Selasa, 12 Juni 2012 Hari Biasa Pekan X

Selasa, 12 Juni 2012
Hari Biasa Pekan X

“Kalau racun kesombongan merajalela dalam dirimu, berpalinglah kepada Ekaristi” (St. Sirilus dari Aleksandria)


Antifon Pembuka (Mat 5:13)


Kalian ini garam dunia. Jika garam menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan lagi? Tiada gunanya selain dibuang dan diinjak-injak orang.


Doa Pagi

Allah yang Mahabaik, Engkau senantiasa menyertai dan memelihara siapa saja yang dengan tekun bekerja bagi kemuliaan kerajaan-Mu. Jadikanlah kami terang cahaya-Mu bagi sesama. Semoga kehadiran kami mampu memancarkan kasih-Mu yang sejati dan dengan demikian semua orang memuliakan Bapa di surga. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Rasa takut dan ragu seringkali menyertai pergulatan iman. Seorang janda di Sarfat sungguh mengalaminya ketika ia diminta menyerahkan sisa makanannya kepada Elia. Namun tantangan yang berat itu berubah menjadi berkat ketika ia memenuhi permintaan Elia.


Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja (17:7-16)

"Tempat tepungnya tak pernah kosong sesuai dengan sabda Tuhan yang diucapkan Nabi Elia."

Pada waktu itu Sungai Kerit menjadi kering, sebab hujan tiada turun-turun di negeri itu. Maka datanglah sabda Tuhan kepada Elia, “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Maka Elia pun bersiap-siap, lalu pergi ke Sarfat. Ketika ia tiba di dekat gerbang kota, tampaklah seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Elia berseru kepada perempuan itu, “Cobalah, ambilkan daku sedikit air dalam kendi untuk kuminum.” Ketika wanita itu pergi mengambil air, Elia berseru lagi, “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Wanita itu menjawab, “Demi Tuhan Allahmu yang hidup, sesungguhnya tiada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, sebentar lagi aku pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya, “Janganlah takut, pulanglah, dan buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dulu bagiku sepotong roti bundar kencil dari padanya, dan bawalah kepadaku; kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah sabda Tuhan Allah Israel, “Tepung dalam tempayan itu takkan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun takkan berkurang sampai tiba waktunya Tuhan menurunkan hujan ke atas muka bumi.” Maka pergilah wanita itu, berbuat seperti yang dikatakan oleh Elia. Maka Elia, wanita itu dan anaknya mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang sesuai dengan sabda Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 4:2-3.4-5.7-8)

1. Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah yang membenarkan daku. Engkau memberi kelegaan kepadaku di saat kesesakan; kasihanilah aku, dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?
2. Ketahuilah, Tuhan telah memilih bagi-Nya seorang yang Ia kasihi; apabila aku berseru kepada-Nya, Ia mendengarkan. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hati di tempat tidurmu, tetapi tetaplah tenang.
3. Banyak orang berkata, “Siapa akan memperlihatkan yang baik kepada kita? Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak daripada yang mereka berikan di saat mereka kelimpahan gandum dan anggur.”

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapa-Mu di surga.

Mendoakan dan melayani sesama merupakan panggilan setiap pengikut Kristus yang menuntut pengorbanan. Dalam kenyataannya, hanya ketulusan berkorban yang berdasar cinta kasih menjadi berkat yang meneguhkan sesama.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:13-16)

"Kamu adalah garam dunia”

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda: “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Fungsi garam bukan hanya untuk menyedapkan rasa pada makanan, tetapi juga untuk mengawetkan daging atau ikan. Lampu berfungsi untuk memberi terang dalam kegelapan. Panggilan kemuridan, dengan kesaksian hidupnya yang bermutu, mengawetkan dunia dari kehancuran karena dosa. Dan lagi, pola hidup mereka yang baik, menyinari orang-orang yang hidup dalam kegelapan.

Doa Malam


Yesus, sabda-Mu mengajarkan agar kami para pengikut-Mu mampu menjadi garam yang mengasinkan dunia sehingga tidak dibuang dan dicampakkan orang. Terimakasih ya Yesus, atas rahmat panggilan-Mu ini. Kuatkan dan bimbinglah kami dalam melaksanakannya di hari yang baru besok. Amin.

RUAH

Bacaan Harian 11 - 17 Juni 2012

Senin, 11 Juni: Peringatan Wajib St Barnabas, Rasul (M).
Kis 11:21b-26; 13:1-3; Mzm 98:2-3ab.3c-4.5-6; Mat 10:7-13.
Ketika mengutus para murid-Nya, Yesus memperingatkan kepada mereka untuk tidak membawa barang berharga, bekal, baju, kasut atau tongkat, karena seorang pekerja berhak mendapat upahnya. Yesus mau menekankan kepada para murid bahwa mereka yang bekerja untuk Kerajaan Allah pasti tidak akan terlantar. Bukankah, Yesus pernah berjanji: ”Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6: 33). Namun, itu tidak berarti bahwa dalam melayani, kita mensyaratkan upah dari pelayanan kita. Sebab kalau begitu, pelayanan kita kehilangan kemurniannya. Kita berkarya, selebihnya Dia yang melengkapinya.

Selasa, 12 Juni: Hari Biasa Pekan X (H).
1Raj 17:7-16; Mzm 4:2-3.4-5.7-8; Mat 5:13-16.
Garam biasa dipakai untuk memberi rasa sedap pada makanan dan sekaligus juga untuk mengawetkan. Maka, kalau Yesus menandaskan, “Kamu adalah GARAM dunia,” itu artinya murid-murid Yesus harus memberi “rasa nikmat dan sedap” bagi orang-orang sekitarnya melalui cara hidup, kata dan perbuatan. Juga, murid-murid Yesus diharapkan juga dapat “mengawetkan” (memelihara) hal-hal baik yang ada di tengah dunia, sehingga tidak mengalami pembusukan. Ingat, kata Yesus, kalau garam sudah menjadi tawar, ia tidak ada lagi gunanya! Selain itu, Yesus juga menandaskan, “Kamu adalah TERANG dunia.” Artinya, murid-murid harus membawa orang keluar dari kegelapan, sehingga mereka dapat melihat Allah dengan segala kebenaran-Nya. Nah, Anda murid Yesus ‘kan?

Rabu, 13 Juni: Peringatan Wajib St Antonius dari Padua (P).
1Raj 18:20-39; Mzm 16:1-2a.4.5.8.11; Mat 5:17-19.
Memang tidak salah: Hukum Taurat berasal dari Allah dan memuat kehendak Allah. Maka, hidup mengikuti Hukum Taurat pastilah sesuai dengan kehendak Allah. Yang jadi soal: kalau orang cuma mengikuti ”huruf-huruf” Taurat dengan kaku dan buta tanpa mendalami kehendak Allah di balik Taurat. Bukankah hukum yang utama di dalam Taurat adalah Hukum Kasih (kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama)? Artinya, segala hukum lain harus bersumber dan menuju Hukum Kasih itu. Dengarlah kata-kata Yesus: ”Aku datang bukan untuk meniadakan Taurat, tapi untuk menggenapinya.” Ia membawa semua Hukum Taurat itu ke dalam kepenuhan takaran yang dikehendaki Allah, yang disebut Yesus sebagai perintah baru, yaitu perintah untuk mengasihi seperti Dia telah mengasihi. Camkanlah, “kasih” di atas segalanya.

Kamis, 14 Juni: Hari Biasa Pekan X (H).
1Raj 18:41-46; Mzm 65:10abcd.10e-11.12-13; Mat 5:20-26.
Tuntutan kasih memang radikal. “Kasih” yang diajarkan Yesus bukan sekedar tidak membunuh. Yesus meminta kita membasmi sikap-sikap seperti “membunuh” sampai ke akar-akarnya, seperti: marah, menghakimi, mencaci-maki, sakit hati dan dendam kesumat. Jika terus merasuk dalam diri, sikap-sikap itu bisa “membunuh” karakter orang lain dan “membunuh” diri sendiri sehingga tak mampu membuahkan kasih. Itu artinya, hidup berdamai dengan orang lain adalah hal penting dari “kasih”; kemauan untuk memaafkan dan meminta maaf adalah juga ciri khas “kasih”. Nah, kalau kita mau sungguh mengalami hidup penuh damai dan sukacita, tak ada cara lain: basmi sampai ke akar-akarnya!

Jumat, 15 Juni: Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus (P).
Hos 11:1.3-4.8c-9; MT Yes 11:2-3.4-bcd.5-b; Ef 3:8-12.14-19; Yoh 19:31-37.
”Sudah selesai,” kata Yesus seraya menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Kemudian, ketika para prajurit melihat Yesus telah wafat, seorang dari mereka menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air dari hati-Nya yang Mahakudus. Nah, dalam diam, mari kita tatap Yesus yang tersalib! Kepala bermahkota duri, tubuh penuh bilur, tangan dan kaki terpaku, lambung tertikam! Betapa Ia mengasihi kita! Dan saat ini juga, HATI yang penuh belas kasih itu siap mengalirkan DARAH dan AIR untuk menyegarkan hidup kita. Kenapa ragu? Datang dan reguklah!

Sabtu, 16 Juni: Peringatan Wajib Hati Tersuci SP Maria (P).
Yes 61:9-11; MT 1Sam 2:1.4-5.6-7,8abcd; Luk 2:41-51.
Dalam perjalanan pulang dari Yerusalem, Yesus hilang. Lalu orangtua-Nya kembali ke Yerusalem untuk mencari-Nya. Setelah tiga hari, mereka menemukan Yesus di Bait Allah. Maria menegur Yesus dan Yesus pun menjawab: ”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Meskipun Maria tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus, Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Inilah hati Maria yang tersuci, yang kita rayakan pada hari ini. Banyak perkara yang tidak dimengertinya, namun dalam imannya yang penuh, ia menyimpan perkara itu di dalam hatinya. Begitulah, banyak pula perkara yang tidak kita mengerti dalam hidup ini. Adakah kita mampu juga seperti hati Maria yang tersuci: dengan penuh iman, menyimpannya di dalam hati?

Minggu, 17 Juni: Hari Minggu Biasa XI (H).
Yeh 17:22-24; Mzm. 92:2-3.13-14.15-16; 2Kor 5:6-10; Mrk 4:26-34.
”Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” Begitulah, kita pun tidak tahu bagaimana Kerajaan Allah itu bekerja dalam hidup kita sampai kita menjadi seperti saat ini. Dalam suatu proses panjang dengan segala peristiwa jatuh-bangun, kenyataannya kita beriman kepada Yesus Kristus. Satu hal yang pasti, Tuhan sudah bekerja melalui Roh Kudus-Nya. Maka, patutlah kita syukuri atas rahmat iman ini. Lalu, marilah tak putus-putusnya kita berdoa supaya iman yang sudah ditabur dalam hidup kita boleh menjadi seperti biji sesawi, yang kendati sangat kecil, dapat bertumbuh menjadi pohon yang besar, sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi orang-orang sekitar.