Menjadi Saksi dengan Kerendahan Hati

Minggu, 11 Desember 2011
Hari Minggu Adven III/ Tahun B

MENJADI SAKSI DENGAN KERENDAHAN HATI

Renungan

Tak terasa, kita sudah memasuki Minggu Adven III. Lilin adven yang menyala bertambah, menjadi semakin terang. Terang yang melambangkan; persiapan kita menyambut kedatangan Tuhan dalam perayaan Natal semakin dekat. Terang yang semakin memperlihatkan sisi-sisi kehidupan kita semakin terlihat jelas di hadapan Tuhan. Terang yang mempertontonkan: “ini lho dirimu sejatinya di hadapan Tuhan”. Bila itu tersadari, betapa banyak sisi kehidupan kita yang terus menerus harus kita benahi. Ada dosa di sana. Ada kerapuhan yang hinggap. Ada kelemahan yang terus melekat. Semua mendesak untuk dibaharui. Semua mendesak untuk diteguhkan dan diberkati. Maka pertobatan dan pembaharuan diri tetaplah prioritas nomor wahid untuk mendekatkan diri pada Sang Terang sejati yang kita nantikan, yakni Yesus Kristus.

Pembaharuan diri macam apakah yang harus kita lakukan? Dalam Minggu Adven III ini, kita bisa belajar membaharui diri pada sosok Yohanes yang diutus Allah. Kita belajar pada sosok Yohanes, bahwa jalan untuk sampai pada Terang sejati adalah jalan kerendahan hati. Kerendahan hati inilah wujud nyata dari pembaharuan yang bisa kita lakukan. Santo Agustinus mengatakan bahwa kerendahan hati adalah jalan yang pasti membawa seseorang kepada Tuhan. Santo Agustinus bahkan mengatakan; pertama-tama, kerendahan hati, kedua; kerendahan hati, dan yang terakhir, kerendahan hati; hanya untuk menekankan betapa pentingnya kerendahan hati untuk mencapai kesempurnaan rohani. Kerendahan hati yang demikian ada dalam sosok Yohanes.

Yohanes adalah utusan Allah. Dia dipanggil Tuhan untuk memberikan kesaksian tentang, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Yohanes sendiri bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus kepadanya beberapa imam dan orang-orang Lewi untuk menanyakan kepadanya, “siapakah engkau?” Yohanes mengaku dan tidak berdusta, katanya, ”Aku bukan Mesias!” lalu mereka bertanya kepadanya, “kalau begitu, siapakah engkau? Elia? Nabi yang akan datang? Yohanes menjawab dengan konsisten, “bukan!” ketika didesak untuk menjelaskan siapa dirinya, Yohanes mengatakan, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan bagi Tuhan, seperti yang telah dikatakan oleh nabi Yesaya”. Orang-orang Farisi yang ada di antara mereka juga bertanya kepada Yohanes, “Mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab, “Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasutNya pun aku tidak layak.” (Yoh 1:6-8.19-28).

Sikap dan tindakan Yohanes sungguh sarat dengan kerendahan hati. Untuk sebuah popularitas diri, bisa saja ketika ditanya tentang dirinya, dia berbohong. Bisa saja, ketika ditanya, siapakah engkau, Yohanes menjawab, “Aku Mesias”. Dengan demikian orang akan berbondong-bondong datang kepadanya. Dia akan dipuji dan dihormati banyak orang karena mengatakan bahwa dirinya Mesias. Tapi semuanya itu tidak ia lakukan. Ia jujur mengatakan sebuah kebenaran tentang dirinya, bahwa dirinya bukanlah Mesias. Dia bukan Elia dan nabi yang akan datang. Dengan jujur dan lapang dada, ia bangga mengatakan, bahwa dirinya hanyalah suara yang berseru-seru di padang gurung; “Luruskanlah jalan Tuhan”. Puncak kerendahan hatinya terletak dalam sikapnya yang penuh keyakinan; bahwa berhadapan Dia yang akan datang, membuka tali kasutNyapun ia tidak layak. Kerendahan hati Yohanes, mengalir dari kesadarannya bahwa ia hanyalah seorang utusan. Utusan yang memiliki tanggungjawab memberi kesaksian tentang terang, tentang keselamatan. Justru sikap yang demikianlah yang menyebabkan Yohanes menjadi besar dengan perannya. Dia adalah sosok yang “happy to be number two” di tengah arus yang berjuang keras untuk “to be number one”.

Kalau mau jujur, kita hidup dalam situasi zaman yang mengedepankan persaingan, popularitas, kehebatan pribadi. Itu semua mengakibatkan munculnya sikap: mencari pujian, pamer kehebatan, merasa diri paling hebat, paling berjasa, paling dibutuhkan atau bahkan paling suci. Menganggap yang lain tidak berharga dibanding dirinya, menganggap yang lain tidak bermanfaat karena tak punya peran. Dengan kata lain, kita hidup dalam zaman yang kesombongan nyaris menjadi nafas hidup. Dalam semangat hidup yang demikian, kita dipanggil untuk memberi kesaksian bentuk hidup yang lain, yakni kerendahan hati.

Kerendahan hati dalam bahasa Latin disebut humilitas. Kata ini berasal dari kata humus, artinya: tanah. Kata ini mau mengatakan bahwa orang menjadi rendah hati kalau ia menyadari asal-usul dirinya. Ia hanyalah debu tanah yang kotor. Pengenalan diri yang sejati akan selalu membawa manusia kepada sikap memuliakan Tuhan, Pencipta-Nya. Allah yang Mahabesar telah sudi mengangkat manusia yang kecil, hina, dan kotor menjadi anak-anak-Nya sendiri. Dari kesadaran inilah mengalir sikap bakti dan pelayanan yang sejati dari orang-orang yang rendah hati. Jadi semangat kerendahan hati selalu disertai semangat pelayanan.

Kecuali itu, kerendahan hati sebagai sebuah sikap hidup sungguh selaras dengan apa yang kita nantikan. Dia yang kita nantikan adalah Allah yang mau menjelma menjadi manusia. Dia yang adalah Allah maha segalanya mau menjadi manusia yang lahir dalam keterbatasan dan kesederhanaan. Kerendahan hati yang luar biasa dari pihak Allah, yang harus ditanggapi dengan kerendahan hati pula. Itulah pertobatan yang terus kita lakukan pada minggu adven III ini.

Namun, merupakan sebuah perjuangan yang besar untuk bisa rendah hati. Perjuangan besarnya terletak pada kemauan kita untuk berlatih rendah hati. Ibu Theresa menunjukkan jalan kerendahan hati sebagai latihan rohani. Jalan kerendahan hati tersebut adalah:

1. Berbicaralah sesedikit mungkin tentang diri sendiri
2. Uruslah sendiri persoalan pribadi Anda
3. Hindari rasa ingin tahu masalah orang lain
4. Janganlah mencampuri urusan orang lain
5. Terimalah pertentangan dengan kegembiraan
6. Janganlah memusatkan perhatian pada kesalahan orang lain
7. Terimalah hinaan dan caci maki
8. Terimalah perasaan tak diperhatikan, diperlakukan dan dipandang rendah
9. Mengalah terhadap kehendak orang lain
10. Terimalah celaan, walaupun Anda tidak layak menerimanya
11. Bersikap sopan dan peka sekalipun seseorang memancing amarah Anda
12. Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai
13. Bersikaplah mengalah dalam perbedaan pendapat, walau pendapat Anda yang benar
14. Pilihlah selalu yang tersulit.

Sungguh sebuah latihan yang tidak mudah. Tapi, itulah jalan kerendahan hati yang sudah mendarah daging hidup dalam diri Ibu Theresa. Kita bisa belajar darinya. Semoga dengan jalan ini, kita menjadi sosok yang rendah hati. Dengan demikian, kita bisa menjadi saksi akan Terang yang segera kita rayakan kedatangan-Nya.

Salam dan berkat.

Pastor Antonius Purwono, SCJ

Kobus: Ajakan

Minggu, 11 Desember 2011 Hari Minggu Adven III/ Tahun B

Minggu, 11 Desember 2011
Hari Minggu Adven III/ Tahun B

Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan --- Yakobus 1:3

Antifon Pembuka (Flp 4:4-5)

Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat

Doa Renungan

Allah Bapa yang mahakuasa dan kekal, Engkau mencipta dunia kembali berkat cahaya yang memancar pada diri Yesus, saksi utama-Mu. Kami mohon, perkenankanlah kami mendengar suara-Nya serta menimba harapan baru dari cinta kasih-Nya terhadap manusia yang dipelopori-Nya.
Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (61:1-2a.10-11)

"Aku bersukaria di dalam Tuhan."

Kata nabi, "Roh Tuhan ada padaku, sebab Ia telah mengurapi aku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati. Aku diutus untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara. Tuhan Allah berkenan kepadaku untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita. Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku. Sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin pria mengenakan hiasan kepala, dan seperti pengantin wanita memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.


Mazmur Tanggapan, do = g, 2/4, PS 840

Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.
Ayat. (Luk 1:46-54; Ul: Yes 61:10b)
1. Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku. Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini.
2. Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa. Sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh Yang Mahakuasa; kuduslah nama-Nya.
3.Kasih sayang-Nya turun-temurun kepada orang yang takwa. Perkasalah perbuatan tangan-Nya; diceraiberaikan-Nya orang yang angkuh hatinya.
4. Orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta, yang hina dina diangkat-Nya. Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan; orang kaya diusir-Nya dengan tangan kosong.
5.Menurut janji-Nya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hamba-Nya. Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya.


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada umat di Tesalonika (1Tes 5:16-24
)

"Semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tidak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita."

Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa! Tetaplah berdoa dan mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu di dalam Kristus Yesus. Jangan padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat! Ujilah segala sesuatu, dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan. Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya, dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia; maka Ia pun akan menggenapinya.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Bait Pengantar Injil, do = f, 4/4, Kanon, PS 960
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Ayat. (Yes 61:1)
Roh Tuhan ada padaku. Ia mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (1:6-8.19-28)


"Di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal."

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Yohanes sendiri bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus kepadanya beberapa imam dan orang-orang Lewi untuk menanyakan kepadanya, "Siapakah engkau?" Yohanes mengaku dan tidak berdusta, katanya, "Aku bukan Mesias!" Lalu mereka bertanya kepadanya, "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Yohanes menjawab, "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Ia pun menjawab, "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya, "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawab Yohanes, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan, seperti yang telah dikatakan Nabi Yesaya." Di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepada Yohanes, "Mengapa engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab kepada mereka, "Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang Sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis orang.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Yes 35:4)

Katakanlah kepada yang berkecil hati: tabahkanlah hatimu dan jangan takut. Lihatlah, Tuhan akan datang menyelamatkan kita.

Renungan

Menjadi saksi yang jujur dan tulus bukanlah perkara mudah. Seorang saksi yang sejati membutuhkan kepercayaan diri yang kuat dan iman yang mendalam akan apa yang disaksikannya itu. Kerapkali orang memutarbalikkan fakta atau menjadi saksi palsu karena dia tidak sungguh-sungguh tahu bahkan tidak tahu sama sekali (karena dibayar) kejadian yang sebenarnya. Atau juga orang menjadi tidak jujur karena mendapat ancaman yang hebat.

Ada seorang bapak yang berprofesi sebagai seorang guru di tempat terpencil sangat ketakutan ketika dia harus memberi kesaksian tentang pembunuhan terhadap istri dan ketiga anaknya karena ia dengan lantang menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di daerahnya. Dia benar-benar mengalami tekanan yang sangat hebat. Dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan bagaimana istri dan ketiga anaknya dibantai. Walaupun dengan tekanan yang amat hebat supaya ia menyangkal apa yang dia saksikan dengan matanya sendiri, ia dengan gagah perkasa memberikan kesaksian tentang kejadian yang sebenarnya. Dia rela mati demi kesaksiannya itu. Dia adalah seorang yang luar biasa. Dia seorang guru yang sederhana dan tahu apa artinya kejujuran dan keadilan.

Hari ini dalam Injil kita berjumpa dengan seorang tokoh yang luar biasa, yang bahkan sudah tidak asing bagi kita. Dialah Santo Yohanes Pembaptis. Kali ini yang ditonjolkan adalah kesaksiannya. Pertama-tama dia ditampilkan sebagai yang diutus oleh Yang Mahakuasa untuk menjadi saksi bagi "terang" meskipun ia bukan terang itu sendiri. Kemudian kepada ornag-orang yang datang kepadanya, Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukan Mesias, bukan Elia, bukan nabi melainkan orang yang berseru-seru di padang gurun untuk menghimbau agar jalan bagi Tuhan diluruskan. Ia membaptis dengan air tentunya sekadar membantu orang mengungkapkan niatan untuk hidup bersih menyongsong Dia yang akan datang. Yohanes juga dengan tegas menyatakan dirinya tidak pantas melepas tali sandal Dia yang bakal datang. Ini berarti bahwa Yohanes merasa tidak patut menjalankan urusan yang menjadi hak Dia yang akan datang itu.

Inti dari pewartaan Injil hari ini adalah kesaksian Yohanes Pembaptis akan siapa yang bakal datang itu yakni yang sudah ada di tengah-tengah umat yang tidak mereka kenal. Dialah Yesus, Sang Terang. Yohanes memberi kesaksian bahwa Terang itu akan bersinar sehingga orang menjadi percaya dan memperoleh hidup yang kekal dari Terang itu.

Apa makna Injil hari ini bagi kita? Pertama, kita disadarkan oleh Santo Yohanes Pembaptis akan kehadiran Kristus, Sang Terang yang menerangi hidup kita. Tapi itulah manusia, yang jauh lebih menyukai kegelapan daripada terang. Hal sederhana bisa kita lihat bahwa banyak lampu jalan yang dirusak karena orang tidak mau perbuatannya yang jahat diketahui orang banyak. Orang yang dianggap jujur dan tulus melakukan tugas pelayanannya di suatu tempat kerap disingkirkan agar kebobrokan di tempat kerja itu tetap tertutup rapat. Banyak orang yang bekerja sama dalam hal-hal yang tidak baik. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) terjadi di mana-mana, juga di lingkungan Gereja. Ada kelompok-kelompok tertentu dalam Gereja yang ekslusif. Mereka tidak mau diganggu-gugat. Kalau diganggu mereka akan memberontak karena kenyamanannya diusik.

Kedua
, kalau kita sungguh-sungguh mau menjadi saksi yang tulus dan jujur, pertama-tama yang dibutuhkan adalah kerendahan hati seperti Santo Yohanes Pembaptis. Dia mengakui dirinya apa adanya. Ia tidak terpengaruh popularitas yang bisa diraihnya karena semua orang menganggap dia sebagai seorang nabi. Dia menolak semua kenikmatan duniawi demi tercapainya apa yang mau diwartakannya yakni KRISTUS, SANG TERANG. Kita pun diharapkan tidak terbuai oleh kenikmatan akan popularitas sesaat. Tugas kita seperti Santo Yohanes Pembaptis ialah memberi kesaksian tentang KRISTUS, SANG TERANG itu.

Untuk menjadi saksi yang sejati dan tulus tentang Kristus, Sang Terang, kita mesti BERSATU dengan-Nya. Kalau tidak, yang terjadi adalah kita bukan mewartakan Kristus tetapi diri sendiri. Bahkan, kita bisa menjual Kristus demi kepentingan pribadi.

Di saat yang semakin dekat dengan datangnya Kristus Sang Terang, kita diajak menjadi SAKSI bagi Kristus, Sang Terang yang hadir di dalam diri kita. Dengan itu kita akan mampu memancarkan Terang Kristus mulai dari dalam keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar kita.

Semoga, rahmat, dan berkat dari Kristus Sang Terang berlimpah atas kita semua.



RUAH