Jumat, 14 Agustus 2009 :: Peringatan Wajib St. Maximilianus Maria Kolbe, Imam-Martir

Jumat, 14 Agustus 2009
Peringatan Wajib St. Maximilianus Maria Kolbe, Imam-Martir

MENJADI SATU DAGING

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” --- Matius 19: 5

Bacaan Pertama
Pembacaan dari Kitab Yosua (24: 1- 13)

"Aku telah mengambil bapamu dari Mesopotamia, mengeluarkan engkau dari Mesir, dan menuntun engkau masuk ke tanah perjanjian."

Menjelang wafatnya, Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel , para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel : Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya. Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir. Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar. Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau. Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun. Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu. Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab , bangkit berperang melawan orang Israel . Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga ia pun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya. Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu. Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ayat.
(Mzm. 136: 1-3, 16-18, 21-22, 24)
* Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik!
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Bersyukurlah kepada Allah segala allah!
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan!
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun!
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Kepada Dia yang memukul kalah raja-raja yang besar;
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Dan membunuh raja-raja yang mulia;
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Dan memberikan tanah mereka menjadi milik pusaka;
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Milik pusaka kepada Israel , hamba-Nya!
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya
* Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita;
U : Kekal Abadi kasih setia-Nya

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, Alleluya
Ayat. Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah, bukan sebagai perkataan manusia

Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (19:3-12)

"Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu, tetapi semula tidaklah demikian."
Pada suatu hari datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."
Inilah Injil Tuhan kita!
Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan


BERIKUT DI BAWAH ini adalah hubungan antara suami dan isteri yang dirasa begitu repot, akhirnya merasa lebih baik tidak nikah (Mat 19: 10) ? Hubungan yang benar bagaimana ? Seorang suami mengasihi isterinya sebagaimana Yesus mengasihi kita (Ef 5: 25). Dia harus memberikan hidupnya kepada isterinya (Ef 5: 25). Dengan mengikuti perkataan Yesus, ia berkata kepada isterinya: “Inilah tubuhku yang diserahkan bagimu” (Luk 22: 19). Dengan demikian, ia mengenyampingkan jadwal aktifitasnya, hasrat, dan apa saja untuk membahagiakan isterinya. Dia “memenuhi kewajiban dan menyenangkan isterinya” (1 Kor 7: 33).

Seorang isteri menyadari posisi suaminya itu sebagai kepala keluarga (Ef 5: 23). Ia tunduk kepada kepempimpinannya (yaitu, hidupnya dibawah pimpinan suaminya) dalam meneladani Yesus yang taat kepada Bapa-Nya. Dalam sikap menempatkan hidupnya kepada suaminya, Allah bekerja melalui “kehormatan dan kemurnian hidupnya” yang tidak hanya sekedar memenangkan suaminya (1 Ptr 3: 1-2), namun juga menggaris bawahi sikap tunduk bagi seluruh gereja (Ef 5: 23-24).

Dengan mengasihi satu sama lain, suami dan isteri dapat meyakinkan dunia bahwa Yesus mengasihi gereja-Nya (Ef 5: 32-33). Berapa banyak orang yang merasa bahwa Allah tidak peduli terhadap mereka? Satu pasangan suami isteri yang hidup dalam ketaatan kepada Yesus dapat membuka hati mereka kepada kasih Allah. Kasihilah pasangan anda, berikanlah tubuh dan hidup anda bagi pasangan anda, dan membawa dunia kepada kasih Yesus.

Doa : Bapa, kiranya pasangan suami isteri mengasihi satu sama lain agar banyak orang menyadari bahwa Yesus mengasihi mereka.
Janji : “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” --- Matius 19: 6.
Pujian : Santo Maximilianus (1894-1941) sewaktu dalam tawanan Perang Dunia II, memberikan hidupnya untuk menyelamatkan seorang ayah dan suami sesama tawanan.


:: Renungan SATU PERJAMUAN – SATU JEMAAT ::

==========================================================


"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yos 24:1-13; Mat 19:3-12)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maximilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup setia pada panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban memang tidak mudah, dan pada umumnya orang ingkar janji seenaknya. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Maximilianus Maria Kolbe sebagai imam sungguh setia pada panggilan dan pengutusannya, bahkan ia sampai rela mempersembahkan diri sebagai pengganti seseorang yang harus dihukum mati, mengingat dan mempertimbangkan bahwa orang yang harus dihukum mati tersebut memiliki isteri dan anak-anak yang membutuhkan kasih dan pendampingannya. Memang sulit dimengerti apa yang ia lakukan dan hanya dapat dimengerti dalam iman atau kasih karunia Allah. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah kita hayati kasih karunia Allah yang menyertai hidup kita agar kita setia pada iman, panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban kita masing-masing. Rasanya dalam hal kesetiaan ini kesaksian atau keteladanan para bapak-ibu atau suami-isteri sangat diharapkan; apa yang dialami oleh orangtua/bapak-ibu akan sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Maka kami berharap dan mendambakan anda semua yang hidup berkeluarga untuk tetap setia saling mengaisihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sebagaimana pernah anda ikrarkan ketika mengawali hidup berkeluarga. Dari suami-isteri atau bapak-ibu yang setia juga akan lahir anak-anak yang setia: ketika mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa, entah terpanggil untuk hidup berkeluaga, imamat atau membiara, juga akan setia pada panggilan dan tugas pengutusannya.

· “Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu”(Yos 24:11-12). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Di dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga, temapat kerja atau masyarakat, kiiranya kita sering menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Hendaknya kita tidak mengatasi atau menghadapi semua itu dengan kekerasan dalam bentuk apapun, melainkan dengan dan dalam iman, harapan dan kasih. Semua ciptaan di dunia ini ada, tumbuh dan berkembang hanya karena dan oleh kasih, maka sikapilah semuanya dalam dan oleh kasih. Entah orang atau sesama manusia atau binatang yang nampak seram dan menakutkan ketika disikapi dan dihadapi dalam dan oleh kasih, maka mereka pasti akan menjadi sahabat. Kasih berasal dari Allah, maka ketika kita mengasihi orang lain berarti kita hidup dan bersama dengan Allah, dan bersama atau bersatu dengan Allah tiada ketakutan atau kekhawatiran dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Ingat dan kenangkan para bapak-ibu atau suami-isteri, bukanlah anda memiliki pengalaman konrkret sejak kenal pertama saling mendekati dalam dan oleh kasih; ingat dan kenangkan masa pacaran atau tunangan anda, dan kemudian hayati kembali semangat atau jiwa hidup masa pacaran dan tunangan tersebut pada masa kini.



“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 136:1-3)




Jakarta, 14 Agustus 2009 .


Ign Sumarya