ST. BASILIUS AGUNG DAN ST. GREGORIUS DAR! NAZIANZE

 
St. Basilius lahir sekitar tahun 330, di Kacsaria, Kapadokia Asia Kecil. Diangkat sebagai Uskup Kaesaria pada tahun 270. Sebagai uskup, Basilius adalah tokoh Katolik yang berani dan heroik dalam melawan ajaran sesat Arianisme. Tahun 372 Kaisar Valens mengutus Modestus, prefeknya, ke Kapadokia untuk menetapkan Arianisme sebagai agama negara. Modestus mendekati sang uskup suci, berkata-kata keras tentang ajarannya dan mengancam dengan kekerasan, pengasingan, kemartiran dan kematian. Terhadap kata-kata tiran Bysantin itu, Basilius menanggapi dengan kedamaian iman ilahi, “Apakah sudah semuanya engkau katakan? Tak sedikit pun dari yang kaukatakan menyentuhku. Kita tak memiliki apa pun, kita tak bisa dirampok. Pengasingan itu tidak mungkin, karena tempat mana pun di bumi Allah ini adalah rumahku, Siksaan tidak dapat mengusik aku, karena aku tak punya tubuh. Dan kematian kuterima, karena akan membawaku lebih cepat kepada Allah. Dalam banyak arti aku sudah mati; sudah lama aku bergegas ke kubur.”
Terkejut, sang prefek berkata, “Sampai hari ini tidak ada orang berbicara kepadaku dengan begitu berani.” “Mungkin,” Basilius kembali menanggapi, “engkau belum pernah bertemu seorang uskup.” Modestus segera kembali ke Valens. “Kaisar,” katanya, “kita dikalahkan oleh pemimpin Gereja itu. Ia terlalu kuat untuk diancam, terlalu teguh untuk didebat dan terlalu pintar untuk dirayu.” 
 
Basilius adalah seorang berkarakter kuat, bagai lampu bercahaya, cemerlang pada masanya. Tetapi seiring api memancar dari lampu itu, menerangi dan menghangatkan dunia, ia membakar dirinya sendiri; sementara bangunan rohani sang santo bertumbuh, tubuhnya melemah dan pada umur 49 tahun penampilannya sudah seperti orangtua. Dalam setiap tahap aktivitas gerejawi ia memerlihatkan talenta dan kerajinan yang luar biasa. Ia seorang teolog besar, pengkhotbah ulung, penulis berbakat, penulis dua peraturan hidup monastik dan pembaru liturgi Timur. Ia meninggal dalam usia 49 tahun (379). Sedangkan St. Gregorius yang disebut “Sang Teolog” oleh orang-orang Yunani ini lahir di Nazianze, Kapadokia, tahun 339. la adalah salah satu dari “Tiga Cahaya Gereja dari Kapadokia.” Ibunya, St. Nonna, sangat berpengaruh membentuk dasar hidup kudusnya sebagai orang dewasa. Ia dididik di sekolahsekolah terkenal pada masa itu Kaesarea, Alexandria dan Atena. Di Atena ia menj alin persahabatan yang akrab dengan St. Basilius, suatu persahabatan yang masih terbakar oleh antusiasme orang muda bahkan ketika ia menyampaikan kotbah dalam pemakaman temannya itu.

Gregorius dibaptis tahun 360 dan untuk beberapa waktu hidup sebagai pertapa eremit. Tahun 372 ia ditahbiskan Uskup di Nazianze oleh St. Basilius. Tahun 381 ia menerima takhta uskup agung Konstantinopel. Namun, karena lebih suka hidup dalam kesunyian, akhirnya setelah ayahnya meninggal, ia mengundurkan diri kembali ke hidup tersembunyi dan mendedikasikan diri sepenuhnya kepada kontemplasi. Dalam masa hidupnya, ia sangat merindukan kesunyian, tapi tuntutan zaman memanggilnya berulang kali untuk melakukan karya pastoral dan untuk berpartisipasi dalam gerakan gerejawi pada masa itu. Tak diragukan ia adalah salah seorang orator terbesar dalam sejarah Gereja; karyanya yang banyak dan besar terkait erat dengan keterampilannya berbahasa yang luar biasa. Tulisan-tulisannya membuatnya pantas di gelari “Pujangga Gereja”.

Antara St. Basilius dan St. Gregorius dari Nazianze terjalin persahabatan yang erat sejak masa muda hingga usia tua mereka. Kalau di dunia monastik barat St. Benediktus adalah bapak dan pendiri, di timur St. Basliuslah orangnya. * (RUAH 2012)