Sabtu, 15 Agustus 2009 :: Hari Biasa Pekan XIX

Sabtu, 15 Agustus 2009
Hari Biasa Pekan XIX

Yang terbesar dan terhormat di dalam Kerajaan Allah

“Janganlah menghalangi mereka datang kepada-Ku”


Doa Renungan

Allah Bapa kami di surga, Engkau mencintai siapa saja di muka bumi ini, tak terkecuali anak-anak kecil. Engkau menjadi sumber sukacita dan kegembiraan bagi anak-anak. Ajarlah kami agar kami pun menjadi sumber sukacita dan kegembiraan bagi anak-anak kami. Kami berdoa secara khusus bagi anak-anak kami, berkatilah mereka dan bantulah mereka agar kelak menjadi anak yang berbakti bagi Gereja dan masyarakat kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yosua (24:14-29)

"Pilihlah hari ini, kalian mau beribadah kepada siapa!"

Menjelang wafatnya, Yosua berkata kepada umat Israel: takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita." Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu." Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: "Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah." Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya." Jawab mereka: "Kamilah saksi!" Ia berkata: "Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel ." Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan." Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana , di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu." Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya. Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref Ya Tuhan, Engkaulah milik pusakaku.
Ayat.
(Mzm 16: 1-2a,5,7-8,11)
1. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, "Engkaulah Tuhanku, ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku."
2. Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
3. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah di tangan kanan-Mu ada hikmat yang abadi.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (19:13-15)

"Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku."

Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga."Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yang terbesar dan terhormat di dalam Kerajaan Allah atau hidup beriman dan beragama adalah mereka yang tersuci, bukan karena bergelar sarjana, doktor atau professor. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan mengakui atau mengimani bahwa anak-anak lebih suci daripada orantuanya atau orang-orang dewasa, mengingat dan memperhatikan bahwa kita semakin tambah usia dan berpengalaman pada umumnya juga bertambah dosanya. Maka kiranya dengan mudah dapat kita mengerti bahwa di hadapan para murid sambil menunjuk anak-anak kecil Yesus bersabda: “Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga”. Maka baiklah kita senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak kecil alias mengasihi mereka dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan tubuh, dan secara konket mendidik dan mendampingi mereka agar tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Untuk itu di dalam anggaran hendaknya bidang pendidikan anak-anak memperoleh alokasi anggaran, entah uang/dana atau tenaga yang memadai. Tidak memperhatikan, mendidik dan membina anak-anak dengan baik berarti kita menyengsarakan masa depan mereka atau bahkan sebenarnya kita pelan-pelan akan sengsara dan seterusnya menderita sengsara sampai mati. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau bapak-ibu untuk sungguh mengasihi anak-anaknya selama masa balita, misalnya: para ibu menyusui anak-anaknya paling tidak selama satu tahun, syukur lebih dari satu tahun, selama masa balita anak-anak hendaknya bapak dan ibu cukup boros waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, dst.. .Salah satu bentuk mengasihi memang adalah berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih, yang dikasihi. Sekali lagi saya ingatkan pada orangtua atau suami-isteri untuk mawas diri: bukankah ketika anda dalam masa pacaran dan tunangan sungguh saling memboroskan waktu dan tenaga anda? Teruskan atau lanjutkan hal itu terhadap anak-anak anda!

· “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia” (Yos 24:14a) Beribadah kepada Tuhan dengan ikhlas dan setia hendaknya kita hayati setiap hari. Secara liturgis berarti tidak melupakan doa-doa harian, misalnya doa pagi dan malam, doa akan dan sesudah makan dst.; setiap minggu berpatisipasi dalam ibadat/misa kudus dengan khidmat. Dalam hal doa harian kiranya kita di Indnnesia sangat dibantu oleh suara ‘adzan’ dari masjid, surau atau langgar, ajakn untuk berdoa. Tenttu saja berdoa saja tidak cukup, sebagai orang yang beribadah atau beriman kepada Tuhan kita harus menghayati ibadah atau iman kita dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Iman tanpa perbuatan berarti mati, demikian kata rasul Yakobus. Keunggulan hidup beriman atau beribadah terletak dalam penghayatan bukan upacara liturgis.

Marilah kita hayati hidup dan kerja kita sebagai ibadah kepada Tuhan, dan dengan demikian rekan hidup dan bekerja adalah rekan beribadah, tempat dan sarana kerja dan hidup adalah tempat dan sarana ibadah, suasana hidup dan kerja adalah suasana ibadah. Bukankah ketika kita beribadah bersikap hormat, rendah hati dan bersababat? Maka dalam hidup dan kerja setiap hari selayaknya kita saling menghormati dan rendah hati sehingga terjadilah persahabatan sejati dalam hidup dan kerja. Jauhkan dan berantas aneka bentuk pelecehan atau penghinaan terhadap orang lain, antara lain marah. Menggerutu, mengeluh dan marah hemat saya merupakan bentuk pelecehan terhadap yang lain, yang kita marahi, dan dengan demikian melanggar hak-hak azasi dan cintakasih. Persaudaraan, persahabatan sejati kiranya menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, demikian juga kerjasama dalam bekerja atau mengusahakan sesuatu demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.



“Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah”(Mzm 16:5.7-8).



Jakarta, 15 Agustus 2009
Ignatius Sumarya, SJ