| Halaman Depan | Bacaan Harian | Support Renungan Pagi | Renungan Minggu Ini | Kisah Para Kudus | Katekese Iman Katolik | Privacy Policy |

Minggu, 04 Desember 2011 Hari Minggu Adven II/ Tahun B

Minggu, 04 Desember 2011
Hari Minggu Adven II/ Tahun B

Membuka jalan bagi-Nya

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. -- 2 Petrus 3:9

Antifon Pembuka

Hai bangsa di Sion, lihatlah, Tuhan akan datang menyelamatkan para bangsa. Ia akan memperdengarkan suara-Nya dengan megah dan menggembirakan hatimu.

Doa Renungan

Allah Bapa kami yang kekal, sejak dahulu kala Engkau memperdengarkan suara-Mu melalui para nabi. Kami mohon, ungkapkanlah dalam diri Yesus Al Masih, apa yang Kaukehendaki dari kami, dan baharuilah lagi umat-Mu dalam keadilan dan kebenaran. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (40:1-5.9-11)

"Siapkanlah jalan bagi Tuhan."

Beginilah firman Tuhan, "Hiburkanlah, hiburkanlah, umat-Ku! Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa penghambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya. Ada suara yang berseru-seru, "Siapkanlah di padang gurun jalan bagi Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditimbuni, setiap gunung dan bukit diratakan. Tanah yang berbukit-bukit harus menjadi rata, dan yang berkelok-kelok menjadi datar. Maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama. Sungguh Tuhan sendiri telah mengatakannya." Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda, "Lihat, itu Allahmu!" Lihat, itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya. Anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = a, 4/4, Pelog Bem, PS 815

Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.
Ayat. (Mzm 85:9a.11-12.13-14; Ul: 8)
1. Aku ingin mendengar apa yang difirmankan Tuhan. Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang yang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.
2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.
3. Tuhan akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.


Bacaan dari Surat Kedua Rasul Petrus
(2Ptr 3:8-14)

"Kita menantikan langit dan bumi yang baru."

Saudara-saudara terkasih, hal yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya demikian. Tetapi Tuhan sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat, dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api; bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup. Kamu menantikan dan berusaha mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa oleh api dan unsur-unsur dunia akan lebur oleh nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji Allah, kita menantikan langit dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku terkasih, seraya menantikan semuanya itu haruslah kamu berusaha supaya kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan Allah, dan dalam perdamaian dengan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = g, 4/4, Pelog Bem, PS 962
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Luk 3:4.6)
Persiapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya; maka semua orang akan melihat keselamatan yang datang dari Tuhan. .

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (1:1-8)


"Luruskanlah jalan bagi Tuhan."

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti tertulis dalam kitab Nabi Yesaya: 'Lihatlah Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya,' demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan, "Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, dan Allah akan mengampuni dosamu." Lalu datanglah kepada Yohanes orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengakui dosanya mereka dibaptis di Sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan. Inilah yang diberitakannya, "Sesudah aku, akan datang Ia yang lebih berkuasa daripadaku. Membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Antifon Komuni (Bar 5:5;4:36)

Hai Yerusalem, bangkitlah dan berdirilah tegak. Nikmatilah suka cita yang datang dari Allahmu.

Renungan

Rekan-rekan,
Injil Minggu Adven II kali ini, yakni Mrk 1:1-8, hampir seluruhnya berbicara mengenai Yohanes Pembaptis, tokoh yang sudah sejak lama dinubuatkan menjadi utusan yang mempersiapkan jalan bagi datangnya Tuhan. Orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan penduduk Yerusalem mendatanginya di padang gurun minta dibaptis olehnya sebagai tanda bertobat demi pengampunan dosa. Di mata orang banyak ia juga dikenal sebagai nabi. Uraian mengenai Yohanes Pembaptis sebenarnya dimaksud guna menyoroti siapa yang akan datang nanti, yakni Yesus. Dia ini tokoh yang jauh lebih besar yang diumumkan oleh Yohanes sendiri. Marilah kita simak bagaimana Markus mengutarakan hal ini

INJIL "DARI" DAN "TENTANG" YESUS

Dalam Mrk 1:1, kata "Injil" sebenarnya dipakai dengan makna ganda. Makna biasa kata itu ialah berita yang melegakan, berita yang menggembirakan, kebalikan dari berita yang membuat orang sedih, tegang dan kusut pikirannya. Markus kiranya bermaksud menunjukkan bagaimana Yesus membuat pikiran dan hati banyak orang serasa "plong", lepas dari ganjalan-ganjalan. Akan diceritakannya bagaimana Yesus ini menyembuhkan orang sakit, mengusir kekuatan jahat, mengajar siapa Allah itu, memilih murid, dan oleh karena semua itu diikuti banyak orang. Itulah cara Markus memperkenalkan Yesus. Tindakan serta ajarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan serta keinginan dasar yang ada dalam diri orang pada waktu itu tapi juga pada zaman dan tempat lain.

Namun kata "Injil" bagi para pengikut Yesus pada zaman Markus juga sudah mulai dipakai dalam arti "kabar baik" mengenai diri Yesus. Diberitakan di kalangan para pengikut Yesus bahwa ia yang tadinya disalibkan, wafat, dan dimakamkan itu telah bangkit dari kematian dan kini hidup dan akan datang lagi dalam kemuliaannya pada akhir zaman. Kabar baik inilah yang membuat para murid pertama terus menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya kepada banyak orang lain. Jadi kalimat pertama Injil Markus itu menunjuk pada dua hal sekaligus, yakni asal mulanya "berita yang melegakan" yang dibawakan Yesus serta "berita yang menggembirakan" mengenai dirinya. Pembaca diajak mendalami kedua-duanya.

Yesus ditampilkan dengan gelar Kristus dan Anak Allah. Yang pertama berarti Yang Diurapi, yakni Mesias, tokoh yang resmi diangkat Yang Maha Kuasa sendiri untuk mengerjakan urusanNya di dunia ini. Orang Yahudi pada masa itu amat mengharapkan datangnya tokoh seperti ini. Ia juga disebut sebagai yang amat dekat dan akrab dengan keilahian sendiri, dalam bahasa Kitab Suci, "Anak Allah". Maksudnya, ia mengerti yang dikehendaki oleh Allah dan patuh menjalankannya. Kini tokoh ini membawakan kabar yang melegakan orang banyak. Berita mengenai kedatangan tokoh ini sendiri juga menjadi kabar yang membuat lega orang pula. Jadi yang disampaikan dalam kalimat pertama Injil Markus itu ialah Berita Baik mengenai dia (Injil dalam kedua makna tadi) yang resmi mendapat tugas membawa kembali kemanusiaan kepada Yang Ilahi (Kristus) sebagai orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri (Anak Allah)."

Tentu saja orang akan bertanya-tanya bagaimana bisa ada tokoh sehebat itu. Ayat-ayat berikutnya, yakni ay. 2-8, memberi penjelasan dengan menampilkan seorang tokoh lain yang waktu itu sudah amat dikenal, yakni Yohanes Pembaptis.

MEMBUKA JALAN

Yohanes Pembaptis bukan sebarang tokoh. Pertama-tama, dalam ingatan orang zaman itu, dia ialah tokoh suci yang mempesona orang banyak. Mereka datang meminta nasihat, mencari kejernihan batin di tempat ia tinggal, yakni di padang gurun. Mereka datang kepadanya minta dibaptis (ay. 4-5) dan dengan tindakan itu orang mengungkapkan diri bertobat dan siap mendapat pengampunan dosa. Kedua, dalam bayangan orang pada masa itu, Yohanes juga tampil seperti seorang nabi (ay. 6). Dan ketiga dan yang terutama, Yohanes itu diutus oleh Tuhan sendiri untuk "mendahului" serta "mempersiapkan jalan" (ay. 2b; hasil paduan Kel 23:20 dan Mal 3:1). Seolah-olah belum cukup, maka menyusul kutipan dari Yes 40:3 yang mempertegas siapa utusan ini. Dia adalah orang yang berseru-seru di padang gurun meminta agar yang mendengar mempersiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskannya bagi-Nya. Apa yang dimaksud akan dikupas lebih lanjut di bawah.

Tokoh yang sedemikian mengesan ini ternyata malah memberitakan kedatangan orang yang lebih berkuasa (ay. 7). Tentu orang-orang bertanya-tanya siapa itu. Pembaca dulu pun sudah tahu, yang dimaksud ialah Yesus sendiri. Tetapi dalam kisah ini orang-orang yang mendengarkan kata-kata itu belum menggagas siapa yang sedang dibicarakan sang Pembaptis. Rasa ingin tahu orang banyak makin besar. Ia menambahkan bahwa membungkuk untuk melepaskan tali sandal orang yang sedang diwartakannya itu saja ia merasa dirinya kurang pantas (ay. 8). Siapa gerangan tokoh yang lebih besar daripadanya?

Ungkapan membungkuk melepaskan tali sepatu tidak hanya berarti penghormatan kepada orang yang dihadapi. Ada pula arti yuridisnya. Marilah kita tengok Rut 4:7 yang menjelaskan kebiasaan di masa lampau: "Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan suatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mengesahkan perkara di Israel." Di dalam kitab Rut, tanah milik keluarga Naomi dan menantunya, Rut hanya bisa dijual kepada sanak dekat yang menurut hukum adat berhak membelinya. Namun orang ini resmi melepaskan haknya sehingga Boas bebas membeli tanah janda dan menantu itu dan mengurus mereka. Sanak dekat tadi melepas kasutnya (Rut 4:8) sebagai tanda pelepasan haknya. Kembali ke kata-kata Yohanes. Dengan latar belakang kebiasaan tadi, maka kata-katanya bukan sekedar basa-basi melainkan pengakuan bahwa dirinya tidak layak menindakkan hal yang membuat Yesus melepaskan haknya. Apa yang dimaksud dengan hak Yesus? Tak lain tak bukan ialah membawakan baptisan dalam Roh Kudus dan mendekatkan kembali keilahian kepada manusia. Yohanes Pembaptis hendak mengatakan dalam bahwa yang dijalankannya ialah membaptis dengan air - itulah yang bisa dilakukannya untuk menyadarkan orang banyak. Namun untuk sungguh membawakan yang di atas sana kepada manusia? Ah itu hak dia yang lebih berkuasa yang bakal datang, yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Orang banyak yang mendengar pernyataan itu dengan segera akan semakin bertanya-tanya siapakah dia yang dibicarakan ini? Perhatian pembaca Injil akan beralih dari Yohanes Pembaptis kepada dia yang diwartakannya.

SERUAN DI PADANG GURUN


Kutipan dari Yes 40:3 dalam Mrk 1:3 menjadi makin besar artinya bila ikut disimak konteksnya dalam tulisan Yesaya sendiri, yaitu Yes 40:1-2 yang ikut diperdengarkan dalam bacaan pertama hari ini: "Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu...." Begitulah sang nabi menyampaikan perintah yang difirmankan Allah kepada kekuatan-kekuatan surgawi menghibur umat Israel yang waktu itu berada dalam pembuangan di Babilonia. Umat tak perlu berkecil hati, yang terburuk sudah lewat. Yang perlu kini ialah melihat ke depan, kembali pulang ke negeri sendiri, melewati padang gurun. Seperti ketika Allah menuntun nenek moyang mereka keluar dari Mesir lewat padang gurun dulu, kini Allah yang sama akan memimpin umatNya kembali.

Dalam Yes 40:3 sang nabi menyebut diri sebagai suara yang berseru-seru menyampaikan kepada kekuatan-kekuatan tadi agar mereka juga mempersiapkan jalan, meluruskan lorong-lorongnya, meratakannya bagi perjalananNya bersama umatNya ini. Itulah gagasan dasar dalam bacaan pertama sebagaimana ada dalam Kitab Yesaya. Bagi Markus, suara yang berseru-seru itu ialah Yohanes Pembaptis. Dengan demikian Yohanes ditampilkan Markus sebagai nabi yang mengenali suara ilahi dan kehendakNya dan berani menyerukannya kepada balatentara surgawi tadi. Orang-orang berdatangan kepadanya di padang gurun mencari petunjuknya. Yohanes menyeru, sekali lagi dalam pemikiran Markus, kepada kekuatan-kekuatan surgawi untuk menyiapkan jalan bagi mereka ini agar nanti dapat kembali lewat jalan yang lebar, lurus, rata bersama dengan dia yang kini akan menuntun mereka kembali....yaitu yang diumumkan kedatangannya. Dia yang jauh lebih besar.

Markus memperkenalkan Yesus lewat tokoh yang dalam anggapan umum dapat mengenali gerak gerik ilahi dan tetap membiarkannya bertindak menurut kehendak-Nya. Dia itulah Yohanes Pembaptis. Kisah ini kisah bagi hidup batin, bukan cerita tentang seorang yang membaptis di padang gurun. Bila ditangkap dalam arti itu maka kesaksiannya membantu orang pada zaman lain. Yohanes Pembaptis ada dalam diri tiap orang yang dengan tulus menantikan Yang Ilahi datang membimbing hidup orang beriman.

Sampai lain kali,
A. Gianto


Surat Kepada Keluarga bulan Desember 2011 (Rm. Alexander Erwin Santoso, MSF)

Dalam Buaian Kidung Malaikat

Tuhan, Engkau baik dan memanjakanku

Telingaku mendengar apa yang selalu ingin kudengar

Ketika hari menjadi tenang dan malaikat mulai bernyanyi

Menyanyikan lagu lahirnya Sang Raja

Dan aku dihinggapi sebentuk kenangan masa kecil yang indah

Saat Ibu mengajakku menghias pohon Natal kami

Saat Ayah memintaku mengecat baru rumah mungil kami bersamanya

Dan aku sibuk berebut patung kecil Natal yang siap dipajang

Untuk membawa lagu lagu senang keluarga kami

Dan saling memberi salam untuk lahirnya Sang Kasih

Sekarang waktu itu tidak sama lagi

Tetapi gema lagu-lagu itu tetap menghibur telingaku

Menyanyikan nada-nada seiring langkah dewasaku

Dan mengajarkan aku menjadi Natal untuk sesamaku yang kecil

Dan tak punya kisah semanis kami..

Aku mau meniru-Mu yang mendatangi kami tanpa syarat

Membiarkan kami belajar menjadi sesama bagi yang tersingkir

Menjadi kekasih untuk mereka yang terbuang dan sepi

Meski dengan suara parau dan hadiah yang sederhana

Kami mau menjadi kenangan indah sekarang untuk mereka yang terlupa

Keluarga-Keluarga yang terkasih,

Betapa indahnya memasuki masa advent dan menantikan datangnya Natal di setiap tahun hidup kita. Meskipun tanpa salju dan ternak-ternak dipadang rumput serta bintang penuntun, tetapi kita mempunyai kisah yang indah di gua kita masing masing di rumah, tempat di mana kita semua membangun keluarga seperti Maria, Yosef, dan Yesus, para selebran dalam kisah Natal kita.

Merayakan minggu-minggu Advent dan hari raya Natal berarti juga merayakan hari kegembiraan keluarga. Kita dan semua anggota keluarga kita, ayah, ibu, anak-anak, kakak, adik, kakek, nenek, bahkan sepupu atau kerabat lain di rumah akan tersengat suasananya. Kita dan keluarga masing-masing adalah penentu Natal kita sendiri.

Kita tidak pernah mendengar keluhan Keluarga Kudus di seputar peristiwa Natal. Mereka lupa dengan misteri peristiwa hidupnya sendiri, ketika mereka telah disatukan oleh Yesus yang lahir dalam kesederhanaan-Nya. Suasana “bertanya” dan “ragu” dalam hati Maria dan Yosef telah berganti dengan harapan pasti akan keselamatan melalui Sang Bayi yang dilahirkan. Mereka tidak mengeluh dan menjadi tegar karena Sabda telah menjadi Manusia. Kepercayaan mereka berbuah realitas yang menyelamatkan. Dan mereka menjadi keluarga yang bersukacita.

Betapa indahnya kalau Natal kita pun berisikan sukacita yang sama. Kendati, hidup terkadang terasa berat, tak tertanggungkan, menjengkelkan, atau membuat putus asa, ketika Tuhan mendekati dengan harapan baru, kita pun menjadi kuat. Kita menemukan pengharapan yang menembus batas akal dan memberikan optimisme yang mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Keluarga-keluarga yang terkasih, kita berharap Natal tahun ini membawa makna tersendiri buat kita. Kita boleh membangun niat yang positif dan baik; kita boleh bermimpi tentang suatu kebersamaan yang saling meneguhkan; kita pun melakukan karya amal bagi sesama yang kecil, lemah,miskin dan tak berdaya. Semuanya kita usahakan supaya kelahiran Tuhan menjadi kebahagiaan yang mewujud nyata.

Setiap keluarga yang percaya, adalah keluarga yang dibangun oleh pribadi-pribadi yang penuh harapan baik. Kepercayaan kepada Tuhan adalah tiang penyangga hidup bersama. Kehadiran Tuhan Yesus dalam sakramen mahakudus yang diterima setiap hari dan minggu adalah kenyataan keselamatan yang membawa perasaan tenang dan yakin bahwa Tuhan menyertai dan selalu sedang memberkati melalui berbagai peristiwa hidup ini.

Mari melakukan karya nyata: berilah kesempatan untuk seisi rumah kita saling bermaafan dan mengadakan rekonsiliasi; ajaklah putera-puteri untuk bersama-sama menghias rumah; ciptakanlah suasana keluarga yang mengkrasankan; kembangkanlah kepribadian yang semakin ramah dan terbuka; ajaklah semua anggota keluarga untuk berdoa advent bersama, supaya semua mengantar kita menjadi penikmat-penikmat Natal yang terberkati dan bahagia.

Dari lubuk hati terdalam, saya dan segenap tim Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta mengucapkan selamat mengikuti masa penantian – advent, dan merayakan Natal bersama seluruh keluarga. Semoga kelahiran Tuhan menjadi harapan baru yang menjanjikan sukacita di hati dan pikiran kita; membebaskan kita yang terbelenggu kelemahan melalui inkarnasinya pengharapan baru di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Amin

Salam dalam Yesus, Maria, dan Yusuf

Rm. Alexander Erwin Santoso MSF

Komisi Kerasulan Keluarga KAJ
Gedung Karya Pastoral
Jl. Katedral 7A
Jakarta10710

Sabtu, 03 Desember 2011 Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung karya misi

Sabtu, 03 Desember 2011
Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam dan Pelindung karya misi

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." --- Mat 28:19-20

Antifon Pembuka

Ceritakanlah kemuliaan Tuhan diantara para bangsa dan karya-Nya yang agung diantara segala suku. Sebab Tuhan itu Mahaagung dan sangat terpuji.

Doa Renungan


Allah Bapa yang mahakuasa dan mahakudus, warta gembira-Mu Kautujukan kepada semua orang, dan semua orang hendak Kausatukan menjadi satu umat kesayangan-Mu. Dengarkanlah doa-doa kami dan semoga dunia mengenal damai yang Kaujanjikan serta dibawa oleh Yesus Putra-Mu. Buatlah kami juga sama seperti Santo Fransiskus Xaverius yang tekun dan setia mewartakan kabar gembira tidak hanya melalui kata-kata kami tapi juga melalui setiap tindakan kami. Dialah yang demi kami semua telah mengurbankan diri-Nya untuk merebut kami bagi Dikau, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Memberitakan Injil adalah sebuah keharusan karena Allah yang menghendakinya, itulah keyakinan Rasul Paulus. Gereja yang pada hakikatnya bersifat misioner (Ag Gentes, 2) mestinya juga memiliki kesadaran seperti Rasul Paulus dan St. Fransiskus Xaverius yang dirayakan peringatannya hari ini. Dengan demikian, banyak jiwa yang akan diselamatkan.

Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 9:16-19.22-23)

"Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil!"

Saudara-saudara, jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil. Seandainya aku melakukan pemberitaan itu atas kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan atas kehendakku sendiri, pemberitaan itu merupakan tugas yang ditanggungkan Allah kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa imbalan, dan bahwa aku tidak menuntut hakku sebagai pemberita Injil. Sesungguhnya aku bukan hamba siapa pun. Meskipun begitu, aku menjadikan diriku hamba semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya sedapat mungkin aku memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = f, 4/4 PS 827
Ref. Pergi ke seluruh dunia, wartakanlah Injil.
Ayat. (Mzm 117:1.2; Ul: Mrk 16:15)
1. Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
2. Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (bdk. Mat 28:19-20)
Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman


Memberitakan Injil adalah sebuah perintah penting dari Yesus. Para murid pada zaman Yesus pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru. Apakah para murid pada zaman ini juga taat kepada perintah Yesus?

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (16:15-20)

"Pergi ke seluruh dunia, beritakanlah Injil."


Pada suatu hari Yesus yang bangkit dari antara orang mati menampakkan diri kepada ke sebelas murid, dan berkata kepada mereka, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekali pun minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Tuhan Yesus ke surga lalu duduk di sebelah kanan Allah. Maka pergilah para murid memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan hidup kami.

Renungan

St. Fransiskus Xaverius adalah seorang misionaris ulung. Dia pergi ke mana-mana menjelajahi dunia ini, bahkan sampai di Indonesia untuk mewartakan Kabar Gembira. Kita pun dipanggil untuk menjadi misionaris di mana pun kita berada. Perintah Yesus hari ini mengingatkan kita akan tugas panggilan kita sebagai kaum misionaris. Bagaimana selama ini kita melaksanakan tugas hari ini?

Doa Malam

Yesus yang penuh kuasa, Engkau selalu memberi kepada orang yang percaya. Jadikanlah aku sebagai pembawa kabar gembira dalam kehidupan ini, sekalipun harus mengalami penolakan. Engkaulah Tuhan dan andalanku. Amin.

RUAH

Panduan Adven 2011: Pertemuan IV: Ekaristi Dasar Perutusan Dalam Membangun Persaudaraan Dengan Sesama - Keuskupan Agung Jakarta

Pertemuan IV: Ekaristi Dasar Perutusan Dalam Membangun Persaudaraan Dengan Sesama
Tujuan: Tubuh dan Darah yang kita terima dalam Ekaristi mempersatukan umat beriman yang beraneka-ragam; Kasih Kristus yang dicurahkan dalam Ekaristi menjadi dasar perutusan umat beriman yang satu itu untuk membangun persaudaraan dengan semua.


LATAR BELAKANG :

  • Korintus adalah sebuah kota pelabuhan dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya.
  • Sebagai kota pelabuhan, di sana tinggallah orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda etnik, status sosial, aliran dan budaya.
  • Akibatnya para pengikut Yesus pun beranekaragam/majemuk. Ada orang Yahudi, Yunani, ada budak dan ada juga orang merdeka yang menjadi bagian dari masyarakat Krointus sekaligus anggota jemaat (ayat 13).
  • Pengaruh kehidupan sosial kemasyarakatan sangat besar dalam hidup berjemaat sebagai pengikut Yesus
  • Maka dengan mengajarkan "Satu tubuh banyak anggota; satu Roh banyak karunia", Paulus ingin mengajarkan bahwa Roh sebagai kekuatan yang mempersatukan semua menjadi kesatuan tubuh, meskipun peran, tingkat kehidupan, dan karunia berbeda-beda.
  • Sebelumnya, Paulus menegur kebiasaan perjamuan yang memecah-belah jemaat, sebab dalam perjamuan itu mereka yang tidak mempunyai apa-apa tersisihkan; akibatnya: ada yang lapar, ada yang 'mabuk' (1Kor 11: 17-22). Ini tidak tepat dengan semangat Ekaristi yang dikehendaki Yesus, yang seharusnya justru membangun persaudaraan dengan sesama melalui "berbagi"


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 12:12-31)

Saudara-saudara, karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

BAGIAN-BAGIAN TUBUH :


1. Tubuh hanya satu TETAPI bagiannya lebih dari satu.(ay.12)
2. Kaki (ay.15), Tangan (ay.15)Telinga (ay.16) Mata (ay.16)
3. Bagaimana dengan anggota tubuh yang lainnya ?
4. Semua mempunyai fungsi masing-masing.
5. Tidak ada bagian yang terpenting, yang ada adalah bagian penting.


ISI SEMANGAT PERSATUAN DARI PAULUS :

1. Sangat peduli dan sedih dengan situasi di Korintus yang terjadi perpecahan.
2. Satu Roh karena Pembaptisan (ay.13):
1. Bangsa : orang Yahudi, non Yahudi, Yunani, non Yunani,
2. Status : Budak, orang merdeka
3. Tubuh terdiri atas banyak anggota (ay.14), dan mempunyai fungsi dan tugas masing-masing yang berkaitan serta penting ~ kerjasama.

4. Bukan satu anggota satu tubuh TETAPI Satu tubuh dengan banyak anggota (ay.19-20)
5. Anggota tubuh paling lemah justru yang paling dibutuhkan (ay.22)
6. Antar anggota yang berbeda saling menghormati secara khusus (ay.24), memberi perhatian (ay.25)dan satu kesatuan ketika menderita atau bersuka cita (ay.26)
7. Penegasan Paulus : Kamu semua adalah tubuh Kristus karena semua adalah pengikut Kristus meski berbeda golongan, bangsa maupun kedudukan. (ay.27)
8. Allah menetapkan bagi jemaaatnya (ay.28) :
1. Para Rasul
2. Nabi
3. Pengajar
4. Mereka yang mendapat karunia mengadakan mukjizat, penyembuhan, melayani, memimpin, dan berbahasa roh.




PERTANYAAN PENDALAMAN :

1. Untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan internal jemaat Korintus, Paulus meneguhkan dengan ajaran tentan "Analogi Tubuh". Apa yang mau ditekankan Paulus dengan ajaran itu? (lihat ayat 1 dan 2)
2. Menurut Paulus, bagaimana hubungan antar anggota-anggota tubuh itu? Lalu apa maknanya bagi kehidupan jemaat? (lihat ayat 14-20)
3. Dalam "Analogi Tubuh" ini, apa yang diungkapkan Paulus tentang anggota tubuh yang lemah, kurang terhormat, dan tidak elok? Lalu, apa artinya bagi kehidupan jemaat?
4. Dari ajaran Paulus tentang "satu tubuh, banyak anggota" ini, kita melihat pentingnya kesatuan anggota tubuh Kristus (Gereja) yang berbeda latar belakang dan fungsi, serta pentingnya kebersamaan dan persaudaraan antar anggota tubuh yang beragam itu. Dalam kaitan itu, bagaimana Ekaristi dapat menjadi dasar kesatuan umat dan sekaligus perutusan untuk membangun persaudaraan dengan sesama?
5. Mungkin dari antara Anda ada yang ingin berbagi pengalaman pribadi tentang Ekaristi yang menjadi dasar perutusan untuk membangun persaudaraan dengan sesama?
(kesempatan sharing umat)

7. Marilah sekarang kita hening sejenak, mencoba meresapi pesan bacaan ini dan menanamkan tekad dalam diri kita untuk melakukan satu atau beberapa hal sederhana dalam hidup keluarga kita!

(Hening- umat merenung sendiri untuk menanamkan niat. Kalau masih ada waktu bisa saja beberapa orang menceritakan "niat" itu)

(Setelah itu, umat diajak melanjutkan ibadat dengan mendaraskan Doa Umat)



KESIMPULAN :


1. Membangun persaudaraan dengan sesama harus didahului dari diri sendiri dan keluarga.
2. Ekaristi akan menjadi dasar kuat dalam “bersekutu” ketika kita menghayati benar peran Ekaristi yang sesering mungkin kita ikuti BUKAN karena rutinitas atau perintah Gereja namun karena KEBUTUHAN.
3. Persaudaraan dalam EKARISTI mampu menyemangati hidup kita sehari-hari karena berkat persatuan diri kita dengan Yesus Kristus dan di dalam persatuan jemaat Nya melalui Komuni.

Panduan Adven 2011: Pertemuan III: Ekaristi Dasar Perutusan dalam Membangun Keluarga (Luk 24:13-35) - Keuskupan Agung Jakarta

Pertemuan III: Ekaristi Dasar Perutusan dalam Membangun Keluarga (Luk 24:13-35)

Tujuan: Keluarga yang mendasarkan diri pada Ekaristi dipanggil untuk mensyukuri kehidupannya dengan mewujudkan perutusan untuk "memecah diri" dan "membagi-bagikannya" kepada seluruh anggota keluarga.


LATAR BELAKANG

  • Setelah Yesus ditangkap, mengalami sengsara dan berakhir dengan wafat di kayu salib, para murid sesungguhnya belum dapat memahami misteri ini. Terlebih setelah perempuan-perempuan dan Petrus mendapati kubur telah kosong (Luk 24:2-11).
  • Dalam kebingungan dan kegelisahan menghadapi misteri inilah dua orang murid (seorang diantaranya bernama Kleopas) berjalan ke sebuah kampung bernama Emaus. Perjalanan ini dilakukan pada hari pertama dalam minggu, artinya pada hari Minggu.
  • Sesudah cerita Emaus, dikisahkan juga penampakan Yesus kepada semua murid Yesus yang berkumpul. Juga di situ Yesus baru dikenal setelah memberi tanda khusus (ayat 37-43); dan sekali lagi Ia menjelaskan dari Kitab Suci bahwa Mesias harus menderitas sebelum bangkit pada hari ketiga.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (24:13-35)

"Mereka mengenali Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti."

Pada hari Minggu Paskah, dua orang murid Yesus sedang pergi ke sebuah desa bernarna Emaus, yang terletak kira-kira sepuluh kilometer jauhnya dari Yerusalem. Mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak mengenali Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apa yang kamu percakapkan sementara berjalan?’ Maka berhentilah mereka dengan muka heran. Seorang dari mereka, yang bernama Kleopas, balik bertanva, "Adakah Engkau satu-satunya orang pendatang di Yerusalem yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Bertanyalah Yesus, “Kejadian apa?” Jawab mereka, “Segala yang terjadi dengan Yesus dan Nazaret! Dia itu seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh rakyat. Tetapi para imam kepala dan para pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati, dan mereka telah menyalibkan Dia. Padahal tadinya kami mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sekarang sudah lewat tiga har sejak semuanya itu terjadi. Beberapa wanita dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, tetapi tidak menemukan jenazah Yesus. Lalu mereka kembali dengan berita bahwa mereka telah melihat malaikat-malaikat, yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Lalu beberapa teman kami pergi ke kubur itu dan mendapati bahwa memang benar apa yang dikatakan wanita-wanita itu; tetapi Yesus sendiri tidak mereka lihat.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh! Betapa lamban hatimu, sehingga kamu tidak percaya akan segala sesuatu yang telah dinubuatkan oleb para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dar Kitab-Kitab Musa sampai dengan Kitab para nabi. Sementara itu mereka mendekati desa yang mereka tuju. Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi kedua murid itu mendesak, katanya, “Tinggallah bersarna dengan kami, sebab hari sudah mulai malain, dan matahari hamnpir terbenam. Maka masuklah Ia untuk tinggal bersama dengan mereka. Waktu duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenali Dia. Tetapi Yesus hilang dan pandangan mereka. Maka kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan, dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?’ Lalu bangunlah mereka dan langsung kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid. Mereka sedang berkumpul bersama teman-teman mereka. Kata mereka kepada kedua murid itu, “Sungguh Tuhan telah bangkit, dan telah menampakkan diri kepada Simon!” Lalu kedua murid itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan, dan bagalmana mereka mengenali Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

METODE SHARING 7 LANGKAH

YANG DILAKUKAN 2 ORANG MURID :

1. Bernama Kleopas dan Simon (ay.18 dan 34)
2. Berjalan menuju ke Emaus, dari Yerusalem.(ay.13)
3. Bercakap-cakap dan bertukar pikiran. ( ay.15)
4. Tidak mengenal Dia adalah Yesus ( ay.16)
5. Mereka berhenti dengan wajah muram. (ay.17)
6. Sifat manusia muncul : memang Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem yang tidak tahu berita ? (ay.18)
7. Beruntung mereka menjawab dengan baik dan benar : (ay.19-20)
8. Bahkan menyampaikan apa yang menjadi harapan mereka (ay.21)
9. Memberitakan kebangkitan Yesus (ay.22-24)
10. Mendengarkan penjelasan Yesus ( ay.25-27)
11. Sangat mendesak Yesus untuk tinggal (ay.29)
12. Mata mereka terbuka setelah melihat dan mengikuti ‘EKARISTI” (ay.30-31)
13. Merasakan suka cita dan semangat (ay.32)
14. Bangun dan kembali ke Yerusalem (ay.33)
15. Meneruskan “Kabar Baik” dan menjadi saksi Kristus ( ay.34-35)

YANG DILAKUKAN YESUS :
1. Menghampiri dan berjalan bersama mereka (ay.15)
2. Menanyakan sebagai pewartaan kebangkitan-Nya (ay.17)
3. Bertanya untuk lebih mengetahui isi hati para murid – “test” -(ay.19)
4. Menegaskan tentang diri-Nya yang sudah sering disampaikan tentang Sengsara-Wafat dan Kebangkitan-Nya (ay.25-26 )
5. Menjelaskan kembali tentang diri-Nya yang telah dinubuatkan para nabi. (ay.27)
6. Menge”test” sekali lagi hati para murid (ay.28)
7. Masuk dan tinggal dalam rumah mereka (ay.29)
8. Makan dan minum bersama (ay.30)
9. Lenyap dari hadapan mereka setelah mempersembahkan Ekaristi (ay.31)

PERTANYAAN PENDALAMAN

1. Apa yang sedang dipercakapkan oleh dua orang murid yang meninggalkan Yerusalem menuju ke Emaus? Bagaimana kemudian mereka berkumpul dengan Yesus?
2. Mengapa kedua murid tidak mengenali Yesus dalam perjalanan? Apa yang membuat hati mereka berkobar-kobar?
3. Apa yang membuat para murid mengenali Yesus pada akhirnya? Dan apa yang terjadi setelah murid mengenali Yesus?
4. Peristiwa perjumpaan kedua murid dengan Yesus seperti digambarkan dalam kisah perjalanan ke Emaus ini sesungguhnya terjadi juga pada kita. Pada saat mana kita berjumpa Yesus seperti yang dialami para murid itu?
5. Dari bacaan tadi, bagaimana Anda dapat menjelaskan bahwa Ekaristi adalah dasar perutusan dalam membangun keluarga?
6. Mungkin dari antara Anda ada yang ingin berbagi pengalaman pribadi tentang Ekaristi yang menjadi dasar perutusan untuk membangun keluarga?

(kesempatan sharing umat)

7. Marilah sekarang kita hening sejenak, mencoba meresapi pesan bacaan ini dan menanamkan tekad dalam diri kita untuk melakukan satu atau beberapa hal sederhana dalam hidup keluarga kita!

(Hening- umat merenung sendiri untuk menanamkan niat. Kalau masih ada waktu bisa saja beberapa orang menceritakan "niat" itu)

(Setelah itu, umat diajak melanjutkan ibadat dengan mendaraskan Doa Umat)


KESIMPULAN :

1. Doa adalah komunikasi terpenting kepada Allah
2. Dengan doa Allah turut campur dan berjuang bersama kita.
3. Ekaristi adalah sumber Doa dan Pernyataan turut campur Allah dalam kehidupan manusia
4. Ekaristi adalah persatuan keluarga Kristus dalam saling meneguhkan.
5. Menyambut komuni berarti bersatu dalam Tuhan dalam segala hal.

Panduan Adven 2011: Pertemuan II: Ekaristi Meneguhkan Keluarga (Kis 10.1-4.37-48) - Keuskupan Agung Jakarta


Pertemuan II: Ekaristi Meneguhkan Keluarga (Kis 10.1-4.37-48)

Tujuan: Keluarga yang bersumber pada Ekaristi akan mengalami Kristus yang selalu hadir di tengah keluarga mereka, mengasihi mereka dalam segala perosalan yang dihadapi, dan karena itu meneguhkan ikatan kasih perkawinan mereka.

Bacaan dari Kisah Para Rasul (10.1-4.37-48)


Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!" Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?" Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

METODE SHARING 7 LANGKAH


SIAPA KORNELIUS :

  1. Tinggal di Kaisarea (ay.1)
  2. Seorang perwira pasukan รจ Pasukan Italia (ay.1)
  3. Seorang yang saleh (ay.2)
  4. Pemimpin keluarga (ay.2)
  5. Suka memberi sedekah.(ay.2)
  6. Senantiasa berdoa kepada Allah.(ay.2)

KORNELIUS DAN KELUARGANYA :

  1. Bersama seisi rumah takut akan Allah (ay.2)

KORNELIUS DAN PETRUS :

KORNELIUS

PETRUS

Non Yahudi

Mendapat penglihatan jam 3 sore

Isi penglihatan ~ tentang Petrus

Mau mengundang Petrus

Yahudi

Mendapat penglihatan, jam 12 siang

Isi penglihatan > tentang Kornelius

Mau memenuhi undangan Kornelius

PERISTIWA KORNELIUS DAN PETRUS :

  1. Peristiwa karena Allah yang mengaturnya
  2. Petrus bersaksi tentang Yesus Kristus :
    1. Putera Allah yang tunggal,
    2. Yang mati karena di salib
    3. Yang bangkit di hari ketiga
    4. Yang selalu menyertai sampai akhir zaman
    5. Yang menjadi Hakim atas orang hidup dan mati
    6. Yang percaya kepada Yesus : akan mendapat pengampunan dosa.
    7. Kabar Baik yang diberitakan Petrus :
      1. Awalnya hanya untuk bangsa Israel, sebagai bangsa pilihan
      2. Setelah itu untuk semua bangsa
      3. Kepada siapapun : Mau menerima Yesus sebagai juruselamatnya.
      4. Petrus memberitakan Yesus di rumah Kornelius dan dihadapan orang banyak yang diundang oleh Kornelius juga :
        1. Roh Kudus turun dan dicurahkan ke atas semua orang yangmendengarkan.
        2. Petrus membaptis mereka dalam nama Yesus Kristus.
        3. Mereka meminta Petrus untuk tinggal beberapa hari lagi.


LATAR BELAKANG

  • Kis 10-11 mengisahkan Gereja Kristen bangsa lain dengan membangunnya melalui persetujuan Petrus dan keduabelas rasul. Dalam kisah itu diperlihatkan bahwa Allah sendiri dengan jelas membebaskan orang-orang kafir untuk menjadi Kristen.
  • Untuk lebih memahami kisah yang menjadi bahan permenungan kita (Kis 10:1-4, 37-48), ada baiknya kita memahami dulu alur Kis 10 ini lebih lengkap.
- Kis 10:1-8 Penglihatan Kornelius
- Kis 10:9-23 Penglihatan kepada Petrus
- Kis 10:24-33 Petrus pergi ke Kaisarea
- Kis 10:34-43 Pewartaan Petrus kepada keluarga Kornelius
- Kis 10:44-48 "Pentakosta" bagi keluarga Kornelius


Baik apabila diketahui:
  • Dalam penglihatan Kornelius, malaikat selanjutnya memerintahkan dia untuk menyuruh orang-orangnya menjemput Petrus (ayat 5-8)
  • Serempak dengan kedatangan orang-orang utusan Kornelius kepada Petrus, malaikat pun menampakkan diri kepada Petrus dan antara lain menyuruh Petrus menerima permintaan orang-orang utusan itu untuk membawanya ke rumah Kornelius (ayat 20)
  • Maka Petrus pun dengan ditemani oleh orang-orang Yahudi berangkat ke rumah Kornelius dan di sana ia memberikan wejangannya kepada keluarga tersebut (ayat 23,24).

PERTANYAAN PENDALAMAN

1. Siapakah Kornelius dan keluarganya, khususnya dalam hubungan dengan Tuhan dan dengan sesama? (Untuk mendapat gambaran lebih lengkap baca juga ayat 7-8, 22, 24, 33)
2. Apa pokok-pokok pewartaan yang disampaikan oleh Petrus kepada keluarga Kornelius? (Mari kita lihat mulai ayat 34)
3. Coba telaah dengan seksama, apa pokok-pokok pewartaan Petrus itu kita temui pula dalam Ekaristi?
4. Ketika mendengarkan pewartaan Petrus itu, keluarga Kornelius mengalami pencurahan Roh Kudus; mereka mengalami peneguhan dan karena itu minta kepada Petrus untuk tinggal beberapa hari lagi di tengah mereka. Nah, bagaimana Ekaristi yang kita rayakan ini meneguhkan pula keluarga kita?
5. Mungkin dari antara Anda ada yang ingin berbagi pengalaman pribadi tentang Ekaristi yang meneguhkan kehidupan keluarga anda?

(kesempatan sharing umat)

6. Marilah sekarang kita hening sejenak, mencoba meresapi pesan bacaan ini dan menanamkan tekad dalam diri kita untuk melakukan satu atau beberapa hal sederhana dalam hidup keluarga kita!

(Hening- umat merenung sendiri untuk menanamkan niat. Kalau masih ada waktu bisa saja beberapa orang menceritakan "niat" itu)

(Setelah itu, umat diajak melanjutkan ibadat dengan mendaraskan Doa Umat)

KESIMPULAN :

  1. Kornelius dan keluarganya selalu hidup dalam persatuan dengan Allah
  2. Selalu ada kerinduan untuk mendengarkan Firman Allah
  3. Ketika memperoleh kesempatan tersebut ia dan keluarga nya bahkan turut mengajak orang-orang lain mendengarkan dan bersatu dengan Tuhan dalam persekutuan
  4. Kornelius adalah contoh keluarga yang diperteguh dalam perayaan perjamuan (Ekaristi)

Sabtu, Hari Biasa Pekan I Adven

From the Proper of the Season
Sabtu, Hari Biasa Pekan I Adven

“TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh” (Yes 30:23-25)

Doa Renungan


Allah Bapa yang maha pengasih dan penyayang, kami bersyukur atas kasih karunia yang boleh kami rasakan pagi ini. Ya Bapa hari ini Engkau berpesan agar kami mewartakan bahwa kerajaan surga sudah dekat, demikian juga agar kami mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Berilah kebijaksanaan kepada kami agar senantiasa melakukan kehendak-Mu terutama dalam membagikan rahmat yang telah kami terima. Doa ini kami panjatkan dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami. Amin.

Nabi Yesaya menegaskan bahwa Tuhan, Allah Israel adalah Allah yang penuh belas kasih. Ia akan melakukan apa yang terbaik bagi umat-Nya. Dan lagi, tatkala mendengar seruan dan permohonan umat-Nya, Ia akan segera menjawab.

Bacaan dari Kitab Yesaya (30:19-21.23-26)

"Pastilah Tuhan mengasihi kalian apabila kalian berseru-seru."

Beginilah firman Tuhan, Yang Mahakudus Allah Israel, "Hai bangsa di Sion yang mendiami Yerusalem, kalian tidak akan terus menangis. Pastilah Tuhan akan mengasihani kalian, apabila kalian berseru-seru. Begitu mendengar teriakmu Ia akan menjawab. Walaupun Tuhan memberi kalian roti dan air serba sedikit, namun Gurumu, tidak akan menyembunyikan diri lagi. Kalian akan terus melihat Dia dan entah kalian menyimpang ke kanan entah ke kiri, sabda-Nya ini akan kalian dengar dari belakangmu, "Inilah jalannya, ikutilah jalan ini!" Pada waktu itu Tuhan akan mencurahkan hujan bagi benih yang baru kalian taburkan di ladang, dan dari hasil tanah itu kalian akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan merumput di padang rumput yang luas. Sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh. Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik, dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu Tuhan membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas-bekas pukulan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan

Ref. Berbahagialah orang yang menanti-nantikan Tuhan.
Ayat.
(Mzm 147:1-2.3-4.5-6)
1. Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji Dia. Tuhan membangun Yerusalem, Ia menghimpun orang-orang Israel yang tercerai-berai.
2. Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati, dan membalut luka-luka mereka. Ia menentukan jumlah bintang-bintang, masing-masing dipanggil dengan menyebut namanya.
3. Besarlah Tuhan kita dan berlimpahlah kekuatan-Nya, kebijaksanaan-Nya tidak terhingga. Tuhan menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi orang-orang fasik direndahkan-Nya ke tanah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Inilah Raja kita, Tuhan semesta alam. Ia datang membebaskan umat-Nya.


Yesus mengajar dan mewartakan Injil Kerajaan Allah. Ia juga menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan. Selanjutnya, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya untuk melakukan hal yang sama: mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:35 - 10:1.6-8)

"Melihat orang banyak itu, tergerak hati Yesus oleh belas kasihan."

Sekali peristiwa Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan mewartakan Injil Kerajaan Surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak yang mengikuti-Nya, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit. Maka mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Lalu Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit serta segala kelemahan. Yesus mengutus mereka dan berpesan, "Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel! Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan


Apa yang diperoleh dengan cuma-cuma seharusnya dibagikan pula dengan cuma-cuma. Itulah tanda syukur atas anugerah yang diperoleh. Dengan senang hati sering kita menerima dengan cuma-cuma, namun dengan berat hati untuk membagikannya. Kita ingin memilikinya untuk diri kita sendiri. Apakah aku demikian?

Doa Malam

Allah Bapa yang pengasih dan penyayang kami kembali menghadap-Mu untuk memanjatkan puji dan syukur atas kasih karunia yang telah kami alami sepanjang hari ini. Ya Bapa pada kesempatan ini kami berdoa agar Engkau berkenan memberikan pekerja-pekerja untuk tuaian. Tumbuhkanlah benih-benih panggilan kepada muda-mudi kami agar mereka bersedia bekerja di ladang-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.

RUAH

Jumat, 02 Desember 2011 Jumat Pertama Dalam Bulan -- Hari Biasa Pekan I Adven

Jumat, 02 Desember 2011
Jumat Pertama Dalam Bulan -- Hari Biasa Pekan I Adven

“Tidak seorang pun dapat mempunyai Allah sebagai Bapa, kalau ia tidak mempunyai Gereja sebagai ibu” (St. Siprianus)


Antifon Pembuka

Lihatlah, Tuhan akan datang dengan mulia, mengunjungi umat-Nya dalam damai, dan memberi mereka hidup abadi.

Doa Pagi

Ya Allah yang kudus, terimakasih atas penyertaan-Mu dalam hidup ini. Mampukan aku untuk tetap berpegang teguh pada iman akan Yesus Putera-Mu. Dengan demikian aku dapat selalu menjauhkan diri dari yang jahat. Amin.

Pada akhirnya, orang sombong, pencemooh, penjahat dan pelaku ketidakadilan serta pemutarbalikan kebenaran akan lenyap, binasa. Sebaliknya, yang buta akan melihat, yang tuli mendengar, yang menderita akan bersukaria dan yang miskin akan bersorak-sorai di dalam Allah, Yang Mahakudus. Sebab itu, hiduplah di dalam Allah senantiasa.


Bacaan dari Kitab Yesaya (29:17-24)

"Pada waktu itu orang-orang butaakan melihat."

Beginilah firman Tuhan, “Tiada lama lagi Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, kebun subur selebat hutan. Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar sabda sebuah kitab, dan mata orang-orang buta akan melihat, lepas dari kekelaman dan kegelapan. Orang-orang sengsara akan bersukaria dalam Tuhan dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorai di dalam Yang Mahakudus Allah Israel. Sebab orang yang gagah sombong akan lenyap dan orang pencemooh akan habis. Semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, yang memasang jerat terhadap orang yang menegur mereka di pintu gerbang, dan yang menyalahkan orang benar dengan alasan yang dibuat-buat. Sebab itu beginilah firman Tuhan, Allah kaum keturunan Yakub, yang telah membebaskan Abraham, “Mulai sekarang Yakub takkan lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab keturunan Yakub akan melihat karya tangan-Ku di tengah-tengah mereka, dan mereka akan menguduskan nama-Ku. Mereka akan menguduskan Yang Kudus Allah, dan mereka akan gentar terhadap Allah Israel. Pada waktu itu orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan mereka yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 4/4, PS 865
Ref. Tuhan adalah terang dan keselamatanku
atau Tuhan, Engkaulah penyelamatku.
Ayat. (Mzm 27:1.4.13-14)
1. Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gentar?
2. Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, satu inilah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya.
3. Sungguh, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. Tuhan pasti datang; Ia datang dengan megah, dan mata para hamba-Nya akan berseri-seri.


Iman yang hidup itu menyelamatkan. Orang buta dapat melihat juga karena iman akan Yesus sebagai Dia yang dapat menyembuhkan! Seruan “kasihanilah kami, hai Anak Daud” sejatinya adalah seruan kepercayaan.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (9:27-31)

"Dua orang buta disembuhkan karena percaya kepada Yesus."


Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya. Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata, “Terjadilah padamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka, “Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan

Orang buta itu tak berdaya. Secara fisik, mereka tidak bisa berbuat banyak. Banyak hal bergantung pada kemurahan hati orang lain. Kedua orang buta itu tentu sudah banyak mendengar tentang Yesus. Itulah sebabnya, mereka tak segan-segan meminta bantuan kepada-Nya. Mereka pasrah dan menyerah. Mereka percaya; dan hasil akhir, mereka disembuhkan.

Doa Malam

Yesus, ampunilah aku yang buta ini, karena aku kurang mampu mensyukuri hidup ini. Tanamkanlah dalam hatiku sikap percaya dan penuh penyerahan, sebab Engkaulah Pembebas dan Penyelamatku. Amin.


RUAH

Panduan Adven 2011: Pertemuan I: Ekaristi mempersatukan keluarga (Ef 5:22-33) - Keuskupan Agung Jakarta


IBADAT SABDA

Pertemuan I: Ekaristi mempersatukan keluarga (Ef 5:22-33)

Tujuan: Kasih Kristus, yang kita rayakan dalam Ekaristi, adalah dasar kehidupan keluarga; karena itu Ekaristi adalah rahmat yang mempersatukan keluarga.



Perintah kepada Istri

Satu Perintah : Tunduklah kepada suamimu :


1. Seperti kepada Tuhan,(ay.22)
2. Suami adalah kepala Istri (ay.23 )
3. Sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (ayat.23 )
4. Suami yang menyelamatkan tubuh (ay.23)
5. Seperti jemaat tunduk kepada Kristus (ay.24)
6. Tunduk dalam segala sesuatu (ay.24)
7. Seperti mengasihi tubuhnya sendiri (ay.28)
8. Merawat dan mengasuhnya seperti Krisrtus terhadap jemaat-Nya.
9. Karena sudah menjadi satu daging (ay.31)
10. Dengan menghormatinya. (ay.33)


Perintah kepada Suami

Satu perintah : Kasihilah istrimu :


1. Seperti Yesus mengasihi jemaatNya (ay.25)
2. Seperti Yesus menyerahkan diri Nya (ay.25)
3. Selalu menyucikan, menguduskan dengan air dan firman (ay.26)
4. Agar cemerlang,tanpa cacat atau kerut (ay.27)
5. Supaya kudus dan tak bercela (ay.27)
6. Mengasuh dan merawatnya, seperti Kristus terhadap jemaat-Nya.
7. Karena sudah menjadi satu daging. (ay.31)


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Efesus (5:22-33)

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

PERTANYAAN PENUNTUN :

1. Apakah peran masing-masing anggota keluarga : SUAMI – ISTRI – ANAK – ORANG TUA, dll
2. Apakah keluarga sudah membiarkan Allah meraja dengan selalu berjuang menghadirkan Kerajaan Allah dalam keluarga.
3. Dalam semangat apakah sekarang ini hubungan anda dalam keluarga :
1. Anak kepada orang tua dan sebaliknya
2. Suami – istri dan sebaliknya
3. Adik – kakak dan sebaliknya
4. Dll
5. Peran Ekaristi :
a. Yesus memberikan diri-Nya
b. Yesus hadir dalam rupa roti dan anggur
c. Yesus sendiri menjadi Imam – Altar dan Korban persembahan
d. Puncak kasih Allah terhadap manusia
e. Persatuan manusia dengan Allah.

6. Peran Sakramen Perkawinan :
a. Peristiwa yang agung
b. Penyatuan pria dan wanita oleh Allah
c. Saling memberi dalam Yesus.


Pertanyaan Pendalaman

1. Paulus menasehati para istri untuk tunduk kepada suami seperti tunduk kepada Tuhan. Apa maksudnya? Dan apa dasarnya?
2. Apa maksud Paulus menasehati para suami mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri baginya?
3. Dari bacaan ini, kita diingatkan bahwa kasih Kristus kepada jemaat-Nya harus menjadi dasar hidup suami-istri. Lalu, dalam kaitan itu mengapa Ekaristi sungguh mempersatukan keluarga?
4. Mungkin dari antara Anda ada yang ingin berbagi pengalaman pribadi tentang Ekaristi yang mempersatukan kehidupan keluarga Anda?

(kesempatan untuk sharing umat)

5. Marilah sekarang kita hening sejenak, mencoba meresapi pesan bacaan ini dan menanamkan tekad dalam diri kita untuk melakukan satu atau beberapa hal sederhana dalam hidup keluarga kita!

(Hening-umat merenung sendiri untuk menanamkan niat. Kalau masih ada waktu bisa saja beberapa orang menceritakan "niat" itu)
(Setelah itu, umat diajak melanjutkan ibadat dengan mendaraskan Doa Umat)


KESIMPULAN :

Suami istri harus terus berjuang dengan semangat Kasih,saling memberi dan saling menguduskan bersama, melalui dan dalam nama Yesus melalui EKARISTI

Panduan Adven 2011: Ekaristi Sumber Berkat Dalam Keluarga -- Keuskupan Agung Jakarta

Tahun 2012 adalah tahun Ekaristi, maka dari masa Adven ini kita mulai merenungkan Ekaristi yang mengajak kita semua semakin rendah hati di hadapan Tuhan.

Metode Ibadat Sabda dan Metode 7 langkah tetap digunakan di lingkungan.Pemandu / Fasilitator harus kreatif mengembangkan dengan kemampuannya. Dari presentasi Adven 2011 – KAJ dapat dikembangkan sesuai dengan keadaan di lingkungan masing-masing. Kreatifitas Fasilitator akan mengantar umat untuk semakin menghayati hidup dalam Ekaristi.

Beberapa macam cara diterapkan guna memahami dan merenungkan materi ini, seperti : 5W+1H ~ who – what – why – where – when dan How. Cara ini sudah cukup dikenal di kalangan penulis berita tetapi dapat digunakan oleh Fasilitator untuk menggali materi agar lebih terarah dan lebih mudah menarik benang merahnya.

Tema di atas akan kita dalami dalam 4 pertemuan dalam masa adven ini, dengan pembahasan masing masing sub tema, yaitu :

Sub-tema 1 : Ekaristi Mempersatukan Keluarga

Sub-tema 2 : Ekaristi Meneguhkan Keluarga

Sub-tema 3 : Ekaristi Dasar Perutusan dalam Membangun Keluarga

Sub-tema 4 : Ekaristi Dasar Perutusan Dalam Membangun Persaudaraan dengan Sesama

Pertemuan I: Kemandirian Gereja Berkat Pemberdayaan Karisma Umat Allah - Keuskupan Agung Palembang

Salah satu unsur penting Visi Keuskupan Agung Palembang (KAPal) yang dirumuskan dalam Sinode II adalah bahwa sebagai persekutuan murid-murid Kristus umat KAPal bercita-cita untuk beriman yang mandiri. Kemandirian Gereja Indonesia (dan juga KAPal) secara formal telah diakui sejak 3 Januari 1961 yang lalu, sebagaimana telah kita rayakan dalam ekaristi Hari Minggu yang lalu. Namun kemandirian Gereja kiranya bukan hanya formal organisasi saja. Kemandirian itu harus tampak pula dalam hidup beriman dan menggereja anggotanya. Maka cita-cita kita bersama, umat KAPal, bukanlah impian kosong bila mana Gereja KAPal (umat dan hierarki) bersatu padu, saling mendukung dan berperan serta dalam mewujudkannya.

Bertolak dari amanat Sinode II KAPal di atas, maka dalam Masa Adven tahun 2011 ini, kita bersama diajak untuk menggeluti tema “kemandirian” itu. Tema lengkapnya adalah “Mewujudkan KAPal sebagai Persekutuan Murid-murid Kristus yang Mandiri.” Melalui permenungan tema ini kita diajak untuk menyadari kharisma-kharisma yang ada dalam diri kita masing-masing berkat rahmat baptisan yang kita terima. Kemudian kita diajak untuk mewujudkan kemandirian itu dalam bidang tenaga pastoral, finansial dan bagaimana harapan Bapa Uskup terhadap keuskupan ini.

Dalam mewujudkan kemandirian Gereja, pertama-tama kita diajak untuk menyadari panggilan kita bersama berkat sakramen baptis. Selain diangkat sebagai anggota umat Allah, berkat baptisan kita disatukan sebagai anggota Gereja. Maka suka-duka Gereja adalah suka-duka kita bersama para anggotanya. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk turut ambil bagian dan berperan serta dalam langkah pembaharuan dan perwujudan iman yang manndiri secara terus menerus.

Berkat pembaptisan pula setiap orang menerima kurnia secara khusus dan sesuai dengan kemampuan masing-masing berkat curahan Roh Kudus. Oleh karena itu setiap orang juga dipanggil untuk mewujudkan dan menggunakan kurnia itu dalam karya pelayanan Gereja yang mandiri dan bertanggung-jawab. Umat yang mandiri adalah umat yang berani dan mempercayakan karya Roh Kudus dalam dirinya untuk saling melayani dan melengkapi. ”Daripada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagian-nya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”( Ef 4: 16).

Kharisma berasal dari bahasa Yunani, kharis / kharismata yakni tindakan anugerah Allah. Dalam Kitab Suci kharisma diterjemahkan sebagai “karunia.” Kharisma atau karunia merupakan anugerah Allah kepada manusia berupa keselamatan dan pengampunan, juga kemampuan tertentu bagi pelayanan jemaat dan talenta alamiah yang ada dalam diri manusia. Kharisma bukan diperoleh karena jasa manusia, melainkan murni anugerah dan kemurahan Allah bagi manusia. Maka sudah selayaknya jika kharisma / karunia itu dipergunakan demi kemuliaan Allah dan pelayanan bagi sesama.

Marilah dalam minggu Adven I ini kita menyadari kharisma manakah yang secara khas saya miliki dan berguna bagi pelayanan jemaat / Gereja? Bersediakah saya mempergunakannya demi terwujudnya Gereja KAPal yang mandiri? Bagaimana caranya? ****Sumber: Gema Paroki St Yoseph Palembang.

Panduan Adven 2011: Mewujudkan Keuskupan Agung Palembang Sebagai Persekutan Murid-murid Kristus yang Mandiri -- Keuskupan Agung Palembang

Dalam masa Adven ini Keuskupan Agung Palembang (KAPAL) mengajak kita untuk menggeluti Tema ”Kemandirian”. Tema lengkapnya adalah ”Mewujudkan Keuskupan Agung Palembang sebagai Persekutuan Murid-murid Kristus yang mandiri” hal ini sesuai dengan amanat dari Sinode II KAPAL pada Tahun 2009 yang lalu.

Melalui permenungan ini kita diajak untuk menyadari kharisma-kharisma yang ada dalam diri kita masing-masing berkat dan rahmat baptisan yang kita terima. Kemudian kita di ajak Bapak Uskup untuk mewujudkan kemandirian tersebut terutama dalam bidang tenaga pastoral dan finansial.

Tema di atas akan kita dalami dalam 4 pertemuan dalam masa adven ini, dengan pembahasan masing masing sub tema, yaitu :
  1. Kemandirian Gereja Berkat Pemberdayaan Karisma Umat Allah.
  2. Siap Diutus : Menjadi Imam-Raja dan Nabi bagi Gereja Keuskupan Agung Palembang
  3. Membangun Semangat Berbagi : Mewujudkan Kemandirian Finansial dan
  4. Mewujudkan Kemandirian Gereja Keuskupan Agung Palembang

Panduan Adven 2011: Pertemuan IV: Menjadi Signifikan dan Relevan Bagi Masyarakat - Keuskupan Agung Semarang

Pertemuan Keempat: MENJADI SIGNIFIKAN DAN RELEVAN BAGI MASYARAKAT
Tujuan: Umat menyadari bahwa iman harus diwujudkan dalam kehadiran dan keterlibatan yang signifikan dan relevan di tengah masyarakat.

1. Lagu Pembuka
(dipilih sesuai dengan tema pertemuan, misalnya PS 443, 445)

2. Doa Pembuka
doa dapat dikembangkan oleh pemandu dengan pokok-pokok sebagai berikut:
  • Mengucap syukur atas pertemuan Adven keempat dan atas karunia dari Allah yang sudah diterima selama ini, terutama sebagai umat Katolik yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia selama ini.
  • Mohon terang Roh Kudus agar pertemuan dapat berjalan dengan baik, lancar, dan mampu memahami bahwa iman harus diwujudkan dalam keterlibatan di tengah masyarakat.

3. Pengantar

Karya keselamatan yang diwartakan dan dihadirkan Yesus tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat sekitar-Nya. Hidup dan karya Yesus terkait erat dengan situasi dan keprihatinan masyarakat. Sebagai umat Katolik, anggota Gereja dan umat yang mengimani karya keselamatan Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus, kita pun diundang untuk mewartakan kabar gembira kepada semua orang yang berkehendak baik. Gereja ada di tengah masyarakat. Dengan demikian, Gereja juga terbuka dan terlibat dalam kehidupan masyarakat. Sebagai anggota Gereja, kita tidak hanya sibuk dengan diri sendiri. Kita juga diundang untuk berperan serta dalam kegiatan bermasyarakat. Kehadiran Gereja hendaknya mampu membawa warta gembira itu bagi seluruh masyarakat sehingga kehadiran Gereja sungguh menjadi signifikan dan relevan bagi masyarakat.

Dalam Adven keempat ini, kita diajak untuk melihat kembali hidup beriman dalam masyarakat, secara khusus dalam pengharapan menantikan Yesus selama masa Adven. Kita diajak merenungkan bagaimana peran serta kita sebagai anggota Gereja dalam kehidupan masyarakat. Sikap-sikap yang perlu kita bangun, untuk menunjukkan bahwa beriman di dalam masyarakat adalah beriman sejati, menunjukkan solidaritas, kedalaman, ketangguhan, dan secara gembira memberikan kasih yang nyata bagi masyarakat sekitar kita.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

P. Tuhan terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.
U. Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama
P. Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, hamba-Mu yang merindukan Putra-Mu, cahaya kehidupan kami. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putra-Mu yang menjadi penerang bagi hidup dan karya kami. (lilin dinyalakan)
Bagai nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus dalam kehidupan kami.
Semoga dalam terang-Nya, kami dapat mengembangkan iman yang solider, mendalam dan tangguh, sehingga mampu mewujudkan iman di tengah-tengah masyarakat. Doa ini kami sampaikan dengan pengantaraan Kristus, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.
U. Amin.

5. Inspirasi dan Permenungan
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:1-20)

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-- supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.


***


Para gembala bersuka cita mendengar warta kelahiran Sang Juruselamat. Mereka kemudian bergegas pergi ke Betlehem dan menjumpai sang bayi Yesus. Hati mereka berkobar-kobar penuh kegembiraan, hingga menggerakkan diri mereka mewartakan kabar gembira kepada siapa pun yang dijumpai dan selalu memuji Allah melalui kata, sikap, dan tindakan. Melalui para gembala itu, semakin banyak orang mengenal Allah dan mengalami kasih-Nya.

Selayaknya seperti para gembala, perjumpaan dengan Allah dan pengalaman iman kita akan Dia menggerakkan hidup kita untuk bersuka cita dalam hidup dan berani menjumpai siapa pun untuk berbagi kebahagiaan. Kehadiran yang memberi kegembiraan dan pengaruh baik bagi banyak orang itu menjadi panggilan setiap orang kristiani sepanjang abad. Saat ini ketika banyak orang berpikir untuk kepentingan diri dan hilang rasa solidaritas, kepedulian, kita dipanggil justru untuk terlibat dalam kehidupan bersama dan berbagi kasih Tuhan dalam aneka bentuk. Keterbatasan, kekurangan, bahkan ketidakberdayaan kita jangan menjadi alasan untuk menutup hati dan melipat tangan bagi sesama kita. Pengalaman ibu Maria Goretti menjadi inspirasi bagi kita.

Saya bernama Maria Goretti. Saya menjadi Katolik ketika sudah dewasa. Sejak dibaptis, saya selalu yakin bahwa saya bersama Yesus.

Bersama Yesus menjadi sumber kekuatan bagi diri hidup saya. Kekuatan itu juga yang meneguhkan semangat saya untuk membantu kedua orang tua. Meskipun telah berbeda keyakinan dengan anggota keluarga, sebagai anak sulung, saya tetap merasa bertanggungjawab mendampingi adik-adik saya. Syukur kepada Allah! Saya bisa membantu adik-adik saya untuk mandiri. Saat ini, mereka telah berkeluarga dan memiliki kehidupan yang cukup mapan.

Bersama Yesus juga mendorong saya untuk membantu dan menyumbangkan kemampuan diri saya bagi orang-orang di sekitar saya. Sebagai Ibu RW, saya tergerak untuk membantu meningkatkan taraf hidup mereka. Saya memberdayakan kaum perempuan supaya mereka juga bisa membantu ekonomi keluarga. Saya tidak membeda-bedakan keyakinan dalam bersahabat dan dalam menolong. Walaupun sebagai umat kristiani, saya memberikan satu ruang di rumah saya untuk sholat, berikut dengan perangkatnya. Alasan saya sederhana. Saya ingin agar saudara-saudara berkeyakinan lain pun dapat melaksanakan ibadah mereka. Sikap itu pula yang membebaskan saya untuk semakin leluasa memberi perhatian kepada siapa saja. Bila ada tetangga yang menderita sakit, saya berusaha untuk segera mengunjungi. Biasanya, saya juga mengkoordinir para ibu lain supaya kami dapat bersama-sama mengunjungi yang sakit. Dalam lingkungan pekerjaan, saya pun dipercaya untuk menjabat bendahara kantor. Walaupun berat dan berresiko, syukurlah bisa mengemban tugas sebagai bendahara selama 5 tahun dengan baik sampai masa pensiun.

Dalam Gereja, saya mencoba aktif di berbagai kegiatan, baik dalam tingkat lingkungan, paroki bahkan kevikepan. Bersama dengan suami dan anak-anak, saya mencoba memberi perhatian secara khusus dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). Selain itu, saya dan suami menjadi pasutri yang mendampingi komunitas anak-anak muda yang sedang mencari dan memperkuat jati dirinya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika tepat berumur 56 tahun, tulang leher saya hilang seruas! Dokter yang memeriksa saya mengatakan bahwa saya terserang kanker stadium empat. Saya terserang kanker ganas. Saya shock! Ada keinginan untuk berontak. Saya sangat sulit menerima kenyataan pahit ini. "Dokter kan bisa keliru," demikian kata saya berusaha menolak kanker yang menggerogoti tubuh saya.

Selama tiga bulan pertama di rumah sakit dr. Sardjito, saya masih memiliki semangat besar untuk sembuh. Tetapi, kanker yang mendera diri saya justru kian memperparah fisik saya. Dalam kondisi tubuh yang kian kurus dan kepala botak, saya sering merasakan sakit yang amat sangat. "Sakit sekali... Obat penahan sakit yang kuminum sudah dosis yang paling tinggi, tapi masih juga terasa sakit..". Saya kerap menahan air mata yang akan mengalir. Dalam kondisi seperti ini, banyak kenalan yang mendampingi dan mendukung saya. Mereka menguatkan saya.

Dalam perjalanan waktu, saya tidak mau larut dalam duka dan derita. Dalam sakit yang saya derita, saya masih ingin berguna bagi sesama. Dari atas tempat tidur, saya memulai mendoakan banyak orang. Biasanya, anak saya memberikan daftar-daftar nama yang akan saya doakan. Benar juga! Dengan melakukan aktifitas itu, saya merasa lebih berguna.

Ternyata pengalaman "Bersama Yesus!" tidak hanya menyemangati saya untuk melayani, tetapi juga meneguhkan saya dalam kelemahan dan derita. Kebersamaan dengan Yesus menguatkan dan meneguhkan saya ketika menghadapi saat-saat kritis hidup saya.
Kisah nyata Ibu Maria Goretti.

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman

Menghadirkan Kristus sebagai Juruselamat di tengah-tengah masyarakat merupakan cita-cita. Natal yang perlu kita upayakan. Bagaimana kita memahami warta kegembiraan karya keselamatan Yesus ini agar semakin nyata dalam hidup kita. Di bawah ini ada beberapa pertanyaan agar kita semakin menyadari hal itu.

a. Apa yang mengesan dan dapat kita petik dari kisah para gembala dan kisah ibu Maria Goretti?
b. Apakah iman mendorong anda untuk hidup lebih baik dan lebih berguna di dalam masyarakat? Ceritakan pengalaman hidup anda!
c. Dengan tindakan apa kita bisa mewujudkan Gereja yang signifikan dan relevan?

(pemandu dapat memberikan alternatif uraian peneguhan setelah berbagi pengalaman atau sharing dengan beberapa rumusan alternatif sebagai berikut)

Pengalaman perjumpaan para gembala dengan Sang Bayi Yesus mendorong para gembala melanjutkan warta sukacita itu kepada orang lain. Perjumpaan dengan Yesus memberikan rahmat istimewa, yakni mewujudkan dalam kehidupan konkrit warta karya keselamatan Allah. Rahmat istimewa berkat perjumpaan dengan karya keselamatan Allah menjadi pendorong dan inspirasi bagi para gembala dalam memaknai kehadirannya di tengah banyak orang. Demikian juga pengalaman kebersamaannya dengan Yesus, menjadi inspirasi dan pendorong ibu Maria Goretti untuk memberikan hidupnya untuk orang lain dengan sukacita, sebuah cerminan keberimanan dalam masyarakat, walaupun dalam penderitaan tetap memberikan dirinya perhatian bagi orang lain.

Kita dipanggil untuk mewujudkan iman kita dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Tindakan-tindakan kecil dan sederhana yang mengungkapkan kasih dan solidaritas Allah akan menjadi tindakan nyata mewujudkan Gereja yang semakin signifikan dan relevan bagi orang lain.

Iman membuat kehadiran kita selalu baru dimana pun kita berada, kehadiran kita menjadi tanda sakramental, yaitu tanda kehadiran Tuhan yang berbelas kasih. Tindakan itu akan kelihatan dari sikap yang kita lakukan: kejujuran kita, kebaikan hati yang tidak membalas yang buruk, tanggung jawab dalam pekerjaan, dan perhatian pada masyarakat yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Kita tidak perlu menyembunyikan identitas kita sebagai orang Katolik. Kita "berkompetisi" dalam kehidupan sosial bermasyarakat bukan untuk disanjung atau mendapat pujian, melainkan itu semua kita lakukan sebagai bentuk perwujudan iman kita sebagai orang Katolik. Kita adalah bagian dari masyarakat yang bersatu dengan seluruh masyarakat dalam usaha pembangunan. Dengan sikap dan tindakan nyata, kita ikut menyembuhkan luka-luka dalam masyarakat, membantu memajukan mereka yang tertinggal, menyalakan harapan bagi yang menderita.

Dalam masa Adven inilah, kita mempersiapkan Natal untuk kita maknai secara baru. Natal hendaknya menjadi medan untuk menghadirkan karya keselamatan Kristus ke tengah-tengah masyarakat secara nyata, dengan terlibat, solider, dan menyumbangkan segala hal yang baik bagi pembangunan hidup bersama.

7. Doa Umat dan Doa Penutup
Pemandu mengajak umat berdoa permohonan (doa umat) yang ditutup dengan doa Bapa Kami, lalu dilanjutkan dengan doa penutup.

Doa dapat ditutup oleh pemandu dengan pokok-pokok sebagai berikut:
  • Mengucap syukur karena pertemuan dapat berjalan lancar dan memberikan kesadaran baru.
  • Mohon penyertaan Allah supaya mampu meresapkan dalam hati segala nilai-nilai imani yang ditemukan dan mampu mewujudkan karya kasih Allah dalam hidup bermasyarakat.

8. Lagu Penutup

(dipilih sesuai dengan tema pertemuan, misalnya PS 442, 446, 447)

Panduan Adven 2011: Pertemuan III: Beriman yang Mendalam dan Tangguh - Keuskupan Agung Semarang

Pertemuan Ketiga: BERIMAN YANG MENDALAM DAN TANGGUH
Tujuan: Umat menyadari bahwa iman yang mendalam dan tangguh perlu dikembangkan dalam beriman di tengah masyarakat


1. Lagu Pembuka
(dipilih sesuai dengan tema pertemuan, misalnya PS 450)

2. Doa Pembuka
doa dapat dikembangkan oleh pemandu dengan pokok-pokok sebagai berikut:
  • Mengucap syukur atas pertemuan Adven ketiga dan atas karunia dari Allah yang sudah diterima dan dirasakan selama ini, khususnya atas iman Katolik yang telah dijalani.
  • Mohon terang Roh Kudus agar pertemuan dapat berjalan dengan baik, lancar, dan mampu memahami beriman yang mendalam dan tangguh.

3. Pengantar

Pertemuan sebelumnya kita telah melihat dan merasakan kebaikan dan kasih Allah yang tiada batasnya. Ia mengutus Putra-Nya menjadi manusia dan tinggal serta membantu umat manusia. Terhadap Allah yang solider dan berbelas kasih itu, kita diharapkan mengimani dengan sungguh dan mengikuti-Nya dengan mantap. Atau pendek kata kita diajak untuk memiliki iman yang mendalam dan tangguh kepada Allah yang berbelas kasih.

Iman yang demikian sangat dibutuhkan pada saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita menghadapi godaan, krisis maupun tantangan yang membuat iman kita goyah. Tidak sedikit dari umat Katolik yang akhirnya memilih jalan pintas dan menyimpang dari nilai-nilai iman. Kekuatan dan ketangguhan iman teruji, ditantang, dan tentu saja diperbarui, apalagi hidup beriman di zaman yang semakin sulit ini. Di saat-saat seperti itu masihkah kita tetap beriman kepada Allah? Di saat hidup banyak persimpangan, pilihan, dan tawaran, masihkah kita memilih Allah sebagai jalan hidup kita?

Dalam pertemuan kali ini kita akan belajar pada Bunda Maria yang sungguh memiliki iman yang mendalam dan tangguh pula dalam segala situasi. Kita juga akan melihat pengalaman seorang suster biarawati yang sekaligus perawat yang juga mendalam dan tangguh dalam pelayanan dan tantangan yang dia hadapi. Dengan permenungan itu diharapkan kita juga memiliki kedalaman dan ketangguhan iman dalam kehidupan di tengah masyarakat. Iman yang mendalam dan tangguh merupakan harapan dan cita-cita yang ingin dicapai sebagai model dan upaya hidup beriman di Keuskupan Agung Semarang ini.

untuk memulai pertemuan ini, marilah kita mohon rahmat agar iman kita juga diperdalam dan akhirnya dipertangguh dalam pergaulan dan tantangan hidup.

4. Ritus Penyalaan Lilin Korona Adven

P. Tuhan terangilah umat-Mu dengan cahaya kasih-Mu.
U. Agar kami semua dapat menjadi cahaya bagi sesama
P. Ya Bapa, berbelaskasihlah kepada kami, hamba-Mu yang merindukan Putra-Mu, cahaya kehidupan kami. Nyalakanlah harapan kami yang gelap ini akan kehadiran Putra-Mu yang menjadi penerang bagi hidup dan karya kami. (lilin dinyalakan)
Bagai nyala lilin yang semakin terang, demikianlah kami mohon agar hidup kami semakin diterangi oleh kehadiran Kristus dalam kehidupan kami.
Semoga dalam terang-Nya, kami dapat mengembangkan iman yang solider, mendalam dan tangguh, sehingga mampu mewujudkan iman di tengah-tengah masyarakat. Doa ini kami sampaikan dengan pengantaraan Kristus, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.
U. Amin.

5. Inspirasi dan Permenungan
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:26-38)

"Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki."

Dalam bulan yang keenam Allah mengutus Malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Maka kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.


***

Bacaan Injil itu memberikan kepada kita permenungan bagaimana iman Maria. Ia memiliki iman yang sungguh mendalam kepada Tuhan. Kedalaman iman Maria nampak dari relasinya yang begitu dekat dengan Allah dan para malaikat-Nya. Ia dikunjungi oleh Malaikat, disapa dan disampaikan kepadanya pesan dari Allah sendiri. Ia juga sungguh menjadi orang kepercayaan Allah yang mampu turut serta ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Tentu kepercayaan Allah itu tidak tanpa dasar. Dasarnya adalah Maria beriman secara total dan sungguh-sungguh pada Allah.

Kecuali itu, Maria juga menampakkan ketangguhan beriman: Hal itu nampak dari kesediaannya untuk menerima tugas yang berat dan penuh resiko. Dikatakan berat dan beresiko karena ia harus mengandung seorang Putra sementara ia belum bersuami. Dalam masyarakat pada waktu itu, siapapun yang kedapatan berzinah akan dihukum mati dengan cara dilempari batu. Bisa saja oleh orang yang tidak beriman, Maria telah dianggap berzinah dan mengandung. Namun kepercayaan-Nya kepada Allah tidak tergoyahkan oleh ketakutan-ketakutan akan resiko yang akan terjadi. Ia siap menanggung resiko atas keputusannya menerima tawaran Allah. Dengan penuh iman, ia menjawab tawaran Allah itu dengan kata-kata yang indah, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu." Maria mengakui bahwa beriman memang kadang-kadang akan menghadapi resiko. Namun kalau memiliki iman yang mendalam dan tangguh, apa pun resikonya pasti akan bisa dihadapi sebab Allah beserta kita untuk membantu kita.

Pengakuan Maria itu mirip dengan pengakuan kisah selanjutnya inii. Kita akan diajak merenungkan kedalaman dan ketangguhan iman seorang biarawati yang berkarya di salah satu rumah sakit Katolik. Bagaimana ketangguhan yang ditampakkan dan sikapnya dalam melayani pasien dalam kisah "Salib Menguatkan Pelayanan Kami".

Senin pagi yang cerah di akhir Juli 2010. Setelah usai doa pagi, sebelum mulai kerja, telpon berdering. Usai aku memberi salam, ada jawaban lembut dari sana, yang mengatakan, "Suster tolong pendampingan pasien baru Elisabet 201B, masuk dengan [i]febris[/i] (panas) yang tak kunjung turun sudah hampir satu minggu. Inti informasi yang disampaikan adalah bapak Harapan (bukan nama sesungguhnya), tidak mau makan dan minum obat, alasannya tidak jelas, tetapi sempat bilang menunggu salib yang dipasang di kamarnya minta diturunkan.

Seusai perawat wasen (memandikan) semua pasien, saya masuk ke kamar itu, memberi salam dan memperkenalkan diri. Bapak itu menjawab salam saya, karena namanya jelas saya sebut. Tetapi pak Harapan tidak bisa melihat saya secara langsung karena posisi tidurnya dibalik, supaya tidak melihat salib. "Selamat pagi Pak! Bisa tidur semalam?" Pak Harapan tidak menjawab sapaan saya. "Sudah siang kok belum sarapan? Apa masih ada hal yang membuat tidak enak? Apa yang boleh saya bantu pak?" Mulailah sepatah kata keluar dari bibirnya, "Saya ini pusing dan stress kok dak sembuh-sembuh." Tanyaku lebih lanjut, "kenapa tidurnya ini kok diputar-putar? Apa ini tidak membuat bapak tambah pusing? Mau terima oksigen susah, ambil makan minum susah, bahkan dokter visitpun juga susah karena harus putar-putar." Bapak itu tertawa kecil, lalu putar badan tanpa saya duga. Bapak ini menunjuk salib dengan berucap, "Itu yang membuat saya tambah pusing suster??" Saya ganti yang tertawa, "benarkah begitu??" Tanyaku lanjut, "coba perhatikan baik-baik, apa yang membuat bapak pusing dari salib itu?" Bapak itu menunduk, dan berucap lirih tapi jelas. "Tidak suster! Saya tidak tahan melihat matanya yang terus melihat saya, dan saya kasihan melihat dia terus-terus tergantung di sana,maka saya semalem minta perawat untuk menurunkan." Saya menjadi semakin penasaran, "Lha kenapa salib itu sampai sekarang masih ada di situ? Suster tadi malah tidak mau membantu menurunkan?" Pak Harapan menjelaskan, "Perawat tadi malam hanya tersenyum saja sambil menjawab, 'Sebelum saya lahir dan kerja disini, Salib itu sudah ada. Lagi pula, itu salib itu ciri khas bagi orang Kristen Pak dan tidak akan mengganggu pengobatan bapak'. Begitu dia menjawabnya."

Kata "kasihan" yang terungkap itu saya jadikan kata kunci untuk masuk lebih dalam. Setelah cukup saya mendengarkan, saya berkata, "Terima kasih pak sudah mengasihani Tuhan kami. Akan tetapi kami lebih berterima kasih lagi kalau bapak tidak memaksa kami untuk menurunkan salib itu dengan tidak mau makan dan minum obat. Tujuan bapak datang ke sini kan mau berobat dan sehat kan??? Salib itu bagi bapak tidak berarti apa-apa, bapak boleh menganggap hanya sebuah patung yang dipasang, sebagai ciri, lambang, atau tanda bagi orang kristiani'." Lebih lanjut saya menjelaskan, "Lain halnya bagi kami, salib tidak hanya sekedar lambang, tetapi memiliki makna yang dalam. Salah satunya kami bekerja melayani orang-orang sakit di rumah sakit ini, juga disemangati oleh Dia yang disalib itu. Penderitaan dan wafatnya di kayu salib itu karena cinta-Nya pada kami manusia berdosa, supaya selamat." "Kami seluruh staf disini sebagai sarana untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan dengan membantu para pasien yang lemah dan tak berdaya, dalam proses penyembuhan, kita semua bergantung pada Tuhan sendiri sang pemilik hidup."

Bapak ini mengangguk tanda menerima, dan satu hal penting saya dapat lihat secara nyata saat itu, ia mau makan sampai habis, dan minum obat. Sengaja saya menunggu sampai selesai, karena kebetulan juga keluarganya pas pulang.


(Disharingkan oleh Sr. Rosalinda, CB -- RS. Panti Rapih, Yogyakarta).

Baik Maria maupun seorang Biarawati yang bertugas sebagai perawat telah menampakkan kepada kita bagaimana mereka beriman. Mereka telah menunjukkan iman yang sungguh dalam dan tangguh, demikian pula biarawati perawat itu. Iman itu tidak hanya menjadi dasar dari pengambilan keputusan tetapi juga mampu dipertanggungjawabkan secara benar. Kedalamannya nampak dari kedekatannya pada Tuhan dan kesediaannya untuk mengutamakan rencana Tuhan dari pada rencananya dirinya sendiri. Dan ketangguhannya nampak dari sikap yang dipilihnya.

6. Refleksi dan Sharing Pengalaman
Pemandu mengajak umat mendalami kisah, berbagi pengalaman iman dan memberikan berbagai peneguhan.

Mempunyai iman yang mendalam dan tangguh di zaman sekarang, tentu menjadi dambaan dan tujuan yang ingin dicapai, terutama di dalam hidup menggereja kita saat ini. Maka, di berikut ini ada pertanyaan yang dapat kita gunakan untuk melihat kembali dan merenungkan upaya mewujudkan iman yang mendalam dan tangguh.
a. Dalam kisah tadi, dimana letak kedalaman dan ketangguhan Maria?
b. Dimana pula letak ketangguhan iman biarawati perawat tadi?
c. Pernahkah anda mengalami tantangan iman? Dan bagaimana sikap anda?
d. Bagaimana kita mewujudkan iman yang mendalam dan tangguh dalam hidup kita sekarang ini? Hal-hal apa yang perlu kita lakukan dan kembangkan?


(pemandu dapat memberikan alternatif uraian peneguhan setelah berbagi pengalaman atau sharing dengan beberapa rumusan alternatif sebagai berikut)

Dalam pertemuan ini kita diajak untuk memilik iman yang mendalam dan tangguh. Sebagaimana dijelaskan dalam tanya jawab Ardas 2011-2015, iman yang mendalam bisa dipahami dalam dua pengertian. Pertama adalah mendalam dalam penghayatan. Beriman mendalam berarti percaya penuh pada Allah sampai ia mampu menaruh seluruh harapan hidup hanya kepada-Nya. Ia memiliki kedalaman dan keintiman dalam relasi dan hubungan dengan Allah. Kedua adalah mendalam dalam pengetahuan. Beriman mendalam berarti beriman dengan memiliki pengetahuan yang benar dan wawasan yang luas mengenai pokok-pokok iman kristiani. Ia mendapat landasan kognitif yang kokoh dalam beriman sehingga dapat beriman secara cerdas dan betanggung jawab.

Ada banyak cara untuk memperdalam iman. Pertama adalah dengan meningkatkan doa, devosi, ibadat, dan didukung dengan renungan dan refleksi yang cukup atas pengalaman dan pergulatan hidup. Doa dan ibadat bukan sekedar sebagai kewajiban tetapi sebagai usaha untuk menjalin relasi yang lebih dekat dengan Allah. Kedua adalah saling berbagi pengalaman iman atau memberi kesaksian iman dengan sesama beriman, sehingga bisa saling menimba kedalaman iman dari sesamanya. Ketiga, membaca bacaan-bacaan rohani atau santo-santa yang bisa menumbuhkan inspirasi dan peneguhan dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Keempat adalah dengan membaca buku-buku katekese atau ajaran-ajaran iman agar iman semakin dapat dipertanggungjawabkan. Sangat baik juga kalau ada kemauan untuk mengikuti kursus atau pembelajaran mengenai pokok-pokok iman.

Sedangkan beriman dengan tangguh berarti beriman secara tidak tergoyahkan baik oleh disposisi pribadinya sendiri maupun ketika berhadapan dengan yang lain. Iman kristiani menjadi pilihan hidup yang dipegang erat. Ia tidak mudah goyah ketika bergumul dengan peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidupnya yang kadang berisi kepahitan dan kebuntuan. Orang juga tidak mudah goyah imannya ketika berhadapan dengan persoalan-persoalan ajaran iman yang diajukan oleh orang lain. Ia juga tidak mudah goyah ketika ada godaan dan tantangan dari pihak lain. Ia tidak hanya bisa mempertahankan tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan pilihan imannya secara benar.

Agar imannya bisa tangguh, hal-hal yang diusahakan diantaranya. Pertama, memperdalam imannya sampai tumbuh rasa syukur atas iman yang telah dihayati sehingga sangat disayangkan kalau imannya sampai luntur dari penghayatan hidupnya dan hilang dari pilihannya. Kedua, orang perlu menggali kekayaan iman yang telah dihayatinya sehingga menjadi sangat bodohlah seandainya iman dilepaskan. Ketiga, perlu belajar dari tokoh-tokoh beriman yang tangguh seperti Bunda Maria, santo santa, para martir, dan saudara-saudari kita yang tangguh imannya.

7. Doa Umat dan Doa Penutup
Pemandu mengajak umat berdoa permohonan (doa umat) yang ditutup dengan doa Bapa Kami, lalu dilanjutkan dengan doa penutup.

Doa dapat ditutup oleh pemandu dengan pokok-pokok sebagai berikut:
  • Mengucap syukur karena pertemuan dapat berjalan lancar dan memberikan kesadaran baru.
  • Mohon penyertaan Allah supaya mampu meresapkan dalam hati segala nilai-nilai imani yang ditemukan dan mampu mengembangkan iman yang mendalam dan tangguh dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

8. Lagu Penutup
(dipilih sesuai dengan tema pertemuan, misalnya PS 627, 630, 632, 636)

terima kasih telah mengunjungi renunganpagi.id, jika Anda merasa diberkati dengan renungan ini, Anda dapat membantu kami dengan memberikan persembahan kasih. Donasi Anda dapat dikirimkan melalui QRIS/GOPAY/OVO/LINKAJA/SHOPEEPAY/DANA/BCA MOBILE/OCTOMOBILE/SAKUKU,dll klik link. Kami membutuhkan dukungan Anda untuk terus menghubungkan orang-orang dengan Kristus dan Gereja. Tuhan memberkati

CARI RENUNGAN

>

renunganpagi.id 2023 -

Privacy Policy