Rabu, 13 Februari 2013 Hari Rabu Abu

Rabu, 13 Februari 2013
Hari Rabu Abu
- Hari Pantang dan Puasa

“Dengan kehendak-Nya yang Mahakuasa, Tuhan menyatakan keinginan-Nya agar pertobatan terbuka bagi setiap orang yang dicintai-Nya” (Paus Klemens II)

Antifon Pembuka (Keb 11:24.25.27)

Engkau menaruh belas kasih kepada semua orang, dan tidak membenci ciptaan-Mu, ya Tuhan. Engkau tidak memperhitungkan lagi dosa manusia bila ia bertobat. Engkau sayang akan mereka, sebab Engkaulah Tuhan Allah kami

Doa Pagi

Allah Bapa kami yang Maharahim, perkenankanlah semua pengikut Kristus memasuki Masa Prapaskah ini. Kuatkanlah kami agar mampu menentang kuasa kejahatan. Semoga kami dapat menyangkal diri dan menemukan kekuatan karena berpuasa dan berpantang.
Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Nubuat Yoel (2:12-18)
 
"Sekarang juga, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

“Sekarang,” beginilah sabda Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, lalu meninggalkan berkat menjadi kurban sajian dan kurban curahan bagi Tuhan, Allahmu. Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang lanjut usia, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah pengantin laki-laki keluar dari kamarnya, dan pengantin perempuan dari kamar tidurnya. Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan mezbah, dan berkata, “Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa-bangsa: “Di mana Allah mereka?” Maka Tuhan menjadi cemburu karena tanah-Nya dan menaruh belas kasihan kepada umat-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
do = bes, 4/4, PS 812 (lih. MT Mg Prapaskah I Th. A) atau
do = f, 3/4, PS 813 (lih. MT Rabu Abu Th. A)
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
atau Ya Tuhanku, hapuslah dosaku.
atau Mohon ampun kami orang berdosa.
Ayat. (Mzm 51:3-6a.12-14-17; Ul: 3a)
1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu, hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku dan tahirkanlah aku dari dosaku!
2. Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
3. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam diriku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku!
4. Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu, dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!

Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus (5:20 - 6:2)
 
"Berilah dirimu didamaikan dengan Allah, sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan."

Saudara-saudara, kami ini adalah utusan-utusan Kristus; seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Kristus yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Sebab teman-teman sekerja, kami menasihati kamu supaya kamu jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman, “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Camkanlah, saat inilah saat perkenanan itu; hari inilah hari penyelamatan itu.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. Jangan kautegarkan hatimu; dengarkanlah suara Tuhan pada hari ini.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:1-6.16-18)
 
"Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau."

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu, ‘Mereka sudah mendapat upahnya’. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
 
 
Renungan

Tahukah anda filosofi debu? Sebagian besar dari kita pasti akan mengernyitkan dahi sambil berkata, "Bagaimana mungkin dari abu atau debu ada sebuah kebijaksanaan! Bukankah debu itu identik dengan sesuatu yang kotor dan menjijikkan?" Dalam jumlah kecil, butiran-butiran debu memang dapat mengurangi kebersihan dan merusak kesehatan manusia. Namun, tidak dalam jumlah besar. Debu bahkan diperlukan, katakan saja sebagai media tumbuhnya tanam-tanaman, apalagi kalau debu yang dimaksud adalah debu dari letusan gunung berapi. Tak hanya menjadi media tumbuhnya tanam-tanaman saja, bahkan kumpulan debu itu bisa dibentuk menjadi beraneka macam benda sesuai dengan keinginan kita.

Hal itu hanya akan terjadi jika ia memiliki kandungan air. Kalau tidak percaya, amatilah struktur tanah liat. Bukankah tanah liat akan berguna jika ia basah dan lembab? Jika ia kering ia hanyalah butiran-butiran debu yang akan berterbangan jika ditiup angin. Singkatnya, debu hanyalah butiran-butiran yang tidak berguna, bahkan merugikan jika ia kering dan tidak lembab. Sebaliknya, debu akan sangat bermanfaat jika ia lembab dan basah. Ya, itulah filosofi debu.

Hari ini kita merayakan Rabu Abu, sebuah peringatan yang mengawali masa Prapaskah, masa pertobatan. Untuk menandai pertobatan itu, dahi atau kepala kita ditaburi debu. Selain menjadi tanda pertobatan, debu yang dilekatkan di dahi atau kepala adalah tanda bahwa kita ini penuh dengan kotoran dosa. Dengan maksud itu kita sebenarnya sedang diajar menyadari bahka kita ini manusia yang rapuh, manusia yang martabatnya rendah karena dosa dan kesalahan. Kita ibarat butiran-butiran debu kering yang tak berguna. Masa Prapaskah ini adalah masa di mana kita sedang mengharapkan embun bahkan air sebagai tanda pengampunan dari Bapa. Air inilah yang akan membuat kita butiran debu kering ini menjadi lebih berharga. Air pengampunan itu jugalah yang akan memudahkan Tuhan untuk membentuk kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Untuk menerima pengampunan yang berasal dari Bapa itu, Injil hari ini mengajarkan jalan-jalannya. Ada 3 jalan yang ditawarkan oleh Injil yakni doa, sedekah dan puasa. Jalan inilah yang wajib dilakukan oleh orang yang sungguh-sungguh mau bertobat. Ketiga jalan itu pasti akan membawa para pelakunya sampai pada Bapa dan menerima pengampunan-Nya. Betapa luhur ketiga jalan tersebut. Karenanya Yesus mengingatkan agar kita tidak menjadikan ketiga jalan itu topeng kemunafikan. Hal itu tampak apabila doa, sedekah dan puasa yang kita lakukan digerakkan semata-mata oleh semangat untuk pamer, untuk mengejar pujian serta pengakuan dari sesama. Alih-alih mendapat pengampunan dari Bapa, orang-orang yang berbuat demikian hanya akan menambah perbendaharaan dosanya.

Kita hanyalah kumpulan debu yang tidak ada artinya. Namun, kita harus percaya bahwa Tuhan tetap mengasihi kita. Ia telah menganugerahkan saat untuk bertobat, saat di mana Ia akan mengangkat derajat kita yang telah rusak oleh dosa. Karena itu, mari kita gunakan waktu ini dengan sungguh-sungguh.

RUAH

Selasa, 12 Februari, 2013 Hari Biasa Pekan V

Selasa, 12 Februari, 2013
Hari Biasa Pekan V

“Aku tak lagi memiliki apa pun, Allah yang baik dapat memanggilku kapan pun Ia kehendaki” (St. Yohanes Maria Vianey)


Antifon Pembuka (Mzm 8:2a)

Tuhan Allah kami, betapa mulia nama-Mu di seluruh dunia!

Doa Pagi

Allah pencipta langit dan bumi, sungguh besar kuasa-Mu atas bumi dan segala ciptaan-Mu. Semoga keindahan segala makhluk di bumi ini memberi semangat kepadaku untuk memelihara dan selalu bersyukur atas anugerah yang boleh kuterima hari ini. Terpujilah Engkau, kini dan sepanjang masa. Amin.

Seluruh kisah penciptaan mencapai puncaknya pada penciptaan manusia. Manusia diciptakan, laki-laki dan perempuan, menurut gambar-Nya. Artinya, manusia menjadi wakil Tuhan di atas bumi ini.

Bacaan dari Kitab Kejadian (1:20-2:4a)

  
"Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita."
  
Ketika menciptakan alam semesta, Allah bersabda, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, sabda-Nya, “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” Jadilah petang dan pagi: hari kelima. Bersabdalah Allah, “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata serta segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar, segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Bersabdalah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara; atas ternak dan atas seluruh bumi, serta atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah bersabda kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Bersabdalah Allah, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji. Itulah akan menjadi makananmu. Sedang kepada segala binatang di bumi dan burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demiian. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. Maka jadilah petang dan pagi: hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi beserta segala isinya. Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu. Maka brhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu. Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 2/4, PS 832
Ref.
Betapa megah nama-Mu Tuhan, di seluruh bumi.
Ayat.
(Mzm 8:4-5.6-7.8-9; R: 2) 1. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kaupasang: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
2. Kauciptakan dia hampir setara dengan Allah, Kaumahkotai dengan kemuliaan dan semarak. Kauberi dia kuasa atas perbuatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kautundukkan di bawah kakinya.
3. Domba, sapi dan ternak semuanya, hewan di padang dan margasatwa; burung di udara dan ikan di laut, dan semua yang melintasi arus lautan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Condongkanlah hatiku kepada perintah-Mu, ya Allah dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku

Yesus mengkritik praktik hidup munafik sekelompok orang Farisi dan ahli Taurat. Pertama, karena mereka ini lebih suka memerhatikan praktik-praktik lahiriah yang kelihatan, tetapi lupa mengolah dengan baik apa yang lebih penting, yakni apa yang ada dalam hati. Kedua, karena mereka mencoba menafsirkan hukum sedemikian rupa sehingga mendatangkan keuntungan bagi mereka sendiri.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:1-13)

 
"Kamu mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia."
 
Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?” Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: ‘Hormatilah ayahmu dan ibumu!’ Dan: ‘Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati!’ Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapa atau ibunya: ‘Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk kurban, yaitu persembahan kepada Allah’, maka kamu membiarkan dia untuk tidak lagi berbuat sesuatu pun bagi bapa atau ibunya. Dengan demikian sabda Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan!”

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


Ketakutan mengubah adat istiadat kerapkali menjadi penghalang serius penghayatan keagamaan. Mengapa? Karena setiap zaman membuka rahmatnya sendiri, setiap waktu membawa berkatnya sendiri; dan kita diminta untuk membaca tanda-tanda zaman. Apakah kita termasuk orang konservatif mapan yang takut dengan perubahan?

Doa Malam


Tuhan Yesus, berkenanlah hadir dalam diriku, dalam kesadaranku dan seluruh adaku, agar aku dapat berbuat sesuatu dan bertutur kata sesuai dengan kehendak-Mu. Terimalah persembahanku hari ini, agar dari jiwa dan raga terlahir buah-buah yang baik dalam kehidupanku. Amin.
 

RUAH

Pesan Bapa Suci Paus Benediktus XVI untuk Hari Orang Sakit Sedunia Yang ke-21

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
(Lukas 10:37)




Saudara-saudari terkasih,

1. Pada tanggal 11 Februari 2013, perayaan liturgis Peringatan Bunda kita dari Lourdes, Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21, akan dirayakan secara meriah di Gua Maria Altotting. Hari ini dipersembahkan bagi orang sakit, para perawat kesehatan, umat beriman dan bagi semua orang yang berkehendak baik “waktu yang khusus untuk berdoa, sharing, mempersembahkan penderitaan setiap orang demi kebaikan Gereja. Demikian juga, hari ini merupakan panggilan bagi semua orang untuk mengenali wajah-wajah saudara-saudari yang menderita. Wajah Kristus sendiri yang sedang menderita, wafat dan bangkit kembali, yang telah membawa keselamatan bagi umat manusia” Yohanes Paulus II, Surat untuk lembaga Hari Orang Sakit Sedunia, 13 Mei 1992,3). Pada kesempatan ini saya merasa sangat dekat sekali dengan Anda, para sahabatku yang terkasih, yang pada saat ini sedang dirawat di pusat-pusat perawatan kesehatan (rumah sakit, red) atau di rumah, yang sedang bergulat dengan pencobaan yang disebabkan oleh penyakit dan aneka penderitaan. Semoga Anda sekalian diteguhkan oleh kata-kata penghiburan dari Bapak-bapak Konsili Vatikan Il : “Anda tidak sendirian, dipisahkan, ditinggalkan atau seolah-olah tidak berguna. Anda semua telah dipanggil oleh Kristus dan Anda adalah hidup dan gambaran Diri-Nya secara nyata” (Pesan untuk Orang yang Miskin, Sakit dan menderita).

2. Dengan tetap memandang Anda sebagai sahabat dalam peziarahan rohani yang menghantar kita dari Lourdes, suatu tempat yang melambangkan harapan dan anugerah, menuju Gua Altotting, saya ingin mengusulkan untuk refleksi Anda suatu contoh gambaran tentang Orang Samaria yang baik hati (bdk. Luk.10:25-37). Perumpamaan Injil yang diceritakan kembali oleh St. Lukas adalah bagian dari serangkaian peristiwa dan kejadian-kejadian yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang digunakan oleh Yesus untuk membantu kita memahami betapa dalam kasih Allah bagi setiap umat manusia, terutama mereka yang didera oleh penyakit atau penderitaan. Dengan kata-kata penutup dari perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37), Tuhan juga menunjukkan sikap yang harus dimiliki oleh setiap murid-Nya terhadap sesamanya, terutama mereka yang berkekurangan. Kita perlu menarik dari kasih Allah yang tanpa batas, lewat hubungan yang mendalam dengan-Nya dalam doa, kekuatan untuk menghayati hidup sehari-hari dalam bentuk perhatian yang konkrit, seperti yang dilakukan oleh Orang Samaria yang baik hati, bagi mereka yang menderita baik secara jasmani maupun rohani yang membutuhkan pertolongan kita, tidak peduli apakah kita mengenal mereka atau tidak dan bahkan mereka yang miskin sekalipun. Hal ini berlaku, tidak hanya bagi para pekerja pastoral atau perawat kesehatan, tetapi juga bagi setiap orang, bahkan bagi si penderita sakit itu sendiri, yang dapat mengalami kondisi seperti ini dari sudut pandang iman: “bukan dengan menghindar atau melarikan diri dari penderitaan kita menjadi sembuh, melainkan terutama oleh kemampuan kita menerima situasi tersebut, mendewasakan diri melalui penderitaan dan menemukan maknanya melalui persatuan dengan Kristus, yang rela menderita dengan kasih-Nya yang tak terbatas.” (Spe Salvi, 37).

3. Banyak Bapa Gereja melihat Yesus sendiri di dalam diri Orang Samaria yang baik hati; dan melihat Adam di dalam diri orang yang jatuh di tangan para perampok, jati diri kita yang terluka dan tersesat oleh karena dosa (bdk. Origenes, Homili pada Injil Lukas XXXIV,1-9; Ambrosius, Komentar terhadap Injil St. Lukas, 71-84; Agustinus, Khotbah 171). Yesus adalah Putera Allah, yang menghadirkan kasih Bapa, kasih yang setia, abadi dan tanpa batas. Tetapi Yesus juga berkenan menanggalkan pakaian keilahian-Nya, yang meninggalkan status Ilahi-Nya untuk mengambil rupa manusia (bdk. Filipi 2:6-8), yang rela menderita sama seperti manusia, bahkan rela turun ke alam maut (neraka), sebagaimana yang kita daraskan dalam Syahadat, agar Dia membawa harapan dan terang. Dia tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah (bdk. Filipi 2:6) tetapi, dipenuhi dengan belarasa, Dia melihat luka bagaikan jurang yang sangat dalam dari penderitaan manusia agar Dia berkenan menuangkan minyak penghiburan dan anggur pengharapan.

4. Tahun Iman yang sedang kita rayakan adalah kesempatan yang tepat untuk mengintensifkan pelayanan kasih di dalam jemaat-jemaat gerejani kita, supaya setiap orang di antara kita dapat menjadi seorang Samaria yang baik hati bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang berada di sekitar kita. Di sini saya ingin mengingat kembali tokoh-tokoh yang tak terhitung banyaknya dalam sejarah Gereja yang telah menolong orang-orang sakit untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan rohani dari penderitaan mereka, sehingga mereka boleh melayani sebagai teladan dan semangat bagi yang lain. Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, “seorang pakar dalam scientia amoris (ilmu cinta)” (Novo Millennio lneunte, 42), mampu mengalami “persatuan yang mendalam dengan Penderitaan Kristus” yaitu suatu penyakit yang menghantar dia “kepada kematian melalui penderitaan yang amat hebat” (Pidato pada Saat Audiensi Umum, 6 April 2011). Venerabilis (yang pantas dihormati) Luigi Novarese, yang masih hidup dalam ingatan banyak orang, melalui seluruh pelayanannya menyadari betapa pentingnya doa bagi dan bersama dengan orang sakit dan yang menderita, dan dia sering mendampingi mereka ke tempat-tempat ziarah Maria, terutama ke Gua Maria di Lourdes. Raoul Follereau, tergerak oleh kasih terhadap sesama, mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang menderita penyakit Hansen, bahkan di belahan dunia yang paling jauh sekalipun, mempromosikan Hari Lepra Sedunia sebagai salah satu dari berbagai inisiatif yang dilakukannya. Beata (yang terberkati) Teresa dari Calcuta, selalu mengawali hari-harinya dengan perjumpaan dengan Yesus di dalam Ekaristi, setelah itu dia akan pergi ke jalan-jalan, dengan Rosario di tangannya, untuk menemukan dan melayani Tuhan di dalam diri orang-orang yang sakit, terutama mereka yang “tidak dikehendaki, tidak dicintai dan tidak diperhatikan”. Santa Anna Schäffer dari Mindelstetten, juga mampu memberi teladan mempersatukan penderitaan-penderitaan dirinya dengan penderitaan Kristus: “Tempat tidur pada saat dia sakit menjadi sel biara dan penderitaannya menjadi pelayanan misioner. Dikuatkan oleh komuni harian, dia menjadi pendoa yang tidak mengenal lelah dan cermin kasih Allah untuk mereka yang mencari bimbingannya” (Homili Kanonisasi , 21 October 2012). Di dalam Injil, Santa Perawan Maria adalah seorang yang teguh-setia mengikuti Putera-nya yang menderita menuju puncak pengorbanan-Nya di Golgota. la tidak kehilangan harapan di dalam kemenangan Tuhan atas kejahatan, penderitaan dan kematian-Nya, dan ia memahami bagaimana menerima dalam rangkulan iman dan kasih, Putera Allah yang lahir di kandang Betlehem dan wafat di Salib. Imannya yang teguh dalam kuasa Allah diterangi oleh kebangkitan Kristus yang menawarkan harapan kepada mereka yang menderita dan memperbaharui kepastian akan kedekatan dan penghiburan Tuhan.

5. Akhirnya, saya ingin menyampaikan sepatah kata sebagai ungkapan terima kasih yang hangat dan dukungan kepada lembaga-lembaga perawatan kesehatan Katolik dan masyarakat sipil, kepada keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas kristiani, kepada tarekat-tarekat religius yang terlibat di dalam pastoral perawatan orang sakit, kepada para pekerja perawatan kesehatan, kepada mitra-mitra dan para relawan. Semoga mereka semua menyadari secara penuh bahwa “Gereja saat ini menghayati suatu aspek fundamental dari misinya dalam menyambut setiap umat manusia dengan penuh kasih dan murah hati, terutama mereka yang lemah dan sakit” (Christiŕideles Laici, 38).

Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21 ini kepada perantaraan Bunda kita Penuh Rahmat, yang dihormati di Altotting, semoga dia senantiasa mendampingi mereka yang menderita dalam pencariannya akan penghiburan dan harapan yang mantap. Semoga dia membantu semua orang yang terlibat di dalam kerasulan belas kasih, supaya mereka menjadi orang-orang Samaria yang baik hati bagi saudara dan saudari mereka yang didera oleh penyakit dan penderitaan. Kepada mereka semua, dengan sepenuh hati saya berikan Berkat ApostoIik saya.

Dari Vatican, 2 Januari 2013

PAUS BENEDICTUS XVI

Disebarluaskan oleh:

BN Karya Kepausan Indonesia