Bacaan Harian 04-10 Oktober 2010

Bacaan Harian 04-10 Oktober 2010
Harian: Tahun II; Mingguan: Tahun C

Senin, 04 Oktober: Pesta St. Fransiskus dari Asisi (P). Gal 1:6-12; Mzm 111:1-2.7-10c; Luk 10:25-37.
Menjadi sesama bagi orang lain, khususnya yang sedang mengalami penderitaan, lemah dan tersingkir, bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi Yesus menginginkan iman bukan saja berpusat pada altar, tetapi berbuah dalam kehidupan nyata. Orang Samaria yang baik hati jauh lebih berarti ketimbang ahli taurat yang sibuk dengan Alkitab tapi lepas dari kehidupan nyata.

Selasa, 05 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H). Gal 1:13-24; Mzm 139:1-3.13-15; Luk 10:38-42.
Seringkali kita lebih sibuk dengan berbagai macam pelayanan, tetapi lupa 'mendengarkan' Yesus. Yesus memang butuh tangan-tangan yang bersedia melayani, tetapi pelayanan itu harus selalu bersumber dari Dia. Kalau tidak, bisa jadi unsur manusia dalam pelayanan lebih menguasai, dan lalu orang jadi mudah kecewa atau pun berselisih.

Rabu, 06 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H). Gal 2:1-2.7-14; Mzm 117:1-2; Luk 11:1-4.
Yesus mengajarkan kita berdoa dengan menyapa Allah sebagai Bapa. Ia juga mengajarkan supaya kita terlebih dahulu mengutamakan perkara-perkara Allah sebelum perkara-perkara kita. Maka, datanglah kepada Bapa kita, mohonlah pada-Nya, tetapi dasarkanlah segala permohonan itu pada perkara-perkara Bapa.

Kamis, 07 Oktober: Peringatan Wajib Sta. Perawan Maria Ratu Rosario (P). Gal 3:1-5; MT Luk 1:69-75; Luk 11:5-13.
Jangan pernah lelah untuk terus meminta kepada Bapa kita sendiri. Dia adalah Bapa kita yang pasti mendengar apa yang kita sampaikan. Tak ada satu pun doa yang kita panjatkan dengan sungguh-sungguh akan sia-sia. Dia pasti memenuhinya. Mungkin sekarang, mungkin nanti. Mungkin juga tak selalu sesuai dengan harapan kita. Yang pasti, indah dan baik buat kita. Dia adalah Allah yang peduli dan datang tepat pada waktunya untuk memberi yang kita butuhkan.

Jumat, 08 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H). Gal 3:7-14; Mzm 111:1-6; Luk 11:15-26.
Bila kita menyediakan tempat dalam hidup kita untuk bercokolnya iblis, maka iblis akan mengajak teman-temannya untuk pesta di dalam diri kita dan mereka akan semakin menguasai kita. Maka, sekecil apa pun tawaran iblis, harus kita tolak. Sekali terjerumus, bersiaplah untuk tenggelam.

Sabtu, 09 Oktober: Hari Biasa Pekan XXVII (H). Gal 3:22-29; Mzm 105:2-7; Luk 11:27-28.
Orang yang hanya digerakkan oleh keinginan-keinginan pribadinya adalah orang yang sedang merintis jalan menuju hutan belantara penuh kegelapan. Jangan biarkan diri kita tersesat! Pegang kompas Firman Allah dan ikuti, maka kita pasti akan sampai pada tempat yang terang, damai dan sukacita.

Minggu, 10 Oktober: Hari Minggu Biasa XXVIII (H). 2Raj 5:14-17; Mzm 98:1-4; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19.
Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan hanya satu yang kembali dan mengucap syukur kepada Yesus. Iman seperti itulah yang menyembuhkan dengan sempurna. Bersyukurlah senantiasa untuk apa pun yang boleh kita alami, maka kita pasti akan mengalami kesembuhan total dari segala kesesakan.

Rabu, 06 Oktober 2010 Hari Biasa Pekan XXVII

Rabu, 06 Oktober 2010
Hari Biasa Pekan XXVII

Jikalau Tuhan berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itu pun didamaikan-Nya dengan dia --- Amsal 16:7

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu, karena Engkaulah sumber kehidupan semua orang di dunia. Semoga dalam segala tingkah laku kami terungkap rasa syukur kami atas cinta kasih, perhatian dan perlindungan-Mu, dan atas karya-Mu membentuk kami menjadi umat-Mu dan keluarga-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Adat istiadat (dan budaya) merupakan benih-benih dari Injil. Setiap bangsa memiliki budaya yang khas. Santo Paulus mengritik orang-orang Kristen Yahudi (termasuk para Rasul) yang memaksakan adapt istiadat ‘sunat’ bagi orang-orang Kristen non Yahudi. Ini adalah sikap Santo Paulus menghargai budaya bangsa lain, dan cara untuk membuka pintu pewartaan Injil lebih lebar.

Pembacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Galatia (2:1-2.7-14)

"Mereka melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku."

Saudara-saudara, empat belas tahun setelah dipilih Tuhan, aku pergi ke Yerusalem bersama dengan Barnabas, dan Titus pun kubawa serta. Aku pergi ke sana berdasarkan suatu pernyataan. Di sana aku membentangkan Injil yang kuberitahukan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, jangan sampai dengan percuma aku telah berusaha. Pada kesempatan itu aku berbicara tersendiri dengan orang-orang yang terpandang. Mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil bagi orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus bagi orang-orang bersunat; maka mereka menjadi yakin. Sebab sebagaimana Tuhan telah memberi Petrus kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, demikian pula Ia memberi aku kekuatan untuk menjadi rasul bagi orang-orang yang tak bersunat. Mereka pun menjadi yakin mengenai kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku. Maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan daku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan. Semua setuju bahwa kami pergi kepada orang-orang yang tak bersunat, sedangkan mereka kepada orang-orang yang bersunat. Mereka hanya minta agar kami tetap mengingat orang-orang miskin; dan hal itu sungguh-sungguh kuusahakan. Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku terus terang menentang dia, karena ia salah. Sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat. Tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Juga orang-orang Yahudi lain ikut berlaku munafik seperti dia, sehingga Barnabas sendiri terseret oleh kemunafikan mereka. Aku melihat, bahw kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Maka aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4, PS 827.
Ref. Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil!
Ayat. (Mzm 117:1bc.2)
1. Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
2. Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Kalian akan menerima roh pengangkatan menjadi anak; dalam roh itu kita akan berseru, 'Abba, ya Bapa.'

Seperti para Rasul, setiap pengikut Kristus diajak untuk senantiasa berani memulai lagi, khususnya dalam hal doa, “Tuhan, ajarilah kami berdoa”. Sebab doa bukan sekedar rumusan kata-kata, melainkan soal kedekatan hubungan personal. Ketika seseorang terjangkit penyakit ‘aku sudah maju hebat’ dalam hidup doa, sebenarnya dia telah kehilangan satu sesi kedekatan itu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (11:1-4)

"Tuhan, ajarilah kami berdoa."

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya." Maka Yesus berkata kepada mereka, "Bila kalian berdoa, katakanlah: 'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Hari ini Injil mengajarkan kepada kita bahwa pendoa sejati selalu berani memulai lagi, “Tuhan, ajarilah kami berdoa.” Kita bagaikan seorang murid yang tak henti-hentinya mau belajar lagi, mau memulai lagi. Sebab, doa merupakan seni membangun hubungan pribadi yang makin lama makin intensif (mendalam). Sanggupkah kita dengan sikap rendah hati menanggalkan rasa sudah hebat dalam pengalaman doa?

Ya Bapa, ajarilah aku berdoa kepada-Mu untuk kepentingan semua anak-Mu di dunia ini. Ajarilah aku juga berdoa dan mengampuni mereka yang menyakiti hatiku. Amin.

R U A H

Santo Fransiskus dari Assisi dengan Serigala

Dekat sebuah kota kecil dalam pegunungan adalah seekor serigala, amat besar, kuat lagi bagus. Sekalian orang takut akan serigala itul Binatang itu merampas peliharaan penduduk. Ya, serigala itu berani menyerang manusia juga. Tidak ada yang berani berjalan seorang diri. Sudah kerap kali para pemburu mencoba menembak serigala itu. Sia-sia belaka! Makin lama makin ganas serigala itu! Siang hari serigala itu berani menyerang rumah dan melarikan seekor kambing atau seorang anak kecil.

Karena putus asa, penduduk kota itu meminta tolong kepada santo Fransiskus.

“Barangkali Pesuruh Raja Besar punya akal,” kata mereka.

Fransiskus melipur orang yang bersusah itu.

Jawabnya, “Aku akan berunding dengan serigala itu!”

Fransiskus berangkat, menuju ke hutan. Baru saja melalui rumah yang terakhir di tepi kota, ... tiba-tiba serigala yang jahat datang melompat-lompat, mendekati Fransiskus. Semua yang ikut dengan Fransiskus, lari cerai berai ketakutan.

Tetapi Fransiskus berseru, “Mari sini, serigala! Atas Nama Yesus Kristus aku melarangmu menyakiti aku atau orang-orang yang lari itu!”

Lihatlah, heran sekali! Serigala jahat, yang tadinya sudah membuka mulutnya, menjadi sabar lagi lemah, seperti seekor anak kambing saja. Sambil mengibas-ngibaskan ekornya, binatang buas itu maju setapak demi setapak. Tepat di hadapan kaki Santo Fransiskus, ia berbaring di tanah.

“Serigala,” kata Fransiskus kemudian.

“Kesalahanmu sangat banyak. Kau tidak diizinkan Tuhan, membunuh orang dewasa dan memakan anak kecil. Selayaknya kau juga harus dibunuh sekarang. Semua orang benci kepadamu, serigala jahat. Tetapi aku tahu, kau berbuat begitu karena lapar. Jika kau berjanji tak akan berbuat jahat lagi, aku akan mengampunimu. Ingatlah, Tuhan tidak mengizinkanmu!”

Serigala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kau harus berjanji juga, serigala! Kau tidak boleh lagi mencuri kambing. Kalau kau lapar, pergilah berjalan, dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Penduduk kota mau memberi makanan. Kau mau berdamai dengan manusia, serigala?”

Serigala itu menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki Fransiskus seperti anjing yang setia.

“Baiklah! Sekarang mana kakimu. Tanda kau berjanji, letakkan kakimu, dalam tanganku.”

Sekarang penduduk kota itu, yang telah datang menonton, menyaksikan perjanjian aneh itu. Serigala yang amat ganas itu, meletakkan kaki mukanya ke dalam tangan Fransiskus.

“Mari, ikut aku!” kata Fransiskus.

Serigala ikut serta seperti anjing yang amat besar. Mereka pergi ke alun-alun. Di sana penduduk kota juga berjanji bahwa mereka akan selalu memberi makanan kepada serigala. Serigala itu dinamai “Gobio”.

Masih 2 tahun lamanya Gobio hidup. Tiap-tiap hari ia berjalan dari pintu yang satu ke pintu yang lain, untuk meminta makanannya. Ia tidak lagi menyakiti binatang atau manusia. Dan anak-anak berani bermain dengan Gobio, serigala jinak.

Ketika Gobio mati, ia ditangisi orang, yang sudah biasa menyayangi bintang itu.

Masih banyak sekali ceritera-ceritera tentang Santo Fransiskus Pesuruh Raja Besar.

Sebaiknya kalian mencari dan membaca kitab yang lebih tebal tentang Santo Fransiskus.

http://sienaviena.multiply.com/