Minggu Prapaskah III/C - 3 Maret 2013



MINGGU PRAPASKAH III/C – 3 Maret 2013
Kel 3:1-8a.13-15; 1Kor 10:1-6.10-12; Luk 13:1-9

Hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah III. Karena masa prapaskah ada 5 minggu sebelum memasuki Pekan Suci, berarti sekarang kita sudah berada di tengah-tengah. Tentunya (atau semoga?), kita masih ingat akan pesan pokok yang kita terima saat kita memulai masa prapaskah pada Hari Rabu Abu yang lalu, yakni “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Sekarang, seruan pertobatan itu kembali ditegaskan kepada kita, bahkan disertai ancaman. “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa” (Luk 13:3.5).

Sabda Tuhan ini rasanya amat keras karena mengandung ancaman. Namun, apakah memang Tuhan itu keras, kejam, mengancam, dan menghukum? Memang untuk menggerakkan pertobatan seringkali lebih gampang dengan menampilkan ancaman berupa hal-hal yang mengerikan bila orang tidak melakukannya. Namun, hal ini tidak akan banyak memberi manfaat tanpa disertai keyakinan akan kemurahan hati dan belas kasih Tuhan. Inilah yang ditegaskan oleh bacaan-bacaan hari ini, baik bacaan I maupun Injil.

Kita lihat bacaan pertama. Ketika umat Israel berada di Mesir dan diperbudak oleh orang Mesir, Tuhan tidak membiarkan mereka. Ia mengutus Musa untuk membebaskan umat-Nya. “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka. Ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu, Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir” (Kel 3:7-8a).

Perumpamaan tentang pohon ara dalam Injil juga menegaskan bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan untuk bertobat. Ia tidak rela kalau kita binasa begitu saja tanpa menghasilkan buah. Maka, Ia memenuhi permintaan penggarap untuk memberi kesempatan satu tahun lagi. Padahal, bacaan ini, kapan pun kita baca tidak akan berubah. Tuhan selalu memberi kesempatan setahun lagi, setahun lagi dan seterusnya tidak pernah berakhir. Jelas, hal ini menggambarkan kemurahan hati dan belas kasih Tuhan kepada kita supaya kita terus-menerus bertobat dan menghasilkan buah yang baik. Sebagaimana Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita dan Ia tidak pernah lelah serta bosan menanti kita bertobat, semoga kita juga tidak pernah lelah dan bosan untuk bertobat.

Tanggapan Yesus atas laporan dari beberapa orang mengenai orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus, juga menegaskan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang kejam, pendendam, penghukum dan pembunuh. Mereka mengira bahwa orang-orang itu dibunuh karena dihukum oleh Tuhan sebagai akibat atas dosa-dosa mereka yang lebih besar dari pada dosa orang-orang Galilea lainnya. Yesus menegaskan: Tidak! Yesus menolak gagasan bahwa pengalaman buruk, malapetaka, atau kematian yang tidak wajar adalah hukuman akibat dosa atau kesalahan. Ia menandaskan, baik orang-orang Galilea maupun orang-orang Yerusalem yang tertimpa menara itu tidak lebih berdosa daripada orang-orang lain.

Yesus memang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Namun, ia menggunakan peristiwa itu sebagai loncatan untuk mengajak orang agar bertobat dan memperbaiki diri. Kita tentu setuju bahwa pertobatan itu perlu dan harus. Seberapa pun besar dan banyaknya dosa kita, kalau kita mau bertobat, Tuhan mengampuni dan menyelamatkan. Sebaliknya, seberapa pun kecil dan sedikitnya dosa kita, Tuhan tidak akan mengampuni bila kita tidak bertobat. Dengan kata lain, kita tidak akan diampuni kalau kita tidak mau bertobat. Kita tidak akan diselamatkan kalau kita tidak mau diselamatkan.

Sekarang, pertanyaan praktisnya adalah: pertobatan macam apa yang harus kita lakukan? Tentu saja ada banyak. Namun, pada kesempatan ini satu saja, yaitu pertobatan dari kebiasaan memandang diri lebih benar dan lebih baik daripada orang lain seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang datang kepada Yesus. Mereka menganggap bahwa orang-orang Galilea yang dibunuh Pilatus dan orang-orang Yerusalem yang mati ditimpa menara Siolam itu berdosa sementara mereka dan orang-orang yang tidak mengalami malapetaka itu tidak berdosa atau dosanya lebih kecil dan sedikit.

Bukankah dosa ini juga sering kita lakukan? Betapa mudahnya kita membicarakan kejelekan orang lain, nggosip, ngrasani, ngrumpi atau apa pun namanya. Di mana pun, yang namanya ngrasani kejelekan orang lain biasanya mengasyikkan. Tidak hanya dalam kehidupan kita sehari-hari, di televisi pun merupakan acara dengan rating tinggi. Kepada kita yang seringkali jatuh dalam dosa demikian, hari ini Tuhan juga bersabda dengan tegas, “Sangkamu, mereka yang kamu bicarakan dan kamu jelek-jelekkan itu lebih besar dosanya daripada kamu? Tidak, kata-Ku kepadamu. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu pun akan binasa ….!” Namun, sekaligus Tuhan masih selalu memberi kesempatan kepada kita untuk menghasilkan buah-buah pertobatan.

Ag. Agus Widodo, Pr