Bulan Kitab Suci Nasional 2010: MEMPERKENALKAN KITAB SUCI KEPADA ANAK-ANAK SEJAK DINI

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesia sebagai Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara, maupun di kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca Kitab Suci, pendalaman Kitab Suci di lingkungan, pameran buku dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk Kitab Suci, dan Kitab Suci ditempatkan di tempat yang istimewa.

Sejak kapan tradisi Bulan Kitab Suci Nasional ini berawal? Untuk apa? Untuk mengetahui latar belakang diadakannya BKSN ini kita perlu melihat kembali Konsili Vatikan II. Salah satu dokumen yang dihasilkan oleh Konsili Vatikan II yang berbicara mengenai Kitab Suci adalah Dei Verbum (DV). Dalam Dei Verbum, para bapa Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat beriman untuk tekun membaca Kitab Suci.

Bagaimana jalan masuk itu dibuka? Pertama-tama, dengan menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat, dalam hal ini Bahasa Indonesia. Usaha ini sebenarnya telah dimulai sebelum Konsili Vatikan II dan Gereja Katolik telah selesai menerjemahkan seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Namun, Konsili Vatikan II menganjurkan agar diusahakan terjemahan Kitab Suci ekumenis, yakni terjemahan bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mengikuti anjuran Konsili Vatikan II ini, Gereja Katolik Indonesia mulai “meninggalkan” terjemahan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang merupakan hasil kerja keras para ahli Katolik, dan memulai kerja sama dengan Lembaga Alkitab Indonesia.

Dengan demikian, mulailah pemakaian Kitab Suci terjemahan bersama, yang merupakan terjemahan resmi yang diakui baik oleh Gereja Katolik maupun Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang membedakan hanyalah Kitab-kitab Deuterokanonika yang diakui termasuk dalam Kitab Suci oleh Gereja Katolik namun tidak diakui oleh Gereja-gereja Protestan.

Kitab Suci telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat Katolik Indonesia belum mengenalnya, dan belum mulai membacanya. Mengingat hal itu, Lembaga Biblika Indonesia (LBI), yang merupakan Lembaga dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca Kitab Suci. Hal ini dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara nasional. LBI mengusulkan dan mendorong agar keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar Kitab Suci pada Hari Minggu tertentu.

LBI telah dua kali mencobanya. Pada tahun 1975 dalam rangka menyambut terbitnya Alkitab lengkap ekumenis, LBI menyarankan agar setiap paroki mengadakan Misa Syukur pada bulan Agustus. Bahan-bahan liturgi dan saran-saran kegiatan yang dapat dilakukan beberapa bulan sebelumnya dikirimkan ke keuskupan-keuskupan. Percobaan kedua dilakukan pada tahun 1976. Akhir Mei 1976 dikirimkan bahan-bahan langsung kepada pastor-pastor paroki untuk Hari Minggu Kitab Suci tanggal 24/25 Juli 1976, ditambah lampiran contoh pendalaman, leaflet, tawaran bahan diskusi, dan lain-lain.

Walaupun dua kali percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti yang diharapkan, LBI toh meyakini bahwa Hari Minggu Kitab Suci harus diteruskan dan diusahakan, dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci juga diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilahkan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sebagai sumber dari kehidupan iman mereka.
  2. Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab suci di rumahnya. Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman kepercayaannya sendiri.

Dalam sidang MAWI (Majelis Agung Waligereja Indonesia; sekarang dikenal dengan KWI) tahun 1977, para uskup menetapkan agar satu hari Minggu tertentu dalam tahun gerejani ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari Minggu yang dimaksudkan adalah Hari Minggu Pertama September. Dalam perkembangan selanjutnya keinginan umat untuk membaca dan mendalami Kitab Suci semakin berkembang. Satu Minggu dirasa tidak cukup lagi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci. Maka, kegiatan-kegiatan ini berlangsung sepanjang Bulan September dan bulan ke-9 ini sampai sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional.

Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2010

Tujuan yang hendak dicapai dalam pelaksanaan Bulan Kitab Suci Nasional adalah agar umat semakin mengenal, mencintai Kitab Suci, dan akhirnya hidup mereka ada dalam tuntunan Sabda Tuhan.

Pada tahun 2010 ini, tema yang hendak kita gumuli bersama adalah: MEMPERKENALKAN KITAB SUCI KEPADA ANAK-ANAK SEJAK DINI. Tema ini mengajak kita (khususnya orang tua) untuk memperkenalkan Kitab Suci kepada anak-anaknya sejak mereka masih usia dini.

Tahun 2010 adalah tahun penyadaran dan pemotivasian untuk gerakan bersama peduli anak dalam bina iman sejak usia dini. Karena itu BKSN 2010 ini menjadi waktu yang tepat untuk menumbuhkan perhatian dan menyatukan tekad kita bersama untuk peduli pada pembinaan iman anak.

Kalaupun kita (orangtua) tak akrab dengan Kitab Suci, jarang membacanya, janganlah hal itu kita wariskan kepada anak-anak kita. Biarlah “kemalasan” atau “keengganan” itu berhenti pada generasi kita. Mari bersama umat Katolik se-Tanah Air kita berubah dan membekali anak-anak kita dengan Sabda Tuhan. Dengan memperkenalkan Kitab Suci kepada anak sejak dini, kita telah mewariskan harta yang tak akan habis dimakan ngengat kepada generasi penerus Gereja di masa yang akan datang.


Pokok-pokok dalam Pertemuan I – IV adalah:



1. Awal Perkenalan dengan Allah (Ul 6: 4-25)
Tujuan: Memperkenalkan Allah kepada anak-anak sejak anak-anak masih dalam usia dini supaya mereka mampu menangkap/merasakan kasih Allah kepada keluarganya dan dirinya sendiri, dan dengan demikian mereka dapat mengasihi Allah, mengikuti perintah-perintah-Nya, dan hidup takut akan Dia.

2. Kenal Alkitab Sejak Kecil (2 Tim 3: 10-17)
Tujuan: Memperkenalkan Firman Tuhan kepada anak-anak supaya mereka mengetahui, memahami, dan sudah terbiasa melakukan ajaranajaran Tuhan sejak mereka masih kecil. Bahan dari pertemuan ke II adalah dari Surat Rasul Paulus kepada Timotius , 2 Tim 3 : 10 – 17. Judul perikop adalah Iman bertumbuh dalam penganiayaan dan pembacaan Kitab Suci.

Timotius adalah rekan sekerja Paulus dalam pewartaannya di Asia, Yunani dan Roma. Dalam suratnya tersebut Paulus meneguhkan timotius dan juga kita yang membacanya, bahwa dengan membaca Kitab Suci sejak kecil, akan dapat memberikan pegangan dan kekuatan dalam menghadapi penderitaan dalam karya pelayanan dan pewartaan , dan Paulus mengingatkan bahwa Kitab Suci beguna untuk memperbaiki kelakuan dan mengajar dalam kebenaran (bdk 2 Tim 3:16)

3. Mendidik Anak Menjadi Taat (Ef 6: 1-4)
Tujuan: Mendidik anak-anak untuk taat kepada orangtua, pertama-tama bukan dengan cara-cara “kuasa” dan meremehkan anak-anak, tetapi dengan membangun kepribadian mereka, mengindahkan hak mereka, dan memberi teladan nyata kepada mereka. Dalam pertemuan ini kita diajak untuk menyadari bahwa taat kepada orangtua juga berarti taat kepada Kristus, Orangtua untuk selalu mengajarkan kepada anak-anaknya nasihat dan ajaran Tuhan ( dalam KS ). Seluruh dari Perikop ini mengutamakan Kasih sebagai suatu ikatan yang aktualisasinya adalah sikap saling menghormati, anak kepada orang tuanya, Bapak-bapak kepada anaknya, hamba kepada tuannya dan juga sebaliknya.

4. Sayang Anak seperti Yesus (Mrk 10: 13-16)
Tujuan: Perlunya menyayangi anak dengan tindakan nyata dan terusmenerus, sehingga anak-anak mengalami rasa aman, dihargai, diterima, dan dikasihi; anak-anak yang bertumbuh dalam lingkungan “kasih” akan menjadi anak-anak yang “mekar” di dalam “kasih” dan mampu mengasihi
Tuhan dan sesama. Berbicara tentang anak-anak kita akan memiliki beberapa pandangan, anak-anak adalah Pribadi yang sangat tergantung kepada orang lain, polos, jujur, rendah hati, taat, selalu nampak ceria dll. Sikap – sikap seperti anak-anak itulah yang dikehendaki Allah kepada kita.

Hal itu kalau kita baca dalam perikop-perikop selanjutnya akan sangat kontradiktif dengan sikap seorang dewasa yang terikat pada hartanya ( bdk Mrk 10:17-27), yang hitung-hitungan dalam melayani Tuhan ( bdk Mrk 10:28-31), yang dilanda kecemasan walau bersama Yesus (bdk Mrk 10 : 32-34), yang mau mendapatkan tempat utama setelah bersusah payah mengikuti Yesus (bdk Mrk 10 : 35-45).

Semoga kita semakin mendalami isi Kitab Suci dan tekun melaksanakannya.


* Untuk Keuskupan Agung Semarang tersedia tema: Pendalaman Kitab Mazmur (Mzm 8, 23, 51, 84)

Pendalaman Mazmur 23 TUHAN adalah gembalaku (Bulan Kitab Suci 2010 Keuskupan Agung Semarang)

Mazmur 23


Mzm 23:1
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Mzm 23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Mzm 23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Ayat 1-3
  • Tuhan diibaratkan seperti Gembala, yang membawa ke rumput hijau dan air yang tenang.
  • Itulah penyelenggaraan Tuhan: tidak kekurangan makan-minum dan keamanan hidup (dimensi jasmani-rohani)
  • Gembala yang baik tahu kemana menuntun domba-dombanya, agar selamat; begitulah Tuhan.

Mzm 23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Ayat 4
  • Dengan perlambangan, mengungkapkan Tuhan Penyelamat, di kala peziarahan hidup terasa sulit. Tongkat untuk menuntun, Gada untuk melindungi.
  • Peziarahan hidup umat penuh dinamika: senang dan susah. Namun Tuhan senantiasa hadir.


Mzm 23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

Ayat 5
  • Tuhan menghidangkan jamuan, di hadapan musuh-musuh. Mau menegaskan bahwa meski ada bahaya mengancam, Tuhan menawarkan kedamaian dan ketenangan.

Mzm 23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Ayat 6
  • Kebaikan Tuhan tidak pernah berhenti, kesetiaan-Nya tak berkesudahan. Itulah yang menjadikan pemazmur hendak diam di rumah Tuhan selamanya.
Nyanyian Mazmur 23 lihat PS 646, 849, 656
Sumber: Panduan Bulan Kitab Suci 2010 Keuskupan Agung Semarang.

Pendalaman Mazmur 8 Betapa agung nama-Mu, ya Tuhan (Bulan Kitab Suci 2010 Keuskupan Agung Semarang)

Mazmur 8

Mazmur Tanggapan do = d, 2/4, PS 832

Ref. Betapa megah nama-Mu, Tuhan, di seluruh bumi.
Ayat. (Mzm 8:4-5.6-7.8-9; R: 2a)
1. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kaupasang. Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkan-nya?
2. Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah, Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.
3. Domba, sapi, dan ternak semuanya, hewan di padang dan margasatwa; burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.

(lihat Mazmur Tanggapan Hari Raya Tritunggal Mahakudus)


Mzm 8:1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud. (8-2) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

Ayat 2:
  • Tuhan > “Tuhan kami” (Tuhan yang satu dan sama, milik semua orang; dipuji dan dimuliakan di seluruh bumi; keagungan-Nya mengatasi langit.
  • Dengan memandang langit (kebesarannya, keluasannya, ketinggiannya), keagungan Tuhan tak terselami.
  • Kesadaran yang muncul: rasa KAGUM akan Allah dan karya-Nya, sekaligus kekecilan manusia.
Mzm 8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Ayat 3:
  1. Pemazmur mengagumi segala makhluk ciptaan di bumi, termasuk anak-anak dan bayi. Dalam diri mereka, Tuhan juga menaruh kekuatan dan kedasyatan-Nya. Cara Allah dipuji, dengan melihat kedasyarat alam, dan kelembutan anak-anak dan bayi, bagaimana ceria, damainya mereka.
  2. Bagi anak-anak, Tuhan sungguh luarrr biasa! Kerajaan Allah ada pada mereka (Mat 19:14; Mrk 10:14; Luk 18:16)
  3. Melalui mulut mereka, kekuatan Tuhan membungkam para musuh, yaitu mereka yang tidak mengakui keagungan Tuhan, bahwa alam bukan bukti Tuhan ada. Kekuatan Tuhan ditampakkan melalui kelembutan bayi dan anak-anak (2Kor 12:9; 1Kor 1:27-29) seperti ungkapan Paulus.


Mzm 8:3 (8-4) Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
Mzm 8:4 (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Mzm 8:5 (8-6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.


Ayat 4-6 :

  1. Pemazmur melihat ke angkasa lagi, dan sadar siapakah manusia, diantara ciptaan Tuhan yang lain. Mengapa perhatian Tuhan lebih untuk manusia: diciptakan hampir sama dengan Allah (Kej 1:26).
  2. Hampir sama dengan Allah: diberi kuasa untuk menciptakan, memelihara dan memperbaiki dengan akal budinya.
  3. Itulah mahkota kemuliaan yang diberikan Allah bagi manusia.


Mzm 8:6 (8-7) Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:
Mzm 8:7 (8-8) kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;
Mzm 8:8 (8-9) burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

Ayat 7-9
  1. Tuhan memberikan kuasa atas ciptaan Tuhan yang lain. Disebutkan dalam mazmur untuk “mewakili” semua ciptaan lain, yang menjadi tanggungjawab manusia.

Mzm 8:9 (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

Ayat 10
  1. Pemazmur mengajak kembali untuk memuji Tuhan.

Sumber: Panduan Bulan Kitab Suci 2010 Keuskupan Agung Semarang.


Pengantar Singkat Bulan Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang 2010)

DIMANA MAZMUR

- Mazmur termasuk kelompok kitab kebijaksanaan, sesudah ayub sebelum amsal
- Mazmur terdiri dari 150 syair keagamaan, mulanya dipakai dalam upacara keagamaan Yahudi.
- Mazmur, kaya ungkapan hati umat dalam situasinya.


NAMA MAZMUR

* Bahasa Ibrani: Mizmor, yaitu nyanyian yang diiringi musik berdawai.
* Dalam kitab suci Yahudi, kitab mazmur disebut Sefer Tehillim (kitab puji-pujian). Akar kata “hll” memuji.
* Bahasa Inggris: the book of Psalms (Yun: psalmos – puji-pujian).


Mazmur: Doa yang dinyanyikan.

PENGARANG MAZMUR

* Tradisi Yahudi dan Kristiani: pengarang adalah Daud. Padahal hanya 73 mazmur yang menyebut Daud pada judulnya; 13 mazmur mengkaitkan dengan peristiwa yang dialami Daud.
* Daud hanya salah satu pengarangnya saja. Masih ada yang lain: Asaf, bani Korah, Heman dan Etan. Misalnya, mzm 137 ditulis setelah Daud.

Kapan Mazmur ditulis?
* Tidak mudah menentukan saat tepatnya ditulis.
* Para ahli kitab suci cenderung membagi mazmur dalam periode sebelum dan sesudah pembuangan di Babilon.
* Yang jelas, sudah ditulis pada jaman Daud dan berakhir sesudah jaman pembuangan (300 sebelum Masehi)


Mazmur sebagai Buku Doa
Memiliki kekhasan:
- ada pemaparan situasi dan kondisi pemazmur yang sekaligus jadi alasannya berdoa.
- ditulis dalam bentuk puisi, mengikuti pola puisi bangsa Israel pada waktu itu: pola paralel, masing-masing ayat terdiri dua/lebih klausa yang berkaitan.
- keindahan itu, juga lewat kiasan, simbol, lambang seperti Tuhan digambarkan sebagai gembala, gunung batu dll
- sebagai doa, merupakan ungkapan iman: dalam situasi apapun Tuhan tetap hadir dan menolong.
- tema mazmur sangat variatif, yang dominan adalah permohonan, pujian dan kepercayaan.


Pembagian Mazmur


- Ada 5 kumpulan/ jilid: masing-masing jilid ditutup dengan semacam doksologi yaitu pujian kepada Allah (Mzm 41:13; 72:18-19; 89:52; 106:48; 150).
- Misalnya dalam Mzm 41:13 disebutkan: ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Amin.”



JILID SATU

Mzm 3 – 41
Jilid pertama atau buku pertama kitab Mazmur hampir seluruhnya dikaitkan dengan Daud. Mayoritas dari mazmur-mazmur pada bagian pertama ini adalah mazmur-mazmur individual.

Mzm 1 – 2 adalah pendahuluan kitab mazmur.


JILID DUA

Mzm 42 – 72

Jilid kedua berisi mazmur-mazmur yang dihubungkan dengan bani Korah, yaitu kelompok pemusik dan penyanyi liturgi (bdk. 2Taw 20:19). Mazmur bani Korah ini terdapat juga pada mazmur 84-85; 87-88.

JILID TIGA


Mzm 73 – 89

- Jilid ketiga, sebagian besar merupakan keluhan dan ratapan. Sejumlah mazmur dikaitkan dengan ASAF (73-83).
- Asaf adalah pemusik dari suku Lewi yang ditugaskan Daud memimpin nyanyian ketika tabut dibawa masuk Yerusalem. (1Taw 6:39; 15:17-19; 16:4-6). Dan hadir juga saat peresmian kenisah buatan Salomo (2Taw 5:12)


JILID EMPAT


Mzm 90 – 106

Jilid keempat, sebagian besar bertema pujian kepada Yahwe atau Allah.

JILID LIMA


Mzm 107 – 150


- Mazmur Daud pada awal (108-110) dan menjelang akhir (138-145)
- Mazmur 119 khusus, karena disusun menurut abjad Ibrani, yang disebut mazmur akrostik.
- Mazmur 120-134, koleksi mazmur ziarah.
- Mazmur 140-143, rangkaian terakhir mazmur keluhan individual.
- Jilid lima ini diakhiri dengan lima rangkaian pujian kepada Allah dan haleluia

JENIS MAZMUR

Berdasar kesamaan suasana, sikap batin pemazmur, susunan, nada, pemilihan kata, perasaan, gagasan dan tema.

1. Mazmur Pujian
- Digunakan dalam liturgi.
- Isinya adalah pujian kepada Allah dan segala karya-Nya.
Misalnya: Mzm 8; 19; 29; 33; 65; 66:1-12; 100; 103; 104; 111; 113; 114; 117; 134; 135; 136; 145; 146; 147; 148; 149; 150.
Tuhan Allah Israel patut dipuji karena keagungan-Nya dan kehebatan karya-Nya.

2. Mazmur Sion/Ziarah
- Nyanyian Sion mengagungkan Allah karena pilihan dan perlindungan-Nya atas Sion (Yerusalem) – Kota Allah (Mzm 46:5; 48:2, 9; 87:3). ”kota Tuhan semesta alam” (Mzm 48:9; bdk 84:2), ”kota Raja Besar” (Mzm 48:3) dan ”kediaman Allah yang Mahatinggi” (Mzm 46:5).
- Kehadiran Allah di dalam kota Sion memberi jaminan perlindungan dari kesusahan, bencana alam, dan serangan musuh (Mzm 46; 48; 76). Ke sanalah semua suku Israel berziarah untuk menyanyikan pujian kepada Tuhan (Mzm 84:6-7; 122).


3. Mazmur Permohonan
- Sepertiga mazmur merupakan permohonan/ keluhan dan ratapan, meski bukanlah demikian sebetulnya.
- Latar belakangnya: PENDERITAAN.
- Ada dua jenis: permohonan INDIVIDUAL (Mzm 5, 6, 7, 13, 17, 22, 25, 26, 28, 31, 35, 38, 39, 42-43; 51; 55; 57; 59; 61; 63; 64; 70 (=40:14-18); 71; 86; 88; 102; 109; 120; 130; 140; 141; 142; 143) ; permohonan KOLEKTIF/jemaah (Mzm 12; 44; 58; 60; 74; 79; 80; 83; 85; 94; 123; 137).


4. Mazmur Kepercayaan
- Dibagi dua jenis: doa kepercayaan individual (Mzm 3; 4; 11; 16; 23; 62; 121; 131) dan doa kepercayaan kolektif (115; 125; 129).
- Doa kepercayaan adalah ungkapan iman akan Tuhan yang diwarnai dengan ketenangan hati, kedamaian jiwa, kegembiraan dan kekuatan, meskipun pemazmur pada waktu itu sedang menghadapi kesukaran, tantangan dan penderitaan hidup.
- Doa kepercayaan membawa kita ke nilai-nilai hidup batin yang tinggi, yang menggemakan pujian akan Tuhan di tengah pergulatan hidup manusia

5. Mazmur Ucapan Syukur
Ucapan syukur merupakan doa perseorangan/individual (Mzm. 30; 32; 40:2-12; 66:13-20; 92; 116; 138) dan kolektif (67; 107:1-32; 118; 124).
Pemazmur merasa bahwa doa-doanya telah dikabulkan oleh Tuhan sehingga dia layak bersyukur. Di dalam doa syukur kolektif, ada undangan untuk bersyukur dan memuji Tuhan dan alasan untuk memuji Tuhan.
Tempat doa syukur yaitu Bait Allah, doa syukur tidak pernah cuma dibatin tetapi ”di depan seluruh umat-Nya”.


6. Mazmur Raja
- Tersebar dalam kitab mazmur.
- Ketika kitab mazmur mengalami peredaksian akhir, Israel sudah tidak punya raja.
- Meski demikian, kitab mazmur rajawi tetap digunakan untuk menumbuhkan harapan akan “raja ideal”, yaitu “Mesias”.
- Mzm 2, 18, 20, 21, 45, 72, 89, 101, 110, 132, 144:1-11.
- RAJA adalah orang yang diurapi Tuhan untuk memimpin umat-Nya. Sebutan umum untuk raja “Yang diurapi Tuhan” bdk Mzm 132:17; 84:10; 89:39.52; 132;10; 2:2; 18:51; 20:7; 28:8.

7. Mazmur Kebijaksanaan
Ada sejumlah mazmur yang tema, gaya dan isinya seperti kebijaksanaan, berupa nasihat larangan dan perintah (bdk.37; 34:14-15; 49:17-18), sapaan “anak-anak” (Mzm 34:12; 49:2-5); seruan “dengarkanlah aku” (Mzm 34:12; 49:2-5); seruan atau salam yang mengandung ajakan (Mzm 1:1; 34:9; 112:1; 5; 119:1-2; 127:5; 128:1);
Di samping itu terdapat pula istilah-istilah khas kebijaksanaan seperti ”hikmat” (Mzm 49:4), ”amsal”, ”peribahasa” (Mzm 49:5) dan ”takut akan Tuhan” (Mzm 19:8-15; 34; 37; 112; 119; 127; 128).


8. Mazmur Sejarah
Menceritakan kembali sejarah keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan bagi umat-Nya, mulai dengan panggilan para Bapa bangsa (Mzm 105), pengungsian ke Mesir (Mzm 105), tindakan Tuhan di tanah Mesir, perjalanan melalui padang gurun sampai ke tanah perjanjian (Mzm 78; 105; 106) dan bahkan sampai ke zaman para hakim (Mzm 78; 106) dan pemilihan Daud serta Sion (Mzm 18).
Tujuannya: untuk mengajar umat.


9. Mazmur Kenabian
- Memberitakan nubuat dan hukuman atas Israel oleh para nabi.
- Isinya kecaman : terhadap para penindas (Mzm 14:1-3 = 53:2-4; 52:3-6; 82:2); terhadap ibadat yang keliru (Mzm 50:7-13); kesalehan yang palsu (Mzm 50:16-21) dan kedegilan hati Israel untuk mendengarkan suara Tuhan (Mzm 81:12).
- Hukuman : (Mzm 14:5-6 = 53:6; 52:7-9; 75:9; 82:6-7) atau suatu seruan dan panggilan untuk mengubah sikap dan kembali kepada Tuhan (Mzm 50:14-15; 22; 75:5-8; 82:3-4).


10. Mazmur yang menggambarkan Liturgi Israel
- Mazmur 15 & 24, keduanya memuat unsur tanya jawab. Gambaran itu, hanya liturgi pembuka saja.
- Rupanya, ada semacam tanya jawab yang dilakukan oleh imam kepada umat Israel sebelum memasuki bait suci (bdk. Hag 2:10-15; Za 7:1-3)


11. Mazmur yang sulit dikelompokkan
- Kesulitan ini dapat disebabkan karena tidak jelasnya susunan dan hubungan unsur-unsurnya tidak jelas (Mzm 9-10), serta peralihan dan perjalinan bentuk, tema atau persoalannya yang mengandung berbagai unsur (Mzm 36:41; 68; 77; 90; 91; 108; 139).


MAZMUR SEBAGAI PUISI

Selain sebagai doa yang dinyanyikan, mazmur juga puisi doa.

A. Bentuk Paralelisme

- Puisi ibrani umumnya lebih dari satu klausa dan beberapa baris (bikolase/trikolase). Dalam alkitab, baris kedua sedikit dicetak lebih ke kanan.
- Itulah bentuk paralelisme, yang juga merupakan ciri khas puisi bangsa Semit.
- Ada empat paralelisme: paralelisme sinonim (2:3); paralelisme antitetis (20:9); paralelisme sintetis (2:6); paralelisme perbandingan (42:2).

B. Bahasa Perlambangan
- Untuk mengungkapan realitas yang kerapkali tidak mudah.
- Melalui penggambaran, membantu pembaca untuk menangkap realitas., juga merangsang untuk menafsirkan maksud penulis.

PENGALAMAN & PAHAM IMAN DALAM MAZMUR

- Pemazmur dalam doanya, berbicara kepada Allah dan berbicara tentang Allah.
Segala pergulatan hidupnya tidak lepas dari mata Allah. Allah tidak hanya tahu dan hadir, tetapi juga bertindak sebagai Penyelamat.
- Kehadiran Allah : karya penciptaan-Nya, karya penyelenggaraan-Nya, dan karya penyelamatan-Nya.

MENAFSIRKAN MAZMUR (1)


- Baca dengan teliti untuk menentukan jenis mazmur dan tema pokoknya.
- Bagaimana pemazmur menguraikan tema pokok tersebut dalam doa. Biasanya, doa mazmur terdiri tiga bagian: pembukaan, isi pokok, penutup. Dalam isi pokok terdapat alasan dan latar belakang dari doa.
- Tafsirkan ayat-ayat dan beberapa ungkapan yang digunakan pemazmur. Bagaimana situasi pemazmur & apa alasannya berdoa.

MENAFSIRKAN MAZMUR (2)

- Temukan gambaran Tuhan dan manusia dalam mazmur tersebut.
- Temukan pesan iman yang hendak disampaikan.
- Relevansinya untuk pembaca sekarang.





Minggu, 05 September 2010 Hari Minggu Biasa XXIII, Hari Minggu Kitab Suci

Minggu, 05 September 2010
Hari Minggu Biasa XXIII, Hari Minggu Kitab Suci

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:25-33)

Doa Renungan

Allah Bapa sumber kebijaksanaan, kami bersyukur atas kebijaksanaan yang nampak dalam diri Yesus Putera-Mu. Buatlah kami siap sedia melakukan perintah-Nya serta mengikuti Dia, agar dapat menikmati kebahagiaan. Dialah Tuhan pengantara kami. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kebijaksanaan (9:13-18)

"Siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?

Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan? Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina, dan pertimbangan kami ini tidak tetap. Sebab jiwa dibebani oleh badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkaan budi yang banyak berpikir. Sukar kami menerka apa yang ada di bumi, dan dengan susah payah kami menemukan apa yang ada di tangan, tapi siapa gerangan telah menyelami apa yang ada di surga? Siapa gerangan dapat mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kauutus? Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu; maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = c, 2/4, PS 847
Ref. Tuhan penjaga dan benteng perkasa dalam lindungan-Nya aman sentosa.
Ayat. (Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; R:1)
1. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.
2. Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.
3. Ajarilah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
4. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita sepanjang hayat. Kiranya kemurahan Tuhan melimpah atas kami! Teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami teguhkanlah!

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Filemon (9b-10.12-17)

"Terimalah dia, bukan sebagai hamba, melainkan sebagai saudara terkasih."

Saudaraku yang terkasih, aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, dan kini dipenjarakan karena Kristus Yesus, mengajukan permintaan kepadamu mengenai anak yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus, Dia, buah hatiku ini, kusuruh kembali kepadamu. Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan demi Injil. Tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu supaya yang baik itu kaulakukan bukan karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari itu, yaitu sebagai saudara terkasih. Bagiku ia sudah saudara, apalagi bagimu, baik secara manusiawi maupun di dalam Tuhan. Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 119:135), 2/4
Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (14:25-33)

"Barangsiapa tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku."

Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

PIKULLAH SALIBMU, DAN IKUTILAH AKU

Bapak/ibu yang terkasih,
Ciri-ciri hidup orang bijak dan cerdik antara lain sebagai berikut:
•Apabila mau membangun rumah/menara/suatu proyek, ia akan duduk mempertimbangkan dan merencanakan lebih dahulu, apakah biaya yang ada akan mencukupi atau tidak, sampai bangunan itu selesai.
•Apabila ingin memperoleh hasil yang maksimal dalam hidup, pertimbangkanlah masak-masak pekerjaan apa yang dipilih dan dikerjakan?
•Apabila ingin membangun keluarga yang baik dan bahagia. Sudah tepatkah pilihan calon pasanganku. Sungguh aku saling mencintai. Bisakah dia, aku ajak kerjasama dalam membangun dan melayani bahtera perkawinanku. Benarkah kami sudah siap membangun keluarga bahagia, yang mau tidak mau harus ditunjang oleh aset hidup biaya: sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan, untuk rumah tanggaku?
•Sebagai orang beriman Katolik, siapkah aku, komitkah aku akan sabda Yesus: Pikullah salib hidupmu, dan ikutilah Aku!”. Inilah tawaran Yesus yang ditawarkan dalam sabda-Nya pada hari Minggu ini.

Bapak/Ibu yang terkasih,
Ternyata Yesus juga menekankan pentingnya pertimbangan dan perencanaan hidup, khususnya bila ingin menjadi pengikut-Nya. Sebelum mengambil keputusan mengikuti Dia, seseorang harus mempunyai pertimbangan dan perencanaan yang matang. Sebab hidup bersama Yesus penuh resiko dan tantangan. Karena itu Dia bersabda: “Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku!” (Luk 14:27). Siap mengikuti Yesus, sama dengan siap membangun “komitment” seumur hidup: “Hidup hanya untuk Yesus dan selalu bersama Yesus. Bahkan siap untuk meninggalkan keluarga dan segala miliknya” (bdk. Luk 14:26).

Tuntutan Yesus dalam berita Injil hari Minggu ini, memang berat, riskan dan penuh tantangan. Semua itu tidak diwartakan oleh Yesus, tetapi juga dihayati dalam hidup-Nya. Contoh: Yesus harus melewati sengsara dan kematian-Nya yang begitu berat sebelum kebangkitan-Nya. Dia harus memikul salib sampai Golgota sebelum menikmati kemuliaan-Nya. Oleh karena itu untuk mengikuti Dia dibutuhkan keberanian dan iman yang tangguh, supaya siap untuk memikul salib kehidupan setiap hari. (Contoh, salib kehidupan setiap hari: ”tidak terduga temen karibku “pinjam tangan” untuk menyantet saya. Suamiku, yang dulu alim, sopan, sayang...kini berubah sikap dan perilaku...KDRT menimpa diriku...itulah salib kehidupan dll).

Sebagai murid/pengikut Yesus, kita diminta belajar terus-menerus, berdoa dan membaca firman-Nya setiap hari (lebih-lebih bulan September – Bulan Kitab Suci). Supaya kita tabah dan tangguh menghadapi dan memikul penderitaan dan salib kehidupan kita, dan bukan hanya menghindarinya. Bersama Yesus dan Bunda Maria, kita harus percaya bahwa salib-penderitaan yang kita alami adalah jalan untuk bangkit bersama Dia.

St. Paulus berbagi pengalaman iman-nya kepada kita: (“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18).

Bapak/Ibu yang terkasih,
Mengikuti Yesus sebagai murid-murid-Nya memang berat, karena harus berani menerima kenyataan hidup kita yang pahit, seperti Yesus telah menderita. Semua itu demi keselamatan kita. Maka kalau kita mengalami penderitaan, terimalah sebagai salib kehidupan yang pantas kita persembahkan kepada Tuhan, demi keselamatan dan utuhnya keluarga atau biara di mana saya terpanggil hidup di dalamnya. Tetapi kalau kita percaya kepada Yesus dan Bunda Maria sebagai Penolong kita. Yakinlah, kita bahagia! Dengan beban-beban kehidupan seperti ini, kita sekaligus diutus sebagai garam dunia.

Maka bagi para Calon Baptis Dewasa, pertimbangkanlah baik-baik, sebelum Anda mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus. Tetapi bagi Anda yang sudah dibaptis, jangan ingkar diri dan tinggalkan Yesus. “Setialah memikul salib kehidupan Anda, kendati lemah!”. Yesus, satu-satunya Tuhan dan Kekuatan kita. Telah terbukti bahwa Dia Tuhan dalam Salib-Nya. “Sungguh Ia ini adalah Anak Allah!” (Mat 27:54).

Tuhan memberkati kita.

Pastor St. Endrokaryanto, SCJ