Bacaan Harian 14-20 November 2011

Bacaan Harian 14-20 November 2011

Senin, 14 November: Hari Biasa Pekan XXXIII (H).
1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64; Mzm 119:53.61.134.150.155.158; Luk 18:35-43.

Kita seringkali juga mengalami kebutaan rohani. Tapi kalau kita mau seperti orang buta yang berteriak kepada Yesus: ’Anak Daud, kasihanilah aku,’ pastilah Yesus tidak tinggal diam. Ia akan menyembuhkan kebutaan kita dan membuat mata rohani kita melek tentang hidup yang berkelimpahan.

Selasa, 15 November: Hari Biasa Pekan XXXIII (H).
2Mak 6:18-31; Mzm 4:2-7; Luk 19:1-10.

Karena usaha keras Zakheus untuk mengatasi halangan supaya dapat melihat Yesus, Yesus mau menumpang di rumahnya. Seisi rumah memperoleh keselamatan. Apakah kita juga sudah berusaha keras untuk mengatasi segala rintangan untuk sungguh melihat Yesus? Maukah kita juga mengalami keselamatan untuk seisi rumah?

Rabu, 16 November: Hari Biasa Pekan XXXIII (H).
2Mak 7:1.20-31; Mzm 17:1.5-6.8b.15; Luk 19:11-28.

Kita semua telah dibekali uang mina dan Yesus ingin supaya uang mina itu dilipatgandakan dengan segala usaha kita. Untuk itu kita perlu memerangi segala kemalasan atau kebiasaan untuk memaafkan dan membenarkan diri sendiri. Tuhan akan memberikan kepercayaan lebih kepada kita kalau kita telah mengembangkan apa yang telah dipercayakan-Nya.

Kamis, 17 November: Peringatan Wajib Sta. Elisabet dari Hungaria, Biarawati (P).
1Mak 2:15-29; Mzm 50:1-2.5-6.14-15; Luk 19:41-44.

Yesus menangisi Yerusalem, karena kota itu menolak tawaran keselamatan dari-Nya. Segala tanda dan peringatan tidak digubris. Apakah sikap kita juga membuat Yesus menangis karena kita tidak menggubris tawaran keselamatan, dengan segala tanda dan peringatan-Nya, yang Ia sampaikan kepada kita?

Jumat, 18 November: Hari Biasa Pekan XXXIII (H).
1Mak 4:36-37.52-59; MT 1Taw 29:10-12d; Luk 19:45-48.

Tubuh kita adalah Bait Allah. Apakah kita telah menjaganya agar tetap kudus, sehingga menjadi tempat yang layak untuk bersemayamnya Allah di tubuh kita? Ataukah kita juga tergoda untuk mencemarinya?

Sabtu, 19 November: Hari Biasa Pekan XXXIII (H).
1Mak 6:1-13; Mzm 9:2-4.6.16b.19; Luk 20:47-40.

Allah kita adalah Allah orang hidup; bukan Allah orang mati! Maka semua orang yang percaya kepada-Nya akan mengalami kehidupan, bukan kematian. Segala perkara yang kita hadapi hanyalah untuk membantu kita mencapai kehidupan itu. Tak ada perkara yang tidak dapat kita tanggung, karena Allah kita adalah Allah orang hidup yang selalu menyertai kita.

Minggu, 20 November: Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam (P).
Yeh 34:11-12.15-17; Mzm 23:1-3.5-6; 1Kor 15:20-26a.28; Mat 25:31-46.

Kerajaan Yesus bukan dari dunia ini. Itu artinya, Kerajaan yang ditawarkan Yesus bukanlah kerajaan yang lekat dengan kekuasaan, melainkan suatu Kerajaan Kasih. Karenanya, Yesus Sang Raja akan menggunakan kriteria kasih untuk dapat masuk dalam Kerajaan-Nya saat pengadilan terakhir kelak. Ia akan melihat perbuatan kasih apa yang sudah kita lakukan terhadap Dia yang hadir dalam diri orang-orang miskin, lemah, dan tersisih, yang sehari-hari ada di sekitar kita.

Senin, 14 November 2011 Hari Biasa Pekan XXXIII

Senin, 14 November 2011
Hari Biasa Pekan XXXIII

“Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah” (St. Gregorius dari Nisa)

Antifon Pembuka

Akulah cahaya dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, hidup dalam cahaya abadi.

Doa Pagi


Bapa, tambahkanlah imanku kepada-Mu agar aku tak jatuh pada berhala-berhala masa kini yang dapat menjauhkan aku dari kasih-Mu. Aku ingin selalu berada dalam genggaman tangan-Mu. Demi Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantaraku. Amin.

Keanekaragaman tidak perlu menjadi keseragaman. Keanekaragaman merupakan kekayaan, apalagi kalau itu menyangkut keyakinan. Justru dengan perbedaan, manusia seharusnya saling melengkapi dan membantu. Maka, idealisasi raja Antiokhus Epifanes yang ingin menyeragamkan keyakinan semua bangsa adalah hal yang naïf. Malah, di mata bangsa Israel merupakan suatu kejahatan dosa.

Bacaan dari Kitab Pertama Makabe (1:10-15.41-43.54-57.62-64)

"Kemurkaan hebat menimpa umat."

Pada masa itu tampillah di Israel seorang raja yang berdosa, yaitu Antiokhus Epifanes, putera Raja Antiokhus. Ia pernah menjadi sandera di Roma. Antiokhus Epifanes itu menjadi raja dalam tahun seratus tigapuluh tujuh di zaman pemerintahan Yunani. Pada masa itu tampillah dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata, “Marilah kita mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa sekeliling kita. Sebab sejak kita menyendiri, maka kita ditimpa banyak malapetaka.” Usul itu diterima baik. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain. Kemudian mereka itu membangun sebuah gelanggang olah raga di Yerusalem menurut adat istiadat bangsa-bangsa lain. Mereka pun memulihkan kulup mereka dan murtadlah mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat. Beberapa waktu kemudian Raja Antiokhus Epifanes menulis sepucuk surat perintah untuk seluruh kerajaan, bahwasanya semua orang harus menjadi satu bangsa. Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri. Maka semua bangsa menyesuaikan diri dengan titah raja itu. Juga dari Israel ada banyak orang yang menyetujui pemujaan raja. Dipersembahkanlah oleh mereka kurban kepada berhala dan hari Sabat dicemarkan. Pada tanggal limabelas bulan Kislew dalam tahun 145 raja menegakkan patung berhala keji di atas mezbah kurban bakaran di bait Allah. Dan di semua kota di seluruh Yehuda mereka dirikan pula mezbah pemujaan berhala. Pada pintu-pintu rumah dan di lapangan-lapangan dibakar kurban. Kitab-kitab Taurat yang diketemukan disobek-sobek dan dibakar habis. Jika pada salah seorang terdapat Kitab Perjanjian atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat, ia dihukum mati oleh pengadilan raja. Namun demikian ada banyak orang Israel yang tetap teguh hatinya dan bertekad untuk tidak makan sesuatu yang haram. Mereka lebih suka mati daripada menodai diri dengan makanan semacam itu dan dengan demikian mencemarkan perjanjian kudus. Dan mereka mati juga. Kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan
Ref. Hidupkanlah aku, ya Tuhan, supaya aku berpegang pada perintah-Mu.
Ayat. (Mzm 119:53.61.134.150.155.158)

1. Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.
2. Bebaskanlah aku dari pemerasan manusia, supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu.
3. Orang-orang yang mengejar aku dengan maksud jahat sudah mendekat, mereka menjauh dari hukum-Mu.
4. Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab mereka tidak mencari ketetapan-ketetapan-Mu!
5. Melihat para pengkhianat aku merasa muak, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Yoh 8:12)
Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.

Kerinduan seorang buta untuk dapat melihat sungguh mampu menembus belas kasih Yesus untuk menyembuhkannya. Yesus menegaskan bahwa kerinduan sebesar itu merupakan cetusan dari iman. Maka Yesus memeteraikan sabda ini, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Betapa indahnya efek iman: dari kondisi buta menjadi melihat! Dari gelap menjadi terang.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (18:35-43)

"Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat."


Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis. Karena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Ada apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus, orang Nazaret, sedang lewat.” Maka si buta itu berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin kuat ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka Yesus pun berhenti dan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya. Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat!” Maka saat itu juga ia melihat, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Penderitaan adalah salah satu situasi batas manusia. Dalam situasi yang demikian, orang mempunyai kerinduan mencari sesuatu yang tak terbatas. Iman merupakan jawaban atas situasi batas manusia. Dengan iman, manusia bisa melewati ambang batas keterbatasannya dan bertemu dengan Allah, yaitu Dia yang tak terbatas.

Doa Malam


Yesus, syukur dan terima kasih kepada-Mu atas perlindungan-Mu sepanjang hari ini. Semoga aku senantiasa berani menggantungkan segala harapanku hanya kepada-Mu saja, terutama di saat aku mengalami kegelapan iman dan terhimpit oleh berbagai masalah kehidupan ini. Amin.


RUAH

Berjaga-jaga dan Sadarlah

“Janganlah kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadarlah!” (ay. 6). Itulah yang disampaikan Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika. Pernyataan Paulus tersebut bermula pada kesadarannya bahwa jemaat sudah mengetahui bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam (ay. 2). Sungguh menggembirakan bahwa Paulus tahu, jemaat Tesalonika adalah anak-anak terang yang tidak hidup dalam kegelapan, sehingga hari Tuhan tidak datang seperti pencuri (ay. 4-5). Permenungan Paulus ini akan membingkai cara kita merefleksikan pesan bacaan pertama dan bacaan Injil dalam perayaan Ekaristi minggu ke XXXIII ini.

Bacaan Injil hari Minggu Biasa XXXIII tahun A, berbicara tentang kerajaan surga seumpama seseorang yang mau pergi ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya serta mempercayakan hartanya kepada para hamba itu. Harta yang dipercayakan itulah yang disebutnya talenta. Ada kepercayaan, ada tanggung jawab. Siempunya harta mempercayakan hartanya, si hamba bertanggungjawab terhadap harta yang dipercayakan kepadanya. Yang menarik adalah bahwa dia mempercayakan hartanya kepada hamba-hamba menurut kesanggupannya. Dalam hal ini, Si empunya harta tidak berlaku sewenang-wenang, atau main paksa. Tentu kalau dikembangkan atau difantasikan ceritanya, ada dialog sangat menarik soal kesanggupan masing-masing hamba. Namun yang pasti, ada hamba yang sanggup menerima lima talenta, ada yang dua talenta dan ada yang sanggup menerima satu talenta.

Dalam perjalanan waktu, dua hamba mampu bertanggungjawab, sedangkan satu hamba tidak bertanggungjawab. Hamba yang menerima lima talenta mengembangkannya, sehingga beroleh laba lima talenta. Demikian juga hamba yang menerima dua talenta, ia mampu mengembangkan, sehingga memiliki laba dua talenta. Sementara hamba yang menyatakan kesanggupannya untuk menerima satu talenta, tidak mengembangkannya tapi justru menyembunyikan. Sehingga talentanya tidak berlaba apa-apa. Tentu ini tidak ada kaitannya dengan soal strategi marketing. Kalau ada yang mau menafsirkan demikian, bisa saja, sebagai kekayaan atas permenungan. Namun yang mesti dilihat adalah soal tanggungjawab terhadap talenta yang diberikan. Bahwa masing-masing hamba sudah menyatakan kesanggupan untuk menerima talentanya, namun ada hamba yang ingkar akan kesanggupan itu. Sebagai konsekwensi, kita tahu, tuannya marah: “Hai kamu! hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat dimana aku tidak menabur dan memungut dari tempat dimana aku tidak menanam?” (Mat. 5:26). Hamba tersebut mendapat hukuman dengan dicampakan kedalam kegelapan yang paling gelap. (Mat. 5:30).

Dalam bacaan pertama, yang diambil dari kitab Amsal, dikisahkan tentang istri yang cakap. Kecakapannya ditunjukkan dengan beberapa tindakannya: berbuat baik kepada suami, ia mencari bulu domba dan rami, senang bekerja dengan tangannya. Tangannya ditaruh pada jentera dan jari jemarinya memegang alat pemintal. Kecuali itu, istri yang cakap juga memiliki kualitas solidaritas yang baik. Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. Ia paham bahwa kemolekan adalah bohong, kecantikan adalah sia-sia, karena lebih indahlah kecantikan hati daripada kecantikan fisik. Bukanlah kemolekan, kecantikan itu berbanding seiring dengan usia; semakin lama semakin pudar. Sementara kecantikan hati, bila terus diolah, semakin tua menjadi semakin luar biasa kemolekan hatinya.

Jika Paulus mengungkapkan, bahwa kita adalah anak-anak terang dan sikap yang selalu dikembangkan adalah berjaga-jaga dan selalu sadar; maka bacaan Injil yang bercerita tentang Talenta, adalah bentuk sikap berjaga-jaga dan sadar. Sementara bacaan pertama yang bercerita tentang istri yang cakap dengan segala kualifikasinya adalah contoh nyata orang yang mengembangkan talenta. Bahwa mengembangkan talenta berarti mengembangkan kualitas diri, yang bermakna, bukan hanya bagi diri sendiri tapi juga orang lain.

Bila diterapkan dalam kehidupan, kita juga akan mengamini ajakan Paulus untuk berjaga-jaga dan sadar. Sadar bahwa hari Tuhan akan datang pada kita, karenanya perlu berjaga-jaga. Berjaga-jaga berarti melaksanakan kesanggupan untuk mengembangkan talenta. Karena sejatinya, hari Tuhan adalah saat Tuhan menanyakan tanggungjawab seseorang atas kesanggupannya menerima talenta. Talenta yang paling berharga adalah kehidupan kita. Tuhan telah menganugerahkan hidup, maka hidup juga mesti dihayati sesuai dengan maksud Sang Pencipta.

Dalam latihan rohani St. Ignatius, tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah, dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Maka mari bertanggungjawab atas kehidupan ini. Wujud dan bentuknya bisa beraneka ragam. Isteri yang cakap, sebagaimana di gambarkan dalam Kitab Amsal, bisa menjadi acuan. Ia adalah model orang beriman yang sungguh bertanggung jawab atas talenta yang diberikan. Kualitas dirinya tampak dalam; kerja keras dan kerajinannya dalam bekerja. Usahanya untuk selalu berbuat baik dan menghindari kejahatan. Hatinya akan selalu terusik melihat penindasan dan kemiskinan, dan bergegas mengulurkan pertolongan. Dengan demikian, talentanya sungguh berkembang berlipat-lipat. Maka tidak diragukan lagi, sosok yang demikian adalah sosok yang sesuai dengan maksud ia diciptakan, yakni: memuji,menghormati kemuliaan Tuhan. Dengannya, keselamatan dekat padanya. Bagaimana dengan kita?

Salam dan berkat.

Pastor Antonius Purwono, SCJ