telinga kami agar kami dapat mendengarkan sabda-Mu dan mengakui, mewartakan serta memberi kesaksian iman demi kemuliaan-Mu. Amin. -agawpr-