Minggu, 22 Februari 2009

Minggu, 22 Februari 2009
Hari Minggu Biasa VII

Apabila kita rela mengosongkan diri demi Kristus, kita akan memperoleh kehidupan sejati yang melimpah.

Doa Renungan
Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, melalui nabi Yesaya, Engkau menumbuhkan harapan akan masa depan yang cerah, meninggalkan segala dosa di masa lalu, mengajak kami untuk membangun hidup baru bersama-Mu. Semoga dengan bimbingan Roh Kudus, kami dapat mewujudkan cara hidup baru, habitus baru yang leih menghargai martabat sesama, menunjukkan pembelaan pada mereka yang miskin dan tersingkir. Berkatilah niat kami, agar kami dapat menjalankan perutusan-Mu, yakni menjadi pelita bagi masyarakat. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Nabi Yesaya (43:18-19.21-22.24b-25)


"Aku tidak mengingat-ingat dosamu."

18 Beginilah firman Tuhan, "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! 19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.21 umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku." 22 "Sungguh, engkau tidak memanggil Aku, hai Yakub, dan engkau tidak bersusah-susah karena Aku, hai Israel.24b Engkau memberati Aku dengan dosamu, engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu.25 Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 818
Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umatmu.
Ayat. (Mzm 41:2-3.3-4.13-14)
1. Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah,
Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka.
Tuhan akan melindungi dia dan memelihara nyawanya,
sehingga ia disebut berbahagia di bumi:
Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya.
2. Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit,
Di tempat tidurnya Kau pulihkan dia sama sekali dari sakitnya.
Kalau aku, kataku, "Tuhan, kasihanilah aku, sembuhkanlah
aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa."
3. Engkau menopang aku karena ketulusanku,
Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.
Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya

Bacaan Kedua
Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1:18-22)


"Pada Yesus bukanlah terdapat "ya" dan tidak, melainkan hanya ada "ya"."


18 Saudara-saudara, demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak "ya" dan "tidak". 19 Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah "ya" dan "tidak", tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada "ya". 20 Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah.21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, 22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil PS 958
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat. Tuhan mengutus aku, menyampaikan kabar baik kepada orang miskin dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (2:1-12)



"Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"

1 Sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" 6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" 8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: 11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" 12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan

PENGAMPUNAN DAN KESEMBUHAN

Rekan-rekan yang budiman!

Petikan Injil kali ini (Mrk 2:1-12) mengisahkan Yesus kembali berada di Kapernaum. Orang-orang berjejal di rumah tempat ia menguraikan Alkitab. Pada kesempatan itu seorang lumpuh datang digotong empat orang. Tapi karena jalan masuk penuh orang, maka mereka membongkar atap dan menurunkan tikar tempat orang itu berbaring. Melihat iman mereka, Yesus berkata kepada si lumpuh, "Nak, dosa-dosamu sudah diampuni!" Beberapa ahli Taurat yang sedang duduk di situ merasa kurang enak. Siapa selain Allah dapat mengampuni dosa! Yesus mengetahui apa yang mereka pikirkan dan menanyai mereka, mana yang lebih mudah mengatakan dosa-dosamu diampuni atau bangun, angkat tikarmu dan berjalanlah?

KETEGANGAN

Petikan hari ini adalah yang pertama dari lima kisah mengenai ketegangan antara Yesus dengan para pemimpin dalam Mrk 2:1-3:6. Kisah-kisah ini dimaksud untuk menunjukkan bagaimana para pemimpin tidak bersedia menerima Yesus dan bahkan semakin memusuhinya. Sekaligus digambarkan bagaimana orang banyak semakin menyambutnya. Secara tidak langsung diungkapkan bagaimana para pemimpin semakin menjauh dari umat. Minggu lalu diutarakan bagaimana para imam tidak lagi biasa menjalankan wewenang untuk menyatakan orang kusta sembuh sehingga diterima kembali dalam masyarakat. Orang kusta itu malah minta agar Yesus pulalah yang menyatakannya sembuh. Jadi wewenang mereka kini dijalankan Yesus. Dalam kisah penyembuhan orang lumpuh kali ini ada hal yang mirip. Para ahli Taurat kurang senang mendengar Yesus mengeluarkan kata-kata mengampuni orang tadi. Mereka berpegang pada pendapat bahwa dosa hanya dapat diampuni oleh Allah. Tapi mereka tidak mau melihat jalan apa yang dipakai Allah untuk memberi pengampunan. Para ahli Taurat menutup pikiran mereka sendiri. Inilah keadaan yang digambarkan Markus pada tahap-tahap awal Yesus mulai dikenal orang sebagai yang membawakan kehadiran Allah dengan cara baru.

MEMBONGKAR ATAP

Marilah kita ikuti kisah Markus mengenai kejadian ini. Apa yang bakal terjadi bila orang membongkar atap seperti dikatakan di sini? Meski atap rumah di sana mudah dibongkar, pasti banyak kepingan tanah kering dan ranting yang berjatuhan. Orang-orang yang berjejal mengerumuni Yesus di dalam rumah pasti jadi ribut dan menyingkir. Tapi tak disebutkan demikian. Perhatian lebih dipusatkan pada usungan yang diturunkan. Orang-orang yang ikut menyaksikan ini juga mereka yang sebetulnya memenuhi jalan sehingga orang lumpuh tadi tak dapat masuk. Ada semacam ironi. Jalan ke arah Yesus terhalang olah orang-orang yang berhasil mendapat tempat walaupun mereka tidak mempunyai kebutuhan mendesak. Orang yang sungguh membutuhkan dia saat itu tidak dapat masuk! Apa ini semacam analisis mengenai keadaan umat waktu itu? Dalam hati kecil, pembaca zaman sekarang mungkin juga melihat kelembagaan di kalangan umat yang acap kali tidak memudahkan orang maju. Tetapi tak usah kita berhenti di situ dan marilah kita perhatikan kisah selanjutnya.

Ada orang-orang yang berusaha sebisanya, dengan cara yang tidak biasa: membongkar atap. Tidak kita ketahui siapa orang-orang itu. Tetapi Markus memberitahukan bahwa Yesus "melihat iman mereka" (ay. 5). Dari teks Injil, jelas kata "mereka" di sini merujuk kepada empat orang yang menggotong orang lumpuh dan membongkar atap tadi. Apakah Markus hendak mengatakan bahwa iman orang-orang yang membawa si lumpuh itulah yang mendatangkan kesembuhan bagi si lumpuh? Pokok ini dapat dijadikan bahan pendalaman bagi orang zaman ini juga. Lebih menarik lagi bila diamati bahwa dalam kisah ini sebenarnya Yesus-lah yang menghubungkan iman orang-orang tadi dan keadaan si lumpuh. Ia melihat iman empat orang ini, tetapi ia berbicara kepada si lumpuh yang dibawa ke hadapannya oleh orang-orang tadi.

SAPAAN YESUS

Orang lumpuh itu disapa dengan kata "Nak!". Tidak dikatakan Yesus "iba hati", atau "kesal", seperti dalam teks Minggu lalu ketika ia menghadapi orang kusta (Mrk 1:41). Kini Markus membiarkan pembaca membayangkan apa yang dirasakan Yesus. Dengan demikian pembaca akan belajar kenal dengannya sendiri. Bagaimanapun juga, sapaan "Nak!" tadi, baik dalam bahasa kita maupun dalam teks Markus, nadanya penuh pengertian. Yesus menyapa orang yang tak bisa berjalan, kemanusiaan yang tak utuh, ciptaan yang cacat. Keadaan orang lumpuh ini menjadi tantangan bagi orang yang percaya bahwa manusia diciptakan dalam "gambar dan rupa" Pencipta. Tapi untung masih ada orang-orang yang percaya bahwa bisa diusahakan sesuatu untuk memperbaikinya. Inilah iman yang dilihat Yesus. Inilah yang membuatnya berani mengatakan "Nak, dosa-dosamu sudah diampuni!" Apa yang dipikirkannya? Sebagai orang zaman itu, tentunya baginya kelumpuhan itu tampil sebagai pekerjaan kekuatan-kekuatan yang membuat manusia tidak sesuai dengan maksud Penciptanya. Itulah yang disebut dengan kata "dosa-dosa" di sini. Tidak selamanya akibat kelakuan yang bersangkutan, melainkan kenyataan yang jahat yang ada di muka bumi ini. Tapi yang jelas, kekuatan-kekuatan itu tidak membatalkan iman orang-orang yang membawa si lumpuh lewat atap tadi. Iman mereka membuat Yesus bisa mengatakan kepada si lumpuh bahwa kekuatan-kekuatan yang mengikat dan melumpuhkannya bisa disingkirkan! Oleh siapa? Tak usah tergesa-gesa kita katakan oleh Yesus. Kita boleh menegaskan bahwa iman orang-orang yang dilihat Yesus itulah yang mulai melepaskan ikatan-ikatan dosa tadi. Bila begini maka Injil hari ini berisi pengajaran bagi kehidupan dalam umat. Solidaritas iman menjauhkan kekuatan-kekuatan jahat. Tapi ceritanya belum selesai.

AHLI-AHLI TAURAT

Pandangan pembaca kini dialihkan kepada beberapa ahli Taurat yang dikatakan "sedang duduk di situ" dan membatinkan peristiwa tadi. Bila ahli Taurat disebut "sedang duduk", artinya lebih hanya sekedar duduk biasa, melainkan ditunjukkan juga wibawa pengajarannya sebagai ahli Taurat, sebagai ahli ilmu ketuhanan. Dalam hati kini mereka mempertanyakan wewenang Yesus mengampuni dosa. Ini sikap mereka. Keberatan mereka ialah keberatan dari segi agama, keberatan dari sisi teologi resmi. Bagi mereka, Yesus ini seakan-akan mau merebut wewenang Allah mengampuni dosa. Menghujat! Para ahli Taurat ini di satu pihak melindungi kepentingan Yang Maha Kuasa, tapi di lain pihak mereka malah membatasi ruang gerakNya.

Markus menjelaskan bahwa Yesus mengetahui yang dipikirkan para ahli Taurat tadi. Tak perlu kita kaitkan dengan pengetahuan luar biasa. Ini cara Markus menampilkan Yesus bagi pembaca yang sadar atau tak sadar boleh jadi ada di pihak ahli Taurat tadi. Untung diketahui sehingga bisa dibicarakan, dan kita bisa berubah pendapat, menjadi lebih terbuka. Pertanyaan Yesus, dalam rumusan bahasa sehari-hari, "Kenapa kalian berpikir ketat begitu. Mana yang lebih mudah dilakukan: berkata kepada orang lumpuh ini "dosa-dosamu sudah diampuni" atau "bangunlah, angkat tikarmu dan berjalanlah"? Ini mencerminkan pembicaraan di antara sesama ahli. Yesus juga tahu tentang Taurat, ia juga tahu cara-cara bertikai di kalangan mereka. Pertanyaan seperti itu dua ujungnya. Pertama, ditanyakan kalimat mana lebih mudah diucapkan. Kedua, ditanyakan mana kalimat yang isinya lebih mudah terjadi. Apa saja jawabannya, lawan bicara Yesus pasti tak berkutik. Bila mereka mengatakan lebih mudah mengucapkan kalimat tentang mengampuni dosa, mereka benar karena memang kalimat itu lebih pendek dan tentunya lebih mudah diucapkan. Tapi dengan demikian mereka menyatakan setuju dengan yang dikatakan Yesus yang mereka persoalkan tadi. Maka alternatifnya ialah mengatakan bahwa yang lebih mudah ialah yang lain, yang lebih panjang: menyuruh bangun, mengangkat tikar, dan menyuruh orang itu berjalan. Mereka harus memilih yang ini bila tidak mau dikatakan tak konsekuen. Dan itulah yang terjadi. Yesus kemudian betul-betul mengatakan demikian kepada si lumpuh tadi. Dan orang itu betul melakukan tiga hal yang diperintahkan: bangun, mengangkat tikar, dan pergi keluar. Para ahli Taurat terbungkam. Mereka tidak bisa menyangkal yang mereka lihat sendiri: orang lumpuh tadi berjalan kembali. Patut dicatat, mereka juga beranggapan bahwa kelumpuhan dan penyakit berat lain ialah akibat dosa dalam arti kekuatan jahat yang membelenggu tadi. Tapi kini orang itu betul-betul lepas. Mau tak mau para lawan Yesus mesti mengakui bahwa yang sedang mereka hadapi ini ialah "Anak Manusia" yang "berkuasa mengampuni dosa di bumi ini" (ay. 10).

TAKJUB

Orang-orang takjub dan mengucap seruan terpujilah Allah, seruan yang juga mengungkapkan rasa lega. Mereka juga mengalami kemerdekaan yang kini dinikmati orang yang tadi terbelenggu dan lumpuh itu. Markus masih menambah bahwa mereka belum pernah melihat yang begini (ay. 12), maksudnya, pengampunan (tindakan!) dan kesembuhan (hasil!). Kita diajak menengok kembali pengalaman kita dan menemukan manakah kenyataan "yang begini" itu.

DARI BACAAN KEDUA (2Kor 1:18-22)

Petikan ini ditulis Paulus untuk menanggapi ketidakpuasan di kalangan umat Korintus terhadap Paulus yang tidak jadi datang ke Korintus untuk kedua kalinya seperti dapat disimpulkan dari 2Kor 1: 15 "...aku pernah merencanakan untuk mengunjungi kamu dahulu (lihat 1Kor 16:5-9),supaya kamu boleh menerima anugerah kedua kalinya." Mereka kiranya menyesalkan sikap plin plan Paulus (ay. 17). Memang kenyataannya ia tak menepati janji.

Masalah yang dihadapi orang Korintus, lha bila rasul yang berbangga-bangga diri seperti itu ingkar janji, apa pewartaannya mengenai Kristus itu benar? Apa janji keselamatan, penebusan, kelepasan dengan mempercayai Kristus, Anak Allah yang diwartakan rasul seperti ini tetap bisa dipegang teguh? Kiranya Paulus menyadari masalah ini. Ditegaskannya, umat hendaknya berteguh pada kesetiaan ilahi - utusan ilahi yang resmi - Mesias, Kristus telah diwartakan di kalangan mereka. Ini kenyataan kesetiaan ilahi. Dan selama umat sendiri mengamininya, maksudnya teguh mempercayai Kristus, maka mereka mengalami kesetiaan ilahi sendiri (ay. 21). Bahkan Paulus menegaskan, bila umat betul percaya akan Kristus, maka Yang Mahakuasa sendiri sebenarnya mengurapi umat - memeteraikan - jadi menyatakan dengan resmi bahwa mereka adalah milikNya (ay. 21-22).

Dengan mengingatkan iman akan Kristus, Sang Terurapi, Paulus menandaskan bahwa iman orang Korintus sendiri adalah pengurapan ilahi bagi kehidupan mereka yang membuat mereka resmi termeterai sebagai milik Allah. Sebagai milikNya, mereka pasti akan dilindungiNya, diselamatkanNya, dilepaskanNya dari marabahaya - dan Roh Kuduslah jaminannya, seperti ditegaskan dalam ay. 22. Ini cara berpikir teologis Paulus yang menyangkutkan kehidupan umat ke dalam iman akan kesetiaan ilahi.


Salam hangat,
A. Gianto

www.mirifica.net


Photobucket

Sabtu, 21 Februari 2009

Sabtu, 21 Februari 2009
Hari Biasa Pekan VI


"Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia!"


Doa Renungan
Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, kasih setia-Mu lebih kuasa dari maut: yang telah Kauberikan kepada kami takkan dapat dicuri oleh orang lain. Kami mohon, lindungilah iman kami, bila rasa takut menghadapkan kami pada pilihan palsu. Dan bila hati kami menjadi bimbang oleh persoalan-persoalan hidup yang nyata, condongkanlah kami untuk bertahan dengan ulet dan mempercayakan diri kami kepada-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Surat kepada orang Ibrani (11:1-7)


"Berkat iman kita mengerti bahwa alam semesta diciptakan Allah."


Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik daripada kurban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian tentang dirinya bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu; dan karena iman pula, ia masih berbicara, sesudah ia mati. Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Karena iman, maka Nuh mengikuti petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan dan dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.
Demikianlah sabda Tuhan,
Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan
Ref. Ya Tuhan, aku hendak memuji nama-Mu selama-lamanya.
(Mzm 145:2-3.4-5.10-11)
1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau
dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
Besarlah Tuhan dan sangat terpuji;
dan kebesaran-Nya tidak terselami.
2. Angkatan demi angkatan akan memegahkan karya-karya-Mu,
dan akan memberitakan keperkasaan-Mu.
Semarak kemuliaan-Mu yang agung akan kukidungkan,
dan karya-karya-Mu yang ajaib akan kunyanyikan.
3. Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu,
ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.
Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Langit terbuka dan terdengarlah suara Bapa. "Inilah Anak-Ku terkasih; dengarkanlah Dia"


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (9:2-13)

"Yesus berubah rupa di depan para rasul."

Pada suatu hari Yesus berbicara tentang bagaimana Ia akan menderita sengsara. Sesudah itu Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan bersama mereka naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya menjadi sangat putih berkilat-kilat. Tak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup mengelantang pakaian seperti itu. Maka nampaklah kepada mereka Elia dan Musa yang sedang berbicara dengan Yesus. Lalu Petrus berkata kepada Yesus, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di sini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia." Petrus berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari awan itu terdengar suara, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia!" Dan sekonyong-konyong, waktu memandang sekeliling mereka tidak lagi melihat seorang pun di situ kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati." Lalu mereka bertanya kepada Yesus, "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?" Yesus menjawab, "Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Tetapi bagaimanakah halnya dengan Anak Manusia? Bagaimana tertulis bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan? Tetapi Aku berkata kepadamu, memang Elia sudah datang, dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka sesuai dengan yang tertulis tentang dia."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.


Renungan

Persatuan kita dengan Allah adalah kandungan dari iman sempurna yang didambakan oleh setiap orang beriman. Untuk itulah Allah telah memutuskan untuk menjadi manusia dan mengundang kita untuk memasuki hadiratNya, di dalam kemuliaanNya yang bisa menimbulkan rasa takut (tremendum) dan rasa rindu-senang (fascinosum) sekaligus. Iming-iming dari pihak Allah telah dilakukan oleh Yesus ketika Ia mengajak ketiga muridNya - Petrus, Yakobus dan Yohanes, merasakan kemuliaan Ilahi diatas gunung yang tinggi. “Pengalaman puncak” inilah yang senantiasa menjadikan mereka untuk tetap bertahan kuat sewaktu mengalami penganiyaan nantinya - karena kebahagiaan di surga tidak sebanding dengan penderitaan yang sedang kita alami di muka bumi ini. (1 Petrus 5:1)

Melalui meditasi, rekoleksi, retret didalam bahasa interfaith bisa disebut juga melalui ‘zikir’ (dalam Islam) atau ‘mantra’ (dalam Hindu), kita diundang untuk memasuki hadirat Ilahi, yang bisa membawa pada pengalaman tasawuf, yakni persatuan erat dengan Allah, tanpa harus merasa diri lebur didalamNya. Bagi kita umat Kristiani, dengan menerima Yesus, kita sampai kepada Allah Bapa. RohNya dicurahkan kepada kita sehingga terwujud menjadi satu realitas yang tidak terpisahkan seperti dalam pengertian pokok anggur dan ranting-rantingnya (Yohanes 15:1-8)

Tuhan Yesus, meskipun setiap kali aku telah menyambut tubuh dan darahMu, aku masih sering merasa jauh dariMu. Undanglah aku untuk boleh mengenyam kemulianMu sehingga aku boleh merasa bahagia tinggal bersamaMu. Amin




Photobucket

Surat Gembala Prapaskah 2009

SURAT GEMBALA PRAPASKA
SABTU DAN MINGGU, 21-22 FEBRUARI 2009

Para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/
Kaum Muda/Anak-anak dan Remaja yang terkasih,

1. Beberapa hari lagi, kita akan memasuki masa Prapaska. Pada masa ini secara khusus kita diajak untuk menyadari bahwa kita adalah orang-orang berdosa. Keadaan kita sebagai orang berdosa diungkapkan oleh Nabi Yesaya ”…engkau memberati Aku dengan dosamu; engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu” (Yes 43:24). Keadaan yang sama disadari oleh pemazmur yang berseru, “…terhadap Engkau aku berdosa” (Mzm 41:5b). Kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa dapat membuat kita kehilangan kepercayaan diri, tidak berdaya, lumpuh. Namun kesadaran yang sama dapat membuat kita menjadi semakin rendah hati: tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan menyandarkan diri pada kebaikan dan kerahiman Allah.

2. Selain menyadari diri sebagai orang berdosa, kita juga diajak mengalami masa Prapaska ini sebagai masa yang penuh rahmat dengan semakin menyadari bahwa Allah Mahabaik dan Maharahim terhadap kita. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini juga mengajak kita untuk percaya kepada Allah yang Mahabaik dan Maharahim, yang membaharui kehidupan: ”Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?” (Yes 43:19). Hidup baru itu telah diperoleh bagi kita oleh Yesus, Anak Manusia yang berkuasa mengampuni dosa (Mrk 2:10). Nabi Yesaya menggambarkan hidup baru itu dengan sangat indah: ”Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yes 43:19). Hidup baru yang sama terwujud dalam diri orang lumpuh yang dibebaskan dari kelumpuhannya (Mrk 2:11-12). Pembaharuan hidup yang dikerjakan oleh Allah ini membuat orang-orang yang melihatnya takjub dan memuliakan Allah (Yes 43:21; Mrk 2:12).


Saudari-saudaraku yang terkasih,


3. Ada banyak beban hidup dan / atau dosa yang membuat seseorang dapat lumpuh dalam berbagai tataran arti: lumpuh semangatnya, lumpuh jiwanya, lumpuh hidup rohaninya. Salah satunya adalah hubungan-hubungan yang tidak baik dengan sesama. Ini dapat terjadi di antara kawan, keluarga, masyarakat dan bangsa. Surat Rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus (Bacaan ke-2) menyadarkan kita akan hal itu. Rasul Paulus berkata, “Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak ‘ya’ dan ‘tidak’ “ (2 Kor 1:18). Rupanya jemaat di Korintus menganggap Rasul Paulus tidak dapat dipercaya karena ia tidak jadi datang ke Korintus. Dengan demikian hubungannya dengan jemaat menjadi tidak serasi lagi. Dalam keadaan seperti ini Rasul Paulus menulis, “Aku tidak (jadi) datang ke Korintus untuk menyayangkan kamu … kami mau turut bekerja untuk sukacitamu” (ay 23-24). Rasul Paulus, khususnya dalam hubungan dengan jemaat di Korintus “dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah … oleh kekuatan kasih karunia Allah” (ay 12). Dengan kata-kata itu, Rasul Paulus ingin membangun kembali hubungan yang tidak serasi atau rusak antara dirinya dengan jemaat di Korintus, karena salah paham dan berbagai macam alasan lain. Rasul Paulus menegaskan, bahwa dirinya tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi apapun. Ia hanya menghendaki yang baik bagi jemaat di Korintus. Dan ternyata berbagai usaha Rasul Paulus untuk memulihkan hubungan yang rusak dengan jemaat di Korintus berhasil. Setelah hubungan baik berhasil dipulihkan, Rasul Paulus dapat menggerakkan jemaat di Korintus untuk ikut terlibat dalam pelayanan kasih (bdk 2 Kor 8-9), mewujudkan semangat setiakawan dengan membantu saudara-saudara yang sedang menderita.


Saudari-saudaraku yang terkasih,


4. Tema Aksi Puasa Pembangunan tahun ini bertema, “Bersama Kaum Muda Memberdayakan Hubungan Antar Umat Beriman”. Jujur harus diakui, bahwa memberdayakan hubungan antara umat berbeda agama bukanlah hal yang mudah. Sejarah hubungan antar umat beragama bukanlah sejarah yang hanya baik dan mulus. Sejarah ini menyimpan berbagai macam konflik yang mengakibatkan luka-luka batin. Sejarah dan akibat-akibatnya ini perlu kita akui dan terima dengan hati yang tulus. Kita perlu menyembuhkan luka-luka sejarah itu. Kalau luka-luka itu dapat disembuhkan, hubungan-hubungan kita pun akan diperbaharui. Dan kalau hubungan-hubungan itu berhasil diperbaharui, bersama-sama dengan umat yang berbeda agama, kita dapat bekerjasama untuk membuat berbagai gerakan atau kegiatan: mengembangkan persahabatan antar umat yang berbeda agama, menolak segala macam bentuk kekerasan, bekerjasama untuk kebaikan bersama dan berbagai pelayanan kasih yang lain. Kegiatan-kegiatan yang lebih nyata tentunya perlu direncanakan bersama dan dengan belajar dari kawan-kawan atau komunitas lain yang sudah mempunyai pengalaman.


5. Akhirnya kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Rama/ Kaum Muda/Anak-Anak dan Remaja, saya ucapkan selamat memasuki masa Prapaska. Semoga pembaharuan hidup yang dijanjikan oleh Allah melalui Nabi Yesaya sungguh-sungguh kita alami dalam hidup pribadi, keluarga dan komunitas kita. Semoga usaha kita untuk memulihkan hubungan-hubungan yang tidak serasi antar kita, dalam keluarga dan komunitas diteguhkan oleh rahmat Allah. Semoga pembaharuan yang dikerjakan oleh rahmat ini membuat kita mampu membangun hubungan yang tulus dengan saudara-saudara kita yang berbeda agama dan bersama-sama saudara-saudara kita itu bekerjasama untuk kebaikan bersama. Salam dan Berkat Tuhan bagi para Ibu / Bapak / Suster / Bruder / Rama / beserta seluruh keluarga dan komunitas. Semoga Tuhan meneguhkan niat-niat baik kita.




Semarang, 21 Februari 2009




† Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang
http://kantorsekretariatkas.multiply.com/journal/item/3
www.kasemarang.org,
http://asia.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_KAS/

Photobucket