Senin, 06 Juli 2015 Hari Biasa Pekan XIV

Senin, 06 Juli 2015
Hari Biasa Pekan XIV
 
Yang memberikan kita kebebasan sejati dan kebahagiaan sejati adalah cinta yang penuh belas kasih dari Kristus. (Paus Fransiskus)

  
Antifon Pembuka (Kej 28:16-18)

Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini dan aku tidak tahu. Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, Ini pintu gerbang surga.

Doa Pagi

Allah Bapa yang mahapengasih, Engkaulah tanah tempat kami berpijak. Kami bersyukur kepada-Mu atas kehadiran-Mu di tengah-tengah kami menyehatkan jiwa raga kami. Maka kami mohon, semoga Engkau tetap beserta kami. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian (28:10-22a)
    
 
"Yakub melihat sebuah tangga, melihat malaikat Allah turun naik, dan melihat Allah yang bersabda."

Pada waktu itu Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran. Ia sampai di suatu tempat dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu, dan dipakainya sebagai alas kepala. Lalu ia membaringkan diri di tempat itu. Dalam mimpi ia melihat sebuah tangga yang didirikan di atas bumi dengan ujungnya sampai di langit. Lalu tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah Tuhan di samping Yakub dan bersabda, “Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak. Tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu di tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan; melalui engkau dan melalui keturunanmu, semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau, dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini. Aku tidak akan meninggalkan dikau. Aku akan melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.” Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia, “Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.” Ia takut dan berkata, “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah! Ini pintu gerbang surga! “Keesokan harinya, pagi-pagi, Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikannya menjadi tugu, dan menuangkan minyak di atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub, “Jika Allah menyertai dan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini dan jika Ia memberikan kepadaku roti untuk dimakan serta pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, mi = fis, 3/4, PS 851
Ref. Allahku, pada-Mulah aku percaya
atau Ya Tuhan, lindungi kami di dalam kesesakan.
Ayat. (Mzm 91:1-2.3-4.14-15ab; R:10)
1. Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan, "Tuhanlah tempat perlindungan dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai."
2. Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat perangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya adalah perisai dan pagar tembok.
3. Sungguh hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, "Aku akan menyertai dia dalam kesesakan."

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, PS 963
Ref. Alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya.
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. (2 Tim 1:10b)
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.
    
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:18-26)
    
"Anakku baru saja meninggal; tetapi datanglah, maka ia akan hidup."

Sekali peristiwa datanglah kepada Yesus seorang kepala rumah ibadat. Ia menyembah Dia dan berkata, “Anakku perempuan baru saja meninggal; tetapi datanglah, letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka Ia akan hidup.” Lalu Yesus pun bangun dan bersama murid-murid-Nya mengikuti orang itu. Pada waktu itu seorang wanita yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. Karna katanya dalam hati, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anakku, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Maka sejak saat itu juga sembuhlah wanita itu. Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling serta orang banyak yang ribut, berkatalah Ia, “Pergilah! Karena anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk. Dipegang-Nya tangan si anak, lalu bangkitlah anak itu. Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Hal yang sangat luar biasa yang selalu kita temukan pada Yesus dalam beragam karya-Nya adalah rasa belas kasih. Gestur ini selalu menjadi jiwa dari komunikasi-Nya dengan semua orang yang mengikuti-Nya, tetapi terlebih kepada mereka yang menderita sakit. Bacaan Injil hari ini mengisahkan kenyataan ini. Ia menghibur seorang wanita yang dengan penuh iman menjamah jubah-Nya: ”Teguhkanlah hatimu hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat. 9:22), Ia juga menghibur seorang kepala rumah ibadat yang sedang duka karena putrinya meninggal ”…..anak ini tidak mati, tetapi tidur” (Mat. 9:24).

Sapaan penuh belas kasih dari Tuhan itu masih tetap hidup kini, melalui Gereja-Nya. Sapaan itu akan selalu menjadi hiburan yang mengembalikan harapan hidup setiap orang pada zaman ini. Sapaan penuh belas kasih-Nya itu menyapa setiap pribadi yang risau dan galau, menyapa setiap saudara yang sakit dan menderita, menyapa setiap saudara yang putus asa, menyapa setiap keluarga yang resah akan hidupnya. Singkat kata, melalui beragam sarana, melalui beragam pribadi, Tuhan menyapa dunia dan manusia zaman ini dengan penuh belas kasih seraya mengajak untuk selalu ”percaya” kepada penyelenggaraan-Nya yang melintasi bumi ini.

Tuhan, ajarilah aku untuk selalu percaya akan penyelenggaraan-Mu yang selalu terbentang sepanjang hidupku. Amin. (Ziarah Batin 2015, Renungan dan Catatan Harian)

Antifon Komuni (Mzm 145:8-9)

Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang kesabaran-Nya dan besar kasih setia-Nya. Tuhan baik terhadap semua orang, penuh kasih setia terhadap segala ciptaan-Nya.

Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.

Minggu, 05 Juli 2015
Hari Minggu Biasa XIV
 

Yeh. 2:2-5; Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-4; 2Kor. 12:7-10; Mrk. 6:1-6

 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. 

Pengalaman tidak dipercaya, apalagi ditolak, merupakan sesuatu yang menyakitkan. Bisa jadi membuat orang terpuruk dan mandeg karena kehilangan kepercayaan diri ataupun harapan masa depan. Namun, tidak demikian dengan Yesus sebab Ia tidak mencari popularitas diri sendiri tetapi melulu untuk melaksanakan kehendak Bapa. Penolakan yang dialami di Nazaret, tempat asal-Nya sendiri, kendati memunculkan rasa heran dalam hati-Nya, namun tidak menyurutkan apalagi menghentikan misi-Nya. Ia tetap memandang ke depan dengan penuh harapan. Untuk itulah, Ia meninggalkan Nazaret dan pergi ke tempat-tempat lain sambil mengajar. Semoga, pada saat-saat kita mengalami kegagalan, penolakan atau tidak dipercaya, kita pun tidak patah semangat. Tetap mempunyai harapan dan berani untuk pergi ke "tempat lain", guna mewujudkan apa yang menjadi misi dan tugas perutusan kita. Kalau apa yang kita perjuangkan itu sesuatu yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita yakin meski pada saat tertentu atau di tempat tertentu kita ditolak dan tidak dipercaya, kita harus tetap memperjuangkannya. Kita percaya dan tetap berharap agar suatu saat apa yang kita perjuangkan tersebut dapat berhasil dan berbuah. 
 
Doa: Tuhan, berilah kami keteguhan untuk menjalankan tugas perutusan kami, kendati suatu saat kami mengalami kegagalan, penolakan atau tidak dipercaya. Amin. -agawpr-