Selasa, 07 Juli 2009

Selasa, 07 Juli 2009
Hari Biasa Pekan XIV

Doa Renungan
Yesus Tuhan kami, Engkau mempunyai kuasa untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Namun, kadangkala kami jatuh dalam ketidakpercayaan dan tidak mengakui kuasa-Mu. Lenyapkanlah segala kedegilan hati kami dan biarlah kami menyerahkan hidup kami hanya kepada-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan kami kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Kejadian (32:22-32)

"Namamu selanjutnya adalah Israel, sebab engkau bergumul melawan Allah dan engkau menang."

Pada suatu malam Yakub bangun dan membawa kedua istrinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya. Ia menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Maka terjadilah: seorang laki-laki bergulat dengan Yakub sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkan Yakub, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi itu terpelecok, ketika Yakub bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu, "Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing." Sahut Yakub, "Aku tidak akan membiarkan dikau pergi, jika engkau tidak memberkati aku." Bertanyalah orang itu kepadanya, "Siapakah namamu?" Sahutnya, "Yakub." Lalu kata orang itu, "Namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang." Bertanyalah Yakub, "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya, "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya, "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi aku tetap hidup!" Ketika meninggalkan Pniel, Yakub melihat matahari terbit; Yakub pincang karena terkilir sendi pangkal pahanya. Sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutup sendi pangkal paha, karena sendi pangkal paha Yakub telah dipukul, yaitu pada otot pangkal pahanya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Dalam kebenaran aku akan memandang wajah-Mu, ya Tuhan.
Ayat. Mzm 17:1.2-3.6-7.8b.15
1. Dengarkanlah, Tuhan, pengakuan yang jujur, perhatikanlah seruanku; berilah telinga kepada doaku, doa dari bibir yang tidak menipu.
2. Daripada-Mulah kiranya datang penghakiman: kiranya mata-Mu melihat apa yang benar. Bila Engkau menguji hatiku; bila Engkau memeriksanya pada waktu malam dan menyelidiki aku, maka tidak suatu kejahatan pun Kautemukan.
3. Aku berseru kepadamu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.
4. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu. Dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Aku ini gembala yang baik, sabda Tuhan; Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:32-38)

"Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit."

Pada suatu hari dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Setelah setan diusur, orang bisu itu dapat berbicara. Maka heranlah orang banyak, katanya, "Hal semacam itu belum pernah dilihat orang di Israel!" Tetapi orang Farisi berkata, "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan mewartakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata Yesus kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
Demikianlah Injil Tuhan
Terpujilah Kristus.


Renungan



· Salah satu dampak dari krisis financial yang melanda seluruh dunia adalah jumlah pengangguran semakin besar, dan rasanya tindak kejahatan atau amoral juga semakin marak, entah karena terpepet atau frustrasi. Lapangan kerja untuk cari uang memang semakin berkurang, namun kiranya lapangan kerja untuk karya pelayanan pastoral dan sosial semakin lebar dan besar, dan pekerja untuk pelayanan pastoral maupun sosial juga kena dampak krisis alias berkurang juga. Sabda hari ini mengajak dan memanggil kita untuk berprihatin karena sedikitnya atau berkurangnya para pekerja pastoral maupun social dan kita diharapkan berusaha untuk mengatasinya dengan atau melalui berbagai cara dan usaha.

Secara khusus di Tahun Imam ini kami mengajak anda sekalian untuk berpartisipasi dalam promosi panggilan imamat. Para imam hendaknya dengan kesaksian hidupnya dapat menjadi daya tarik bagi anak-anak laki-laki atau pemuda tergerak untuk menjadi imam; cara promosi utama dan pertama dari para imam adalah kesaksian atau keteladanan hidup sebagai seorang imam. Umat pada umumnya, khususnya para orangtua, hendaknya juga berpartisipasi dengan doa maupun cara hidup dan cara bertindak. Berdoalah untuk suburnya panggilan imamat dan kesetiaan para imam dalam menghayatinya panggilannya. Cara hidup dan cara bertindak para orangtua sebagai ‘man or woman with/for others’ juga dapat menjadi lahan persemaian panggilan imamat. Ketika ada salah seorang anaknya yang tergerak untuk menjadi imam hendaknya didukung, dan tidak dihalangi. Persembahkanlah anak anda yang terbaik untuk menjadi imam

· "Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!" (Kej 32:30), demikian kata Yakub setelah semalaman bergulat dengan ‘seseorang’ utusan Allah. Allah hidup dan berkarya terus menerus di dalam diri kita sendiri maupun lingkungan hidup kita, sebagai umat beriman. Bahwa kita masih hidup seperti saat ini hemat saya karena karya Allah, rahmat atau anugerah Allah yang melimpah ruah. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita menghayati kebenaran ini : “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu manusia harus mempergunakannya sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya” (St.Ignatius Loyola, LR no 23). Kebenaran iman di atas ini antara lain dapat kita hayati dengan saling memuji, menghormati dan mengabdi antar kita sendiri di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ‘citra atau gambar Allah’, Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

Segala macam sarana-prasarana atau harta benda yang ada, yang kita miliki dan kuasai hendaknya menjadi sarana bagi kita untuk semakin saling memuji, menghormati dan mengabdi atau kita semakin rendah hati. Hendaknya ‘keselamatan jiwa’ menjadi barometer keberhasilan hidup dan cara bertindak kita, entah jiwa kita sendiri maupun sesama manusia, yang hidup dan berkarya bersama dengan kita. Jauhkan dan berantas aneka bentuk sikap mental materialistis atau bisnis. Aneka macam harta benda yang tercipta di dunia ini pada dasarnya bersifat sosial, maka hendaknya difungsikan untuk membangun persaudaraan dan persahabatan sejati antar kita. Semakin kaya akan harta benda hendaknya semakin sosial.


Ignatius Sumarya, SJ

Renungan Pagi