Selasa, 04 Agustus 2009 :: Pw. St. Yohanes Maria Vianney, Imam

Selasa, 04 Agustus 2009
Pw. St. Yohanes Maria Vianney, Imam

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, kuasa-Mu mengatasi segalanya di dunia ini. Engkau menunjukkan kemuliaan kepada para murid-Mu dengan berjalan di atas air. Ajarilah kami setiap hari, khususnya pada hari ini untuk selalu percaya pada kuasa-Mu yang mengubah dan membuat segalanya mungkin terjadi. Tuntunlah kami agar tak ada satu pun bisa merampas iman kepercayaan kami pada-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan, Pengantara kami. Amin.

Bacaan Pertama

Pembacaan dari Kitab Bilangan (12: 1-13)

"Musa itu seorang nabi yang lain daripada yang lain, Bagaimana kalian sampai berani menaruh syak terhadap dia?"

Sekali peristiwa Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas bumi. Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya." Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 812
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kau lah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Ayat.
(Mzm 51: 3-4, 5-6a, 6bc-7,12-13, R: 3a )
1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!
2. Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa
3. Dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
4. Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Rabi, Engkau Anak Allah, Engkaulah raja Israel.

Bacaan Injil

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (15:1-2, 10-14)

"Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut sampai akar-akarnya."

Sekali peristiwa, datanglah kepada Yesus beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem. Mereka berkata, "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Yesus lalu memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, "Dengarlah dan camkanlah, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang." Maka datanglah para murid dan bertanya kepada Yesus, "Tahukah Engkau bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang Farisi?" Tetapi Yesus menjawab, "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut sampai akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka itu orang buta yang menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lubang."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan
oleh Mgr. J. Sunarka, SJ - Inspirasi Batin 2009


Hari ini Gereja mengenang St. Yohanes Maria Vianney (1786-1859). Ia hidup saat kondisi Gereja mengalami krisis sewaktu Revolusi Perancis. Umur 19 tahun ia mulai belajar untuk menjadi imam. Di seminari ia tidak mempunyai harapan karena nilai rapornya serba kurang. Berkat keunggulannya dalam kesalehan, ia ditahbiskan menjadi imam dan ditugaskan di desa Ars. Kesalehan hidup, kesederhanaan, jauh dari hiburan pribadi, jauh dari kemewahan padanya, dan semangat mati raganya membuat ia terkenal. Dari berbagai tempat, banyak orang datang padanya untuk meminta nasihat dan pengampunan dosa serta pertolongan. Ia diresmikan menjadi orang kudus 4 Agustus 1859, dan dijadikan pelindung pastor paroki.

Setelah melayani orang banyak, Yesus menyuruh para murid mendahului berlayar ke seberang. Seperti biasanya Yesus lalu sendirian pergi ke tempat yang sepi dan berdoa kepada Bapa di surga. Ternyata pada murid diterjang ombak danau yang begitu besar karena terkena angin sakal. Mereka takut. Dalam ketakutan itu, Yesus menampakkan diri dan memberikan ketenangan air danau dan mengembalikan ketenangan hati kepada para murid yang mengalami ketakutan di dalam perahu.

Bacaan hari ini mengajak kita agar menyadari bahwa dalam segala macam peristiwa kehidupan, Yesus berada menyertai kita, baik kehadiran Yesus sendiri atau melalui utusan-Nya. Kita dapat mencermati bahwa pada abad ke-19, dalam suasana Revolusi Perancis, masyarakat Perancis mengalami kegalauan penghayatan iman. Pada saat itu, Yesus menampakkan diri, menampilkan diri dalam pribadi Yohanes Maria Vianey, sebagai pastor desa, memberikan kekuatan hidup bertahan dalam iman dan mengalami kedamaian hati. Ini mau menunjukkan bahwa kehidupan kita jangan hanya mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuan (otak), tetapi juga perlu mengandalkan hidup iman yang mendalam dan bermati raga.