Minggu, 19 September 2010 Hari Minggu Biasa XXV

Minggu, 19 September 2010
Hari Minggu Biasa XXV

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar.” (Luk 6:10)

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, bantulah kami hari ini untuk melihat Putera-Mu yang hadir secara nyata di dalam hidup kami. Berilah kami hati yang tidak mendua dan senantiasa terarah kepada-Mu. Tuhan, kami mendambakan hati yang dapat melihat dan merasakan kehadiran-Mu. Semoga kami hari ini mampu memberikan hati kami seutuhnya untuk-Mu dan tidak terbagi dengan kejahatan. Oleh sabda Putera-Mu iman kami diteguhkan, harapan dan cinta kami dikuatkan oleh-Nya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Amo (8:4-7)

"Peringatan terhadap orang yang membeli orang papa karena uang."

Dengarkanlah ini, hai kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini, dan yang berpikir, "Kapan pesta bulan-bulan berlalu, supaya kita boleh menjual gandum, kapan hari Sabat berlalu, supaya kita boleh berdagang terigu, kita akan memperkecil takaran, menaikkan harga, dan menipu dengan neraca palsu; kita akan membeli orang papa karena uang, dan membeli orang miskin karena sepasang kasut; kita akan menjual terigu tua." Beginilah Tuhan telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823.
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 131:1-2.4-6.7-8;R: 1a.7b)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti Tuhan Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
3. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama para bangsawan, bersama dengan para bangsawan bangsanya.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 2:1-8)

"Panjatkanlah permohonan untuk semua orang. Itulah yang berkenan kepada Allah, yang menghendaki agar semua orang diselamatkan."

Saudaraku yang terkasih, pertama-tama aku menasihatkan: Panjatkanlah permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah. Penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus. Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang: suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, dan aku tidak berdusta! Aku ditetapkan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin, agar di mana pun kaum laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952.
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat (2Kor 8:9)
Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (16:10-13)

"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Dan jika kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Rekan-rekan yang budiman!
Perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur dalam Luk 16:1-8a dilanjutkan dengan amatan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ayat 8b-9) dan dengan pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ayat 10-12). Petikan yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXV tahun C ini berakhir dengan penegasan bahwa tak mungkin mengabdi dua tuan (ayat 13). Secara umum dapat dikatakan petikan ini berisi ajakan untuk menemukan jalan lurus dalam liku-liku kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, ada ajakan bagi orang beriman agar juga berani belajar dari kenyataan dalam kehidupan yang acap kali terasa berlawanan dengan cara hidup orang baik-baik.

MENGABDI DUA TUAN, TAK MUNGKIN!

Marilah kita mulai dengan akhir petikan itu, yaitu ayat 13. Di situ ditegaskan bahwa tak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Alasannya, cepat atau lambat akhirnya orang akan memihak kepada yang satu dan meninggalkan yang lain. Tak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon, maksudnya uang, harta, kedudukan...semua yang serba duniawi. Ini pernyataan atau peringatan? Bentuknya memang pernyataan. Tapi dapat pula dimengerti sebagai peringatan agar murid Yesus tidak berhati mendua. Memang dalam hal apapun sikap mendua tidak baik. Namun ini kan bukan barang baru. Sama dengan peringatan agar melepaskan "orang tua, sanak saudara, diri sendiri, milik" agar menjadi murid yang sejati seperti terungkap dalam Luk 14:25-33. Namun bukan barang baru pula bila dalam prakteknya komitmen utuh seperti itu tidak mudah. Arahnya memang jelas, tapi dalam pelaksanaannya kerap orang gagal mengabdikan diri dengan sepenuh hati. Lalu untuk apa mengutik-utik perkara yang tak bisa dielakkan ini? Kenyataan hidup sering menampilkan wajah yang berbeda daripada yang diidealkan begitu saja. Apakah Injil mau menyederhanakan kehidupan? Bila demikian, yang kita dengar bukan Warta Gembira melainkan serangkai omongan saleh tapi basi dan tidak banyak membantu orang semakin mengenali liku-liku kehidupan yang nyata. Begitukah? Untuk menjawabnya baiklah diperiksa perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Petikan ini juga berguna untuk lebih memahami tuntutan menjadi murid sejati dalam Luk 14:25-33 tadi.

Di manakah ketidakjujuran bendahara dalam perumpamaan ini? Pada perbuatan memotong hutang yang diceritakan dalam ayat 6-7 atau karena telah "menghambur-hamburkan" milik tuannya seperti disebut dalam ayat 1? Dengan kata lain, karena kolusi, kongkalikong dengan langganan dan merugikan pemilik perusahaan atau pada perbuatan korupsi dan memboroskan uang perusahaan bagi keperluan sendiri? Lalu kenapa ia dipuji?

APA MASALAHNYA?

Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul. Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain. Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Malang baginya, perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu pemilik meminta pertanggungjawaban. Bendahara itu menyadari, kini ia tak bisa enak-enak saja. Ia akan diperkarakan. Memang ia tidak langsung dipecat. Ia baru diminta memberi laporan. Di sinilah titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Terpikir olehnya, mumpung masih ada waktu, baiklah cepat-cepat memperbaiki keadaan. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan yang palsu yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkannya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Perlu kita pahami cerita ini bukan sebagai laporan peristiwa. Bukan nasihat agar para koruptor bertobat. Ini perumpamaan yang disampaikan untuk mengajak para murid berpikir bagaimana bisa menghadapi liku-liku kehidupan ini dengan sikap yang cocok. Pembaca zaman dulu juga sadar bahwa yang diceritakan ialah perumpamaan dan tidak akan berusaha mencek dengan kenyataan praktek dagang atau mempertanyakan rinciannya. Malah bisa kita andaikan para pembaca dulu tidak mengalami kesukaran di dalam menangkap tujuan perumpamaan itu. Mereka langsung melihat di mana ketidakjujuran si bendahara, yakni dalam hal memboroskan milik yang dipercayakan kepadanya agar dikelola dengan baik, tapi akhirnya mau dikantonginya sendiri. Ini jelas dari tuduhan yang dikenakan kepadanya pada ayat 1. Jelas pula mengapa pemilik meminta pertanggungjawaban dan segera akan memecatnya.

Oleh karena itu transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, sebaiknya dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Dengan demikian juga tidak sukar mengerti mengapa ia dipuji. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan karier bendahara itu. Seluk beluk selanjutnya itu tidak relevan bagi sebuah perumpamaan. Lagipula perumpamaan ini bukan dimaksud untuk menceritakan realitas transaksi dagang melainkan untuk menyoroti kemauan serta kecekatan orang untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji.

SIAPA YANG MEMUJI SANG BENDAHARA?

Disebutkan dalam ayat 8: "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang." Dalam teks Yunaninya, ho kyrios, "tuan itu", bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud pemilik, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Tetapi bila merujuk pada Yesus, maka ayat itu tampil sebagai kata-kata Yesus mengenai perilaku bendahara dalam perumpamaan tadi. Tambahan pula, bila Yesus-lah yang dimaksud, maka ayat 8b, yakni "Sebab anak-anak dunia ini..." dapat membantu mengerti mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan memakai Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur. Persoalan siapa yang memuji ini sering membingungkan para penafsir. Namun, bila uraian mengenai di mana letak ketidakjujuran si bendahara di atas diterima, siapa yang memuji tidak jadi masalah lagi. Bisa saja sang pemilik, bisa pula Yesus. Memang bendahara itu pintar dan patut dipuji, baik oleh pemilik dalam perumpamaan itu maupun oleh Yesus sendiri.

Kehidupan memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan. Bahwasanya ia dipuji entah oleh tuannya entah oleh Yesus justru membuktikan bahwa ia berhasil membawakan diri dengan baik dalam situasi yang gawat. Bahkan amatan mengenai anak-anak dunia yang lebih pintar daripada anak-anak terang dalam ayat 8b bisa dianggap sebagai saran agar orang belajar dari kecerdikannya.

MAMON YANG TAK JUJUR

Bagaimana tafsiran ayat 9? Ayat ini memuat nasihat Yesus agar orang mengikat persahabatan dengan menggunakan "Mamon yang tak jujur" sehingga bila Mamon itu tak dapat menolong lagi, orang akan diterima ke dalam Kemah Abadi?" Maksud perkataan itu kiranya dapat diutarakan kembali sebagai berikut "Uang tak halal (uang hasil korupsi, keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja - perkara yang disebut dalam ayat 1) memang untuk sementara dapat menjadi sandaran hidup - mengikat persahabatan. Namun satu ketika akan terbongkar (tuduhan, ayat 2). Oleh karena itu berusahalah memegang yang bisa memberimu rasa aman sejati ("diterima dalam Kemah Abadi")!" Pembaca yang peka akan teringat Mazmur 15 yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemahNya yakni orang yang kelakuannya tak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras dan tidak mau dibayar untuk merudapaksa orang yang tak bersalah.


BERPIJAK PADA KENYATAAN


Sang bendahara ternyata berani dan berhasil membenahi diri dalam urusan "uang yang diperoleh dengan tidak jujur" dan dalam hal ini ia bisa disebut "setia mengenai harta orang lain", baik harta sang pemilik perusahaan maupun para langganan. Seandainya ia tidak berbuat demikian, ia akan mengalami celaka. Ayat 10-12 sebetulnya merumuskan kembali perkara itu dalam bentuk pepatah. Pandai-pandailah membawa diri dalam urusan duniawi, dalam "urusan kecil" yang bakal memberi kredibilitas dalam perkara yang lebih luhur, dalam urusan yang menyangkut hal-hal kerohanian pula.


Pada awal uraian ini disebutkan bahwa ayat 13 tidak dimaksud semata-mata sebagai peringatan bahwa orang tak bisa mengabdi Allah secara setengah-setengah. Itu sudah jelas. Dan pendengar Injil tentunya bukan orang yang mau terus setengah-setengah. Perkaranya bukan niat, tapi kenyataan sering membuat orang tidak sampai menjalani komitmen iman secara utuh. Lalu bagaimana? Perumpamaan bendahara yang tak jujur tapi cerdik tadi membuat kita melihat bahwa Injil mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Juga diajarkan sikap mau belajar dari cara-cara duniawi - dari "urusan kecil" yang disebut ayat 11. Namun seperti dinasihatkan dalam ayat 9, perlu ada kejelian melihat mana yang sungguh menjamin bagi kebahagiaan. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi ini dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Injil mendorong orang memikirkan bagaimana kemanusiaan yang penuh liku-liku itu dapat menjadi jalan bagi anak-anak terang pula. Dalam arti itulah Injil membuka jalan ke Kemah Abadi.


Salam hangat,

A. Gianto

Sabtu, 18 September 2010 Hari Biasa Pekan XXIV

Sabtu, 18 September 2010
Hari Biasa Pekan XXIV

Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman Tuhan bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu -- Hagai 2:5

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, tinggallah di tengah kami dan jadilah gembala kami. Dalam kesibukan sehari-hari menyambung hidup, jangan biarkan kami melupakan sesama yang menderita dan susah hidupnya. Tuntunlah agar dalam tutur kata dan perilaku, kami selalu rendah hati dan riang hati dalam memberi, membawa ketentraman dan damai. Biarkan rahmat-Mu mengasah hati kami sehingga kami semakin peka pada sesama yang rindu akan sabda penghiburan-Mu. Semoga kehadiran kami menjadi tanda belas kasih-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:35-37.42-49)

"Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan."

Saudara-saudara, mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Ayat. (Mzm 56:10.11-12.13-14)
1. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada Tuhan, firman-Nya kupuji,
2. Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.
3. Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:4-15)

"Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus. Maka Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, "Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat." Sesudah itu Yesus berseru, "Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah mendengar." Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu. Yesus menjawab, "Kalian diberi kurnia mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Sabda Allah. Yang jatuh di pinggir jalan ialah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah Iblis, lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ialah orang yang setelah mendengar sabda itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar. Mereka hanya percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri, ialah orang yang mendengar sabda itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Ibarat benih, diri kita ditabur Tuhan dan jatuh di beragam lahan kehidupan. Silih berganti, lahan hidup kita berubah, namun benih hidup kita tetap satu dan sama. Tidak selalu kita hidup di lahan yang subur. Kadang kala kita mengalami situasi hidup seperti jatuh di lahan yang berbatu-batu, penuh dengan semak duri, atau di pinggiran jalan. Dunia menjadi lahan nyata yang dapat menumbuhkan atau mematikan benih hidup kita.

Tidak ada gunanya bagi kita meratapi hidup ini dan menyalahkan dunia dengan segala situasinya. Tugas utama kita adalah bagaimana memelihara benih hidup ini agar tetap menjadi benih yang baik. Hidup kita adalah benih yang baik dari Tuhan. Berdiri tegar dalam pasrah diri kepada Tuhan Sang Penggarap kehidupan akan memampukan kita untuk menghadapi aneka situasi kehidupan.

Seperti benih hidupku telah Kautabur di dunia ini, ya Tuhan. Kauberi aku benih yang baik dan buah-buah kebaikan pula yang Engkau harapkan dapat kuhasilkan. Berilah aku rahmat agar setia memelihara kebaikan hidupku dalam segala situasi. Amin.

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian