Senin, 27 Juni 2011 Hari Biasa Pekan XIII

Senin, 27 Juni 2011
Hari Biasa Pekan XIII

Kalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yak 1:26)


Antifon Pembuka

Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang kesabaran-Nya dan berlimpah kasih setia-Nya (Mzm 103:8)

Doa Pagi

Terpujilah Engkau ya Tuhan, atas hari baru ini. Bantulah saya dengan kelimpahan rahmat-Mu ya Yesus Tuhan, agar saya semakin rela dan tulus serta siap sedia menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepada saya dan tidak hanya mencari keuntungan diri sendiri. Amin.


Sejak Allah memberitahukan keputusan-Nya kepada Abraham, hatinya turut serta dalam kerahiman Allah bagi umat-Nya. Karena itu, dalam kepercayaan teguh ia berani memohon kerahiman dan keselamatan bagi Israel, umat-Nya; dan ternyata, orang-orang benar itu amat berjasa bagi keselamatan banyak orang. Dengan hidup benar, hidup kita punya dampak positif bagi orang lain.


Pembacaan dari Kitab Kejadian (18:16-33)

"Apakah engkau akan membinasakan orang saleh bersama dengan orang jahat?"


Setelah Abraham diberi janji oleh Tuhan, maka berangkatlah ketiga tamunya. Mereka mengarahkan pandangannya ke Sodom, dan Abraham mengantarkan mereka. Berpikirlah Tuhan, “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang akan Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya ia memerintahkan kepada anak-anak dan keturunannya, agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan agar Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” Maka bersabdalah Tuhan, “Sesungguhnya, banyaklah keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora, dan sesungguhnya sangat beratlah dosanya. Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.” Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan Tuhan. Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan membinasakan orang benar bersama dengan orang jahat? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan membinasakan tempat itu? Tidakkah Engkau mengampuninya demi kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya daripada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama dengan orang jahat, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang jahat! Jauhkanlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Tuhan bersabda, “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu demi mereka.” Abraham menyahut, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benaritu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” Tuhan bersabda, “Aku takkan memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.” Lagi Abraham melanjutkan perkataannya, “Sekiranya empat puluh didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian demi yang empat puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka kalau aku berkata sekali lagi, Sekiranya tiga puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan berbuat demikian jika Kudapati tiga puluh di sana.” Kata Abraham lagi, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh yang didapati di sana?” Sabda Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang dua puluh itu.” Kata Abraham, “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi ini saja. Sekiranya sepuluh yang didapati di sana?” Jawab Tuhan, “Aku takkan memusnahkannya demi yang sepuluh itu.” Lalu pergilah Tuhan, setelah Ia selesai bersabda kepada Abraham. Dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.

Ayat. (Mzm 103:1-2.3-4.8-9.10-11)
1. Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
2. Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
3. Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selamanya Ia mendendam.
4. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita. Setinggi langit dari bumi, demikian besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takut akan Dia!


Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hari ini janganlah bertegar hati, tetapi dengarkanlah suara Tuhan. Alleluya.


Betapa penting dan seriusnya menjadi murid Yesus. Sebab itu, jika Yesus berkata, “Ikutlah Aku” maka undangan itu mesti ditanggapi dengan serius. Apakah selama ini kita telah serius menjadi murid Yesus? Ia memanggil karena Dia sendiri yang menghendaki.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:18-22)

"Ikutilah Aku."

Pada suatu hari banyak orang mengerumuni Yesus. Melihat hal itu Yesus menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Mengikuti dan meneladan Yesus tidaklah semudah kita ucapkan dan pikirkan. Perlu banyak pengorbanan yang harus kita lakukan. Kita perlu sikap yang benar-benar lepas bebas dari segala sesuatu. Artinya kita berani melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu, seperti kelekatan akan dosa dan kecenderungan yang buruk. Kita sering enggan untuk melepaskan belenggu-belenggu dalam diri kita, karena kita merasa nyaman dan menginginkannya. Beranikah kita mengikuti Yesus dan melepaskan belenggu-belenggu yang mengikat kita?

Doa Malam

Tuhan Yesus, Engkau adalah kekuatanku dalam menghadapi tantangan dan risiko atas tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadaku. Tanpa Engkau, aku tidak akan mampu menanggungnya. Bahkan tak mampu berbuat apa-apa. Terima kasih atas rahmat-Mu hari ini. Amin.

RUAH

Surat Keluarga Komisi Kerasulan Keluarga KAJ, Juni 2011


Jakarta, 11 Juni 2011

Kepada keluarga-keluarga kristiani
Se-Keuskupan Agung Jakarta
di tempat
Salam damai dalam kasih Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosep.

Dalam sebuah Rekoleksi Keluarga, saya berkata, "Di dalam perkawinan dan hidup berkeluarga, segala sesuatu mesti dimaknai dalam terang iman". Seorang peserta kemudian bertanya,"Apakah Romo bisa memberikan contohnya?". Saya lanjut memberikan contoh. Contoh yang saya ambil adalah uang. Dan saya tekankan, "Makna Iman dari uang. Uang mesti diberi makna iman". Peserta tersebut, tampak sedikit terkejut, kemudian bertanya lebih lanjut. "Bagaimana menemukan makna iman dari uang?" Barangkali pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan banyak pasangan suami-isteri. Bagaimana menemukan makna iman dari uang, terlebih di dalam perkawinan.

Sebenarnya, bagi pasangan suami-isteri Kristiani, uang bukan sekedar pendapatan yang diperoleh dengan susah payah untuk memenuhi kebutuhan. Banyak orang bangun pagi-pagi kemudian pulang larut malam untuk mengumpulkan dan mencari apa yang disebut uang. Apa yang terukir di dalam pikiran barangkali, "Kebahagiaan tergantung pada banyak sedikitnya uang yang dikumpulkan. Makin banyak uang, maka makin bahagia. Makin sedikit uang maka makin kurang bahagia". Anggapan ini tentu saja ada benarnya. Bagaimana pun, segala sesuatu memang butuh uang. Tetapi perlu disempurnakan, bahwa kebahagiaan tidak semata-mata terletak pada uang. Dan menurut saya, uang bisa membahagiakan jika orang memaknai uang dalam terang iman.

Apa artinya? Seringkali kita menjumpai orang yang semakin kaya justeru semakin sering bertengkar mengenai kekayaan. Orang yang makin banyak uang, justeru makin sering bertengkar karena uang. Pasangan yang mengalami konflik dalam kehidupan rumah tangga tidak selalu pasangan yang kekurangan uang. Mereka yang berkelimpahan uang pun bisa mengalami hubungan yang kurang harmonis karena pandangan mereka terhadap uang yang kurang tepat. Ada banyak pasangan yang terus merasa kurang meskipun sebenarnya sudah berkecukupan dalam hidupnya. Salah satu kenyataan menyedihkan yang menimpa banyak keluarga saat ini menurut saya ialah, mengabaikan keluarga dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari uang. Seakan-akan hubungan suami-isteri, hubungan orang tua-anak menjadi beres dengan uang. Banyak keluarga yang beranggapan bahwa, hanya dengan menghasilkan banyak uang setiap bulannya, maka mereka menemukan kepuasan, menemukan kebahagiaan. Akan tetapi, kepuasan dan kebahagiaan sebenarnya tidak semata-mata terletak pada uang berapa pun jumlahnya. Kepuasan dan kebahagiaan terletak pada sikap-sikap yang dikuasai oleh kebenaran, kesalehan, iman, kasih, daya tahan dan kelembutan. Dengan kata lain, kebahagiaan, kepuasan hidup ditemukan dalam Tuhan dengan mengikuti nilai-nilai yang diajarkan-Nya. Paulus, dalam pesan Penutup Suratnya yang pertama kepada Timotius, berkata,"Tetapi engkau hai manusia ALLAH, patuhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan’ (1 Tim 6: 11).

Melakukan yang benar dan adil, hidup dalam kesalehan dan rajin beribadah, memperhatikan orang lain seperti Tuhan memperhatikan kita, hidup berdasarkan semangat kasih setia, sabar menghadapi kekurangan orang lain yang barangkali terus menerus melakukan kesalahan yang sama, realistis dalam menerima dan mengabdi pada kenyataan hidup merupakan hal-hal yang membawa kepuasan dan kebahagiaan sejati dalam suatu perkawinan.

Menikah secara kristiani berarti juga memberikan makna iman kristiani terhadap perkawinan. Bersusah payah bekerja mencari uang berarti juga memberikan makna iman dari uang yang didapat. Kebahagiaan dalam perkawinan tidak ditemukan dalam barang dan uang yang diperoleh melainkan dalam jalinan hubungan antar anggota dan terlebih dalam jalinan hubungan dengan Tuhan sendiri. Uang menjadi kurang bermakna jika justeru karena uang, hubungan suami-isteri, hubungan orang tua-anak, dan mungkin juga hubungan dengan keluarga besar menjadi rusak dan kacau. Uang menjadi kurang bermakna jika justeru karena uang, suami-isteri tidak hidup dalam kesetiaan dan kasih. Uang di dalam perkawinan menjadi kurang bermakna jika justeru karena uang, hubungan suami-isteri, hubungan orang tua-anak menjadi tidak hangat lagi karena orang mulai mempertimbangkan untung-rugi. Uang dalam perkawinan menjadi kurang bermakna jika sikap dingin dan kurang hangat terhadap pasangan justeru dibungkus oleh uang. Uang dalam perkawinan menjadi kurang bermakna jika justeru karena uang, orang mengabaikan keadilan dan ibadah kepada Tuhan.

Makna iman dari uang di dalam perkawinan, mesti diletakkan dalam sabda Yesus kepada kita, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6: 33). Apa yang dimaksudkan dengan "semuanya itu" di dalam teks ini, tentu saja menyangkut apa yang diperlukan di dalam kehidupan yaitu,"makanan, pakaian", dan semua yang diperlukan dalam hidup (Bdk. Mat 6: 25). Memikirkan, mencari dan akhirnya memperoleh uang di dalam perkawinan, jangan sampai mengabaikan hubungan dengan pasangan. Jangan sampai terpeleset dan jatuh oleh karena memikirkan, mencari dan akhirnya memperoleh uang dengan mengabaikan hal-hal yang bermakna bagi kebahagiaan dalam perkawinan. Jangan pernah membungkus dan menggantikan kehangatan hubungan suami-isteri, hubungan dengan anak-anak dengan uang. Jangan memikirkan, mencari dan akhirnya memperoleh uang di dalam perkawinan justeru dengan mengabaikan, "keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan" (1 Tim 6: 11).

Sampai jumpa pada edisi mendatang.

Salam dalam nama Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yosep

Romo Ignas Tari, MSF

Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta