Bacaan Harian 18 - 24 Juni 2012

Bacaan Harian 18 - 24 Juni 2012

Senin, 18 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
1Raj 21:1-16; Mzm 5:2-3.5-6.7; Mat 5:38-42
Makhluk rapuh sekaligus mulia. Raja Ahab dikuasai sikap tamak dan dengan bantuan Izebel, isterinya, akhirnya ia bisa merampas kebun anggur Nabot dengan cara yang keji. Sikap tamak, iri hati, rakus akan materi, balas dendam menunjukkan betapa rapuhnya kita; namun sebaliknya, sikap kasih, pengampunan dan mau berbagi menunjukkan betapa kita juga begitu mulia. “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu... bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu”, begitu Yesus berseru dalam Injil hari ini. Mari kita cari dan kita bangun sikap-sikap mulia yang ada dalam diri kita lalu bagikan buat banyak orang.

Selasa, 19 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
1Raj 21:17-29; Mzm 51:3-4.5-6a.11.16; Mat 5:43-48
Kasih itu membebaskan. Pernah frustrasi dalam usaha untuk mengasihi? Itu sangat manusiawi, tapi jangan menyerah. Kasih harus diuji dan dimurnikan bahkan sampai terluka. Nasehat Yesus hari ini menantang kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya. Ia bukan saja pandai menasehati tapi juga melaksanakannya secara sempurna di kayu salib. Yesus juga mengharapkan murid-murid-Nya memiliki sikap kasih yang bukan “Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu”, tapi “Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian”. Mari berjuang untuk sampai pada kasih yang membebaskan ini.

Rabu, 20 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Raj 2:1.6-14; Mzm 31:20.21.24; Mat 6:16.16-18
Derma, doa dan puasa. Masihkah ketiga hal itu memiliki tempat dalam hidup kita? Ketika dunia mengagung-agungkan egoisme dan hedonisme, kita diingatkan untuk tidak terseret dan terjebak di dalamnya. Semoga tiga pilar ini bisa kita pelihara dengan baik meski tidak gampang dan banyak tantangannya. Apalagi ketika ada godaan untuk mempertontonkan perbuatan-perbuatan baik ini supaya mendapat pujian. Ingat, “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. Kita sudah memperoleh ganjarannya. Sama seperti Elisa yang memilih bagian yang terbaik dari Elia, yaitu Roh sebagai seorang nabi.

Kamis, 21 Juni: Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga, Biarawan (P).
Sir 48:1-14; Mzm 97:1-2.3-4.5-6.7; Mat 6:7-15
Doa dan pengampunan. Berapa kali sehari Anda berdoa Bapa Kami? Doa yang diajarkan Yesus ini merupakan warisan dan contoh setiap doa. Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam doa ini adalah pengampunan. Dengan mengampuni dan memohon ampun kita memperoleh rahmat yang istimewa untuk semakin dekat kepada Bapa dan merasakan kasih-Nya. Relasi dengan sesama pun kita perbarui. Maka, meski “...Bapamu tahu apa yang kalian perlukan, sebelum kalian minta kepada-Nya”, namun janganlah jemu-jemu berdoa. Semoga doa Bapa Kami yang sering kita ucapkan semakin mengembangkan semangat pengampunan dalam hati kita.

Jumat, 22 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Raj 11:1-4.9-18.20; Mzm 132:11.12.13-14.17-18; Mat 6:19-23
Harta di bumi perlu, tapi jangan sampai melupakan harta di surga. Dalam kotbah di bukit Yesus menasehatkan agar kita mengumpulkan harta di surga yang bersifat kekal dan membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan sejati. Mari mengumpulkan sedikit demi sedikit harta di surga dengan berbagai keutamaan, sikap baik dan semangat berbagi. “Karena dimana hartamu berada, di situ pula hatimu berada”. Bahagia rasanya jika harta di dunia ini bisa mengantar kita untuk memiliki harta di surga juga.

Sabtu, 23 Juni: Hari Biasa Pekan XI (H).
2Taw 24:17-25; Mzm 89:4-5.29-30.31-32.33-34; Mat 6:24-34
Carpe diem. Tangkaplah hari ini. Perasaan khawatir bisa menghampiri siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Termasuk mereka yang mungkin kita lihat berkecukupan, bahagia dan tenang dalam hidupnya. Ketika rasa khawatir menyergap seolah-olah tidak ada hal yang bisa disyukuri. Pesan Yesus hari ini meneguhkan kita untuk tidak lupa kepada Bapa yang selalu bisa diandalkan karena Ia senantiasa memelihara hidup kita jauh melebihi burung dan bunga bakung,“...sebab itu janganlah kalian kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”. Mari ‘menangkap hari’ dan jangan biarkan kita kehilangan kebahagiaan sehari ini!

Minggu, 24 Juni: Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis (P).
Yes 49:1-6; Mzm 139:1-3.13-14ab.14c-15; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80
Karya Allah patut kita puji. Kebesaran-Nya mengatasi segala batas yang kita buat. Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi contoh karya tangan-Nya yang ajaib. Bagaimana kelahirannya membuat heran banyak orang dan dialah yang menjadi pembuka jalan bagi Sang Mesias.“Menjadi apakah anak ini nanti? Sebab tangan Tuhan menyertai dia”. Pesta ini juga menjadi kesempatan yang bagus bagi orangtua untuk semakin memantapkan niat, motivasi dan tugas mendidik anak dengan penuh syukur dan tanggungjawab.


Renungan oleh: Stefanus Tommy Octora, Pr

Kobus: Hari Minggu Biasa XI/B

Minggu, 17 Juni 2012 Hari Minggu Biasa XI

Minggu, 17 Juni 2012
Hari Minggu Biasa XI

Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa. --- Yes 61:11


Antifon Pembuka (Mzm 26:7-9)


Tuhan, dengarkanlah suara seruanku, kasihanilah aku dan kabulkanlah doaku. Engkaulah penolongku, jangan membuang aku, jangan meninggalkan daku, ya Allah, penyelamatku.


Doa


Allah Bapa kami yang penuh belas kasih, yang kecil dan tak berarti Kauperkembangkan sepenuhnya. Pandanglah kami yang kecil dan papa ini dan pekenankanlah kami tumbuh subur menyerupai wajah Kristus, Putra-Mu terkasih, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.


Bacaan dari Nubuat Yehezkiel (17:22-24)


Beginilah firman Tuhan Allah, “Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi, dan menanamnya; Aku akan mematahkannya dari pucuk yang paling ujung dan yang masih muda, dan Aku sendiri akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas; di atas gunung Israel yang tinggi akan Kutanam dia, agar ia bercabang-cabang dan berbuah, dan menjadi pohon aras yang hebat; segala macam burung dan unggas akan tinggal di bawahnya, mereka akan bernaung di bawah cabang-cabangnya. Maka segala pohon di ladang akan mengetahui, bahwa Aku, Tuhan, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu-kering, dan membuat pohon yang layu-kering bertaruk kembali. Aku, Tuhan, telah mengatakannya dan akan membuatnya.”

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831

Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, kar'na baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 92:2-3.13-14.15-16; Ul: 2a)

1. Sungguh baik menyanyikan syukur kepada Tuhan, dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, Yang Mahatinggi, memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi, dan kesetiaan-Mu di waktu malam.
2. Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon ara di Libanon mereka yang ditanam di bait Tuhan akan bertunas di pelataran Allah kita.
3. Pada masa tua pun mereka masih berbuah menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan bahwa Tuhan itu benar bahwa Ia Gunung Batuku, dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (5:6-10)


Saudara-saudara, hati kami senantiasa tabah! Meskipun kami sadar bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat; toh hati kami tabah! Tetapi, kami lebih suka beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. Sebab itu kami berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepada Allah. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut ia peroleh, sesuai dengan yang ia lakukan dalam hidup ini, baik atau pun jahat.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = bes, 2/2, PS 957

Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. 2/4
Benih melambangkan sabda Allah, penaburnya ialah Kristus. Semua orang yang menemukan Kristus akan hidup selama-lamanya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (4:26-34)


Sekali peristiwa Yesus mengajar di hadapan orang banyak, katanya, “Beginilah hal Kerajaan Allah: Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah. Malam hari ia tidur, siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas, dan tunas itu makin tinggi! Bagaimana terjadinya, orang itu tidak tahu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkai, lalu bulir, kemudian butir-butir yang penuh isi pada bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Yesus berkata lagi, “Dengan apa hendaknya kita bandingkan Kerajaan Allah itu? Atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil di antara segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain, dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” Dalam banyak perumpamaan semacam itu Yesus memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka. Tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Mzm 27:4)


Satu hal yang kuinginkan dan kumohon kepada Tuhan, agar dapat mendiami rumah Tuhan seumur hidupku.


Renungan

Rekan-rekan,

Dalam Mrk 4:26-34 (Injil Minggu Biasa XI/B) didapati dua buah perumpamaan mengenai Kerajaan Allah (ayat 26-29 dan 30-32) diikuti sebuah catatan bahwa Yesus memakai perumpamaan bagi orang banyak tapi bagi para murid diberikannya penjelasan tersendiri (ayat 33-34). Perumpamaan yang pertama hanya didapati dalam Injil Markus, sedangkan yang kedua diceritakan juga dalam Mat 13:31-32 dan Luk 13:18-19. Guna memahami warta petikan ini baiklah ditengok sejenah gagasan apa itu Kerajaan Allah.


KERAJAAN ALLAH


Ungkapan "Kerajaan Allah" kerap dijumpai dalam Injil Markus dan Lukas. Injil Matius mengungkapkannya dengan "Kerajaan Surga". Makna ungkapan ini bukanlah wilayah atau pemerintahan seperti dalam "kerajaan Majapahit" melainkan kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangannya kepada umat manusia. Maklum pada zaman itu orang Yahudi mengalami pelbagai kekuasaan yang amat berbeda dengan masa lampau mereka sendiri sebagai umat-Nya Tuhan. Pada zaman Yesus mereka tidak lagi bisa menganggap diri umat merdeka seperti leluhur mereka karena mereka ada di bawah kuasa Romawi. Di kalangan umat ada harapan satu ketika nanti mereka akan kembali menjadi umat Tuhan seperti dahulu. Tak jarang harapan ini berujung pada keinginan untuk merdeka dari kekuasaan Romawi dan menjadi negeri dengan pemerintahan dan kekuasaan sendiri. Namun cukup jelas harapan seperti ini tidak bakal terwujud. Ada bentuk rohani dari harapan akan kembali menjadi umat-Nya Tuhan. Yesus termasuk kalangan yang mengajarkan bentuk rohani harapan ini. Begitu pula para rahib yang juga dikenal pada zaman itu. Namun kebanyakan dari mereka menghayati harapan itu dengan menjauh dari kehidupan ramai dan pergi bertapa di padang gurun dan sekitar Laut Mati. Kelompok Yesus berbeda. Mereka tetap berada dalam masyarakat namun berusaha menumbuhkan iman akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa kebesaran-Nya tetap ada, juga di dunia ini, namun sering sukar dialami. Bagaimanapun juga bagi kelompok ini berusaha menemukan apa itu kehadiran-Nya yang mulia di dalam kehidupan mereka. Kehadiran-Nya diimani oleh kelompok ini sebagai yang dekat, yang melindungi dan memberi kekuatan dari hari ke hari, yang tidak menghitung-hitung kedosaan melainkan bersikap pengampun. Semua ini juga didapati dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus.


Inilah warta yang digambarkan dengan pelbagai perumpamaan dalam Injil-Injil. Juga dalam petikan yang dibacakan kali ini. Menurut Injil Markus, Yesus mulai tampil di Galiea dengan warta bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan orang-orang diajak untuk bertobat, yakni meninggalkan anggapan yang bukan-bukan seperti di atas dan memegang warta yang sejati dengan mempercayainya sebagai warta gembira (Mrk 1:15, lihat juga Mat 4:17).


DUA PERUMPAMAAN


Dengan latar penjelasan mengenai Kerajaan Allah di atas, kini dapat ditengok perumpamaan pertama. Di situ pertumbuhan Kerajaan Allah digambarkan sebagai biji yang ditaburkan dan dibiarkan bertunas, tumbuh hingga berbuah dan dituai pada musimnya. Bagaimana menangkap maksudnya?


Sebaiknya perumpamaan ini jangan difahami sebagai penjelasan bahwa Kerajaan Allah itu butuh waktu untuk tumbuh hingga berbuah. Pendapat seperti itu memang tidak keliru - semua pertumbuhan memerlukan waktu dan keuletan dst. Tetapi perumpamaan ini justru tidak memusatkan perhatian ke sana. Yang ditonjolkan dalam perumpamaan ini ialah kuasa ilahi yang tidak bergantung pada upaya manusia. Dengan demikian diajarkan agar orang membiarkan kehadiran ilahi ini bergerak menurut iramanya sendiri.


Apakah tafsiran ini berlawanan dengan pengertian bahwa manusia perlu menerima dan menanggapi anugerah ilahi agar pemberian itu betul-betul menjadi nyata? Guna mendalami pertanyaan ini baiklah diingat sebuah perumpamaan lain mengenai penabur dalam Mrk 4:1-20 yang menebar benih di lahan berbeda-beda: pingir jalan, tanah berbatu-batu, semak berduri, dan tanah yang baik. Hanya di tanah yang baik sajalah benih akan tumbuh terus dan berbuah berlipat ganda. Begitu digambarkan pula bahwa benih membutuhkan lahan yang cocok. Namun pengajaran dalam perumpamaan itu bukannya untuk menilai dan menghakimi mana lahan yang tak baik, melainkan untuk mengajak agar orang mengusahakan agar benih mendapat lahan yang baik. Bila mendapati benih jatuh di pingir jalan, bawalah ke tanah yang baik, begitu pula bila mendapati benih di tanah yang berbatu-batu dan semak duri, pindahkan ke tanah yang baik! Perumpamaan diberikan untuk menghimbau, bukan untuk mengadili.


Bila demikian maka perumpamaan dalam Mrk 4:26-29 yang dibicarakan kali ini dapat dimengerti sebagai ajakan untuk membiarkan benih tumbuh terus dengan daya yang ada di dalamnya. Sudah diandaikan bahwa lahannya ialah lahan yang cocok. Hanya butuh dibiarkan dan dijaga agar tetap baik. Membiarkan daya ini bergerak sendiri ialah kerohanian yang dapat memberi kepuasan batin. Orang boleh merasa aman karena sadar dirinya tanah yang baik dan telah menerima benih. Nanti bila waktunya tiba maka akan ada tuaian yang besar. Begitulah perumpamaan ini


Perumpamaan kedua, Mrk 4:30-32, mengenai biji sesawi, yang disebut biji terkecil dari segala jenis biji, tapi bila ditabur - tentunya di tanah yang cocok - dan bertumbuh akan menjadi besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di dahan-dahannya dan bernaung di situ. Yang hendak disampaikan di sini kiranya ialah besarnya Kerajaan Allah sendiri yang tak terduga-duga sebelumnya. Dari yang paling kecil tumbuhlah yang sedemikian besar. Pendengar dan juga pembaca akan bertanya-tanya biji apakah biji sesawi itu? Orang tergugah rasa ingin tahu. Boleh dikatakan, zaman itu juga orang tidak tahu persis apa biji sesawi yang dibicarakan Yesus. Bahkan Yesus sendiri pun bisa jadi tak pernah melihat apa tu biji sesawi. (Bandingkan dengan orang Jawa yang bisa bicara mengenai Pandawa lima tanpa pernah bertemu dengan salah seorang pun dari mereka, karena memang mereka tak pernah ada!) Ungkapan itu dipakai sebagai perumpamaan dan tidak perlu dicari-cari apa padanannya dalam dunia pengetahuan tumbuh-tumbuhan! Beberapa waktu yang lalu dalam ilmu tafsir memang sering "pengetahuan" seperti ini dicari-cari dan dijadikan ukuran bagi penafsiran, tapi sekarang para ahli tafsir lebih berusaha menyadari makna sastra perumpamaan.


Bila hal di atas diterima, maka boleh dibayangkan bahwa Yesus justru memakai kata "biji sesawi" yang bakal mengherankan banyak orang guna menyampaikan warta khas mengenai Kerajaan Allah. Keheranan, ketakjelasan mengenai apa itu biji yang dimaksud justru menjadi bagian dari wartanya. Kerajaan Allah tetap misteri, namun pertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar tak terduga-duga. Orang dihimbau untuk menjadi seperti burung di udara, membangun sarang dan bernaung padanya.


Dalam penjelasan di atas, kedua perumpamaan mengenai Kerajaan Allah dipahami sebagai ajakan untuk membiarkannya tumbuh dengan daya ilahi yang ada di dalamnya dan menghormati bahkan mengherani kebesaran yang kerap tidak segera tampak. Dengan demikian perumpamaan ini dapat menjadi pengajaran yang menumbuhkan rasa percaya akan daya ilahi sendiri


PENGAJARAN KHUSUS - BAGI SIAPA?


Dalam ay. 33-34 disebutkan bahwa Yesus tidak berbicara kepada orang banyak tanpa memakai perumpamaan, tetapi penjelasannya ia berikan kepada para murid. Kepada orang banyak Yesus menyampaikan imbauan, seperti dalam uraian di atas. Kepada para murid, yakni kelompok yang lebih dekat padanya, diberikannya uraian secara tersendiri. Dalam kaitan dengan dua perumpamaan tadi Injil Markus tidak memberi penjelasan lebih jauh tentang uraian Yesus itu. Pembaca boleh menduga-duga. Tetapi tak akan sampai pada pengertian baru. Perlu diingat bahwa catatan Markus itu mengenai para murid, bukan mengenai kita pada zaman ini. Kelirulah bila kita ingin menyamakan diri sebagai para murid yang dikatakan telah menerima uraian tersendiri. Ini semacam sikap sok rohani yang mau menonjolkan diri telah dapat pengajaran khusus. Bisa-bisa malah menghimpit iman. Lebih baik menganggap diri sama seperti "orang banyak", pendengar umum, yang disebut dalam Injil, yang mendengarkan perumpamaan dan menikmatinya. Sikap ini lebih memberi kemerdekaan batin, lebih memungkinkan orang memasuki dunia perumpamaan dan memetik hikmatnya. Bila langsung ingin menyamakan diri dengan para murid waktu itu, paling banter orang hanya akan sampai pada pernyataan-pernyatan moralistis basi tanpa mengolah makna perumpamaannya.


Salam hangat,

A. Gianto

MINGGU BIASA XI/B – 17 JUNI 2012

MINGGU BIASA XI/B – 17 JUNI 2012
Yeh 17:22-24; 2Kor 5:6-10; Mrk 4:26-34
Pengantar
Hari ini kita merayakan Ekaristi Minggu Biasa XI di tahun liturgi B. Kita bersyukur karena Tuhan senantiasa hadir dan merajai kita sehingga hidup kita selalu terjamin. Wujud nyata kehadiran dan penyertaan Tuhan yang paling istimewa kita alami dalam Ekaristi. Sebab, dalam setiap Ekaristi, Yesus sendiri hadir dalam rupa roti dan anggur yang dikosekrir menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan menyambut komuni kudus, kita sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus. Ia sungguh-sungguh hadir dan menyertai kita. Dalam Dia, kita tumbuh dan berkembang secara rohani serta menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.
Homili
Warta gembira Sabda Tuhan yang dihidangkan kepada kita pada hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah. Nah, apakah Kerajaan Allah itu? Yesus sendiri tidak pernah menjelaskan secara gamblang definisi Kerajaan Allah, selain dengan perumpanaan, seperti yang kita dengarkan hari ini. “Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah ….” (Mrk 4:26). “Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan ke tanah … ”(Mrk 4:31).
Dalam Kitab Suci kita, istilah Kerajaan Allah merupakan terjemahan dari bahasa Yunani βασιλεια (Basiliea). Bagi orang Yahudi, kata Basiliea sebenarnya berarti “Allah yang meraja”. Namun, karena mereka merasa tidak pantas menyebut nama “Allah” yang begitu kudus dan luhur secara langsung, maka istilah “Allah yang meraja”  diungkapkan secara lain, yaitu “Kerajaan Allah”. Dengan demikian, arti dan makna Kerajaan Allah bukanlah tempat seperti Kerajaan Majapahit atau Kraton Yogyakarta. Kerajaan Allah berarti Allah yang aktif memerintah atau meraja di dunia.
Dalam doa Bapa Kami, arti Kerajaan Allah dapat dijelaskan secara tepat, yaitu dengan menghubungkan datangnya Kerajaan Allah dan melakukan kehendak-Nya. “Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah Kehendak-Mu”. Di mana  kehendak Allah dilakukan dengan ketaatan yang sempurna, di situlah, Kerajaan Allah diwujudkan. Sebab, setiap kali kita melakukan kehendak Allah, berarti kita mempersilakan Allah hadir, memerintah dan merajai kita. Kita membiarkan hidup kita dirajai oleh Allah. Kita membiarkan Allah meraja atas hidup kita.
Bacaan-bacaan hari ini memberikan beberapa penegasan kepada kita mengenai apa tandanya kalau Kerajaan Allah hadir di tengah-tengah kita? Apa tandanya kalau Allah hadir, memerintah dan merajai kita?
Tanda yang pertama kita ambil dari bacaan kedua. Membiarkan diri dirajai oleh Allah berarti selalu “berusaha, entah di dalam tubuh entah di luarnya, supaya kami berkenan kepada Allah” (2Kor 5:9). Hal ini menegaskan kaitan antara datangnya Kerajaan Allah dengan melakukan kehendak-Nya sebagaimana diajarkan Yesus dalam doa Bapa Kami. Kita akan berkenan kepada Allah kalau kita melaksanakan kehendak-Nya. Sebab, dengan melaksanakan kehendak-Nya, berarti hidup kita dirajai oleh Allah. Allah kita jadikan raja yang kita hormati, kita sembah, kita taati dan kita laksanakan kehendak-Nya. Kita mundhi dhawuh Dalem lan ngemban karsa Dalem.
Dari bacaan pertama dan Injil, ditegaskan bahwa tanda kalau Allah hadir, memerintah dan merajai kita adalah kita tumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Yach, seperti benih yang ditabur, tumbuh menjadi besar, berkembang dan berbuah (Mrk 4:26-29; Yeh 17:23). Tentu saja, pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksud di sini adalah dalam hal rohani atau keutamaan-keutamaan Kristiani, yaitu iman, pengharapan dan kasih. Jadi, tanda kedua kalau kita dirajai oleh Allah adalah kita tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam iman, pengharapan dan kasih. 
Selain itu, bacaan pertama dan Injil juga memberikan tanda lain. Semua tanaman tumbuh dan berkembang. Namun tidak semuanya berbuah. Meskipun demikian, tanaman yang tidak menghasilkan buah masih tetap berguna, yaitu dengan menjadi tempat berlindung dan bernaung bagi bangsa burung (Mrk 4:32; Yeh 17:23). Jadi, tanda ketiga kalau kita membiarkan Allah hadir, memerintah dan merajai kita adalah kita mampu memberikan naungan, keteduhan dan perlindungan bagi orang lain. Orang-orang yang berada di dekat kita merasa aman, nyaman, damai, berbahagia dan bersukacita.
Inilah tiga tanda kalau kita menjadikan Allah sebagai raja atas hidup kita. Kita berusaha sungguh-sungguh melaksanakan kehendak-Nya sehingga hidup kita berkenan kepada-Nya. Kita tumbuh, berkembang, dan berbuah dalam iman, harapan, dan kasih. Kita menjadi naungan yang memberikan rasa aman, nyaman, damai, bahagia dan sukacita bagi orang lain.
Marilah, kita mohon kepada Tuhan, semoga ketiga hal tersebut semakin nyata terwujud dalam diri kita, demi semakin dimuliakannya nama Tuhan, kini dan sepanjang masa. Amin. 
Rm. Ag. Agus Widodo, Pr