Minggu, 25 Desember 2010 Hari Raya Natal (Siang)

Minggu, 25 Desember 2010
Hari Raya Natal (Siang)

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat ---- Yes 55:6


Antifon Pembuka (Yes 9:6)

Seorang Bayi telah lahir bagi kita, seorang Putera telah diberikan kepada kita. Ia menyandang kekuasaan di bahu-Nya, dana kan disebut Penasihat Agung.

Doa Renungan


Allah Bapa yang maha pengasih, Engkau telah menciptakan manusia secara mengagumkan, namun secara lebih mengagumkan lagi Kaubaharui dia. Kami mohon, Kauperkenankan ikut ambil bagian dalam keallahan Dia, yang berkenan mengenakan kemanusiaan kami. Dialah yang hidup dan berkuasa
bersama Bapa dan Roh Kudus Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (52:7-10)


"Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab Tuhan telah menghibur umatnya."

O betapa indah kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan bentara yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik; yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion, "Allahmu meraja!" Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: Mereka bersorak-sorai serempak. Sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana Tuhan kembali ke Sion. Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab Tuhan telah menghibur umat-Nya. Ia telah menebus Yerusalem. Tuhan telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 3/4; 4/4, PS 806

Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar'na Ia sudah datang.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3b.3c-4.5-6; Ul:3c)

1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di antara para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.

3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah.
4. Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu merdu; dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-sorailah di hadapan Raja, yakni Tuhan.

Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani (1:1-6)


"Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya."

Saudara-saudara, pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan para nabi. Tetapi pada zaman akhir ini Allah telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya. Anak-Nya itulah yang ditetapkan-Nya sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dialah Allah menjadikan alam semesta. Dialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Dialah yang menopang segala yang ada dengan sabda-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah berhasil mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar di tempat yang tinggi. Ia jauh lebih tinggi daripada malaikat-malaikat sebagimana nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah daripada nama mereka. Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu Allah pernah berkata, "Anak-Kulah Engkau! Pada hari ini Engkau telah Kuperanakkan" Atau pun: "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia menjadi Anak-Ku". Lagipula, ketika mengantar Anak-Nya yang sulung ke dunia, Allah berkata, "Semua malaikat Allah harus menyembah Dia."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953

Ref. Alleluya, alleluya

Ayat:2/4
Hari ini cahaya gemilang turun ke dunia, dan fajar suci menyinari kita; marilah menyembah Tuhan, hai semua bangsa.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (1:1-18)


"Firman telah menjadi manusia."

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Mzm 97:3)

Segala ujung bumi menyaksikan penyelamatan oleh Allah.

Renungan



Orang tua itu kalau ngomong sedikit-sedikit Tuhan, sedikit-sedikit Tuhan. Tuhan kok sedikit. .... Emangnya gampang soal yang ilahi dan kekal, awal dan akhir, Alfa dan Omega!

Pernyataan "pada mulanya" (Yoh 1:1) searti dengan "pada mulanya" saat Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Ungkapan itu tidak menunjuk pada titik waktu tertentu, tetapi kekekalan yang tidak mengenal periode waktu dan sudah berada sebelum adanya waktu. Jadi, perkataan "pada mulanya adalah Firman" merujuk pada kekekalan Firman. Firman itu kekal adanya, mempribadi dan bersama-sama dengan Allah. Artinya, Firman itu berelasi dan dalam kesetaraan dengan Allah sehingga berhakikat Ilahi dan disebut Allah. Firman itu memiliki hidup kekal dan keabadian hidup Ilahi itu dimanifestasikan sebagai terang yang membawa pencerahan bagi dunia. Dengan demikian Firman itu telah memasuki dan berperan aktif dalam dunia, tetapi tidak menjadi identik dengan dunia. Firman itu datang ke dunia lewat penjelmaan-Nya: "Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita." Firman itu menjelma dan menyatakan diri dalam pribadi manusia yang kelihatan. Artinya, DIa ambil bagian dalam darah dan daging manusia dengan keterbatasan ruang dan waktu, juga kendala-kendala fisik seperti rapuh, lapar, menderita, dan mati. Kata Yunani sarx berarti "daging", yang merujuk pada hakikat manusia dalam segala kelemahannya. Sedangkan kata Yunani eskenosen atau "diam" sebenarnya berarti "membuat kemah". Sebagaimana kemah itu bukan tempat tinggal permanen dan hanya sementara, demikianlah halnya Yesus hadir dan berkemah di dunia untuk sementara. Dalam Perjanjian Lama, Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya dengan diam dalam Tabut Perjanjian di Bait Allah. Injil Yohanes memaparkan bahwa Allah diam di antara kita dalam diri Yesus Kristus.

Berkat penjelmaan-Nya dalam diri Yesus yang diam di antara kita, kini Allah yang tak kelihatan dan misteri itu dapat kita lihat. Demikianlah Allah, melalui Yesus telah mewahyukan diri kepada manusia. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, percayalah dan tak perlu bimbang bahwa Yesus adalah Imanuel, Allah yang menjelma dan tinggal beserta kita.



Inspirasi Batin hal 761

Minggu, 25 Desember 2010 Hari Raya Natal (Pagi)

Minggu, 25 Desember 2010
Hari Raya Natal (Pagi)


Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yoh 1:14)


Antifon Pembuka (Yes 9:2.6; Luk 1:33)

Hari ini cahaya bersinar atas kita, sebab Tuhan telah lahir bagi kita. Ia akan disebut Penasihat Ajaib, Allah Perkasa, Raja Damai, Bapa Kekal dan kerajaan-Nya takkan berakhir.

Doa Renungan

Allah Bapa yang maharahim, kami mengucap syukur Kau perkenankan bersama-sama merayakan Natal ini, yang merupakan bukti cinta kasih dan belas kasih-Mu. Kami mohon dengan rendah hati, lahirkanlah kembali Putra-Mu di dalam diri kami dan di tengah masyarakat kami, agar kami semakin menghayati Allah Beserta kami, yaitu Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa, bersama Bapa dan Roh Kudus Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (62:11-12)


"Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang."

Inilah yang telah diperdengarkan Tuhan sampai ke ujung bumi: Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Penyelamatmu datang! Mereka yang dikumpulkan dengan jerih payah-Nya ada bersama-sama dengan Dia, dan mereka yang dihimpun-Nya berjalan di hadapan-Nya. Orang akan menyebut mereka: "Bangsa-Kudus", Orang-orang Tebusan-Tuhan"; dan engkau akan disebut: "Yang-Dicari", "Kota-Yang-Tidak-Ditinggalkan".

Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan, do = d, 3/4; 4/4, PS 806
Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar'na Ia sudah datang.

Ayat. (Mzm 97:1.6.11-12)
1. Tuhan adalah Raja, biarlah bumi bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Langit memberikan keadilannya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
2. Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena Tuhan, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Titus (3:4-7)


"Oleh kasih karunia- Nya, kita berhak menerima hidup yang kekal"

Saudaraku terkasih, ketika kerahiman dan kasih Allah serta Juruselamat kita telah nyata kepada manusia, kita diselamatkan oleh Allah. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, melainkan karena rahmat-Nya berkat permandian kelahiran kembali dan berkat pembaharuan yang dikerjakan Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita lantaran Yesus Kristus, Juruselamat kita. Dengan demikian kita sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima hidup yang kekal sesuai dengan pengharapan kita.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953

Ref. Alleluya, alleluya
Ayat. (Luk 2:14; 2/4)
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:15-20)

"Segala sesuatu yang mereka dengar dan lihat semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka."

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke surga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yosef dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Antifon Komuni (Za 9:9)

Bersorak-sorailah, hai Puteri Sion, bergembiralah, hai puteri Yerusalem. Lihatlah, Raja-mu, Penyelamat dunia, datang, kudus dan jaya.



Renungan

"Selamat Hari Raya Natal!" Ucapan ini pasti terungkap dalam setiap pertemuan kita dengan umat Katolik mana pun pada hari ini. Ya, Selamat Natal. Kami pun mengucapkannya kepada Anda sekalian. Hanya saja, mari kita merenung sejenak: Apakah ucapan ini muncul hanya sebagai basa-basi saja? Atau, sekadar rutinitas tahunan merayakan Natal? Atau kita memang mengucapkannya, karena kita merasakan ada sesuatu yang indah di masa Natal ini?Sejenak, kita merenungkan hal itu lewat bacaan Misa Fajar. Dalam bacaan Injil ada kisah tentang para gembala dan Maria, Ibu sang Juruselamat kita. Mereka pun "merayakan Natal" pada waktu itu, bahkan Natal yang sesungguhnya. Apa yang mereka rasakan pada waktu itu?

Gembala-gembala adalah kelompok-kelompok orang yang tersingkir dalam masyarakat. Namun, justru orang-orang ini yang dipilih Allah, untuk melihat, mendengar dan memberitahukan tentang kelahiran Sang Mesias ini (bdk. ay. 15, 17, 19). Mereka menjadi saksi mata dan "juru bicara" Allah tentang Natal yang pertama ini. Sungguh aneh, bahwa Allah memilih orang-orang yang tersingkir dalam masyarakat untuk menjadi perantara pernyataan ilahi. Apa pengaruh "Natal" bagi para gembala dan orang-orang Betlehem? Orang-orang Betlehem heran dan takjub mendengar cerita para gembala (ay. 18). Hanya saja, mereka berhenti pada keadaan ini. Perasaan takjub tidak diiringi oleh sikap ingin tahu dan memperdalam berita gembira itu lebih lanjut. Mereka diam, dan akhirnya tidak ada makna apa pun yang mereka bawa. Dengan demikian, kehadiran Mesias hanya dipandang sebelah mata. Karena itu, mereka tidak mengenal tuhannya dan iman mereka tidak berakar sama sekali. Sedangkan para gembala, mereka pulang sambil memuji dan memuliakan Allah (ay. 20). Sayang, sikap mereka tidak berbeda dari orang-orang Betlehem. Kegembiraan mereka hanya sesaat saja, untuk kemudian melupakannya.

Maria, Ibu Tuhan, pun mengalami keheranan dan takjub akan cerita para gembala ini. Apalagi, Bunda Maria melihat apa yang disampaikan Gabriel sewaktu menerima Kabar Gembira, sampai saat Yesus dilahirkan, sesuai dengan kenyataan. Bahkan nama yang dinyatakan malaikat itu, memang diberikan kepada Yesus.

Maria takjub dan heran, tapi tidak berhenti. Ibu Maria menyimpan semua perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya (ay. 19). Ibu Maria ingin menemukan lebih dalam lagi pengalaman iman ini. Maria menemukan "rahasia ilahi" dari peristiwa tersebut. Kehidupan Yesus, Putra Allah yang sederhana dan tersingkirkan, agung dan mulia, menjadi tindakan Allah yang ingin membela orang-orang yang hina dan dianggap rendah. Sikap Bunda Maria ini menunjukkan contoh pengikut Kristus yang sejati. Dalam keheranannya, Maria tetap setia menjalankan perintah Bapa dan bahkan mengikuti perjalanan Putra-Nya sampai di bawah Salib. Bahkan, Ia menjadi pendamping orang-orang percaya yang ada di Yerusalem.

Sekarang, bagaimana tanggapan kita sendiri tentang "Natal" ini? Apakah kita seperti para gembala, senang pada perayaannya, tapi setelah Masa Natal dilewati, lalu hidup kita kembali "apa adanya" tanpa semangat baru untuk lebih baik lagi dalam mengimani Yesus? Dan tentunya, lalu kita pun tidak berbuat apa-apa lagi untuk tetap menyebarkan kabar gembira ini dalam sikap dan kehidupan kita? Ataukah kita seperti Ibu Maria, menyambut Natal (kelahiran Yesus) dengan sukacita, merenungkan terus dalam hidupnya dan berbuah lewat kesetiaannya dalam mendampingi Putranya hingga di bawah salib? (lih. Yoh 19:25-27)? Bahkan menjadi pendamping untuk orang-orang lain yang mengimani Kristus?

Ucapan "Selamat Hari Raya Natal!" semoga bukan sekadar ungkapan basa-basi di mulut kita; bukan sekadar rutinitas yang dilakukan sekali setahun, melainkan ungkapan semangat membaharui diri dan mengembangkan iman menjadi lebih semangat, militan dan berdayaguna di dalam gereja dan masyarakat.

(PAH-RUAH)

Sabtu, 24 Desember 2010 Hari Raya Natal (Malam)

Sabtu, 24 Desember 2010
Hari Raya Natal (Malam)

"Hari ini hari kelahiran Penebus kita. Ia datang membawa penebusan bagi kita semua." St Leo Agung


MAKLUMAT KELAHIRAN YESUS


Maklumat tentang kelahiran Yesus Kristus Penyelamat dunia. Beribu-ribu abad sesudah bumi dan segala isinya diciptakan; delapan belas abad sesudah Abraham menanggapi panggilan Allah; dua belas setengah abad sesudah Musa diutus Allah untuk mengantarkan umat Israel ke tanah yang dijanjikan; sepuluh abad sesudah Daud dipilih Allah menjadi raja umat-Nya; lima abad sesudah sisa umat Allah diantarkan kembali dari pembuangan Babel; sesudah kegenapan masa tiba, waktu Kaisar Agustus mengeluarkan perintah untuk mengadakan cacah jiwa di seluruh wilayah kerajaannya. Maka sesudah dikandung Perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus, lahirlah di Betlehem daerah Yehuda, Yesus Kristus, Putera Bapa, untuk menyelamatkan manusia.

Antifon Pembuka (Mzm 2:7)

Tuhan bersabda kepada-Ku, “Engkaulah Putra-Ku, hari ini Engkau Kuputrakan.”

Doa Renungan


Allah Bapa yang mahaagung, kami memuji nama-Mu, karena Engkau membuat malam suci ini bermandikan cahaya sejati. Sinarilah hati kami dengan cahaya-Mu itu, agar lewat sabda-Mu pada malam ini kami semakin memahami misteri penyelamatan-Mu di tengah kami. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan dari Kitab Yesaya (9:1-6)

"Seorang Putera telah dianugerahkan kepada kita."

Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorai, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkan dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan, do = d, 3/4; 4/4, PS 806

Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar'na Ia sudah datang.
Ayat. (Mzm 96:1-3.11-13)

1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyikanlah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyikanlah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya.
2. Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.
3. Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai, biarlah gemuruh laut serta segala isinya! Biarlah beria-ria padang dan segala yang ada di atasnya, dan segala pohon di hutan bersorak-sorai.
4. Biarlah bersukaria di hadapan Tuhan, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Titus (2:11-14)

"Kasih karunia Allah sudah nyata bagi semua orang."

Saudaraku terkasih, sudah nyatalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia. Kasih karunia itu mendidik kita agar meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan agar kita hidup bijaksana, adil dan beribadah, di dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Penyelamat kita Yesus Kristus. Ia telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, milik-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil, do = d, 2/2, PS 953

Ref. Alleluya, alleluya

Ayat: (Luk 2:10-12; 2/4)
Kabar gembira kubawa kepada-Mu. Pada hari ini lahirlah penyelamat dunia, Tuhan kita Yesus Kristus
.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (2:1-14)

"Pada hari ini telah lahir Penyelamatmu"

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.Demikian juga Yosef pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, - karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud - supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama bala tentara surga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.

Antifon Komuni (Yoh 1:14)

Sabda telah menjadi manusia, dan kita melihat kemuliaan-Nya.

Renungan


Santo Lukas mengisahkan kelahiran Yesus sebagai warta keselamatan untuk hari ini: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat......" (Luk 2:11). Dan bagi Rasul Paulus, Yesus yang lahir itu adalah "kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia", yang nyata.

Namun kita bisa langsung bertanya, di mana keselamatan yang disebut nyata itu dapat kita lihat, kita kita jumpai dan kita rasakan? Bukankah setiap kali yang nyata itu, yang dapat kita lihat, jumpai, dan rasalah justru yang sebaliknya? Bukan keselamatan yang (semakin) nyata, tetapi yang sebaliknya yang (semakin) nyata. Bolehlah disebut satu dua contoh: sepuluh atau lima belas tahun yang lalu kosa kata "perdagangan manusia" tidak pernah kita baca. Sekarang masalah perdagangan manusia adalah salah satu persoalan yang paling melukai kemanusiaan. Putaran uang dalam perdagangan manusia --menurut salah satu sumber---- lebih besar dari perdagangan narkoba. Sepuluh atau lima belas tahun yang lalu kosa kata lain seperti "kekerasan dalam rumah tangga" juga belum umum. Sekarang --- sekali lagi menurut salah satu sumber --- selama lima tahun terakhir ini, kekerasan dalam rumah tangga meningkat hampir seratus persen. Belum lagi kalau kita melihat angka pengguguran (=aborsi) di Indonesia, yang termasuk negara yang paling tinggi angkanya. Bukan hanya martabat manusia yang tidak dihormati, bahkan hidup sendiri tidak (terlalu) dihargai.

Dalam keadaan nyata seperti inilah kita merayakan Natal. Itu berarti, di tengah-tengah kenyataan seperti itulah Yesus (di)lahir(kan) kembali agar kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia menjadi sungguh nyata. Rasul Paulus memberi nasihat yang amat praktis sekaligus kabur, yaitu dengan "rajin berbuat baik" (Titus 2:14). Justru karena kabur, nasihat ini dapat ditafsirkan secara kreatif.

Silahkan mencari bentuk yang sederhana dari "rajin berbuat baik", dan kemudian menjalankannya, khususnya ketika hidup tidak sangat dihargai dan martabat manusia tidak dijunjung tinggi.

Mgr. Ignatius Suharyo -- Inspirasi Batin 2011 hal. 749




Homili Hari Raya Natal (Rm Agus Widodo, Pr)

Saudari dan saudaraku yang terkasih dalam Kristus,

Setiap tahun, kita selalu merayakan Natal. Mungkin, ada di antara Anda yang sudah merayakan natal lebih dari 50x karena Anda menjadi Katolik sudah 50 tahun lebih dan setiap natal pasti merayakannya. Saya sendiri, merayakan natal belum ada 30x dan memimpin Misa Malam Natal baru 3x. Pertanyaan saya: Anda bosan tidak merayakan Natal setiap tahun? ……. Pasti tidak. Mengapa? Karena Natal adalah kesempatan yang istimewa. Begitu istimewanya, beberapa orang yang jarang ke Gereja pun, selalu menyempatkan diri untuk mengikuti Misa Natal. Maka, kalau Minggu biasa, Gereja tidak pernah penuh tetapi setiap kali Natal (dan Paskah) selalu penuh, bahkan mbludag.

Sekarang, pertanyaan saya kembangkan: apa sih istimewanya Natal sampai-sampai kita rela mengurbankan banyak hal untuk merayakannya? Natal adalah peristiwa lahir dan hadir-Nya Yesus, Sang Putera Allah, ke dalam dunia, sekitar 2000 tahun silam. Pada waktu itu, Ia sungguh-sungguh lahir secara historis. Hal ini dibuktikan dengan data-data sejarah, termasuk yang disampaikan oleh Lukas dalam Injil (Luk 2:1-14). Pemerintahan kaisar Augustus, peristiwa sensus di Betlehem dan pemerintahan Kirenius sebagai wali negeri adalah data-data sejarah. Artinya, kehadiran Yesus sungguh-sungguh terjadi dalam ruang dan waktu, bukan hanya dongeng atau rekaan semata. Bukankah ini istimewa karena dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya, Allah berkenan hadir dan tinggal di tengah-tengah kita secara nyata?

Keistimewaan itu semakin bertambah ketika kita menyadari untuk apa Yesus hadir dan tinggal di tengah-tengah kita? Untuk apa “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera diberikan untuk kita?” (Yes 9:5). Dia hadir di tengah-tengah kita untuk menganugerahkan damai sejahtera sehingga, “damai sejahtera tidak akan berkesudahan … karena ia mendasarkan dan mengokohkan dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:6). Natal adalah perayaan hadirnya Sang Raja Damai. Ia datang tidak untuk menghukum dan membinasakan kita, orang-orang berdosa yang seharusnya memang dihukum dan dibinasakan, tetapi untuk memperdamaikan kita dengan Allah. Itulah makanya, St. Paulus mengatakan, “sudah nyatalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia” (Tit 2:11). Bukankah ini istimewa, kalau Putera Allah hadir dan tinggal di tengah-tengah kita untuk memberikan damai sejahtera dan menyelamatkan kita?

Dan yang paling istimewa adalah peristiwa hadirnya Yesus itu terjadi pada hari ini. “Hari ini, telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Luk 2:11). Jadi, Yesus hadir dan tinggal di tengah-tengah umat-Nya tidak hanya 2000 tahun silam tetapi juga hari ini dan di sini, tidak hanya di dalam gereja ini atau di gua natal di samping itu tetapi di hati kita masing-masing. Istimewa bukan?

Hati adalah simbol pusat pikiran, perasaan dan rohani manusia. Maka hati juga merupakan pusat hidup dan tindakan kita. Di dalam hati pula, kita bertemu dan berbicara dengan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan yang mulia namun juga memiliki banyak kelemahan dan kerapuhan, dalam hati kita selalu bercampur antara kebaikan dan kejahatan, antara berkat dan dosa. Kadangkala hati kita baik sehingga menghasilkan kata-kata, sikap dan tindakan yang baik. Namun, tidak jarang hati kita jahat sehingga menghasilkan kata-kata, sikap dan tindakan yang jahat pula. Nah, dalam suasana hati kita yang demikian itulah Tuhan Yesus berkenan hadir dan tinggal. Oleh karena itu, kehadiran Yesus di dalam hati kita digambarkan dengan kelahiran-Nya dalam palungan.

Hati, sebagai pusat hidup kita selalu berubah, selalu baru. Selama kita hidup, kita selalu bergerak dan berubah, tidak pernah diam dan tetap. Maka, suasana hati kita pun juga selalu baru dan berubah seiring dengan peristiwa dan pengalaman yang terjadi dalam hidup kita. Natal tahun ini, usia kita sudah bertambah satu tahun dari natal tahun lalu. Natal tahun lalu masih kita rayakan dengan suami atau istri tercinta tetapi natal tahun ini suami/istri sudah natalan di surga. Natal tahun lalu anak tidak ada yang pulang, sekarang pulang semua; atau sebaliknya. Natal tahun lalu, belum dianugerahi anak, sekarang sudah. Natal tahun lalu dirayakan bersama pacar tercinta, sekarang bersama mantan pacar alias suami atau istri tecinta. Natal tahun lalu ikut misa natal di Gereja …, dipimpin oleh Romo …, sekarang …. Dan sebagainya … dan sebagainya.

Begitulah, hidup kita selalu bergerak dan berubah. Suasana hati kita juga selalu berubah. Namun, dalam situasi apa pun, natal tetap bermakna. Sebab, dengan merayakan natal berarti kita merayakan dan mesyukuri kehadiran dan penyertaan Tuhan “hari ini” dan “setiap hari” dalam peristiwa apapun, di mana pun kita berada dan bersama siapa pun kita merayakannya. Dan, apa pun situasi hidup dan hati kita, kehadiran Yesus membawa misi yang sama, yaitu keselamatan dan damai sejahtera bagi semua orang.

Itulah keistimewan-keistimewaan natal yang luar biasa kalau kita bisa menghayatinya dengan sungguh-sungguh. Untuk itu, agar natal ini sungguh menjadi istimewa, tidak sekedar rutinitas: pergi ke gereja dengan baju baru, sepatu baru, gigi palsu baru, dengan rambut yang disemir warna-warni, habis misa salam-salaman mengucapkan selamat natal, pulang ke rumah, pesta atau makan-makan, tukar-menukar kado, ngantuk, tidur … lalu selesai ….

Marilah kita hayati betul-betul bahwa natal sebagai perayaan kelahiran Yesus dalam hati kita ini sungguh merupakan kasih karunia. “Kasih karunia itu mendidik kita agar meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi, dan agar kita hidup bijaksana, adil dan beribadah, di dunia sekarang ini, sambil menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia, dan penyataan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Penyelamat kita Yesus Kristus.” (Tit 1:12-13).

Marilah, Tuhan Yesus Kristus yang hadir dan tinggal di dalam hati kita, kita beri kesempatan untuk mendidik kita agar kita dapat meninggalkan kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi yang membuat kita jatuh dalam dosa. Kita persilakan Tuhan Yesus menerangi hidup kita agar kita menjadi bijaksana, setia mengusahakan keadilan dan semakin tekun beribadah. Menjadi bijaksana berarti, kita – dengan diterangi oleh Tuhan – mampu membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk; serta selalu memilih untuk memikirkan dan melakukan yang baik dan benar, yaitu cinta kasih, damai sejahtera, keadilan dan kerukunan dengan semua orang tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, status sosial, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, natal ini akan menjadi sungguh-sungguh istimewa karena kita memiliki hati yang baru. Hati yang senantiasa terbuka untuk menjadi palungan tempat Tuhan hadir dan tinggal. Hati yang senantiasa dibimbing dan diterangi oleh Tuhan sendiri sehingga kita menjadi bijaksana: semakin terampil menghindari kejahatan; hanya memikirkan, memilih dan melakukan yang baik dan benar; serta semakin tekun beribadah.


Rm Agus Widodo, Pr. Rata Penuh

Guru untuk Murid

Bapak M - Sangat galak dan di saat pelajaran selalu membentak-bentak sehingga para murid tegang dan justru tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik, kurang bisa berinteraksi dengan para siswa.

Demikian dituliskan seorang murid ketika diminta mengingat gurunya. Ungkapan itu muncul spontan karena murid diberi waktu hanya dua menit untuk menuliskannya. Tentu di atas kertas murid itu tertulis nama lengkap guru yang dimaksud. Dalam hal kemiripan perilakunya, Bapak M bisa mewakili guru di mana pun dan siapa pun. Tersirat keinginan murid, guru mestinya menggembirakan dan memudahkan pelajaran.

Dunia murid, dunia anak-anak kita, mestinya tidak jauh dari kegembiraan. Banyak sekolah berlomba-lomba mendapatkan murid-murid terbaik pada masa penerimaan murid baru meskipun sebagian buru akhirnya menganiaya batin mereka di kelas dengan menjadi "monster" perusak keriangan anak-anak.

Setiap menjelang Natal, keriangan anak-anak terasa di mana-mana. Ribuan tahun sesudah kelahiran Yesus, perayaan Natal tetap diabdikan untuk menggembirakan anak-anak. Pernak-pernik hiasan natal, terompet, sinterklas dengan hadiahnya, bahkan perayaan misa Natal pagi di gereja semuanya khas dunia anak-anak. Namun, haruskah menggembirakan anak-anak dan menghargai mereka dengan sukacita hanya setiap Natal tiba?

Sebagai guru, saya berangan-angan bahwa setiap guru menjadi sumber sukacita bagi muridnya. Dengan demikian, Natal akan selalu dialami anak-anak dalam keseharian di kelas. Akan tetapi, lazim terjadi guru hadir di kelas bukan demi murid. Kehadirannya demi kurikulum, demi dinas pendidikan, demi aturan yayasan, atau demi ideologi pesanan, bahkan tidak berlebihan demi numpang hidup.

Jika guru mengembalikan hakikat keguruannya demi murid, tidak perlu lagi muridnya menulis ingatan akan gurunya seperti ini, Bu R - Sering memaksakan kemauannya, tidak murah senyum, sering marah-marah, sentimen sama murid yang tidak disukainya. Penjelasan yang diberikan kurang mudah dimengerti.

Baiklah sekiranya di setiap Natal tiba, para pendidik kembali menyegarkan semangat, betapa Natal sepanjang sejarahnya adalah perayaan anak-anak dan anak-anak yang dirayakan. Natal yang penuh kegembiraan itu juga nyata dalam semangat para pendidik "menjadi guru untuk murid"


ST KARTONO
Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta
KOMPAS Cetak Edisi Jumat, 23 Desember 2011 halaman 3