Kamis, 20 Agustus 2009 :: Pw. St. Bernardus, Abbas, PuJG

Kamis, 20 Agustus 2009
Pw. St. Bernardus, Abbas, PujG


Celakalah mereka yang memandang dirinya bijaksana, yang menganggap dirinya pintar! -- Yes 5:21

Doa Renungan

Allah Bapa, syukur kepada-Mu atas kasih karunia dan perlindungan yang Kauberikan pada kami. Syukur pula atas firman-Mu yang mengajar kami agar selalu siap menghadiri pesta-Mu. Kami sadar bahwa hidup kami di dunia ini hanyalah sementara. Bantulah kami Bapa, agar kami dapat mempersiapkan hidup kami dengan sebaik-baiknya. Ajarilah kami juga untuk mengenakan pakaian pesta yang baru dengan memperbaharui hati kami agar kelak kami Kau ikutsertakan dalam perjamuan-Mu. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Hakim-Hakim (11:29-39a)

"Yang pertama-tama keluar dari rumahku akan kupersembahkan sebagai kurban."

Pada suatu hari Yefta, panglima Israel, tiba-tiba dihinggapi Roh Tuhan. Ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah orang-orang Amon. Lalu bernazarlah Yefta kepada Tuhan, katanya, "Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan orang Amon ke dalam tanganku, maka yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku pada waktu aku pulang dengan selamat dari orang Amon akan menjadi milik Tuhan. Aku akan mempersembahkannya sebagai kurban bakaran." Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan orang Amon, dan Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit, dua puluh kota banyaknya, dan sampai ke Abel-Keramin. Dengan demikian orang Amon ditundukkan di depan orang Israel. Ketika Yefta pulang ke Mizpa, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana dan menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal. Selain dia Yefta tidak mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Demi melihat anaknya, Yefta mengoyak-ngoyakkan bajunya sambil berkata, "Ah Anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan mencelakakan daku. Aku telah membuka mulut untuk bernazar kepada Tuhan dan tidak dapat mundur lagi." Tetapi anak itu menjawab, "Bapa, jika engkau telah membuka mulut dan bernazar kepada Tuhan, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, sebab Tuhan telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni orang Amon." Lalu anak itu menyambung, "Hanya saja, izinkanlah aku melakukan satu hal ini: berilah aku waktu dua bulan, supaya aku pergi mengembara di pegunungan, dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku." Jawab Yefta, "Pergilah!" Dan ia membiarkan anaknya pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama dengan teman-temannya untuk menangisi kegadisannya di pegunungan. Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan apa yang telah dinazarkannya kepada Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan PS 850
Ref. Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.
Ayat.
(Mzm 40:5.7-8a.8b-9.10)
1. Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya kepada Tuhan, yang tidak berpihak kepada orang-orang yang angkuh, atau berpaling kepada orang-orang yang menganut kebohongan!
2. Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata, "Lihatlah Tuhan, aku datang!"
3. Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.
4. Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.

Bait Pengantar Injil PS 960
Ref. Alleluya, Alleluya, Alleluya
Ayat: Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah sabda Tuhan.

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (22:1-14)

"Undanglah setiap orang yang kalian jumpai ke pesta nikah ini"

Pada suatu ketika Yesus berbicara kepada para imam kepala dan pemuka rakyat dengan memakai perumpamaan. Ia bersabda, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu tetapi mereka tidak mau datang. Raja itu menyuruh pula hamba-hamba lain dengan pesan, 'Katakanlah kepada para undangan: Hidanganku sudah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih. Semuanya telah tersedia. Datanglah ke perjamuan nikah ini.' Tetapi para undangan itu tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap para hamba itu, menyiksa dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu. Ia lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Kemudian ia berkata kepada para hamba, 'Perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kalian jumpai di sana ke perjamuan nikah ini. Maka pergilah para hamba dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan nikah itu dengan tamu. Ketika raja masuk hendak menemui para tamu, ia melihat seorang tamu yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya, 'Hai Saudara, bagaimana Saudara masuk tanpa berpakaian pesta?' Tetapi orang itu diam saja. Maka raja lalu berkata kepada para hamba, 'Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap; di sana akan ada ratap dan kertak gigi.' Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

“Bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?”
(Hak 11:29-39a; Mat 22:1-14)


Saudara, saudari yang dicintai oleh Tuhan,

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup beragama diharapkan setia pada ajaran agama yang bersangkutan, menghayatinya dalam hidup sehari-hari sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Namun jika diperhatikan kiranya cukup banyak orang yang tidak setia menghayati ajaran agama yang terkait, dengan kata lain orang tidak layak disebut sebagai orang beragama, “tidak mengenakan pakaian pesta”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia pada ajaran agama, atau meneladan St.Bernardus, yang meskipun lemah phisiknya, bekerja keras dan dengan rendah hati memperbaiki cara hidup para anggota Lembaga Hidup bakti atau para biarawan dan biarawati. ‘Pakaian pesta’ macam apa yang diharapkan kita pakai atau kenakan? Secara liturgis antara lain kita diharapkan setia berdoa atau beribadat setiap hari, dan tentu saja kemudian menghayati atau melaksanakan isi doa tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak. Sebagai contoh , sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita diajarkan doa Bapa Kami. Dalam doa Bapa Kami ada kata-kata sebagai berikut: ” Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Marilah kita hidup saling mengampuni satu sama lain. Hendaknya tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain, sebagaimana kesalahan kita pun juga tidak pernah diingat-ingat orang lain. Mengingat kesalahan orang lain pada umumnya akan berkembang menjadi ‘membunuh orang’ tersebut atau melecehkan dan merendahkannya alias melanggar hak asasi manusia. Marilah kita dengan rendah hati saling mengampuni dan mengasihi, sebagai tanda bahwa kita sungguh ‘berpakaian pesta’ sebagai orang beragama atau beriman.



· "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” (Hak 11:36 ), demikian kata puteri Yefta, yang masih gadis, kepada Yefta, ayahnya. Yefta bernazar kepada Tuhan bahwa siapapun yang ia jumpai pertama kali akan dipersembahkan kepada Tuhan, dan ternyata yang ditemui pertama kali adalah anak gadisnya. Puteri Yefta pun tidak menolak untuk menjadi persembahan kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mendambakan pada para gadis atau remaja putri untuk berani mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Sebelum menikah hendaknya tetap perawan alias tidak mengadakan hubungan seks dengan orang lain, dan syukur anda juga tergerak untuk mempersembahkan diri sebagai suster atau birawati. Keperawanan seorang gadis kiranya merupakan sesuatu yang sangat berharga, maka hendaknya jangan dilecehkan. Tentu saja untuk itu perlu diingat:

(1) rekan-rekan remaja putri hendaknya tidak menghadirkan sedemikian rupa sehingga merangsang lelaki hidung belang untuk bertindak jahat, sedangkan

(2) rekan-rekan remaja putra ketika melihat gadis cantik hendaknya menghormatinya serta tidak melecehkan, atau lalu berpikiran jorok. Jauhkan aneka macam omongan, pikiran dan cara hidup yang jorok dan porno.

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” (Mzm 40:7-10)

Jakarta, 20 Agustus 2009

Ignatius Sumarya, SJ