Selasa, 17 Agustus 2021 Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

Selasa, 17 Agustus 2021
Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
 
Negara mempunyai tugas untuk membela dan memajukan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan umum untuk seluruh keluarga umat manusia menuntut adanya satu tata tertib masyarakat intemasional. (Katekismus Gereja Katolik, No. 1927)

 
Antifon Pembuka (Mzm 28:8-9)

Tuhanlah kekuatan umat-Nya, dan benteng keselamatan bagi raja yang diurapi-Nya. Selamatkanlah umat-Mu, ya Tuhan, berkatilah pusaka-Mu. Gembalakanlah dan dukunglah mereka selamanya.

The Lord is the strength of his people, a saving refuge for the one he has anointed. Save your people, Lord, and bless your heritage, and govern them for ever.

Dominus fortitudo plebis suæ, et protector salutarium Christi sui est: salvum fac populum tuum, Domine, et benedic hereditati tuæ, et rege eos usque in sæculum.


Doa Pagi
  

Allah Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur atas anugerah kemerdekaan bagi bangsa kami. Semoga kami dapat memelihara dan mempergunakan kemerdekaan dengan bijaksana; semoga kami dapat menyalakan tungku kebaikan di atas kepala setiap orang sehingga kemuliaan dan kebaikan-Mu dapat dirasakan oleh setiap orang yang merindukan kemerdekaan sejati.
Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.    
   
Bacaan dari Kitab Putra Sirakh (10:1-8)
    
  
"Para penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya."
    
Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikian pula para pegawainya, seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat Tuhan mengaruniakan martabat. Janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah. Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

 
 
Mazmur Tanggapan, do = f, 2/4, PS 862
Ref. Kamu dipanggil untuk kemerdekaan; maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih.
Ayat. (Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; R: Gal 5:13)
1. Ya, Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum-Mu. Aku hendak hidup tanpa cela. Aku hendak hidup dengan suci dalam rumahku, hal-hal yang jahat takkan kuperhatikan.
2. Mataku tertuju kepada rakyatku yang setia, supaya mereka tinggal bersama aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan mendukung aku.
3. Orang yang melakukan tipu daya, tidak akan diam dalam rumahku. Orang yang berbicara dusta tidak bertahan di bawah pandanganku.  
    
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus (2:13-17)
   
"Berlakulah sebagai orang yang merdeka. "
   
Saudara-saudaraku yang terkasih, demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan untuk mengganjar orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetap hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
  

Bait Pengantar Injil, do = f, 2/4, PS 956
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 20:25)
Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah yang menjadi hak Allah.  
 
Inilah Injil Suci menurut Matius (22:15-21)
      
"Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
    
Sekali peristiwa orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka Ia lalu berkata, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu!" Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka, "Gambar dan tulisan kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)
U. Laus tibi Christe 
(U. Terpujilah Kristus)


Renungan  
     
Saya selalu tersenyum ketika mendengar Injil ini karena itu mengingatkan saya pada apa yang Anda dengar di TV dan radio ketika seseorang yang sedang diwawancarai didorong ke sudut dan wartawan mencoba memaksa mereka untuk memberikan jawaban ya atau tidak. 'Apakah Anda setuju dengan kebijakan ini atau tidak, ya atau tidak?' Mereka mencoba memaksa. Mereka melakukan hal yang sama 2000 tahun yang lalu pada zaman Yesus juga. Apakah kita harus membayar pajak atau tidak; ya atau tidak? Jika Yesus menjawab ya, Dia mengakui pendudukan Romawi, jika Dia mengatakan tidak, Dia menghina kaisar. Tetapi dalam kebijaksanaan-Nya, Dia memberikan respons yang benar-benar menarik perhatian mereka karena Dia melihatnya dari perspektif yang sama sekali berbeda. Dia pada dasarnya berkata, 'Kamu milik siapa?' Memang benar bahwa kita menghormati hukum dan adat istiadat negara tempat kita tinggal, tetapi jika kita melihat diri kita sebagai anak-anak Tuhan terutama, maka kesetiaan kita adalah milik Tuhan terlebih dahulu.
 
Kita sering mendengar tentang pentingnya melindungi dan menyelamatkan nyawa orang Indonesia dan mencoba memperbaiki ekonomi Indonesia dan tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi perspektif Kristen menjangkau lebih jauh sehingga kita berbicara tentang pentingnya melindungi kehidupan manusia, bukan hanya orang-orang yang menjadi bagian dari satu negara atau negara lain. Kita bangga dengan negara kita sendiri dan kita harus melakukannya, tetapi iman melampaui batas dan tentu saja tidak boleh membeda-bedakan orang. Kita melihat diri kita sebagai anak-anak Tuhan terlebih dahulu, terlepas dari dari mana kita berasal dan terlepas dari apa yang kita percayai. Pada akhirnya kita percaya kita akan berakhir di tempat yang sama dengan Tuhan jika kita membuat pilihan itu.
  
Hukum Tuhan tidak berubah. Panggilan Yesus sama bagi kita tidak peduli dari mana kita berasal dan bagaimana kita melihat dunia dan ada kebebasan besar di dalamnya. Perubahan politik dan pemerintahan datang dan pergi, tetapi kehadiran Yesus sama di mana-mana dan jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kita temui di dunia ini.
  
Terkadang salah satu hal yang terjadi ketika kita dihadapkan dengan sesuatu seperti virus covid-19 dan semua hal menakutkan lainnya di seluruh dunia membuat kita duduk dan mendengarkan. Kita tiba-tiba mulai berpikir tentang apa yang benar-benar penting. Jika salah satu anak atau suami atau istri atau orang terdekat kita sakit, hal-hal yang kita anggap penting biasanya berubah drastis. Kita mengajukan pertanyaan yang berbeda dan mungkin yang lebih penting. Aku milik siapa? Untuk apa hidupku di bumi? Apakah ini hanya tentang memperoleh sebanyak mungkin kenyamanan dan hal-hal materi, atau apakah hal-hal ini benar-benar sepele?
Merdeka bukan hanya berarti kita boleh meraih apa yang kita maui secara fisik dan duniawi. Lebih dari itu, merdeka berarti sikap batin yang bahagia, penuh syukur dan kasih. Keteguhan hati yang demikian inilah yang akan menular secara positif kepada orang lain dalam keluarga, komunitas dan masyarakat kita.  (RENUNGAN PAGI)
 

 
 

Antifon Komuni (Bdk. Mzm 16:5-6)

Tuhan, Engkaulah milik pusaka dan warisanku, dalam tangan-Mulah nasibku. Tanah permai akan menjadi bagianku, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

Atau Bdk. Mat 5:5

Berbahagialah orang yang lembut hati, sebab mereka akan mewarisi tanah pusaka Allah.