Minggu, 09 Mei 2021 Hari Minggu Paskah VI

Minggu, 09 Mei 2021
Hari Minggu Paskah VI

Bagaimana kita dapat memilih, kalau kita tidak lebih dahulu dipilih? Kita tidak dapat mencinta kalau tidak lebih dahulu dicinta. Kalau kamu mencari alasan, mengapa manusia mencintai Allah, kamu tidak akan menemukan alasan sama sekali, selain bahwa Allah lebih dahulu mencintai manusia. (St. Agustinus).

Antifon Pembuka (lih. Yes 48:20)

Beritakanlah kabar sukacita supaya didengar, siarkanlah sampai ke ujung bumi: Tuhan telah menebus umat-Nya, alleluya.

Vocem iucunditatis annuntiate, et audiatur, alleluia: nuntiate usque ad extremum terræ: liberavit Dominus populum suum, alleluia, alleluia.

Proclaim a joyful sound and let it be heard; proclaim to the ends of the earth: The Lord has freed his people, alleluia.


Doa Pembuka


Allah Bapa Yang Maha Pengasih, curahkanlah Roh Kudus-Mu kepada kami agar kami dapat hidup bersatu sebagai sahabat-sahabat Putra-Mu. Kami mohon, semoga dengan daya Roh-Mu itu, kami juga dapat menghasilkan buah-buah iman dan cinta kasih dalam hidup kami sehari-hari. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan I: Kisah Para Rasul (10:25-26.34-35.44-48)
     
  
"Karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga."
     
Sekali peristiwa, ketika sampai di kota Kaisarea, Petrus masuk ke rumah Kornelius. Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur dekat kaki Petrus, ia menyembahnya. Tetapi Petrus menegakkan dia serta berkata, "Bangunlah, aku hanya manusia biasa." Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membeda-bedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Allah dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Ketika Petrus sedang berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang beriman dari golongan bersunat yang waktu itu menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga. Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu Petrus bertanya, "Bolehkah mencegah orang-orang ini dibaptis dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?" Maka Petrus menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian orang-orang itu meminta kepada Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama mereka.   
     
Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 807
Ref. Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4; Ul:4b)
1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib, keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan, yang datang dari pada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya, di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!
  
Bacaan II: Surat Pertama Rasul Yohanes (4:7-10)
  
"Allah adalah kasih."
   
Saudara-saudaraku yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita.
  
Bait Pengantar Injil, do = f, gregorian, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 14:23)
Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.

Bacaan Injil: Yohanes (15:9-17)
   
"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."
    
Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Ini perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."
    
Renungan
     

Perbedaan antara manusia dan mesin adalah bahwa tidak peduli seberapa banyak kecerdasan buatan dan program dan perangkat penginderaan yang dimiliki mesin atau robot, ia tidak memiliki perasaan seperti manusia. Atau setidaknya belum.

Untuk membedakan masalah ini lebih jauh, mesin dan robot lebih dapat diprediksi dan lebih mudah ditangani. Manusia lebih temperamental karena perasaan mereka.

Misalnya, jika kita pergi ke toko elektronik untuk membeli laptop, kita akan melihat-lihat dan mencoba berbagai model yang dipamerkan. Model mana pun yang akhirnya kta pilih, model ini tidak akan menunjukkan kegembiraan, dan model lain tidak akan menampilkan kekecewaan. Ini bisnis seperti biasa dan itu cukup bisa diprediksi.

Tidak demikian halnya bagi manusia. Menemukan penerimaan dan menghadapi penolakan akan menghasilkan spektrum emosi dan perasaan.
  
Ini cukup terbukti dalam lamaran pekerjaan. Jika kita dipanggil untuk wawancara, kita akan merasa senang karena kita dianggap cocok. Saat kita pergi untuk wawancara, kita akan merasa tegang dan cemas karena itu akan menjadi ujian bagi nilai kita.

Setelah wawancara, hanya dua hal yang bisa terjadi: penerimaan atau penolakan.

Jika kita diterima untuk pekerjaan itu, maka kita akan merasa bahagia dan senang dengan diri kita sendiri karena nilai kita diakui. Tetapi jika kita ditolak, kita mungkin merasa sedih dan sedih dan bahkan mungkin tertekan.

Jadi singkatnya, dapat dikatakan bahwa seringkali kebahagiaan kita bergantung pada penerimaan dan pengakuan atas harga diri kita. Di sisi lain, kesedihan kita adalah hasil dari perasaan ditolak dan kita melihat diri kita tidak berguna dan tidak berharga.

Tapi benarkah begitu? Apakah martabat dan harga diri kita bergantung pada bagaimana orang lain melihat kita dan apakah mereka menerima atau menolak kita?

Kabar buruknya adalah kita tidak bisa membuat orang menyukai kita, mencintai kita, memahami kita, menerima kita atau bersikap baik kepada kita. Kabar baiknya adalah hal itu sebenarnya tidak terlalu penting.

Tetapi lebih dari itu, jika kita hidup untuk penerimaan orang, maka kita akan mati karena penolakan mereka. Martabat dan harga diri kita tidak bergantung pada penilaian orang lain.

Tetapi kabar baiknya adalah apa yang Yesus katakan kepada kita dalam Injil:
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu."
   
Dan untuk menambah kabar baik ini adalah bahwa Yesus memilih untuk mencintai kita. Jadi Yesus tidak hanya menerima kita dalam keadaan berdosa kita yang tidak layak, Dia memilih untuk mencintai kita dengan kasih yang sama seperti Tuhan Bapa mengasihi Dia.

Yesus memberi tahu kita ini sehingga sukacita kasih-Nya ada di dalam kita dan itu akan membuat cinta dan sukacita kita lengkap.

Jadi ketika kita menyadari bahwa Yesus memilih untuk mencintai kita, bahwa kasih Tuhan diberikan kepada kita sepenuhnya, dan bahwa kasih-Nya membuat sukacita kita lengkap, maka kita akan menyadari siapa kita sebenarnya, dan bahwa kita ingin tetap dalam kasih Tuhan.

Maka kita tidak akan hidup berdasarkan penerimaan orang lain dan kita tidak akan mati karena penolakan mereka. Kasih Tuhan sudah cukup bagi kita dan kita hanya ingin tetap di dalam kasih-Nya.

  
Ada seorang ibu yang tragis dalam hidupnya. Ia membesarkan dua orang anaknya hingga mereka memiliki pekerjaan yang baik. Tanpa suami yang sudah lama pergi entah ke mana, ibu itu berusaha sekuat tenaga untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya. Ia mendidik mereka dengan disiplin yang keras. Ia sering mengomeli mereka, kalau mereka malas belajar atau bergadang sampai larut malam.

Omelan-omelan dan cara mendidiknya yang disiplin itu membuahkan hasil. Kedua anaknya lulus sarjana dalam waktu bersamaan. Begitu lulus, keduanya pamit untuk mencari kerja di kota yang lebih besar. Mereka juga berpikir untuk menjauh dari sang ibu, agar mereka memiliki kebebasan dalam bergaul.

Setelah mendapatkan pekerjaan yang layak, kedua anak itu memutuskan untuk tinggal di kota dengan mengontrak sebuah rumah. Mereka juga berjanji untuk tidak menghubungi ibu mereka. Bahkan nomor telephon genggam sang ibu pun mereka buang. Artinya, mereka tidak mau berhubungan lagi dengan sang ibu yang begitu mencintai mereka.

Sang ibu selalu berusaha untuk menghubungi mereka, tetapi selalu gagal. Bahkan sering ia mendapatkan jawaban yang tidak mengenakkan. Anak bungsunya berkata, “Tidak perlu cari-cari kami lagi. Kami bukan siapa-siapa. Kami tidak ingin diganggu.” Ibu itu menangis mendengar kata-kata anaknya yang pedas itu. Batinnya terasa sangat menderita. Suatu hari ibu itu meninggal dunia dengan minum racun tikus.

Ia meninggalkan sebuah pesan yang sangat indah, “Anak-anakku, kalian memang bukan siapa-siapa. Tetapi kalian bisa menjadi orang seperti sekarang ini berkat cinta seorang perempuan tak berguna ini. Saya tetap mencintai kalian berdua.”
 
Air susu dibalas air tuba. Rasanya begitulah yang bisa kita ungkapkan tentang kisah di atas. Kasih seorang yang dengan tulus mendidik dan membesarkan anak-anaknya, ternyata dibalas dengan pengkhianatan. Tentu saja hal ini terasa sakit dan menyakitkan. Inilah suatu tragedi dalam kehidupan manusia, ketika manusia tidak bisa mensyukuri kebaikan sesamanya.

Kasih seorang ibu begitu indah. Kasihnya sepanjang perjalanan hidup manusia, namun manusia yang dikasihinya sering lupa. Tidak mau menerima dengan baik kasih itu. Mereka menanggapinya secara negatif. Bukan menjadi semangat yang membangkitkan diri untuk terus-menerus berjuang dalam kehidupan ini.

Tetapi kasih tetap hidup. Kasih tetap bertahan hingga akhir zaman. Kasih tak pernah lekang oleh karatnya zaman. Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia demi hidup ini? Yang mesti dibuat adalah terus-menerus mengasihi, meski orang yang dikasihi itu menolak kasih itu. Yang penting kita mengasihi dengan memberikan perhatian dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Kasih yang tanpa pamrih akan membahagiakan sesama kita.
  
Hidup dalam kasih akan memberi kita kekuatan untuk tetap melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi diri dan orang lain. Kita harus tetap berada di dalam kasih Tuhan agar kita dapat menghasilkan buah cinta bagi orang lain untuk menerima kasih Tuhan dan mengetahui siapa mereka.

Yesus memilih kita dan Dia mengasihi kita. Marilah kita pada gilirannya menghasilkan buah kasih bagi orang lain sehingga mereka mau membuka hati mereka kepada Yesus dan sukacita mereka menjadi lengkap.
(RENUNGAN PAGI)

Antifon Komuni (Yoh 14:15-16)

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku, sabda Tuhan. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, Alleluya.

If you love me, keep my commandments, says the Lord, and I will ask the Father and he will send you another Paraclete, to abide with you for ever, alleluia.

Ego vos elegi de mundo, ut eatis, et fructum afferatis: et fructus vester maneat, alleluia.