Minggu Prapaskah I/C – 17 Februari 2013

Minggu Prapaskah I/C – 17 Februari 2013
Ul 26:4-10; Rm 10:8-13; Luk 4:1-13

Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah I. Waktu 40 hari masa Prapaskah merupakan kesempatan istimewa bagi kita untuk memurnikan diri, hati dan budi kita. Maka, marilah kita belajar dari Yesus, bagaimana Ia juga memurnikan diri di padang gurun selama 40 hari sebelum memulai karya perutusan-Nya.

Pertama-tama, marilah kita lihat bagaimana Yesus sendiri digoda oleh iblis. Hal menegaskan bahwa realitas godaan itu dapat mengenai siapa pun, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Lha, iblis itu menggoda Tuhan Yesus saja berani kok, apalagi hanya kita. Luk 4:1-13 (Injil hari ini diceritakan dialog Yesus dan iblis dengan merinci 3 tiga godaan yang disampaikan iblis kepada-Nya, yakni: mengenyangkan diri dengan mengubah batu menjadi roti (ay.3-4), mendapat kuasa duniawi asal mau menyembah iblis (ay.5-8), dan menunjukkan kehebatan dengan terjun dari bubungan Bait Allah (ay.9-12).

Iblis tidak berhasil menggoda Yesus. Namun, di akhir bacaan Injil dikatakan bahwa, “Iblis mundur dari Yesus dan menunggu waktu yang baik” (ay.13). Artinya, sampai sekarang iblis terus berusaha untuk mengoda kita murid-murid Kristus ini. Godaan untuk mengubah batu menjadi roti merupakan godaan akan hal-hal fisik-duniawi. Yesus yang berpuasa 40 hari, tentunya merasa lapar sehingga Ia digoda untuk mengubah batu menjadi roti. Hal ini menunjukkan juga bahwa roh jahat itu seringkali menyerang bagian dari diri kita yang lemah dengan menawarkan hal-hal yang kita butuhkan, seperti makanan, uang, harta, kekayaan, dll. Namun, sekaligus tampak juga bahwa sifat roh jahat itu menawarkan jalan pintas dan cenderung mengalalkan segala cara, tanpa usaha dan kerja keras. Kalau Yesus mengubah batu menjadi roti – itu berarti tanpa beaya produksi - kemudian menjualnya, Ia bisa menjadi sangat kaya. Maka, godaan pertama ini juga dapat dikaitkan dengan godaan akan materi dan kekayaan.

Sementara itu, godaan yang kedua, yaitu agar Yesus menyembah iblis kemudian akan diberi kekuasaan atas dunia, jelas merupakan godaan untuk mendapatkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Sedangkan godaan untuk terjun dari bubungan Bait Allah merupakan godaan akan popularitas atau ketenaran. Sebab, kalau Yesus berhasil terjun dan selamat, orang akan memandang-Nya sebagai orang yang hebat.

Kegita godaan tersebut, yaitu godaan untuk mendapatkan hal-hal duniawi, kekayaan, kekuasaan, dan popularitas dengan menghalalkan segala cara, masih sering kita alami sampai sekarang dan mungkin akan sampai sepanjang segala abad. Banyak orang, terperangkap di dalamnya serperti yang sering kita dengar dalam kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, jual beli kursi jabatan, perampokan, dll. Iblis selalu mencari waktu yang tepat untuk menyeret kita masuk dalam perangkapnya. Maka, kita harus selalu waspasa.

Mengingat bahwa iblis, setan, roh jahat, atau apa pun namanya selalu mencari saat yang tepat untuk menggoda kita, marilah kita belajar dari Yesus, bagaimana Ia bisa terluput dari godaan. Ia bisa memenangkan bimbingan Roh yang mengarahkan kepada kebenaran dan kebaikan serta mengalahkan iblis yang membujuk untuk melakukan dosa dan kejahatan. Berdasarkan Injil Lukas ini, setidaknya ada 2 hal pokok yang dapat kita teladani dari Yesus.

Pertama, kita harus berani masuk dalam keheningan seperti Yesus yang mengalami kesunyian padang gurun. Dalam kesunyian tersebut, Yesus menjadi semakin peka akan bimbingan Roh dan mampu melihat kehadiran iblis yang menggoda-Nya. Maka, sebagai langkah awal pertobatan dan pemurnian diri, kita harus berani menarik diri dari keramian dan kesibukan, untuk barang sejenak mengalami keheningan. Dalam keheningan itulah kita akan mampu membedakan mana bimbingan Roh baik dan mana bujukan roh jahat. Kita juga akan dimampukan untuk memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan, seperti Yesus yang mampu untuk bertahan dalam bimbingan Roh dan mengalahkan godaan Iblis.

Dalam hal ini, kita ingat akan salah satu falsafah hidup dalam bahasa Jawa, yaitu: neng-ning-nung-nang. Kalau kita berani meneng (diam, hening), kita akan wening (mampu melihat dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan jernih, tahu mana yang benar – mana yang salah, mana yang baik – mana yang buruk) dan menjadi dunung (bisa menempatkan diri secara benar) serta menang (diberi kemenangan dalam memperjuangkan kebenaran dan mengalahkan godaan/kejahatan).

Secara konkret, langkah masuk dalam keheningan ini dapat kita lakukan dengan berpuasa dan berpantang – dalam arti membatasi – penggunaan handphone, termasuk blackberry, iPhone dan semacamnya, televisi dan segala bentuk audio-video yang lain. Kita batasi penggunaan alat-alat tersebut. Kita menggunakan hanya sejauh perlu saja dan hanya pada saat serta di tempat yang tepat supaya kita bisa mempunyai lebih banyak waktu untuk diam dan hening, untuk memeriksa batin, dan untuk berdoa serta membaca dan merenungkan sabda Tuhan.

Kedua, kalau kita memperhatikan jawaban-jawaban Yesus atas ketiga godaan yang disampaikan iblis kepada-Nya, kita akan tahu bahwa Yesus selalu menjawabnya berdasarkan sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Jawaban atas godaan untuk mengubah batu menjadi roti didasarkan pada Ul 8:3. “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan”. Jawaban atas godaan untuk menyembah iblis agar mendapatkan kuasa duniawi didasarkan pada Ul 6:13. “Engkau harus takut akan Tuhan Allah-Mu, kepada Dia engkau haruslah beribadah”. Jawaban atas godaan untuk terjun dari bubungan Bait Allah didasarkan pada Ul 6:16. “Janganlah kamu mencobai Tuhan Allahmu seperti kamu mencobai Dia di Masa”.

Jawaban-jawaban Yesus ini menegaskan bahwa Sabda Tuhan mempunyai dan memberi kekuatan untuk mengalahkan godaan roh jahat. Maka, supaya usaha-usaha pertobatan kita dapat berhasil dengan baik, kita harus mengikuti teladan Yesus ini, yaitu hidup berdasarkan Sabda Tuhan. Jelasnya, kita diajak untuk semakin mencintai Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, dengan semakin tekun membaca dan merenungkannya. Sabda Tuhan tidak hanya informatif terapi juga transformatif. Artinya, Sabda Tuhan itu tidak hanya memberi informasi dan inspirasi bagi kita tetapi juga memberi kekuatan untuk mengalahkan godaan dan mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Kalau kita tekun membaca, mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, setiap kali kita menghadapi godaan untuk melakukan dosa dan kejahatan, kita akan diingatkan akan salah satu atau beberapa kutipan Kitab Suci yang mencerahkan sehingga kita beroleh kekuatan untuk tidak melakukannya. Sebaliknya, kalau kita ragu-ragu untuk melakukan yang baik dan benar, kita juga akan diingatkan akan salah satu atau beberapa kutipan Kitab Suci sehingga kita dikobarkan untuk melaksanakannya. Dengan demikian, Sabda Tuhan akan mengubah kita untuk menjadi semakin suci dan murni.

Marilah kita semakin mencintai keheningan dan Sabda Tuhan, karena di situkan kita mendapat kekuatan untuk bertobat dan memurnikan serta menyucikan diri.
Ag. Agus Widodo, Pr

Kobus: Syarat Utama (17 Februari 2013)







silahkan klik gambar untuk memperbesar

Minggu, 17 Februari 2013 Hari Minggu Prapaskah I (C)

Minggu, 17 Februari 2013
Hari Minggu Prapaskah I (C)

Hidup kita sebagai peziarah di dunia ini tidak dapat bebas dari pencobaan --- St Agustinus


Antifon Pembuka (Mzm 90:15-16)

Ia akan berseru kepada-Ku dan Aku akan menjawabnya. Aku akan tetap membebaskan dan memuliakannya, serta memuaskan dia dengan usia panjang.

Doa Pagi


Allah Bapa yang Mahakuasa, tentulah kami menjadi gelandangan dan orang asing di dunia ini, andaikata Engkau tidak menemui kami dalam diri Yesus Almasih, penuntun kehidupan kami. Perkenankanlah Ia mengajar kami apa arti hidup dan membawa kami ke tanah-Mu. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Ulangan (26:4-10)
 

"Pengakuan iman bangsa terpilih."

Pada waktu itu Musa berkata kepada bangsanya tentang hal-ikhwal persembahan, katanya, “Imam harus menerima bakul dari tanganmu, dan meletakkannya di depan mezbah Tuhan, Allahmu. Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan Tuhan, Allahmu, begini: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja, dan tinggal di sana sebagai orang asing. Tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, maka kami berseru kepada Tuhan, Allah nenek moyang kami, lalu Tuhan mendengarkan suara kami; Ia memperhatikan kesengsaraan, kesukaran, dan penindasan terhadap kami. Lalu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda serta mukjizat-mukjizat Tuhan membawa kami keluar dari Mesir; Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, mi = fis, 3/4, PS 851
Ref. Ya Tuhan, lindungi kami di dalam kesesakan.
Ayat. (Mzm. 91:1-2.10-11.12-13.14-15)
1. Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan, "Tuhanlah tempat perlindungan dan kubu pertahananku, Allah yang kupercayai."
2. Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemah-mu; sebab malaikat-malaikat akan diperintahkan-Nya untuk menjaga engkau di segala jalanmu.
3. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk pada batu. Singa dan ular tedung akan kau langkahi, anak singa dan ular naga akan kauinjak.
4. Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkan-Nya. Aku akan membetenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkan dia dan memuliakannya.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (10:8-13)
 
"Pengakuan iman orang yang percaya kepada Kristus."

Saudara-saudara, inilah yang dikatakan Kitab Suci, “Firman itu dekat padamu, yakni di dalam mulut dan di dalam hatimu!” Itulah firman iman yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulutnya orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata, “Barangsiapa percaya kepada Dia tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan semua orang, dan Dia kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab barangsiapa berseru kepada nama Tuhan, ia akan diselamatkan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = es, 4/4, PS 966
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Sang Raja kemuliaan kekal.
Ayat. (Mat 4:4b)
Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (4:1-13)
 
"Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun dan di situ Ia dicoba."

Sekali peristiwa Yesus yang penuh dengan Roh Kudus kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dan dicobai Iblis. Selama di situ yesus tidak makan apa-apa, dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada Yesus, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” Kemudian Iblis membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi, dan dalam sekejap mata Ia memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku, dan aku akan memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Maka, kalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau harus berbakti!” Kemudian Iblis membawa Yesus ke Yerusalem, dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Allah akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu.” Yesus menjawab, kata-Nya, “Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Sesudah mengakhiri semua pencobaan itu, Iblis mundur dari Yesus, dan menunggu waktu yang baik.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami. 

 
Renungan

Ada yang berkata bahwa iblis sudah tidak mau lagi menampakkan diri pada manusia. Mengapa? Karena kalau iblis menampakkan diri, dan penampakannya itu dalam wujud yang mengerikan, maka manusia akan lari terbirit-birit, menjauh dari iblis. Nah, karena manusia lari menjauh itulah iblis tidak bisa lagi menggoda manusia.

Namun demikian, iblis tidak kekurangan akal. Agar misinya terlaksana, yaitu menggoda manusia agar menjauh dari Allah kita, iblis menggunakan metode yang canggih, yaitu menggunakan bisikan yang akan dapat mempengaruhi akal budi manusia. Maklum iblis tahu, manusia sekarang itu mengagung-agungkan kehebatan akal budi. Artinya, kita manusia menjalani dan membuat sesuatu hanya berdasarkan hasil pemikiran akal saja. Akal yang mewakili hasrat keinginan manusia.

Di sinilah letak jitunya iblis. Dengan mempengaruhi akal dan hasrat keinginan, manusia tidak lagi menghiraukan iman. Karena iblis tahu, iman adalah senjata ampuh yang bisa dimiliki manusia untuk mengalahkan dirinya. Karena itu, tidak perlu heran kalau manusia dewasa ini hidupnya lebih mencerminkan hidup iblis daripada mencerminkan dirinya yang serupa dengan gambaran dan wajah Allah.

Kita lihat saja kelihaian iblis ketika dia menjalankan misnya. Dan tidak tanggung-tanggung, yang iblis goda adalah Yesus (Luk 4:1-13). Iblis tahu Yesus itu Putra Allah. Tetapi iblis pun tahu, Yesus juga hadir sebagai manusia biasa seperti kita. Maka, iblis memahami benar kelemahan utama manusia yaitu kesombongan. Manusia punya dorongan kuat untuk menjadi penguasa, yaitu bisa berbuat dan membuat apa saja dari dirinya sendiri. Dalam hal ini mengubah batu menjadi roti karena Yesus selesai berpuasa. Namun, Yesus dapat mengalahkan kesombongan ini dengan mengatakan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja. Artinya Sabda dan Allah sendirilah sang penguasa, sumber kehidupan.

Iblis belum mau menyerah. Dia menyerang kelemahan manusia pada umumnya, yaitu kesenangan untuk menyembah berhala. Yesus diiming-imingi akan diberi semua kerajaan dunia. Namun, semakin tegas Yesus menghadapi godaan ini, Dia berkata, "Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti."

Dengan keahlian iblis juga mulai menggunakan kutipan ajaran Taurat, iblis menggoda manusia Yesus untuk mempengaruhi akalnya agar Yesus mempunyai pemahaman bahwa manusia adalah segala-galanya, tak ada makhluk lain yang lebih hebat daripadanya. Namun, Yesus semakin keras menghardik iblis dengan berkata, "Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu."

Masa Prapaskah adalam masa yang penuh rahmat. Masa yang tepat bagi kita untuk melakukan pertobatan. Pertama, kita harus semakin jeli dengan cara-cara iblis menggoda kita. Menggoda akal budi kita. Kedua, keputusan dan perbuatan kita harus selalu menyertakan iman. Imanlah senjata ampuh kita untuk menghadapi dan melawan godaan iblis. 

Iman merupakan ketaatan pribadi - yang melibatkan seluruh pancaindera kita – bagi pernyataan kasih Allah yang tanpa syarat dan "penuh gairah" bagi kita, sepenuhnya terungkap dalam Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah yang adalah Kasih melibatkan tidak hanya batin tapi juga akal budi: "Pengakuan akan Allah yang hidup adalah salah satu jalan menuju kasih, dan 'ya' dari kehendak kita terhadap kehendak-Nya menyatukan akal budi, kehendak dan perasaan kita dalam seluruh pelukan tindakan kasih. Tetapi proses ini selalu akhir yang terbuka; kasih tidak pernah 'selesai' dan lengkap"( Deus Caritas Est, 17). --- Pesan Paus Benediktus XVI untuk Masa Prapaskah 2013

 
 Hieronimus Krisna Aji Nugroho, O.Carm / RUAH

Sabtu, 25 Februari 2012 Hari Sabtu sesudah Rabu Abu

Sabtu, 25 Februari 2012
Hari Sabtu sesudah Rabu Abu

“Pelayanan kita kepada Tuhan tidak berarti bahwa kita memberi sesuatu kepada-Nya” (St. Ireneus)

Antifon Pembuka (Mzm 69:17)

Ya Tuhan, dengarkanlah kami karena Engkau maharahim. Pandanglah kami sekadar kasih-Mu yang melimpah.

Doa Pagi

Yesus, kami mau mengikuti-Mu. Indahkanlah langkah hidup kami agar kami bertingkah laku sesuai dengan kehendak-Mu. Ini semua kami mohon kepada-Mu, sebab Engkaulah Putra Allah yang hidup, Tuhan dan Penyelamat kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

“Ingatlah” adalah perintah terpenting Tuhan kepada bangsa Israel yang dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Ingat bahwa mereka dulu menderita – maka mereka harus senantiasa ingat pada mereka yang menderita. Namun, tidaklah mudah senantiasa hidup dalam “ingatan” ini, terlebih ketika keadaan sudah enak dan makmur. Karena itu Tuhan menjanjikan kepada mereka berkat dan penyertaan, ketika mereka hidup dijiwai oleh ingatan itu.

Bacaan dari Kitab Yesaya (58:9b-14)
 
"Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri, maka terangmu akan terbit dalam gelap."

Inilah Firman Allah, “Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu, dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah; apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu. Engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebut “Yang memperbaiki tembok yang tembus”, “Yang membetulkan jalan” supaya tempat itu dapat dihuni. Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebut hari Sabat sebagai “Hari Kenikmatan” dan hari kudus Tuhan sebagai “Hari Yang Mulia”, apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu sendiri, atau berkata omong kosong; maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan. Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.
Ayat. (Mzm 86:1-2.3-4.5-6)
1. Sendengkanlah telinga-Mu, ya Tuhan, jawablah aku, sebab sengsara dan miskinlah aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi; selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
2. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
3. Sebab, ya Tuhan, Engkau sungguh baik dan suka mengampuni; kasih setia-Mu berlimpah bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pasanglah telinga kepada doaku, ya Tuhan, dan perhatikanlah suara permohonanku.

Bait Pengantar Injil, do = bes, 4/4, PS 965
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yeh 33:11)
Aku tidak berkenan akan kematian orang fasik, melainkan akan pertobatannya supaya ia hidup.

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak bisa memahami bagaimana Yesus dekat-dekat dengan orang berdosa. Logika Yesus amat sederhana: bukankah orang sakit yang pertama-tama membutuhkan dokter? Dan bukankah pertama-tama orang berdosa yang membutuhkan keselamatan? Orang-orang saleh dan kaum agamawan kerap gagal memahami logika yang sederhana ini.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:27-32)
 
"Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat."
 
Sekali peristiwa Yesus melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Lalu Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya. Sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain ikut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan

Yesus memanggil Matius, bukan tanpa perhitungan. Matius adalah keturunan Lewi, keturunan imam, yang memang mengemban penggembalaan umat. Dalam hidupnya hingga saat itu, mungkin Matius berada dalam kondisi ‘sakit’, karena bergulat dengan urusan pajak penjajah yang sarat dengan godaan pungli. Namun, argumen Yesus sungguh tak terbantahkan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!” Mau dan mampukah kita seperti Yesus, menerima orang yang namanya tercoreng di mata masyarakat?

Doa Malam

Syukur ya Yesus, karena kami telah melewati hari ini dalam naungan kasih-Mu. Namun sesungguhnya kami masih jauh dari yang Kaukehendaki. Maka ampunilah kami ya Yesus, orang yang lemah dan berdosa ini. Amin.


RUAH