Iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel

 Di dalam buku Tata Perayaan Ekaristi juga menyediakan Iman Kepercayaan dalam bentuk panjang (lihat juga Puji Syukur no. 2). Oleh sebab itu, setiap imam yang merayakan ekaristi bisa memilihnya untuk digunakan bersama dengan umat.

Mengapa Gereja menyediakan Iman Kepercayaan dalam bentuk pendek dan panjang? Apakah terdapat perbedaan keduanya? Sebenarnya penggunaan istilah “pendek" dan “panjang” adalah hanya merujuk pada bentuknya saja, tetapi istilah resminya adalah Iman Kepercayaan Rasul (Symbolum Apostolorum) dan Iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel (bentuk panjang).

Dari segi isi, kedua Iman Kepercayaan itu tidak memiliki perbedaan, akan tetapi penjelasan Bapa, Putra. Roh Kudus, Gereja, Baptisan. Kebangkitan dan Eskatologi, iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel adalah lebih rinci dibandingkan dengan Iman Kepercayaan Rasul. Oleh sebab itu Iman Kepercayaan manapun yang dirayakan, tidak perlu dipersoalkan sehubungan dengan isi. Keduanya adalah sama dan sesuai dengan ajaran iman Gereja. Mungkin penjelasan berikutnya adalah alasan kelahiran atau keberadaan iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel. Rumusan Iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel sebenarnya mengikuti ajaran lman Kepercayaan Rasul, sehingga dari segi isi tidak memiliki perbedaan. Akan tetapi, antara tahun 318 sampai dengan sebelum Konsili Nicea 325, Arius membuat mmusan kristologis yang menyimpang dari iman Kepercayaan Rasul yang mengatakan bahwa Kristus itu adalah ciptaan yang kemudian diangkat menjadi Tuhan. Oleh sebab itu, menurut dia, Kristus yang adalah Putra Allah, memiliki posisi lebih rendah dari Bapa (ia menggunakan istilah subordinasi). Dengan pendapat seperti itu, Konsili Nicea yang diadakan pada tahun 325 memberikan penjelasan lebih rinci mengenai Putra dibandingkan dengan Iman Kepercayaan Rasul untuk nambahi rumusan Arius. seperti terlihat dalam kutipan berikut ini. (Sumber dari TPE dan Heinrich Denzingr. Enchiridion Wm a cum di Peter Hunermann, Bologna: Ediziane Dehoniane, 1996).

Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus Putra Allah yang tunggal. la lahir dan Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan. sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. la turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria: dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan, pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. la akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; kerajaan-Nya takkan berakhir.


Konsili Nicea hanya memberikan rumusan ini, karena para bapa Konsili tersebut hanya ingin menanggapi jawaban ajaran Arius yang mempersoalkan posisi Kristus, Putra Allah. Lalu mulai dari tahun 360, pengikut Arius mulai mempersoalkan Roh Kudus yang memosisikannya dibawah (subordinasi) Putra. Untuk menjawabi ajaran itu, pada Konsili Konstantinopel yang diadakan pada tahun 381 memberikan rumusan mengenai Gereja, Baptisan, Kebangkitan dan Kehidupan yang akan datang. Rumusan Konsili tersebut adalah sebagai berikut.

Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra. Yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.

Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. Aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat."


Hasil kedua Konsili ini, Gereja saat ini memiliki Iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel.

Pada umumnya Gereja di Indonesia lebih sering menggumkan Iman Kepercayaan para Rasul, sedangkan Gereja di Eropa dan Amerika (mungkin juga di tempat lain) selalu menggunakan Nicea-Konstantinopel. Masing-masing imam yang merayakan ekaristi bisa memilihnya sesuai dengan intensinya, karena iman Kepercayaan manapun digunakan, tetap memiliki kebenaran yang sama. Akan tetapi latarbelakang iman Kepercayaan Nicea-Konstantinopel bisa memberikan suatu masukan dalam penghayatan akan perayaan iman yang liturgis.

Oleh: RP. Edison Tinambunan, O.Carm 
(Penulis adalah Dosen Patrologi di STFT Widya Sasana, Malang)

Majalah Liturgi Edisi Oktober-Desember 2018