| Home | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 19 September 2010 Hari Minggu Biasa XXV

Minggu, 19 September 2010
Hari Minggu Biasa XXV

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar.” (Luk 6:10)

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, bantulah kami hari ini untuk melihat Putera-Mu yang hadir secara nyata di dalam hidup kami. Berilah kami hati yang tidak mendua dan senantiasa terarah kepada-Mu. Tuhan, kami mendambakan hati yang dapat melihat dan merasakan kehadiran-Mu. Semoga kami hari ini mampu memberikan hati kami seutuhnya untuk-Mu dan tidak terbagi dengan kejahatan. Oleh sabda Putera-Mu iman kami diteguhkan, harapan dan cinta kami dikuatkan oleh-Nya. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Pembacaan dari Kitab Amo (8:4-7)

"Peringatan terhadap orang yang membeli orang papa karena uang."

Dengarkanlah ini, hai kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini, dan yang berpikir, "Kapan pesta bulan-bulan berlalu, supaya kita boleh menjual gandum, kapan hari Sabat berlalu, supaya kita boleh berdagang terigu, kita akan memperkecil takaran, menaikkan harga, dan menipu dengan neraca palsu; kita akan membeli orang papa karena uang, dan membeli orang miskin karena sepasang kasut; kita akan menjual terigu tua." Beginilah Tuhan telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!"
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, PS 823.
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Ayat. (Mzm 131:1-2.4-6.7-8;R: 1a.7b)
1. Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.
2. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti Tuhan Allah kita, yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
3. Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama para bangsawan, bersama dengan para bangsawan bangsanya.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius (1Tim 2:1-8)

"Panjatkanlah permohonan untuk semua orang. Itulah yang berkenan kepada Allah, yang menghendaki agar semua orang diselamatkan."

Saudaraku yang terkasih, pertama-tama aku menasihatkan: Panjatkanlah permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur kepada Allah bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa, agar kita dapat hidup aman dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan berkenan kepada Allah. Penyelamat kita. Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Allah itu esa, dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus. Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang: suatu kesaksian pada waktu yang tepat. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul. Yang kukatakan ini benar, dan aku tidak berdusta! Aku ditetapkan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi dalam iman dan kebenaran. Oleh karena itu aku ingin, agar di mana pun kaum laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa kemarahan dan perselisihan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 952.
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat (2Kor 8:9)
Yesus Kristus menjadi miskin sekalipun Ia kaya, supaya karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (16:10-13)

"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan harta sejati kepadamu? Dan jika kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain; atau ia akan setia kepada yang seorang, dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Rekan-rekan yang budiman!
Perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur dalam Luk 16:1-8a dilanjutkan dengan amatan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ayat 8b-9) dan dengan pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ayat 10-12). Petikan yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXV tahun C ini berakhir dengan penegasan bahwa tak mungkin mengabdi dua tuan (ayat 13). Secara umum dapat dikatakan petikan ini berisi ajakan untuk menemukan jalan lurus dalam liku-liku kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, ada ajakan bagi orang beriman agar juga berani belajar dari kenyataan dalam kehidupan yang acap kali terasa berlawanan dengan cara hidup orang baik-baik.

MENGABDI DUA TUAN, TAK MUNGKIN!

Marilah kita mulai dengan akhir petikan itu, yaitu ayat 13. Di situ ditegaskan bahwa tak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Alasannya, cepat atau lambat akhirnya orang akan memihak kepada yang satu dan meninggalkan yang lain. Tak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon, maksudnya uang, harta, kedudukan...semua yang serba duniawi. Ini pernyataan atau peringatan? Bentuknya memang pernyataan. Tapi dapat pula dimengerti sebagai peringatan agar murid Yesus tidak berhati mendua. Memang dalam hal apapun sikap mendua tidak baik. Namun ini kan bukan barang baru. Sama dengan peringatan agar melepaskan "orang tua, sanak saudara, diri sendiri, milik" agar menjadi murid yang sejati seperti terungkap dalam Luk 14:25-33. Namun bukan barang baru pula bila dalam prakteknya komitmen utuh seperti itu tidak mudah. Arahnya memang jelas, tapi dalam pelaksanaannya kerap orang gagal mengabdikan diri dengan sepenuh hati. Lalu untuk apa mengutik-utik perkara yang tak bisa dielakkan ini? Kenyataan hidup sering menampilkan wajah yang berbeda daripada yang diidealkan begitu saja. Apakah Injil mau menyederhanakan kehidupan? Bila demikian, yang kita dengar bukan Warta Gembira melainkan serangkai omongan saleh tapi basi dan tidak banyak membantu orang semakin mengenali liku-liku kehidupan yang nyata. Begitukah? Untuk menjawabnya baiklah diperiksa perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Petikan ini juga berguna untuk lebih memahami tuntutan menjadi murid sejati dalam Luk 14:25-33 tadi.

Di manakah ketidakjujuran bendahara dalam perumpamaan ini? Pada perbuatan memotong hutang yang diceritakan dalam ayat 6-7 atau karena telah "menghambur-hamburkan" milik tuannya seperti disebut dalam ayat 1? Dengan kata lain, karena kolusi, kongkalikong dengan langganan dan merugikan pemilik perusahaan atau pada perbuatan korupsi dan memboroskan uang perusahaan bagi keperluan sendiri? Lalu kenapa ia dipuji?

APA MASALAHNYA?

Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul. Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain. Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Malang baginya, perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu pemilik meminta pertanggungjawaban. Bendahara itu menyadari, kini ia tak bisa enak-enak saja. Ia akan diperkarakan. Memang ia tidak langsung dipecat. Ia baru diminta memberi laporan. Di sinilah titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Terpikir olehnya, mumpung masih ada waktu, baiklah cepat-cepat memperbaiki keadaan. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan yang palsu yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkannya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Perlu kita pahami cerita ini bukan sebagai laporan peristiwa. Bukan nasihat agar para koruptor bertobat. Ini perumpamaan yang disampaikan untuk mengajak para murid berpikir bagaimana bisa menghadapi liku-liku kehidupan ini dengan sikap yang cocok. Pembaca zaman dulu juga sadar bahwa yang diceritakan ialah perumpamaan dan tidak akan berusaha mencek dengan kenyataan praktek dagang atau mempertanyakan rinciannya. Malah bisa kita andaikan para pembaca dulu tidak mengalami kesukaran di dalam menangkap tujuan perumpamaan itu. Mereka langsung melihat di mana ketidakjujuran si bendahara, yakni dalam hal memboroskan milik yang dipercayakan kepadanya agar dikelola dengan baik, tapi akhirnya mau dikantonginya sendiri. Ini jelas dari tuduhan yang dikenakan kepadanya pada ayat 1. Jelas pula mengapa pemilik meminta pertanggungjawaban dan segera akan memecatnya.

Oleh karena itu transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, sebaiknya dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Dengan demikian juga tidak sukar mengerti mengapa ia dipuji. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan karier bendahara itu. Seluk beluk selanjutnya itu tidak relevan bagi sebuah perumpamaan. Lagipula perumpamaan ini bukan dimaksud untuk menceritakan realitas transaksi dagang melainkan untuk menyoroti kemauan serta kecekatan orang untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji.

SIAPA YANG MEMUJI SANG BENDAHARA?

Disebutkan dalam ayat 8: "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang." Dalam teks Yunaninya, ho kyrios, "tuan itu", bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud pemilik, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Tetapi bila merujuk pada Yesus, maka ayat itu tampil sebagai kata-kata Yesus mengenai perilaku bendahara dalam perumpamaan tadi. Tambahan pula, bila Yesus-lah yang dimaksud, maka ayat 8b, yakni "Sebab anak-anak dunia ini..." dapat membantu mengerti mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan memakai Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur. Persoalan siapa yang memuji ini sering membingungkan para penafsir. Namun, bila uraian mengenai di mana letak ketidakjujuran si bendahara di atas diterima, siapa yang memuji tidak jadi masalah lagi. Bisa saja sang pemilik, bisa pula Yesus. Memang bendahara itu pintar dan patut dipuji, baik oleh pemilik dalam perumpamaan itu maupun oleh Yesus sendiri.

Kehidupan memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan. Bahwasanya ia dipuji entah oleh tuannya entah oleh Yesus justru membuktikan bahwa ia berhasil membawakan diri dengan baik dalam situasi yang gawat. Bahkan amatan mengenai anak-anak dunia yang lebih pintar daripada anak-anak terang dalam ayat 8b bisa dianggap sebagai saran agar orang belajar dari kecerdikannya.

MAMON YANG TAK JUJUR

Bagaimana tafsiran ayat 9? Ayat ini memuat nasihat Yesus agar orang mengikat persahabatan dengan menggunakan "Mamon yang tak jujur" sehingga bila Mamon itu tak dapat menolong lagi, orang akan diterima ke dalam Kemah Abadi?" Maksud perkataan itu kiranya dapat diutarakan kembali sebagai berikut "Uang tak halal (uang hasil korupsi, keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja - perkara yang disebut dalam ayat 1) memang untuk sementara dapat menjadi sandaran hidup - mengikat persahabatan. Namun satu ketika akan terbongkar (tuduhan, ayat 2). Oleh karena itu berusahalah memegang yang bisa memberimu rasa aman sejati ("diterima dalam Kemah Abadi")!" Pembaca yang peka akan teringat Mazmur 15 yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemahNya yakni orang yang kelakuannya tak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras dan tidak mau dibayar untuk merudapaksa orang yang tak bersalah.


BERPIJAK PADA KENYATAAN


Sang bendahara ternyata berani dan berhasil membenahi diri dalam urusan "uang yang diperoleh dengan tidak jujur" dan dalam hal ini ia bisa disebut "setia mengenai harta orang lain", baik harta sang pemilik perusahaan maupun para langganan. Seandainya ia tidak berbuat demikian, ia akan mengalami celaka. Ayat 10-12 sebetulnya merumuskan kembali perkara itu dalam bentuk pepatah. Pandai-pandailah membawa diri dalam urusan duniawi, dalam "urusan kecil" yang bakal memberi kredibilitas dalam perkara yang lebih luhur, dalam urusan yang menyangkut hal-hal kerohanian pula.


Pada awal uraian ini disebutkan bahwa ayat 13 tidak dimaksud semata-mata sebagai peringatan bahwa orang tak bisa mengabdi Allah secara setengah-setengah. Itu sudah jelas. Dan pendengar Injil tentunya bukan orang yang mau terus setengah-setengah. Perkaranya bukan niat, tapi kenyataan sering membuat orang tidak sampai menjalani komitmen iman secara utuh. Lalu bagaimana? Perumpamaan bendahara yang tak jujur tapi cerdik tadi membuat kita melihat bahwa Injil mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Juga diajarkan sikap mau belajar dari cara-cara duniawi - dari "urusan kecil" yang disebut ayat 11. Namun seperti dinasihatkan dalam ayat 9, perlu ada kejelian melihat mana yang sungguh menjamin bagi kebahagiaan. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi ini dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Injil mendorong orang memikirkan bagaimana kemanusiaan yang penuh liku-liku itu dapat menjadi jalan bagi anak-anak terang pula. Dalam arti itulah Injil membuka jalan ke Kemah Abadi.


Salam hangat,

A. Gianto

Sabtu, 18 September 2010 Hari Biasa Pekan XXIV

Sabtu, 18 September 2010
Hari Biasa Pekan XXIV

Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman Tuhan bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu -- Hagai 2:5

Doa Renungan

Tuhan Yesus Kristus, tinggallah di tengah kami dan jadilah gembala kami. Dalam kesibukan sehari-hari menyambung hidup, jangan biarkan kami melupakan sesama yang menderita dan susah hidupnya. Tuntunlah agar dalam tutur kata dan perilaku, kami selalu rendah hati dan riang hati dalam memberi, membawa ketentraman dan damai. Biarkan rahmat-Mu mengasah hati kami sehingga kami semakin peka pada sesama yang rindu akan sabda penghiburan-Mu. Semoga kehadiran kami menjadi tanda belas kasih-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:35-37.42-49)

"Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan."

Saudara-saudara, mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Aku berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.
Ayat. (Mzm 56:10.11-12.13-14)
1. Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada Tuhan, firman-Nya kupuji,
2. Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.
3. Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan tulus ikhlas dan menghasilkan buah dalam ketekunan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:4-15)

"Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."

Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus. Maka Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, "Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat." Sesudah itu Yesus berseru, "Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah mendengar." Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu. Yesus menjawab, "Kalian diberi kurnia mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat, dan sekalipun mendengar mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Sabda Allah. Yang jatuh di pinggir jalan ialah orang yang telah mendengarnya, kemudian datanglah Iblis, lalu mengambil sabda itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ialah orang yang setelah mendengar sabda itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar. Mereka hanya percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri, ialah orang yang mendengar sabda itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik ialah orang yang mendengar sabda itu dan menyimpannya dalam hati yang baik, dan menghasilkan buah dalam ketekunan."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

Ibarat benih, diri kita ditabur Tuhan dan jatuh di beragam lahan kehidupan. Silih berganti, lahan hidup kita berubah, namun benih hidup kita tetap satu dan sama. Tidak selalu kita hidup di lahan yang subur. Kadang kala kita mengalami situasi hidup seperti jatuh di lahan yang berbatu-batu, penuh dengan semak duri, atau di pinggiran jalan. Dunia menjadi lahan nyata yang dapat menumbuhkan atau mematikan benih hidup kita.

Tidak ada gunanya bagi kita meratapi hidup ini dan menyalahkan dunia dengan segala situasinya. Tugas utama kita adalah bagaimana memelihara benih hidup ini agar tetap menjadi benih yang baik. Hidup kita adalah benih yang baik dari Tuhan. Berdiri tegar dalam pasrah diri kepada Tuhan Sang Penggarap kehidupan akan memampukan kita untuk menghadapi aneka situasi kehidupan.

Seperti benih hidupku telah Kautabur di dunia ini, ya Tuhan. Kauberi aku benih yang baik dan buah-buah kebaikan pula yang Engkau harapkan dapat kuhasilkan. Berilah aku rahmat agar setia memelihara kebaikan hidupku dalam segala situasi. Amin.

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian

Jumat, 17 September 2010 Hari Biasa Pekan XXIV

Jumat, 17 September 2010
Hari Biasa Pekan XXIV

Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu; jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang -- Amsal 24:14

Doa Renungan

Allah Bapa di surga, pada diri Yesus Putra-Mu digambarkan program hidup cinta kasih dan damai. Doa kami hendak mengungkapkan hasrat kami akan dunia yang lebih baik berkat wafat dan kebangkitan Kristus, yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Kebangkitan Kristus jelas tak terpisah dari pengharapan hidup Kristiani. Karena itu berulang-ulang Paulus menandaskan bahwa sia-sialah iman kita bila kita tidak sungguh yakin bahwa Kristus bangkit. Kebangkitan Kristus itu menjadi jaminan kebangkitan kita di akhir zaman.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:12.16-20)

"Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu."

Saudara-saudara, jika kami wartakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pewartaan kami, dan sia-sialah pula kepercayaanmu. Apalagi andaikata demikian, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Dengan demikian binasa pulalah orang-prang yang meninggal dalam Kristus. Dan jikalau kita berharap pada Kristus hanya dalam hidup ini, maka kita ini orang-orang yang paling malang dari semua manusia. Namun, ternyata Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal dunia.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Pada waktu bangun aku menikmati hadirat-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 17:1.6-7.8b.15)
1. Dengarkanlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu.
2. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak. Sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu
3. Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.

Banyak wanita ikut serta dalam pelayanan Yesus. Menarik sekali bahwa mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka disatukan dalam pengalaman bersama Yesus dan tanggapan untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (8:1-3)

"Beberapa wanita menyertai Yesus dan melayani Dia dengan harta bendanya."

Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid menyertai Dia, dan juga beberapa wanita, yang telah disembuhkan-Nya dari roh-roh jahat serta berbagai macam penyakit, selalu menyertai Dia. Para wanita itu ialah: Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh setan; Yohana, isteri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang lain. Wanita-wanita itu melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus

Renungan

Yesus berkeliling disertai para murid dan orang-orang yang mengasihi Dia. Mereka saling dukung dalam melaksanakan tugas perutusan mereka. Yesus sebagai pewarta, para murid sebgai pendamping-Nya dan para wanita sebagai pendukung karya-Nya. Pewartaan kabar gembira tidaklah dapat dilakukan sendirian, perlu kerja sama sebagai satu tim. Apakah aku dapat bekerja sama dengan orang lain dalam mewartakan kabar gembira Allah?


R U A H

Kamis, 16 September 2010 Pw. St. Kornelius, Paus dan Siprianus, UskMrt

Kamis, 16 September 2010
Pw. St. Kornelius, Paus dan Siprianus, UskMrt

Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia. Sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh -- Amsal 14:6

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang mahabaik, baharuilah selalu diri kami berkat Roh Kudus yang Kaucurahkan. Berilah kami rahmat untuk menerima kehadiran Putra-Mu dalam hidup kami sehingga dapat meneladan Dia dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dan tantangan dalam hidup. Dengan demikian menjadi nyata bahwa kami adalah murid Yesus Kristus, Tuhan kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Pembacaan dari Surat Rasul Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (15:1-11)

"Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kamu mengimani."

Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu? Kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia!
Ayat. (Mzm 118:1-2,16ab-17,28)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"
2. Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan, tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
3. Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:36-50)
"Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih."

Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, "Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa." Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon, "Katakanlah, Guru." "Ada dua orang yang berutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka utang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?" Jawab Simon, "Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!" Kata Yesus kepadanya, "Betul pendapatmu itu!" Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, "Engkau melihat wanita ini? Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi ia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu, 'Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih!" Lalu Yesus berkata kepada wanita itu, "Dosamu telah diampuni." Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, "Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu, "Imanmu telah menyelamatkan dikau. Pergilah dengan selamat!"
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


Renungan

Dengan merendahkan diri dan bahkan wafat di salib Yesus menebus dosa manusia. Dengan semangat rendah hati dan berserah kepada kasih karunia Allah, Paulus mewartakan kabar gembira tentang Yesus sehingga banyak orang menjadi percaya dan bertobat. Pengampunan terjadi karena belas kasih Allah atas sikap rendah hati manusia.

Sikap rendah hati yang penuh pasrah diri kepada kasih Allah ditampilkan Injil dalam diri seorang wanita berdosa. Tanpa sungkan, malu, dan tidak peduli terhadap tatapan mata atau anggapan orang, dia datang kepada Yesus. Di kaki Yesus, wanita itu berlinang air mata, menangisi dosa-dosanya. Dengan rambut yang menjadi mahkota dirinya dia menyeka air matanya, seolah di hadapan Yesus dia mengesampingkan harga dirinya. Dia mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal, mengungkapkan kasih dan penghormatan dirinya terhadap Yesus. Dosanya yang banyak telah diampuni karena wanita itu berbuat kasih. Demikian sikap Yesus terhadap wanita itu. Bagaimana dengan kita yang juga banyak melakukan dosa, apakah kita memiliki kerendahan hati untuk datang kepada Yesus dan berbuat kasih sebagai tanda tobat kita?

Yesus sumber pengampunanku, aku tersungkur di bawah kaki-Mu untuk memohon kerahiman-Mu atas dosa-dosaku. Rengkuhlah diriku dalam kasih-Mu agar aku pun mampu berbuat kasih lebih banyak lagi dalam hidupku. Amin.

Ziarah Batin 2010, Renungan dan Catatan Harian

Rabu, 15 September 2010 Pw. SP Maria Berdukacita

Rabu, 15 September 2010
Pw. SP Maria Berdukacita

Bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya karena kemiskinan-Nya -- 2Kor 8:9b

Doa Renungan

Allah Bapa di surga, kami tahu hari ini Engkau tetap menyertai kami. Hadirlah ya Tuhan, kami ingin tinggal bersama-Mu dalam doa hari ini. Kami ingin bersyukur atas berkat dan anugerah yang Engkau anugerahkan pada kami hari ini. Puji dan syukur atas anugerah-Mu, Tuhan. Amin.

Dengan doa, kesalehan, dan solidaritas-Nya kepada manusia yang berdosa, Ia berjuang untuk menderita. Kiranya proses penyelamatan diri Kristus itu tidak terjadi seketika. Dari Bunda-Nya, kita melihat bayangan bagaimana Kristus belajar taat kepada Allah.

Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (5:7-9)

"Yesus pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya."

Saudara-saudara, dalam hidup-Nya sebagai manusia, Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat; dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya. Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, la = d, 4/4, PS 818
Ref. Tuhan, sudi dengarkan rintihan umat-Mu.
Ayat. (Mzm 31:2-3a.3bc-4.5-6.15-16.20)
1. Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan daku.
2. Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung, dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku! Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku; oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.
3. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
4. Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata, "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskanlah dari orang-orang yang mengejarku.
5. Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu, yang telah Kaulakukan di hadapan manusia bagi orang yang berlindung pada-Mu!

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. Berbahagialah Engkau, Sang Perawan Maria, sebab di bawah salib Tuhan engkau menjadi martir tanpa menumpahkan darahmu

Di bawah salib berdirilah Maria ibu Yesus. Sikap berdiri bukan berarti Maria tidak bersedih. Ia ikut menderita bersama Putera-Nya, namun yakin bahwa derita itu merupakan bagian dari kehendak Tuhan yang diimaninya. Maria dalam dukacita yang mendalam berdiri, ia bersedia menjadi saksi keselamatan dan pembawa harapan pembaruan kehidupan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (19:25-27)
"Inilah anakmu!" Inilah ibumu"

Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah ia kepada ibu-Nya, "Ibu, inilah anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Menjadi ibu seseorang yang akan mati-matian memperjuangkan kebenaran bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus siap sedia merasakan kekuatiran, ketakutan, kesedihan dan kesendirian yang terjadi karena perjuangan anaknya. Inilah yang dialami oleh Maria. Namun ia menerima semuanya ini dengan tabah karena ia sadar bahwa semuanya adalah rencana Allah. Bagaimana dengan aku?

R U A H

Selasa, 14 September 2010 Pesta Salib Suci

Selasa, 14 September 2010
Pesta Salib Suci

Anak Manusia harus ditinggikan


Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, kami bersyukur kepada-Mu karena boleh mengenal salib suci. Tanda salib inilah yang pertama kami kenal dan pelajari. Melalui tanda ini, kami mengenal Yesus Putra-Mu, sehingga kamipun seperti Paulus, berani berseru "Aku tahu kepada siapa aku percaya." Bersama Dia kami menjadi kuat dan setia memanggul derita. Tuhan, berkatilah agar selalu meluhurkan nama-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

Bacaan dari Kitab Bilangan (21:4-9)


"Semua orang yang terpagut ular akan tetap hidup, bila memandang ular perunggu."

Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!" Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, "Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau, berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini daripada kami." Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, "Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup." Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 2/4, PS 830
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Ayat. (Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38)
1. Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan amsal, aku mau menuturkan hikmat dari zaman purbakala.
2. Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendambakan Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah Gunung Batu mereka, bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
3. Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka tidak berpaut pada-Nya, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.
4. Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak melampiaskan keberangan-Nya.

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Filipi (2:6-11)

"Yesus merendahkan diri, maka Allah sangat meninggikan Dia."

Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Demikianlah Sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = g, 2/4, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Sesudah ayat, Alleluya dilagukan dua kali.
Ayat. Ya Kristus, kami menyembah dan memuji Dikau, sebab dengan salib-Mu, Engkau telah menebus dunia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:13-17)


"Anak manusia harus ditinggikan."

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Pada hari ini kita merayakan rasa syukur serta cinta kasih kita kepada Yesus melalui penghormatan kita kepada Salib. Dulu Salib merupakan lambang kehinaan yang paling mengerikan. Para penjahat yang dihukum mati lebih baik dipancung daripada disalib. Yesus memilih untuk melakukan pengorbanan yang paling besar untuk memperoleh keselamatan bagi kita. Ia memilih penderitaan Salib. Bersama dengan penderitaan-Nya itu, Ia juga dihinakan.

Sejak itu, Salib menjadi lambang Kristiani yang paling suci. Tubuh Yesus yang menderita di atasnya kita sebut Corpus. Salib di dinding kamar kita atau salib di sekeliling leher kita mempunyai arti yang amat penting. Mereka mengingatkan kita bahwa Yesus telah membayar lunas harga kita.

Umat Kristiani senantiasa menghormati serta mencintai lambang Salib. Kata “Salib” juga dapat berarti penderitaan yang datang menimpa kita. Jika kita menerima penderitaan-penderitaan tersebut dengan cinta dan kesabaran seperti Yesus menerima salib-Nya, kita telah rela “memanggul salib” seperti Yesus (Sumber: Indocell/Yesaya).

Dengan Salib, kita juga mengakui kemurahan hati Allah, yang karena cinta-Nya kepada kita membiarkan Putra-Nya, bukan hanya menjadi manusia sama seperti kita tetapi bahkan mati di kayu salib yang hina. Dan orang yang percaya kepadaNya akan selamat dan beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).

Menandai diri dan orang lain dengan tanda salib
Kita selalu menandai diri kita dengan Salib saat membuat tanda salib, karena kita ingin mempersatukan seluruh diri kita (akal budi, hati-perasaan-emosi, dan tenaga kita) dalam kesatuan dengan Allah Tritunggal Kudus. Kita persatukan diri kita dalam doa, dalam bekerja, dalam perjalanan, dalam bermain dalam kesatuan dengan Allah. Dan kita mempersatukan anak kita dengan Allah dengan memohonkan berkat Allah dengan menandai dahi anak kita dengan tanda salib di dahinya sambil mengucap “Tuhan memberkatimu, dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.”

Saya selalu meminta agar menjadikan kebiasaan untuk memberi tanda salib di dahi anak. Tiga alasan: pertama, orangtua punya kuasa juga dari Allah, selain melahirkan, tetapi juga untuk menurunkan dan menyampaikan berkatNya kepada anak, seperti Abraham ke Ishak, Ishak ke Yakub dan Esau, dan Yakub ke anak-anaknya. Kedua, jalinan dan ikatan batin anak dengan orangtua akan dekat secara psikologis dan spiritual, demikian juga relasi sebagai anak dengan orangtuanya yang pantas dihormati. Ketiga, orangtua selalu akan diingatkan bahwa dengan memberikan berkat Allah maka tidak bisa tidak dirinya mesti menjadi teladan serta menjadi berkat dalam hidup sehari-harinya, dan sang anak pun akan terbangun sikap sebagai anak yang baik di kemudian hari.

Mari kebiasaan ini dimulai sejak anak masih bayi. Membuat tanda salib di dahi sang anak dengan mengucapkan kata-kata berkat Allah Tritunggal setiap mau meninggalkan mereka, setiap mereka mau ke sekolah, mau tidur, hendak pergi jauh dari pengawasan kita, dan lain sebagainya.

Kami menyembah Dikau, ya Tuhan, dan bersyukur kepada-Mu. Sebab dengan salib suci-Mu, Engkau telah menebus dunia. Amin.

Salam dan berkat,
Rm Petrus Mujiono, SCJ.

Selasa, 14 September 2010 Pesta Salib Suci

Selasa, 14 September 2010
Pesta Salib Suci


"ALLAH SEBEGITU MENGASIHI DUNIA ..."


Rekan-rekan yang terkasih!

Konteks bacaan Injil bagi Pesta Salib Suci ini (Yoh 3:13-17) ialah pembicaraan antara Nikodemus dan Yesus yang berpusat pada bagaimana orang dapat sampai ke hidup kekal. Tokoh ini ingin mendapat pencerahan mengenai makna kejadian-kejadian luar biasa yang dilakukan Yesus. Ia mau mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai orang yang berpengalaman dan bijaksana, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa Allah Yang Maha Kuasa kini sedang mendatangi umatNya dan mukjizat yang dilihat orang itulah tanda-tanda kedatanganNya. Nikodemus mulai menyadari bahwa Yesus datang dari Dia. Semua ini disampaikan Nikodemus kepada Yesus sambil mengharapkan pencerahan lebih jauh (Yoh 3:2). Dikatakan oleh penginjil, ia menemui Yesus malam hari. Malam adalah saat kegelapan dan kuasanya terasa mencengkam, tapi juga saat-saat Yang Ilahi datang menolong. Pembaca diajak Yohanes mengingat bahwa yang kini ditemui Nikodemus ialah Terang yang diwartakannya pada awal Injilnya.


Bagaimana kelanjutannya? Marilah kita catat beberapa pokok dalam pembicaraan itu terlebih dahulu.


PERCAKAPAN DENGAN NIKODEMUS

Injil Yohanes mengajak pembaca ikut mengalami yang dirasakan Nikodemus dan dengan demikian dapat ikut masuk ke dalam pembicaraannya dengan Yesus sendiri. Dalam ay. 3 Yesus menegaskan bahwa hanya orang yang dilahirkan kembali - dan dilahirkan dari atas sana - akan melihat Kerajaan Allah. Semakin disimak, jawaban Yesus ini semakin membawa kita kepada pertanyaan yang sebenarnya ada dalam hati Nikodemus dan boleh jadi juga dalam diri kita: "Apa maksud macam-macam mukjizat yang dilakukan Yesus, yang tentunya disertai Allah itu?" Tentunya tak lain tak bukan ialah...kenyataan apa itu Kerajaan Allah! Itulah yang dibawakan Yesus kepada orang banyak. Dan inilah yang semestinya dicari orang. Nikodemus tentu akan bertanya lebih lanjut: kalau begitu bagaimana caranya bisa ikut masuk ke dalam Kerajaan ini. Ay. 3 tadi ialah jawabannya.

Jawaban tadi semakin membuat Nikodemus bertanya-tanya. Boleh jadi juga kita demikian. Bagaimana bisa orang setua dia, setua kita, dapat lahir kembali. Tentu Nikodemus tidak berpikir secara harfiah belaka. Ia tahu yang dimaksud ialah lahir kembali secara rohani. Tapi justru itulah soalnya, bisakah orang yang sudah jauh melangkah di jalan lain mendapatkan hidup baru. Berangkat dari nol lagi? Apakah hidup dalam roh sepadan dengan pengorbanan yang perlu dijalani? Menanggalkan hidup badaniah, menisbikannya demi hidup dalam roh? Inilah maksud pertanyaan dalam ay. 9, "Bagaimana itu bisa terjadi?"

Penjelasan Yesus tidak diberikan dalam ujud serangkai pernyataan teologi, melainkan dalam ujud kesaksian mengenai dirinya: ia datang dari atas sana (ay. 13). Karena itulah ia dapat membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Dalam hubungan dengan yang diperkatakan sebelumnya, Yesus ialah orang yang sudah mengalami apa itu lahir kembali dari atas sana, dan yang kini hidup dalam roh. Untuk mengalami bagaimana lahir dalam roh, jalannya ialah berbagi hidup dengan dia yang sungguh sudah ada dalam keadaan itu. Ini jawaban bagi Nikodemus, juga jawaban bagi kita.

ULAR TEMBAGA?

Selanjutnya ay. 14 merujuk kepada sebuah pengalaman umat di padang gurun. Dalam berjalan mendekat ke Tanah Terjanji dulu, umat mengalami macam-macam bahaya. Salah satu yang paling mengerikan ialah "ular-ular tedung" yang mematikan itu (Bil 21:4-9). Ular-ular itu dapat memagut secepat kilat dan bisanya membakar. Tak ada kemungkinan selamat. Di situ malapetaka tadi digambarkan sebagai akibat kekurangpercayaan mereka sendiri. Mereka memang akhirnya meminta agar Musa memohonkan belas kasihan Yang Maha Kuasa. Begitulah, Musa diperintahkan Allah membuat ular dari tembaga dan memancangnya pada sebuah tiang. Yang dipagut ular akan tetap hidup bila memandangi ular tembaga tadi. Memandangi ular tembaga itu menjadi ungkapan kepercayaan pada Sabda Allah yang menjadi harapan satu-satunya untuk dapat terus hidup menempuh perjalanan di padang gurun sampai ke Tanah Terjanji.

Bagi pembaca Injil Yohanes, Tanah Terjanji kini ialah Kerajaan Allah yang dibawakan Yesus ke dunia kepada semua orang, bukan hanya kepada umat Perjanjian Lama. Untuk mencapainya, jalan satu-satunya ialah tetap mengarahkan pandangan kepada salib, menaruh kepercayaan dan harapan kepada dia yang disalib - diangkat seperti ular tembaga tadi. Mengapa? Jawaban dari Injil Yohanes didapati dalam ay. 16

INTI WARTA KESELAMATAN

"Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Tidak meleset bila dikatakan bahwa ay. 16 ini berisi ringkasan seluruh Kabar Gembira.

Kalimat ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya hasil kesimpulan akal budi, yakni bahwa segala sesuatu yang ada ini mestinya ada yang mengadakan, yakni Allah. Bukan ke sana arah ayat ini. Justru kebalikannya. Tidak lagi dirasakan kebutuhan menunjukkan bahwa Ia ada. Yang diwartakan justru perhatian-Nya yang membuat jagat ini terus berlangsung. Dia itu Allah yang dihadirkan oleh orang-orang yang dekat denganNya. Dan kali ini bahkan Dia diperkenalkan oleh orang yang paling dekat denganNya, yang menyelami dan hidup dari Dia. Inilah arti kata "anak" yang diterapkan kepada Yesus oleh Injil Yohanes. Pemakaian kata "tunggal" di situ dimaksud untuk memperjelas bahwa tiada yang lebih dekat denganNya daripada Yesus sendiri. Karena itulah ia dapat membawa kemanusiaan berbagi kehidupan kekal dengan Yang Ilahi sendiri tadi.

Ay. 16 dst. berisi kesaksian Yohanes Penginjil akan siapa Allah dan siapa Yesus itu. Allah sedemikian mengasihi dunia ini sehingga ia memberikan AnakNya yang tunggal. Dalam teks Yunani Injil Yohanes, kata "mengasihi" dan "memberikan" itu diungkapkan dalam bentuk yang jelas-jelas mengungkapkan tindakan yang dibicarakan betul-betul sudah terjadi. Sudah jadi kenyataan, bukan hanya sedang atau bakal dikerjakan. Tentunya pengarang Injil berpikir akan peristiwa penyaliban Yesus di Golgota. Injil memang ditulis sebagai kesaksian peristiwa yang sudah dialami dan kini dibagikan kepada orang banyak. Penyaliban Yesus yang dari luar tampak sebagai hukuman, kegagalan, dan kematian itu kini mendapat arti baru. Yang Maha Kuasa mau menerima penderitaan manusia Yesus itu sebagai ungkapan kepercayaan utuh kepada-Nya. Dan karena itulah Yesus menjadi AnakNya, menjadi orang yang paling dekat dengan Allah sendiri dan bahkan dengan demikian membawakan Dia ke dunia ini. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah itu membuka jalan kehidupan kekal. Itulah ungkapan lain dari peristiwa kebangkitan. Inilah yang dibagikan Yesus kepada orang-orang yang mau mempercayai arti penyerahan dirinya kepada Allah tadi. Dan baru dengan demikian orang dapat ikut mengalami apa itu dikasihi Allah.

IMPIAN ATU KENYATAAN?

Yang diutarakan di atas ialah pengalaman iman dari para pengikut Yesus yang pertama yang kemudian dituliskan dalam bentuk Injil. Tidak segera dapat dicerna orang pada zaman kemudian di tempat lain. Kita boleh bertanya, bila benar Allah sungguh telah memberi perhatian khusus kepada dunia, bagaimana bisa dijelaskan kok masih ada saja yang tak beres, dan rasanya malah kekacauan semakin menjadi-jadi. Sekarang kekerasan, ketidakadilan, kematian terasa semakin mewarnai pengalaman sehari-hari. Retorika sajakah yang diutarakan Injil hari ini? Kerajaan Allah yang sudah datang itu impian atau kenyataan?

Injil Yohanes memecahkannya bukan dengan uraian moralistis atau pengajaran. Yang ditampilkan ialah sebuah kesaksian, yakni bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan. Yang dimaui-Nya ialah kehidupan kekal bagi semua orang. Bagi dunia. Yang perlu dilakukan manusia ialah berani menerima kebaikanNya. Mempercayai-Nya. Yang meragukan atau bahkan menolak akan tetap berada di dalam kegelapan, dalam ancaman kebinasaan, dan jauh dari kehidupan yang berkelanjutan. Tentu saja Yohanes memaksudkan kehidupan setelah kehidupan badani ini. Bagi Yohanes, yang kekal itu ialah kehidupan yang berbagi kedekatan dengan Yang Ilahi sendiri nanti. Inilah yang ditawarkan kepada Nikodemus. Dari pembicaraan dalam ay. 1-13 juga terasa betapa beratnya penyerahan seperti ini bagi Nikodemus. Ia masih bergulat agar membiarkan diri dan ikhlas dirasuki terang yang sudah ditemukan dan dilihatnya sendiri itu. Kisahnya bisa juga menjadi riwayat kita masing-masing.

BACAAN KEDUA: MADAH TENTANG KRISTUS Flp 2:6-11

Di sepanjang Flp 1:27- 2:13 Paulus menyampaikan pelbagai ajakan agar umat di Filipi saling menumbuhkan kebesaran hati di dalam hidup bersama. Dalam rangka ajakan inilah Paulus merujuk pada sebuah madah yang sudah dikenal umat, yakni yang dibacakan kali ini, 2:6-11. Kini cukup jelas aslinya madah itu terkarang dalam bahasa Aram yang dipakai di lingkungan para murid di tanah suci. Tetapi kemudian madah itu dialihbahasakan ke dalam bahasa Yunani sehingga juga dapat dipakai di kalangan yang lebih luas. Dan bentuk Yunani inilah yang kiranya diambil alih Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi.

Mengingat besarnya peranan madah tadi dalam pertumbuhan paham mengenai siapa Yesus yang Kristus itu, marilah kita lihat susunannya.

Ada tiga bagian pokok:

a. Ditegaskan dalam ay. 6-7 keberadaan sebagai Yang Ilahi yang bersedia mengosongkan diri dari keilahiannya agar menjadi sama dengan manusia.

b. Kemudian dalam ayat digambarkan dalam ay. 8 keberadaan di bumi, menjalani hidup seperti manusia biasa, juga ketika menghadapi kematian sampai kematian di salib.

c. Akhirnya dalam ay. 9-11diungkapkan kebesaran Kristus sebagai dia yang ditinggikan Allah di hadapan seluruh jagat sehingga seluruh jagat mengakuinya sebagai Kurios, artiya Tuhan sesembahan. Bagian ketiga ini menutup kemungkinan akan penafsiran adanya Allah "kedua", gagasan yang tidak sejalan dengan iman akan keesaan Yang Mahakuasa. Setelah mengosongkan diri dari keilahian tadi, tokoh yang dimadahkan ini ialah manusia seutuhnya. Ia menjadi sesembahan karena dijadikan demikian oleh Yang Mahakuasa sendiri.

Pokok pertama erat hubungannya dengan iman akan "inkarnasi", yakni keilahian mampu mendekat ke ciptaan sampai lahir sebagai manusia. Sedemikian besar kesediaan ini sehingga digambarkan sebagai keilahian yang mengosongkan diri. Malah keilahian tidak lagi dianggap sebagai yang patut dicari dan direnggut agar tidak lepas. Gagasan ini kemudian kerap dibicarakan di kalangan teolog sebagai "kenosis", pengosongan diri, walaupun dalam madah ini kata benda itu tidak muncul. Yang ada ialah kata kerjanya, yakni mengosongkan diri. Lebih ditampikan pelaku yang menjalani pengosongan diri itu dan bukan proses maupun hasilnya. Sekaligus ditekankan pula siapa kiranya sebelum itu, yakni keilahian sendiri. Dengan meresapi isi madah itu, orang akan tertuntun mendekat pada Yesus yang Kristus yang demikian. Dan bukan terbuai gagasan pengosongan diri lalu mencoba-coba mencontohnya - bukan ini yang dimaksud madah itu, bukan ini pula maksud Paulus ketika mengutip madah itu bagi umat di Filipi.


Salam hangat,

Agustinus Gianto,SJ

Bacaan Harian 13 - 19 September 2010

UJUD-UJUD KERASULAN DOA BULAN SEPTEMBER 2010

Ujud Umum: Semoga di negara-negara yang kurang berkembang, pewartaan Kabar Baik memperbaharui semangat masyarakatnya untuk secara aktif mengusahakan kemajuan sosial yang sejati.

Ujud Misi: Semoga dengan keterbukaan hati terhadap cinta kasih, kita mengakhiri banyak peperangan dan konflik yang telah menodai bumi dengan darah yang tertumpah.

Ujud Gereja Indonesia: Semoga peringatan Hari Aksara Internasional (06 September) mendorong semua pihak bekerjasama meningkatkan kemampuan baca-tulis masyarakat, khususnya kaum yang terpinggirkan.

Bacaan Harian 13 - 19 September 2010

Senin, 13 September: Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja (P).
1Kor 11:17-26; Mzm 40:7-10.17;Luk 7:1-10.
Iman perwira romawi tersebut membawa kesembuhan bagi hambanya. Yakinkah kita bahwa iman kita kepada Yesus juga dapat membawa kebaikan bagi orang lain? Mari dengan iman yang teguh, kita tak kunjung henti memohon kepada-Nya untuk orang-orang yang membutuhkan doa-doa kita.

Selasa, 14 September: Pesta Salib Suci (M).
Bil 21:4-9; atau Flp 2:6-11; Mzm 78:1-2.34-38; Yoh 3:13-17.
Betapa dalamnya kasih Bapa kepada manusia. Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya kita yang percaya memperoleh hidup yang kekal. Bagaimanakah kita menanggapi kasih Bapa itu? Ia senantiasa menunggu kita dan siap menggendong kita supaya kita beroleh hidup dalam kelimpahan.

Rabu, 15 September: Peringatan Wajib Sta. Perawan Maria Berdukacita (P).
1Kor 12:31 – 13:13; atau Ibr 5:7-9; Mzm 33:2-5.12.22; Luk 7:31-35.
Kalau menjelang wafat-Nya, Yesus memberikan ibu-Nya kepada murid-murid, ini tentu bukan tanpa maksud. Dialah Bunda penolong abadi yang penuh belas kasih. Dalam segala situasi berat yang kita hadapi dewasa ini, marilah kita juga menyerahkan diri kepada pelukan Bunda Maria. Pasti ia melakukan sesuatu untuk kita. Rasakanlah!

Kamis, 16 September: Peringatan Wajib St. Kornelius, Paus dan St. Siprianus, Uskup-Martir (M).
1Kor 15:1-11; Mzm 118:1-2.16ab-17.28; Luk 7:36-50.
Karena mengalami cinta dan belas kasih Allah, perempuan itu bersimpuh di hadapan Yesus dan mengurapi kaki-Nya. Apakah kita juga menyadari bahwa kita pun banyak mengalami cinta dan belas kasih Allah. Lalu, apa yang telah kita lakukan untuk-Nya?

Jumat, 17 September : Hari Biasa Pekan XXIV (H).
1Kor 15:12-20; Mzm 17:1.6-7.8b.15; Luk 8:1-3.
Perempuan-perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka. Apakah Yesus juga menyembuhkan kita? Apakah kita juga mau melayani Yesus dengan apa yang kita miliki?

Sabtu, 18 September: Hari Biasa Pekan XXIV (H).
1Kor 15:35-37.42-49; Mzm 56:10-14; Luk 8:4-15.
Yesus telah menaburkan sabda-Nya. Ia tentu berharap, sabda-Nya itu tinggal dalam hati yang baik, yang kemudian dapat berbuah, lalu menjadi benih baru bagi orang lain juga. Inilah tugas utama murid Yesus.

Minggu, 19 September: Hari Minggu Biasa XXV (H).
Am 8:4-7; Mzm 113:1-2.4-8; 1Tim 2:1-8; Luk 16:1-13 (Luk 16:10-13).
Kita diingatkan supaya kesetiaan kita terhadap-Nya nampak dalam perkara-perkara yang kecil. Hanya dengan cara itulah, kita dapat setia juga dalam perkara-perkara yang besar. Sebaliknya, kalau dalam hal kecil saja, kita sudah terbiasa tidak setia; bagaimana mungkin bisa setia dalam hal besar. Mari kita wujudkan iman kita dalam hal-hal yang sederhana pada hidup keseharian kita.

Senin, 13 September 2010 Hari Biasa Pekan XXIV

Senin, 13 September 2010
Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup Pujangga Gereja


Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1Kor 11:26)

Doa Renungan

Allah Bapa yang kekal dan kuasa, sabda-Mu adalah pelita dan terang bagi jalan kami. Kami bersyukur karena rahmat penyertaan-Mu dalam setiap perjalanan hidup kami. Kami mohon rahmat pengertian agar kami dapat mengerti Sabda yang kami renungkan ini. Tuhan, Tinggallah beserta kami sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Paulus mengajak jemaat di Korintus menyadari hakikat Ekaristi. Sakramen Ekaristi menampilkan kembali karya keselamatan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang. Sebab itu hendaknya semangat Ekaristi juga menjiwai umat beriman dalam mencari jalan untuk memecahkan persoalan jemaat.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 11:17-26.33)

"Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang."

Saudara-saudara, dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji. Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Wartakanlah wafat Tuhan, sampai Ia datang.
Ayat.(Mzm 40:7-8a.8b-9.10.17)
1. Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang.
2. Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."
3. Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya Tuhan.
4. Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.
Ayat. (Yoh 8:12)
Akulah terang dunia, sabda Tuhan. Barangsiapa mengikuti Aku, ia mempunyai terang hidup.

Iman perwira Romawi sungguh sangat teguh dan dipuji oleh Yesus. Imannya yang besar ia ungkapkan melalui pengalaman hidupnya sebagai seorang atasan dalam dinas ketentaraan. Bagi kita pekerjaan adalah tempat untuk berjumpa dengan Allah dan memperdalam kepercayaan kepada-Nya, bukan menjauhkan dan membuat kita lupa akan Dia.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (7:1-10)

"Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai."

Pada suatu ketika, setelah mengakhiri pengajaran-Nya kepada orang banyak, masuklah Yesus ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Renungan

Iman perwira itu sungguh besar. Ia percaya akan kasih Yesus yang menyembuhkan. Ia yakin akan kuasa-Nya juga. Maka apa yang ia harapkan sungguh terjadi bahkan ia dipuji oleh Yesus. Apakah kita sungguh percaya akan kasih dan kuasa Yesus? Apakah ketika kita memohon kepada-Nya kita percaya bahwa Ia akan mendengarkan kita? Kalau ya, jangan kuatir! Apa yang kita minta pasti terjadi.


R U A H

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2024 -

Privacy Policy