Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

1Kor. 4:1-5; Mzm. 37:3-4,5-6,27-28,39-40; Luk. 5:33-39.

Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Salah satu pesan pokok dari kutipan Injil hari ini, dengan penekanan pada ayat yang saya kutip di atas, adalah pentingnya kita hidup secara kontekstual. Artinya, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan tempat dan situasi di mana kita berada secara aktual, tanpa kehilangan jati diri kita sebagai orang Kristiani. Seperti anggur. Anggur itu akan selalu menyesuaikan dengan bentuk botol atau kantong yang menjadi tempat/wadahnya tanpa kehilangan rasanya sebagai anggur. Mari kita belajar dari Beata Teresa dari Kalkuta yang kita peringati hari ini. Teresa berasal dari Albania (lahir 1910) lalu hijrah ke Irlandia dan bergabung dengan Suster-Suster Loreto di Dublin (1928). Setahun kemudian, ia berpindah ke Darjeeling, India, untuk menjalani masa novisiat dan setelah kaul pertama (1931), ia diutus berkarya di Kalkuta sebagai pengajar di SMA St Maria, sekolah khusus anak perempuan untuk orang-orang miskin. Perjumpaannya dengan banyak orang miskin di Kalkuta membuatnya tergerak untuk melayani mereka. Ia merasa yakin bahwa Kristus memanggil dan mengutusnya untuk melayani orang-orang miskin di kota itu. Maka, sejak tahun 1946, ia memohon kepada pimpinan biara dan uskup setempat untuk diperkenankan mewujudkan karya pelayanannya itu. Namun, ia tidak mudah mendapatkan ijin tersebut. Baru setelah 1,5 tahun berusaha, akhirnya awal tahun 1948, ia diizinkan oleh Uskup Agung Kalkuta, Mgr Ferdinand PĂ©rier SJ, untuk menggeluti panggilan barunya. Ia pun meninggalkan Biara Loreto dan setelah 6 bulan berlatih dasar-dasar medis, ia terjun ke daerah paling kumuh di Kalkuta untuk pertama kalinya. Di benaknya hanya ada satu tujuan, “merawat manusia yang paling tidak diinginkan, paling tidak dicintai, dan paling tidak dirawat” sepanjang hidupnya. Untuk mendukung karyanya itu, Bunda Teresa membuka sekolah dan mendirikan rumah bagi orang-orang yang sekarat. Pada bulan Oktober 1950, Vatikan memberi pengakuan kanonik atas kongregasi yang didirikannya, Misionaris Cinta Kasih, dengan 12 anggota. Pada saat wafatnya (1997), anggota Misionaris Cinta Kasih sudah berjumlah sekitar 4.000 orang, dengan ribuan relawan, yang menjadi anggota 610 lembaga yang tersebar di 123 negara. Demikianlah, Bunda Teresa. Dia bagaikan anggur yang berasal dari Albania dengan rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, dan ditempatkan di kantong kota Kalkuta. Beliau sendiri mengatakan: “Menurut darah, saya seorang Albania. Menurut kewarganegaraan, saya seorang India. Menurut iman, saya seorang biarawati Katolik. Menurut panggilan, saya milik dunia. Sementara hati saya, sepenuhnya saya milik Hati Yesus.” Luar biasa! 

Doa: Beata Teresa, doakanlah kami untuk mampu menghadirkan cita rasa khas kristiani, yakni cinta kasih, kepada siapa pun dan di mana pun kami berada. Amin. -agawpr-

Jumat, 05 September 2014 Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan

Jumat, 05 September 2014
Hari Biasa Pekan XXII - Jumat Pertama Dalam Bulan
    
Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati. (Katekismus Gereja Katolik, 108)
    
Antifon Pembuka (Mzm 37:4-5)
 
Carilah kebahagiaanmu dalam Tuhan, Ia akan meluluskan keinginan hatimu. Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan, percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.

Doa Pagi
 
Ya Allah, melalui Putra-Mu, Engkau telah menaburkan benih sabda-Mu dalam diri kami. Jadikanlah hati kami tanah yang subur dan siap sedia menerima sabda-Mu sehingga kami menghasilkan buah iman dan cinta kasih yang melimpah. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 4:1-5)
     
"Tuhan akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati."
    
Saudara-saudara, hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.
Ayat. (Mzm 37:3-4.5-6.27-28.39-40)
1. Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.
2. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhandan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.
3. Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab Tuhan mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.
4. Orang-orang benar diselamatkan oleh Tuhan; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. Aku ini cahaya dunia, sabda Tuhan. Yang mengikuti Aku, hidup dalam cahaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (5:33-39)
  
"Apabila mempelai diambil, barulah sahabat-sahabat mempelai akan berpuasa."
    
Sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus, "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang. Demikian pula murid-murid orang Farisi. Tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Yesus menjawab, "Dapatkah sahabat mempelai disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Yesus mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka, "Tiada seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju yang tua. Sebab jika demikian, yang baru itu pun akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru tidak akan cocok pada baju yang tua. Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Sebab jika demikian, anggur baru itu akan mengoyakkan kantong tua itu, lalu anggur akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tiada seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata, 'Anggur yang tua lebih baik'."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
 
Renungan
  
Ada cerita sederhana penuh makna. Suatu hari ada nelayan kecil yang sedang tidur di bawah pohon kelapa di tepi pantai. Lalu pedagang ikan melewatinya. Terjadilah percakapan di antara mereka. “Pak, jam berapa sekarang?” tanya pedagang. “jam 10,” jawab nelayan kecil. “Lho, Bapak kok sudah istirahat?” tanyanya tambah heran.

 Kemudian nelayan ganti bertanya, “Terus, apa yang harus saya kerjakan?” “Bapak harus bekerja keras!” “Kerja keras, buat apa?” “Cari ikan yang banyak!” “Kalau ikannya sudah banyak?” “Beli kapal lebih besar!” “Kalau kapalnya sudah lebih besar?” “Nangkap ikannya lebih banyak!” “Kalau sudah banyak?” “Bangun pabrik!” “Kalau sudah bangun pabrik?” “Dapat banyak uang!” “Kalau sudah dapat banyak uang?” “Istirahat!” “Lho, saya sekarang sedang istirahat....”

  Nelayan kecil ini nampaknya menikmati hidupnya dan bahagia. Dia merasa sudah cukup dengan keadaannya. Bukankah orang bahagia itu tidak diukur dari jumlah kekayaannya? Benar, namun sebagai makhluk yang berakal budi, kita hendaknya selalu berusaha mengembangkan diri.

 Hidup ini adalah sebuah proses. Hidup ini bukanlah suatu “pemenuhan diri” tetapi “pengembangan diri”. Orang yang mengembangkan diri tidak akan pernah berhenti berkreasi. Dia akan terus berproses membina diri untuk menggapai kebahagiaan hidup bersama. Hidup ini harus mempunyai tujuan “menjadi” bukan “memiliki”. “Petrus, engkau Kuubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia,” sabda Yesus.

 Memang, Tuhan telah “menangkap” kita menjadi murid-Nya. Kita perlu terus membina kualitas iman kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Hal ini perlu kita mulai sejak dini di tengah keluarga. Keluarga Katolik mesti membiasakan diri untuk berdoa, membaca Kitab Suci dan merayakan Ekaristi bersama. Suasana iman seperti ini niscaya mengundang Tuhan Yesus untuk selalu hadir di tengah keluarga (Luk 5:33-39).

 Yesus juga memberikan makna baru perihal berpuasa. Semua perlu kita pahami dalam kerangka relasi dengan Yesus. Jadi, mulai sekarang kita menghayati hidup dan karya kita secara baru, tidak cepat puas diri. Tuhan memberi kita waktu dan kemampuan untuk terus berkembang ke arah lebih baik. Mari kita perbarui hidup kita mulai dari keluarga kita masing-masing! (Willy/Cafe Rohani)

Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)

Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)